SECANGKIR KOPI BUAT “SI KASEP”
Kamis, 03 Januari 2019 | 2 Bulan yang lalu

(Oleh Eva Riyanti, SDN 137 Cijerokaso)

Seleksi calon kepala sekolah profesional (SI KASEP) Kota Bandung telah memasuki   tahapan akhir, yaitu tahap tes substansi. Para peserta harap-harap cemas karena di tahap ini bisa saja peserta tereliminasi. Dibutuhkan persiapan yang matang untuk bisa menghadapi tes ini, karena tahapan seleksi substansi melibatkan LP2KS yang bisa didatangkan langsung dari Kota Solo atau peserta dikirim ke sana.

Sampai saat ini belum  ada kejelasan yang pasti kapan dan di mana pelaksanaanya, yang jelas pada seleksi tahun ini dengan rekrutmen kepala sekolah melalui aplikasi “Si Kasep” mengalami terobosan baru. Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, pada saat otonomi daerah diberlakukan, terdapat dampak pada rekrutmen kepala sekolah yang tergantung pada pejabat yang berwenang saat itu. 

Otonomi daerah menyebabkan posisi kepala daerah memiliki wewenang luar biasa untuk menentukan orang-orang pilihannya untuk duduk pada jabatan tertentu, bahkan sampai dengan posisi kepala sekolah. Jabatan kepala sekolah diberikan sebagai bentuk balas budi bagi mereka yang telah menjadi tim sukses calon kepala daerah. Sehingga tak heran di banyak daerah pelantikan kepala daerah diikuti rotasi besar-besaran terhadap jabatan kepala SD, SMP, SMA dan SMK. Karena dianggap bentuk politik balas budi,  maka banyak indikasi penyimpangan dalam rekrutmen kepala sekolah.

Memang disayangkan rekrutmen dengan cara ini, karena sejatinya pendidikan tidak boleh dicampur adukan dengan kepentingan politik segelintir orang yang sedang berkuasa. Selayaknya lebih mengedepankan nilai-nilai luhur tujuan pendidikan nasional yakni mencerdaskan kehidupan bangsa seperti tercantum dalam pembukaan UUD tahun 1945. Rekrutmen kepala sekolah yang digulirkan Kota Bandung yakni “SI KASEP”, akhirnya bisa menjawab keraguan  masyarakat tentang isu-isu negatif yang terus menerus terjadi dari tahun ketahun, juga  memberi kepercayaan guru-guru yang memiliki motivasi dan cita-cita luhur memajukan pendidikan di Kota Bandung ini.

Dari enam syarat uji kompetensi kepala sekolah, ada dua kelemahan kepala sekolah yang sampai saat ini menjadi PR besar, yakni fungsi supervisi  manajerial dan  akademik. Keduanya belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Hal ini disebabkan karena pola rekrutmen kepala sekolah yang belum optimal. Program rekrutmen dengan inovasi Si Kasep menganut beberapa filosofi kopi. Kenapa demikian? Yang pertama, dari butiran kopi yang keras  mengalami proses yang panjang untuk bisa diseduh dengan air panas, harus mengalami proses penumbukan, penyaringan yang baik, sampai akhirnya jadi butiran halus yang harum menyegarkan. Ada beberapa asumsi bahwa segelas kopi akan berbeda rasanya bila diracik oleh tangan yang berbeda. Kadang-kadang dengan kopi yang sejenis, tapi bila disajikan di tempat yng berbeda akan membedakan nilai jual yang berbeda.

Misalnya secangkir kopi yang dijual di warung kopi akan berbeda dengan secangkir kopi yang dijual di cafe-cafe atau di rumah makan yang berkelas. Tentu saja ini akan berdampak pada nilai kopi itu sendiri. Unik memang, hal ini menujukkan dengan racikan tangan yang berbeda-beda dan tempat yang berbeda-beda secangkir kopi akan bernilai tinggi dan berkelas. Filosofi ini mengibaratkan manajemen suatu sekolah, bila disajikan sebuah sekolah yang dianggap kurang sehat, baik bangunanya, siswanya atau SDM gurunya  kemudian diberikan dan dikelola oleh kepala sekolah yang berbeda-beda  maka akan berdampak pada hasil yang berbeda. Jika manajerialnya bagus maka sekolah cenderung mengalami perubahan dan kemajuan yang baik.

Begitu pula sebaliknya, sekolah yang bagus namun manajerialnya kurang maka  kecenderungan sekolah akan mengalami kemunduran atau tidak bisa berkembang dengan baik yang ada malah masalah-masalah yang tak kunjung selesai. Suatu keberhasilan sekolah tergantung bagaimana seorang kepala sekolah melakukan fungsi manajerialnya dengan baik. Dalam rekrutmen “Si Kasep” ini, minimal dua tahun seorang calon kepala sekolah harus bisa melakukan fungsi managerialnya di sekolah, membantu pekerjaan-pekerjaan kepala sekolah sehingga ruang lingkupnya bisa dikuasai.  

Filosofi Kedua,  untuk menjadi secangkir kopi yang nikmat bercita rasa tinggi sudah barang tentu tidak mudah. Dibutuhkan proses yang panjang, ini mengisyaratkan bahwa seorang kepala sekolah harus bekerja keras membangun sekolahnya yang dipimpinnya dengan mengandeng guru dan tenaga lainnya, menjalin kerjasama dengan komite, stakeholder lainya guna memecahkan masalah-masalah di sekolah. Jika seorang kepala sekolah diam saja duduk manis bagaimana masalah akan dapat diatasi sementara pendidikan semakin penuh tantangan dan perubahan. Proses dan perjalanan panjang tersebut tidak akan menghianati hasil yang akan didapatkan. Perlu kerja keras dan kecerdasan berpikir untuk mencapai visi dan misi sekolah.

Filosofi ketiga,  kopi dihasilkan dari tempat yang berbeda dan jenis yang berbeda, belum tentu satu kopi akan ccocok di lidah orang, mungkin saja orang kesatu mengatakan enak tapi orang lain tidak enak. Namun demikian dalam satu kelompok penikmat kopi yang berbeda disatukan dalam satu tempat yang sama masing-masing dari mereka akan mendapatkan kenikmatan yang sama dan tanpa harus berdebat tentang kopi mereka masing-masing. Hal ini mengisyaratkan bahwa setiap orang di dalam satu sekolah sudah barang tentu berbeda karakter, sifat, dan kompetensinya.

Seorang kepala sekolah harus bisa menyatukan semua perbedaan-perbedaan yang ada, bukan malah memperkeruh situasi yang ada atau malah menyudutkan seseorang yang kurang disenanginya. Semestinya kepala sekolah mendorong anak buahnya berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Bersama-sama dengan warga sekolah lainnya membangun sekolah mewujudkan harapan dan impian masyarakat yang sudah mempercayakan anak-anaknya masuk ke sekolah tersebut. Dengan rekrutmen kepala sekolah pola “Si Kasep” yang terbuka, bersih, transparan dan akuntabel membawa pencerahan di dunia pendidikan khususnya di Kota Bandung,  mewujudkan Bandung Juara yang silih asih, silih asah dan silih asuh.

(Eva Riyanti )