Menjadi Pendidik Itu Berat
Selasa, 12 Februari 2019 | 1 Bulan yang lalu

Oleh Agil Nanggala

 

Keadaban bangsa terlihat dari karakter warga negaranya. Lumrah jika Indonesia melakukan berbagai upaya untuk membentuk karakter warga negara ideal, atau lebih dikenal dengan pancasilais. Mengingat bonus demografi 2045, dengan jargon “Indonesia Emas”, tentu harus dipersiapkan dengan matang, terlebih pada sektor penduduk mudanya, yang suatu saat akan menjadi tulang punggung bangsa.

Faktanya lain dengan yang diharapkan. Kabar negatif seputar dunia pendidikan kembali menghiasi pemberitaan dalam negeri, dengan masalah yang sama, yaitu karakter siswa. Nur Khalim, seorang tenaga pendidik di Probolinggo, mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan dari siswanya, karena menegur untuk tidak merokok di dalam kelas, alih-alih mengindahkan teguran guru, siswa tersebut malah menentang dan memegang kerah baju Nur Khalim, lebih parah, berani memegang kepala gurunya itu (Tribunnews.com, 2019).

 

Keprihatinan

Kasus kekerasan dan pelecehan terhadap guru harus segera diakhiri, dengan membuat regulasi yang cepat dan tepat. Penafsiran kekerasan dalam dunia pendidikan selalu diidentikkan pada perlakuan guru tehadap siswa. Mengakibatkan mentalitas siswa saat ini, tidak memiliki daya juang, serta sifat kesatria, terlihat dari maraknya pemberitaan siswa yang asal lapor dan memiliki pemikiran sempit seperti main hakim sendiri.

Guru diibaratkan orang tua siswa di sekolah, berbagai strategi serta ekspresi mereka lakukan hanya untuk melihat siswanya sukses. Saat guru menegur berarti ada perilaku siswa yang merugikan bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Dalam konteks Nur Khalim, beliau menegur karena siswa merokok, apapun alasannya merokok tidak baik bagi kesehatan, entah bagi diri sendiri maupun orang lain, terlebih perempuan.

 

          Tetapi yang didapat Nur Khalim, hanya pelecehan serta menjadi bahan tertawaan siswa, jika melawan, menimbulkan kerugian. Karena tegas narasi kekerasan dalam pendidikan, hanya berfokus pada perlakuan guru terhadap siswa. Tidak bisa dimungkiri, seberapa besar kesabaran beliau pada saat kejadian tersebut.

Kompetensi pendidik dalam Undang-Undang  Guru dan Dosen No 14 Tahun 2005, mungkin harus segera direvisi, selain kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial serta profesional, mungkin harus ditambah lagi dengan kompetensi “bela diri”. Rasional karena menjadi tenaga pendidik saat ini, langsung berkaitan dengan keselamatan nyawa.

Menjadi pendidik itu berat, karena mereka dituntut untuk menuntaskan amanah dari Undang-Undang Dasar, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan segala hambatan dan tantangan, seperti minimnya fasilitas, mengatasi paradigma berpikir siswa, serta memberi bekal pada siswa agar dapat bersaing kelak nanti.

Sehingga seorang pendidik wajib memiliki kreativitas bahkan improvisasi dalam mengoptimalkan proses pembelajaran, guna mengatasi hambatan dan tantangan tersebut.  Karena narasi yang dibangun oleh regulasi pendidikan adalah segala tuntutan terhadap guru, mulai dari tuntutan administrasi, sampai pengelolaan kelas yang berkualitas. Istilah Sunda pun mengibaratkan guru itu digugu jeung ditiru, maka mereka wajib memiliki keteladanan yang baik.

Tidak berekuivalen dengan apresiasi terhadap tenaga pendidik, baik dari segi penghargaan atau kebijakan yang mengakomodir kepentingan tenaga pendidik, khususnya yang berstatus sebagai honorer, walaupun guru mengabdi tanpa pamrih, dan hanya mengharapkan yang terbaik bagi siswanya.

 Jika negara belum mampu melakukan pemerataan terhadap pendidikan serta memberikan kesejahteraan bagi seluruh guru, setidaknya jaminlah perlindungan terhadap harkat, martabat serta nyawa mereka melalui regulasi yang berkeadilan. Jangan menutup mata akan permasalahan ini, seolah negara diam, dan hanya menuntut hasil, semua harus bekerja sama dalam membangun pemuda Indonesia yang terpelajar, adil dan beradab.

 

Menjadi Catatan

Perkembangan menuju zaman digital, tidak akan memiliki arti, jika menghilangkan mentalitas bangsa. Seperti mental pejuang serta kesatria, Ir. Soekarno pernah berpesan, agar Indonesia tidak menjadi bangsa bermental “tempe”, yang identik dengan sifat lemah, cengeng, mudah menyerah, serta lembek. Mental tempe mulai terindikasi pada perilaku siswa saat ini, yang mudah tersinggung dan tidak mau mengakui kesalahannya.

Pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia, sehingga segala aktivitasnya harus jauh dari konteks kekerasan. Masalah ini jangan terus terjadi, karena gurulah yang selalu tersudutkan, dan menjadi kambing hitam. Antara guru dan siswa harus muncul rasa saling menyayangi dan menghormati, kedekatannya bukan sebatas prosedural, tetapi sebagai fitrah orang tua dan anak.

Maklum jika guru diberikan beban administrasi oleh pemerintah, sebagai tugas menjadi seorang pendidik yang modern dan profesional. Tetapi jangan lupa pentingnya pemenuhan akan hak-hak guru, minimal perlindungan dari Undang-Undang, lebih baik lagi jika memperhatikan kesejahteraan.

Mereka terus berjibaku dengan waktu, dari generasi ke generasi, mendidik dan membesarkan siswanya tanpa pamrih. Cukuplah kita memberi sayatan karena tak sedikit dari mereka yang merintih kesakitan, melihat harkat, martabat guru, diinjak penuh kepiluan, tetapi mereka membalasnya dengan senyuman serta berdoa penuh kesabaran, supaya anak didiknya kelak diberikan kesuksesan.

 

(Agil Nanggala)