Loading

DENNY H.W.: Jejak Sunyi Sang Arsitek Laga, dari Layar Lebar ke Kejayaan Sinetron Kolosal


Reporter: Syah Ma'mur
20 Jam lalu, Dibaca : 64 kali


DENNY H.W.


Bandung. Ada satu masa ketika denting golok, hantaman jurus pencak silat, dan ledakan emosi di layar kaca menjadi denyut utama hiburan masyarakat Indonesia. Di balik hiruk-pikuk itu, berdirilah sosok yang tak banyak bicara, namun karyanya bergema panjang: Denny H.W.

Berpostur gempal dengan suara yang cenderung lembut, Denny bukan tipe sutradara yang gemar tampil mencolok. Di lokasi syuting, ia dikenal kalem, nyaris tanpa ekspresi berlebih. Senyumnya jarang terlihat, tapi kesabarannya menjadi napas bagi para bintang laga yang ia arahkan. Dalam diamnya, ia membangun intensitas—menyusun setiap gerakan menjadi adegan yang hidup dan berkarakter.

Berbekal penguasaan berbagai disiplin bela diri seperti Kempo, Karate, Silat hingga Aikido, Denny bukan sekadar mengatur adegan—ia “merasakan” pertarungan itu sendiri. Lulusan Tahun 1980 LPKJ (lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta) / Sekarang IKJ (Institut Kesenian Jakarta) menjelma menjadi sosok penting di balik wajah film laga Indonesia, saat genre ini berada di puncak kejayaannya.

Namanya semakin kokoh ketika ia dipercaya menggarap Pertarungan Iblis Merah, film yang turut dibintangi Barry Prima. Di titik ini, Denny tidak lagi sekadar berada di belakang bayang-bayang sebagai asisten sutradara. Ia tampil utuh sebagai sutradara sekaligus penata laga—mengendalikan ritme cerita dan dentuman aksi dalam satu tarikan napas.

Langkahnya berlanjut melalui berbagai film laga klasik seperti Si Rawing, Babad Tanah Leluhur 2, dan sejumlah judul lain yang kini menjadi bagian dari memori kolektif pecinta film Indonesia. Setiap karyanya membawa ciri khas: pertarungan yang tidak hanya keras, tetapi juga berakar pada budaya dan rasa lokal.

Memasuki era televisi, Denny kembali menegaskan kelasnya. Serial kolosal Singgasana Brama Kumbara menjadi bukti kepiawaiannya meramu aksi dalam skala yang lebih luas. Namun puncak perhatian publik kembali tertuju padanya lewat sinetron Perjalanan, produksi Multivision yang mempertemukan Ari Wibowo dan Tamara Bleszynski—dua nama besar yang kala itu tengah berada di puncak popularitas.

“Perjalanan” bukan sekadar tontonan, melainkan fenomena. Denny sendiri mengakui kebanggaannya atas hasil karya tersebut, yang menurutnya lahir dari kolaborasi kuat bersama Arturo dalam membangun sisi dramatik. Keyakinannya sejak awal bahwa serial ini akan sukses, terbukti menjadi kenyataan.

Menariknya, di tengah peluang besar untuk menggarap puluhan episode Tutur Tinular, Denny justru memilih komitmennya pada proyek yang telah lebih dulu ia sepakati. Bukan soal nilai kontrak, melainkan soal prinsip kerja yang ia pegang teguh.

Lahir di Bandung, 5 Mei 1955, dari pasangan Hadi Wijaya dan Sumiati, Denny adalah putra Sunda yang menapaki jalannya dengan ketekunan. Ia juga sempat menggarap serial kolosal lain seperti Perawan Lembah Wilis, memperkaya daftar panjang kontribusinya di dunia layar.

Di balik semua pencapaian itu, ada sisi lain yang jarang terlihat. Kondisi kesehatan memaksanya untuk lebih membatasi diri dalam mengambil peran penuh sebagai sutradara. Namun satu hal yang tak pernah berubah adalah komitmennya terhadap dunia laga.

“Action director itu hidup mati saya,” ungkapnya suatu ketika—sebuah kalimat sederhana yang merangkum seluruh perjalanan panjangnya.

Dan mungkin, tanpa banyak disadari, setiap adegan pertarungan yang pernah membuat penonton terpaku di depan layar… masih menyimpan jejak tangan dingin seorang Denny H.W.

Tag : No Tag

Berita Terkait