Teror Koruptor
Selasa, 25 April 2017 | 1 Tahun yang lalu

Catatan Politik YAYAT HENDAYANA

(Ketua Pengelola Akademi Budaya Sunda Unpas serta Dosen Program Sarjana dan Pascasarjana Unpas)

 

            TAK perlu berpikir terlalu keras kalau hanya untuk sekadar menduga-duga suruhan siapa dua orang tak dikenal yang menyiramkan air keras ke wajah Novel Baswedan. Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu sedang dalam perjalanan pulang ke rumahnya setelah menunaikan solat Subuh berjamaah di mesjid yang jaraknya hanya empat rumah dari kediamannya. Peristiwa Selasa (11/4) itu telah membuat semua orang merasa geram. Kita menduga, orang yang menyuruh pelaku penyiraman air keras ke wajah penyidik KPK itu juga turut geram. Geram karena niat untuk mencederai Novel Baswedan lebih dari itu tak tercapai. Novel Baswedan “hanya” terluka mata kirinya, padahal niat “aktor intelektual”-nya barangkali lebih dari itu. Setelah dirawat di Rumah Sakit Mitra Keluarga, lalu dirujuk ke Jakarta Eye Center, akhirnya Novel Baswedan harus dirawat intensif di Rumah Sakit Singapore National Eye Center.

            Peristiwa yang dialami oleh Novel Baswedan itu jelaslah sebuah teror, sebuah upaya untuk mengintimidasinya agar tak terlalu galak dalam melakukan penyidikan. KPK mengemban tugas untuk memberantas korupsi yang di tanah air kita terkesan semakin menjadi-jadi. Hukuman yang dijatuhkan kepada para koruptor, sampai ke tahapan pemiskinan, ternyata tak menimbulkan efek jera. Rakyat yang geram malah ada yang melontarkan pendapat agar koruptor yang tertangkap dihukum mati saja. Tapi lantaran ini jaman HAM (Hak Asasi Manusia) yang oleh ketentuan hukum tak diseimbangkan dengan KAM (Kewajiban Asasi Manusia), dan kekhawatiran bahwa negara kita dinilai tak beradab, hukuman mati untuk para koruptor selalu urung diterapkan.

            Lantaran tugas KPK menyelidik, menyidik, dan menangkap (tangan) koruptor,  serta Novel Baswedan adalah salah seorang di antara penyidik itu, maka tak syak lagi bahwa teror yang dialaminya, dan intimidasi terhadapnya, tujuan akhirnya dialamatkan ke lembaga KPK. Teror yang dialami Novel Baswedan Selasa subuh yang lalu itu adalah teror koruptor. Teror yang bersumber dari koruptor. Koruptor yang tangannya “tetap bersih”karena tidak melakukan teror dengan tangannya sendiri. Dengan uang yang dimilikinya, koruptor bisa menyuru orang upahan, rakyat biasa yang butuh makan. Ya, teror yang dialami Novel Baswedan itu adalah teror koruÉtor. Entah koruptor yang sudah jadi terpidana, atau baru sekadar terperiksa.  

            KPK memang selalu saja menjadi sasaran tembak. Aktor intelektual “penembak” pastilah para koruptor. Sayangnya, berbagai lembaga resmi yang merupakan aparat pemerintahan,  acapkali terkesan tak sadar bahwa lembaganya sedang digunakan sebagai alat. Upaya untuk melemahkan KPK, berulangkali dilakukan. Bahkan sampai ke keinginan untuk mengubah undang-undangnya, yang dinilai terlalu menempatkan KPK sebagai lembaga superbody. Undang-undang KPK itu tak berhasil diubah karena rakyat yang menginginkan KPK kuat, berdiri serempak di barisan pembela KPK.

            Oleh karena itulah, pihak-pihak yang tidak menghendaki KPK kuat, mulai gelap mata. Setelah cara-cara “konstitusional” untuk melemahkan KPK tak berhasil dilakukan, bahkan upaya kriminalisasi sama sekali tak mempan, mulailah mereka melakukan cara-cara yang biasa dilakukan para preman. Keadaan seperti itu tentu tak mungkin lagi dibiarkan. KPK sebagai lembaga, serta orang-orang yang mengabdi di dalamnya, sudah saatnya memperoleh perlindungan. Dalam dialog di acara Mata Nazwa Kamis malam (13/4) yang lalu,  ternyata KPK dan orang-orang yang mengabdi di dalamnya, sama sekali tak memperoleh perlindungan apa-apa dari pemerintah. Padahal, dalam kedudukan “dikepung musuh” dari berbagai penjuru, agaknya layak kalau mereka dilindungi. Jika tak ada upaya perlindungan, kita khawatir upaya teror sebagaimana dialami Novel Baswedan akan terus dilakukan. Kali ini yang diteror “baru” setingkat penyidik. Lain kali tak mustahil salah seorang dari jajaran komisioner. Apakah kita harus menunggu sampai teror dan intimidasi kepada lembaga antirasyuah itu dilakukan dalam bentuk yang lebih berat lagi? Mudah-mudahan tidak.***

 

(YAYAT HENDAYANA)