Loading

Program Jalur Tengah Selatan, Solusi Untuk Daerah Terisolir di Jabar Selatan


Penulis: Mbayak Ginting
24 Hari lalu, Dibaca : 146 kali


Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah Pengelolaan Jalan dan Jembatan Wilayah Pelayanan II Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Jabar Agus Budiono. (Foto: Medikomonline)

BANDUNG, Medikomonline.com – Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (BMPR) Jawa Barat (Jabar) akan membuka akses jalan di daerah terisolir di bagian tengah Jabar selatan. Solusi yang ditawarkan Kepala Dinas BMPR Jabar Ir A Koswara MP dan jajarannya  adalah Program Jalur Tengah Selatan atau yang dikenal dengan istilah JTS.

Jalan JTS ini akan melintasi wilayah bagian tengah Jabar selatan, mulai dari Kabupaten Sukabumi – Kabupaten Cianjur – Kabupaten Garut – Kabupaten Tasikmalaya – Kabupaten Pangandaran.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pengelolaan Jalan dan Jembatan (PJJ) Wilayah Pelayanan II Dinas BMPR Jabar Agus Budiono didampingi Harry Kuswian, Kasi Pembangunan UPTD PJJ Wilayah Pelayanan II kepada Medikomonline di Bandung, Senin (05/10/2020) menjelaskan, Program JTS ini bertujuan untuk membuka kawasan-kawasan terisolir,  khususnya wilayah bagian tengah di Jabar selatan.

“Jadi JTS ini dalam rangka kita mencoba membuka kawasan-kawasan terisolir khususnya di wilayah selatan. Selama ini yang sudah dilakukan adalah daerah pantai selatan. Di (bagian-red) tengahnya ini masih banyak yang tertinggal. Makanya upaya pemerintah daerah ini mencoba membuka kawasan-kawasan yang terisolir melalui Program JTS,” ungkap Agus.

Lanjut Agus, di wilayah kerja UPTD PJJ Wilayah Pelayanan II, khususnya Kabupaten Sukabumi akan ada dua segmen pada trase JTS ini. Pertaman, Segmen Lengkong – Sagaranten. Kedua, Sagaranten – Cikadu.

“Segmen pertama adalah dari arah Lengkong ke Sagaranten. Lengkong - Sagaranten itu kurang lebih 23 Km. Kalau yang kedua, segmen dari Sagaranten ke Cikadu ya. Daerah Sagaranten ke Cikadu. Nanti dari Cikadu nyambung lagi, berkaitan dengan Balai I. Sagaranten – Cikadu itu kurang lebih 13 Km,” kata Agus yang sebelumnya menjabat Kepala UPTD PJJ Wilayah III.

Ditegaskan Agus, ruas secara pasti kedua segmen masih belum diputuskan. “Jadi dia (trase-red) ke luar di Sagaranten, tidak langsung nyambung ya. Dia bergeser ke jalan provinsi dulu, baru masuk lagi ke jalur Cikadu. Harapan nanti dari Cisokan langsung ke Cikadu,” jelasnya.

Mengenai realisasi JTS tersebut, Agus mengatakan masih berproses.  “Ini kan kita masih berproses. Prosesnya masih panjang. Feasibility study sudah dilakukan, mungkin DED yang belum ni. Dari situ nanti penganggarannya selanjutnya seperti apa, di tahun berapa, kita juga belum bisa memastikan. Cita-citanya (JTS-red) memang seperti itu. Wacana (JTS-red) itu sudah ada,” tegasnya lagi.

Mengenai kedua segmen Lengkong – Sagaranten dan Sagaranten – Cikadu, Agus menyebut, dua-duanya di ruas jalan kabupaten. “Jalan kabupaten  semua. Yang jalan provinsi seperti saya bilang. Kita keluar di Sagaranten menyusuri beberapa panjang, masuk lagi ke jalan kabupaten. Jadi status sekarang itu jalan kabupaten. Maksudnya, jalan di wilayah kabupaten, di sana ada jalan desa, ada jalan kabupaten. Ada juga jalan yang 2 meteranlah (2,4 meter). Itu yang berbatasan dengan Cianjur,” urainya.

Lanjut Agus, sekarang pihaknya baru membuat trase mana yang akan ditangani. Jadi belum sampai pada tahap pembebasan lahan.  “Nanti (pembebasan lahan-red) kalau sudah, ini kan belum fix juga. Masih dalam perencanaan. Kan bisa saja dari sekian itu dialihkan, jalannya tidak layak digunakan sebagai jalan. Ini belum keluar. Tapi jelas bahwa trase sementara sudah ada,” tegasnya.

Mengenai kondisi jalan pada kedua segmen yang di Kabupaten Sukabumi, ada yang sudah siap lebarnya. “Kondisinya , ada yang sudah jalan itu jalan kabupaten sudah  siap. Artinya dia memang lebarnya pas gitu ya. Ada yang sama sekali belum siap. Hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua. Khususnya yang berbatas dengan Cianjur itu ada yang baru 2,4 m (lebar-red). Pas satu mobil, mobil kecil,” kata Agus menggambarkan.  

Dalam penentuan trase JTS di Kabupaten Sukabumi ini, sebelumnya telah dilakukan feasibility study (FS). “Jadi kita memang sudah ada FS-nya. Itu kita melakukan kajian. Kemudia disosialisasikan ke kabupaten, jadi tidak sepihak. Tapi ini juga atas komunikasi dengan kabupaten (Sukabumi-red). Apakah ini layak atau tidak ada masukan dari mereka,” paparnya.

UPTD PJJ Wilayah Pelayan II melakukan komunikasi dengan Pemerintah Kabupaten Sukabumi dalam penentuan trase JTS ini agar sesuai dengan tata ruang Kabupaten Sukabumi.

Agus berkata, “Ini (trase-red) sudah dikomunikasikan dengan kabupaten, supaya apa yang kita rencanakan, mereka juga punya kepentingan terkait tata ruangnya, itu harus disesuaikan. Komunikasi terakhir dengan mereka (Pemkab Sukabumi-red) kelihatannya tidak ada masalah dengan apa yang kita lakukan. Tinggal ini mungkin ke depannya adalah proses selanjutnya.”

“Pak Kadis (Ir A Koswara MP-red) berharap bahwa Program (JTS-red) ini harus ditindaklanjuti, baik itu masalah designnya. Selama kita berkomunikasi,  beliau tetap mengingatkan kaitan dengan JTS ini. Kemarin juga khususnya untuk wilayah masing-masing UPTD kita diingatkan,” terang Agus mengenai arahan Kadis BMPR Jabar.

Untuk persiapan pembebasan lahan segmen Lengkong – Sagaranten dan Sagaranten – Cikadu, Agus mengharapkan ke depan bisa berjalan lancar. Lebar badan jalan pada segmen dua itu sekarang ini antara 2,4 meter sampai 5 meter.   

“Rata-rata sebagian besar di wilayah (segmen-red) dua itu lebar badan jalannya paling besar di antara 4 - 5 m, malah ada yang tadi 2 m, sehingga persoalan lahan ada. Seperti apa, kalau kita mulai baru kelihatan. Tapi yang jelas untuk lahan, karena kondisi existingnya masih segitu, pasti kita butuhlah,” katanya.

Agus juga menggambarkan, standar lebar badan jalan pada jalan provinsi antara 6-7 meter. Demikian juga halnya diharapkan lebar jalan pada JTS ini.  

“Kalau jalan provinsi, kita berharap sih standarnya minimal 6-7 meter. Jalan provinsi standar kita ya, 6 – 7 lah standar jalan kita perkerasannya. Nanti ditambah lagi dengan bahu jalan, nanti bisa sekitar 12 m ruang milik jalannya,” jelas Agus.

Diamini Harry Kuswian, Agus meyakini  pelaksanaan Program JTS pada kedua segmen Lengkong – Sagaranten dan Sagaranten – Cikadu akan sangat luar biasa manfaatnya kepada masyarakat sekitar. Karena selama ini masih ada masyarakat yang menggunakan kendaraan roda dua untuk mengangkut hasil bumi mereka.

“Kalau kita khususnya di Segmen II yang rata-rata baru 2,4 meter badan jalannya, sangat berpengaruh sekali dengan masyarakat. Berpengaruh sekali dampaknya. Saya kira itu luar biasa. Di sana ada pertanian, ada perkebunan ya. Saya kira dengan terbukanya (jalan-red) itu luar biasa. Selama ini mereka mengangkut hasil bumi pakai motor ya, banyak potensi yang bisa dikembangkan dari terbukanya akses jalan,” kata Agus meyakinkan. 

Tag : No Tag

Berita Terkait