Minum Air Citarum
Kamis, 25 Januari 2018 | 2 Bulan yang lalu

Oleh Dadan Supardan

(Wartawan Medikom)

 

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan beberapa tahun lalu “bercita-cita” menjadikan air Sungai Citarum dapat diminum pada 2018. Cita-cita tersebut kini terjawablah sudah. Sebab, memasuki pukul 24.00 pada 1 Januari 2018, air Sungai Citarum masih pekat dan bau. Sungai terpanjang di Jawa Barat yang menyandang julukan paling kotor sejagat itu masih jauh dari layak minum.

Seharusnya, saat menyatakan keinginan atau cita-cita air Sungai Citarum dapat diteguk satu, dua, atau lima tahun ke depan, ada indikator pendukung atas pernyataan tersebut. Indikator yang dituruti dengan aksi konkret yang terukur. Dengan demikian---walaupun sesungguhnya sekadar menyampaikan harapan atau memotivasi berbagai pihak---pernyataan tidak terkesan asal teriak.

Dalam hal ini, publik mungkin saja akan menangkap berbeda. Pernyataan cita-cita yang disampaikan ditangkap publik akan menjadi kenyataan. Setidaknya mendekati kenyataan. Atau setidaknya lagi ada perubahan yang sangat signifikan. Sebab publik secara otomatis menakar siapa yang meneriakkan.

Ya sudahlah, tak elok terus berkutat memperkarakan persoalan pernyataan “cita-cita” Kang Aher. Ada yang lebih penting dari itu: bagaimana jauh menatap ke depan agar normalisasi Sungai Citarum dapat dilakukan. Toh semua juga mafhum untuk memperbaiki kondisi Sungai Citarum bukan perkara enteng. Butuh upaya dan biaya besar. Perlu keterlibatan berbagai pihak secara konsisten.

Pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten dan kota pun sudah mengerahkan upaya maksimal. Salah satunya melalui Gerakan Citarum Bestari untuk mewujudkan Sungai Citarum yang bersih, sehat, indah dan lestari. Namun demikian hasilnya masih jauh untuk dapat dikatakan maksimal.

Kita bersyukur belakangan tampak ada rencana penanganan yang lebih menggairahkan. Karena sesuai dengan Keputusan Presiden RI Nomor 12 Tahun 20012 Sungai Citarum merupakan Sungai Strategis Nasional, Pemerintah pusat juga langsung turun tangan.

Bahkan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan punya target lima hingga 10 tahun ke depan air Sungai Citarum dapat diminum. Lantaran kondisinya sudah bersih tanpa tercemar limbah apapun. Dengan catatan: semua pihak mau bergerak menuntaskan masalah di Sungai Citarum.

"Paling tidak lima tahun, lima tahun kita berharap airnya semakin baik, industri semuanya sudah punya ipal, orang sudah punya MCK, sehingga tidak buang kotoran ke sungai," kata Luhut Binsar Pandjaitan, Selasa (16/1/2018) seperti dikutip republika.co.id.

Sementara, Presiden Joko Widodo menginstruksikan seluruh jajaran pemerintahan untuk merevitalisasi Sungai Citarum. Target pun dipatok: revitalisasi DAS Citarum harus tuntas dalam tujuh tahun ke depan. Presiden meminta segenap jajaran pemerintahan baik pusat maupun daerah bekerja sama. Jadi, pengelolaan sungainya terintegrasi. Mulai dari penyiapan konsep, pelaksanaan, hingga pengawasan di lapangan.

Kata kuncinya kata Presiden, ada di integrasi semua kementerian, lembaga, pemerintah pusat, daerah, provinsi, kabupaten, dan kota. Menurut Presiden, manfaat Sungai Citarum sangat vital bagi masyarakat. Salah satunya menjadi sumber air minum untuk 27,5 juta penduduk Jawa Barat dan Jakarta. Selain itu menjadi sumber air irigasi untuk 420.000 hektare sawah dan megaliri tiga PLTA yaitu Saguling, Cirata, dan Jatiluhur. Kapasitasnya menghasilkan daya listrik 1.400 MW.

Untuk menggapai obsesi besar tersebut, rencananya Program perbaikan Sungai Citarum atau Citarum Harum Bestari diluncurkan Presiden Jokowi Sabtu (3/2/2018) di Situ Cisanti. Pertanda perbaikan Sungai Citarum secara terpadu dimulai.

Pemprov Jabar juga tak kalah trengginas melakukan konsolidasi dengan berbagai pihak. Untuk masalah penegakan hukum berkonsolidasi dengan Polda Jabar. Sosialisasi kepada masyarakat juga dilakukan dengan melibatkan Pangdam III/Siliwangi.

Jadi, kapan air Sungai Citarum dapat diminum? Semua pasti berharap, mimpi air Sungai Citarum dapat diteguk menjadi kenyataan. Setidaknya seperti kata Luhut Binsar Pandjaitan paling lambat pada 2028. Dengan catatan: semua pihak mau bergerak menuntaskan masalah di Sungai Citarum. *** (dari berbagai sumber)

(Dadan Supardan)