Merdekakan Atlet Disabilitas
Minggu, 12 Agustus 2018 | 3 Bulan yang lalu

Oleh Dadan Supardan

(Wartawan Medikom)

 

Kemerdekaan dapat dimaknai beragam. Bagi para atlet disabilitas Jawa Barat berprestasi, kemerdekaan sudah diraih manakala mereka mendapatkan hak untuk meniti karier keatletan. Hak yang tentunya diselaraskan dengan potensi dan prestasi yang dimiliki.

Oleh karena itu, wajar apabila mereka murka saat merasa jalan kariernya disumbat. Apalagi alasan penyumbatan ditengarai lantaran para atlet disabilitas enggan menyetorkan sebagian dari bonus yang didapat. Bonus atas torehan prestasi mereka pada event Peparnas XV tahun 2016 di Jawa Barat.

Seperti marak diberitakan, para atlet peraih medali harus rela menyetorkan 25 persen bonus yang diterima kepada National Paralympic Commitee Indonesia (NPCI). NPCI adalah organisasi yang menaungi para atlet paralimpik.

Karena enggan menuruti “kutipan” bonus, para atlet pun diduga “didiskriminasi”. Mereka tidak dilibatkan pada event-event paralimpik, baik tingkat nasional maupun internasional. Seperti kejuaraan Asean Paralympic di Malaysia dan tidak masuk Pelatnas Asia Paralympic di Solo.

Para atlet tidak tinggal diam. Mereka melayangkan gugatan ke Pengadian Negeri Bandung. Pihak tergugat NPCI Jabar, NPCI Pusat dan turut tergugat NPCI Kota Bandung, Kota Tasikmalaya, Kabupaten Bekasi dan Pemprov serta KONI Jabar atas perbuatan melawan hukum dengan nomor perkara 185/PDT G/2018/PN Bdg.

Namun sayang. Menempuh jalur hukum bukanlah langkah ideal. Buktinya proses mediasi antara para pihak yang dilakukan oleh pengadilan seperti menapaki jalan tak bertepi. Hingga tujuh kali sidang mediasi digelar, perkara malah kian buram.

Tak patah arang. Mereka terdiri dari Farid Surdin, Ganjar Jatnika, Asri, Junaedi, Elda Fahmi, dan Sony Satrio bersikukuh untuk terus berjuang. Mudah-mudahan menjadi jalan pamungkas dengan melakukan aksi jalan kaki Bandung – Jakarta.

Mereka bukan orang sembarangan. Sebut saja Farid Surdin, sebagai atlet Paralympic Jabar peraih medali emas cabang atletik Peparnas XV/2016. Ganjar Jatnika atlet lari (sprinter) peraih tiga emas, dua perak Peparnas XV/2016.

Keenam atlet berprestasi tersebut beriringan menyusuri jalan nasional. Bertolak dari Stadion Gelora Bandung Lautan Api (BLA) Kota Bandung, Sabtu (4/8/2018) mereka akan menuju Gelora Bung Karno, Jakarta. Setidaknya 40 km mereka tapaki jalan dalam sehari. Melihat semua itu, rasa iba, sedih, dan bangga berbaur menjadi satu.

Bersyukur aksi jalan kaki Bandung-Jakarta tidak berlanjut. Baru saja tiba di Purwakarta, para atlet ditemui Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora), Gatot Sulistiantoro Dewa Broto. Pembicaraan pun dilakukan di Ciganea, Purwakarta, Senin (6/8/2018). Diicapai kesepakatan antara para atlet dan pihak Kemenpora.

Banyak pelajaran berharga yang disuguhkan para atlet disabilitas. Mereka berani berkata tidak di tengah-tengah banyak orang yang gagap untuk bersikap tegas. Mereka juga kukuh dalam memperjuangkan hak. Mereka total, berani berkorban, dan ulet. Mereka sadar hukum. Tidak anarkis.

Sekali lagi, mereka memang bukan orang sembarangan. Kecacatan fisik tidak memperburuk sikap mental dan moral. Mereka harus merdeka dari penindasan. Mereka orang-orang berprestasi. Mereka mengharumkan negeri.

Untuk itu, sudah selayaknya mereka mendapatkan hak-hak sebagai atlet berprestasi. Terkait dengan adanya dugaan budaya potong bonus atlet agar disikapi secara tuntas. Karena ini uang Negara, jika ada penyimpangan apapun bentuk dan dalihnya supaya diproses sesuai mekanisme hukum yang ada. Selamat HUT Ke-73 RI. Merdeka! ***

(Dadan Supardan)