Pertemuan Politik
Minggu, 12 Februari 2017 | 11 Bulan yang lalu

Oleh Dadan Supardan

(Wartawan Medikom)

Pertemuan antara Presiden dan tokoh politik lumrah dilakukan. Tentunya untuk membahas hal-hal strategis guna kebaikan dan kemajuan bangsa. Biasanya diistilahkan dengan pertemuan politik.

   Presiden Soekarno misalnya. Untuk membahas siapa pemegang tongkat kekuasaan jika suatu saat ia dan Bung Hatta berhalangan, melakukan pertemuan politik dengan Tan Malaka. Maksud berhalangan di sini, apabila Bung Karno dan Bung Hatta dibunuh atau ditawan pihak Jepang, Belanda, atau Sekutu.

   Rada unik memang. Pada pertemuan yang digelar awal September 1945, saat malam takbiran, tersebut semua lampu dimatikan. Pertemuan di rumah dokter pribadi Bung Karno, Dr R Soeharto, Jln Kramat Raya 128 Jakarta Pusat itu sifatnya sangat rahasia.

   Begitupun dengan Presiden Soeharto. Ia mengadakan pertemuan dengan 10 orang tokoh menjelang pengunduran dirinya sebagai presiden. Pertemuan digelar 19 Mei berlangsung kurang lebih dua jam 30 menit. Para tokoh yang dimintai pendapat tersebut adalah Yusril Ihza Mahendra, Gus Dur, budayawan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun, Nurcholish Madjid atau Cak Nur, Ali Yafie, Malik Fadjar, Sumarsono, Kiai Haji Cholil Baidowi, Achmad Bagdja, dan Ma’aruf Amin. Pertemuan berjalan sejak pukul 09.00 WIB hingga menjelang zuhur.

   Presiden Jokowi juga mengadakan pertemuan politik dengan beberapa tokoh belakangan ini. Di antaranya dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di kediaman Prabowo Subianto, Hambalang, Bogor, Jawa Barat, 31 Oktober 2016. Walaupun dilakukan menjelang aksi 4 November 2016 lalu, Jokowi membantah pertemuan tersebut terkait dengan antisipasi demonstrasi. Akan tetapi, dalam rangka menunaikan janji kepada mantan rivalnya dalam pemilihan presiden 2014. Selanjutnya, Jokowi kian getol melakukan pertemuan dengan banyak pihak.

   Jadi, pertemuan politik antara presiden dan tokoh bangsa senantiasa bermakna positif. Pertemuan presiden dengan mantan presiden, pertemuan presiden dengan mantan calon presiden, pertemuan mantan presiden dengan mantan presiden dijamin akan menyejukkan mata publik. Akan memancarkan aura kenegarawanan. Lebih dari itu, dapat membuahkan keputusan dan langkah-langkah strategis guna kebaikan bangsa ke depan.

   Pertemuan politik diyakini akan lebih cantik dibanding berbalas pantun jarak jauh. Apalagi berbalas pidato dengan nada saling sindir, akan membuat suasana runyam. Bahkan berbalas tweet via dunia maya tak akan seelok pertemuan politik.

   Oleh karena itu, pertemuan politik antara Jokowi dan SBY akan berdampak sangat baik bila segera terlaksana. Apalagi SBY tampak begitu berhasrat ingin bertemu. Salah satunya ingin mengklarifikasi berbagai isu yang merebak. Dengan demikian akan menggugurkan syakwasangka (kalau ada).

   Lebih dari itu, pertemuan dua tokoh bangsa, Jokowi dan SBY diyakini akan membuat suasana politik kondusif. Selain itu, melihat tipikal Presiden Jokowi yang akomodatif bahkan proaktif, tidak akan sulit melakukan pertemuan politik dengan tokoh manapun.

   Perihal keinginan SBY untuk bertemu belum juga kesampaian, barangkali hanya persoalan waktu. Lantaran sekali lagi melihat tipikal Jokowi, kalaupun tampak lembut tak akan mau dihalang-halangi untuk kebaikan bangsa oleh siapapun.

   Mudah-mudahan segera tergelar pertemuan politik antara Jokowi dan SBY. Hilangkan budaya tak mau bertegur sapa. Seperti renggangnya hubungan dua mantan Presiden: Megawati dan SBY. Sebab dalam konteks pertemuan, ada penyesalan mendalam juga dari mantan Presiden Habibie. Pasca dikukuhkan menjadi Presiden ke-3 Republik Indonesia, Habibie tak sempat bertemu dengan Soeharto. ***

(Dadan Supardan)