Pemimpin Belati
Kamis, 16 Maret 2017 | 1 Tahun yang lalu

Oleh Tatang Sumarsono

(Staf Khusus Bidang Budaya Rektor Unpas)

 

Pedati, merpati, dan belati. Tidaklah asing bagi kita, meskipun yang namanya pedati sudah tidak kita dapati lagi, kecuali sebatas di museum. Namun, tatkala ketiga kata tersebut ditautkan dengan terminologi pemimpin, maka terdapat pengertian khusus yang terkandung di dalamnya.

Dalam hal pengucapan, antara pedati, merpati, dan belati mengandung bunyi vokal yang sama: e-a-i. Adapun perbedaannya terletak pada stuktur dan bunyi konsonan pada beberapa suku katanya.

Pemimpin pedati adalah pemimpin yang lamban bergerak. Ia tidak dinamis, apalagi kreatif untuk membawa umatnya ke dalam perubahan. Yang dipertahankannya hanyalah sebatas status quo, dengan mengandalkan dukungan yang sering tidak rasional, atau kepentingan lain di baliknya.

Begitulah pedati yang hanya mampu beringsut seperti keong. Barulah akan sedikit cepat bergelinding kalau tenaga untuk menghelanya ditambah berlipat-lipat. Dari pemimpin pedati jangan diharap ada kemajuan cepat, meski porsi energi yang diberikan kepadanya sedemikian besar.

Adapun pemimpin merpati, kesukaannya adalah mendapat tepuk tangan. Apapun yang dilakukannya, bahkan dalam kapasitasnya bukan sebagai pemimpin, selalu diakhiri dengan aplaus yang riuh rendah. Dunia tanpa tepuk tangan, baginya serasa kiamat.

Begitulah merpati, semakin gegap gempita tepuk tangan, maka ia akan terbang semakin tinggi. Namun tatkala sepi yang didapati, sang merpati akan menclok lagi pada bubungan. Paling-paling yang dilakukannya hanyalah mencari lawan jenis untuk bercinta.

Tepuk tangan bagi tipe pemimpin merpati saat ini, bisa saja tidak diartikan secara harfiah, melainkan dalam bentuk lain yang dianggap menyiratkan kekaguman. Maka tampillah gambar dirinya pada berbagai bentuk disain visual yang terpancang hampir di setiap perempatan jalan dan pusat keramaian. Tentu sambil dilengkapi dengan sederet kata-kata, entah itu yargon atau sekadar basa-basi, yang dalam kalkulasi sang pemipin akan membuat banyak orang berdecak kagum.

Bagi tipe pemimpin merpati, besarnya biaya bagi kepentingan pencitraan bukanlah urusan. Tokh yang penting adalah hebatnya tepuk tangan, yang hal itu dianggap sarana untuk mencapai popularitas. Ada kalanya ia tampil secara aneh-aneh untuk membuat kesan kebaruan. Dan tentu saja, ujung-ujungnya adalah tepuk tangan.

Pemimpin belati, nah ini dia pemimpin yang mengandalkan kekerasan. Semuanya terpusat pada kekuatan fisik yang dimilikinya, bukan akal-budi. Ia bisa dan biasa bicara keras tanpa mempertimbangkan akibat-akibatnya terhadap tatanan kehidupan. Ulah pemimpin belati sering membuat harmoni menjadi terganggu.

Jangan pernah memberikan kritik kepada pemimpin belati, sebab yang bersangkutan akan merespon secara reaktif dan membabi buta, bukan dengan nalar yang mencerminkan mahluk beradab. Intimidasi dianggapnya sebagai cara efektif untuk menjawab setiap persoalan yang diakibatkan oleh kepongahannya.

Bagi pemimpin belati, kebenaran selalu dianggap sebagai miliknya. Karena itu, dirinya pantang diusik. Segala hal yang tidak sejalan dengan pendapatnya akan diposisikan sebagai ancaman yang harus ditumpas habis.

Lebih runyam lagi kalau ketiga tipe pemimpin tersebut menyatu dalam diri seseorang. Ya pedati, ya merpati, ditambah lagi dengan belati. Dan sebagai antitesisnya, kita mendambakan pemimpin sejati. Dialah pemimpin yang bisa mengayomi umat dengan sikapnya yang adil, serta mampu menciptakan perubahan untuk menjawab tantangan zaman, tanpa harus dibarengi tepuk tangan dan kekerasan.

Pemimpin sejati tidak akan lahir dari konspirasi politik dagang sapi, yaitu permufakatan yang hanya menempatkan kepentingan kelompok dan sesaat sebagai tujuan akhir. Bahwa pemimpin sejati akan lahir melalui pilkada atau pilpres, ya sebetulnya bisa saja, sih.***

 

(Tatang Sumarsono)