Penulis: Hendry Ch Bangun
18 Jam lalu, Dibaca : 41 kali
Oleh Hendry Ch Bangun
Tanggal 9
Februari 1946 yang menjadi dasar penetapan Hari Pers Nasional (HPN) melalui
Keputusan Presiden no 5 tahun 1985, adalah sebuah peristiwa besar. Bukan hanya bagi pers nasional tapi juga bangsa
Indonesia.
Pihak-pihak
yang tidak menyukai HPN karena tanggal 9 Februari adalah hari lahir Persatuan
Wartawan Indonesia (PWI) mengatakan, untuk apa memperingati hari kelahiran
organisasi yang terkooptasi di era Orde Baru, yang tidak lagi relevan karena
saat ini ada puluhan organisasi wartawan, tidak lagi sesuai dengan semangat
reformasi yang dikandung dalam Undang-Undang tentang Pers no. 40 tahun 1999.
Tidak juga sesuai karena sebelum PWI lahir telah banyak berdiri organisasi
wartawan di zaman penjajahan seperti Perdi (Persatuan Djurnalis Indonesia).
Bahkan
seperti yang ditulis Leo Sabam Batubara, ada orang seperti Tirto Adhi Surjo
yang mendirikan Medan Prijaji, Dja
Endar Moeda yang mendirikan Pertja Barat
sampai Pewarta Deli. Dikaitkan pula
dengan lahirnya Kantor Berita Antara
oleh Adam Malik, Soemanang, AM Sipahoetar, Pandoe Kartawigoena yang misinya
memperjuangkan kemerdekaan Indonesia yang mungkin pantas diperingati sebagai
Hari Pers Nasional. Ada sederetan kejadian yang dapat dijadikan HPN dengan
argumen dan jalan pikiran yang masuk akal meski belum tentu pas.
Dengan
logika Leo S Batubara di atas mungkin tidak salah pula apabila ada pihak yang mempersoalkan mengapa Hari Pahlawan ditetapkan
tanggal 10 November karena ada begitu banyak pertempuran setelah kemerdekaan
Republik Indonesia yang merenggut banyak nyawa bangsa Indonesia seperti peristiwa Bandung Lautan Api atau
pembantaian puluhan ribu warga Sulawesi Selatan oleh Westerling. Mengapa pula
kita menerima 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional karena ada banyak sekali
peristiwa yang sangat relevan sebagai peristiwa
pendidikan seperti berdirinya sekolah untuk perempuan yang digagas Ruhana
Kuddus atau Dewi Sartika.
Tentang Kongres
yang diikuti 180 wartawan di Surakarta sebagaimana diberitakan di Harian Merdeka terbitan 12 Februari 1946, ada
beberapa hal yang membuatnya istimewa dan patut menjadi tanggal HPN.
Pertama-tama
harus diingat bahwa pada saat itu Indonesia yang sudah diproklamirkan merdeka
oleh Soekarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945, kembali diduduki Belanda
dengan membonceng tentara Sekutu yang mencopoti kekuasaan Jepang. Pemerintahan
Republik Indonesia terpaksa berpindah ke Yogyakarta dan sebagian besar wilayah
republik sudah dalam kekuasaan Belanda, termasuk Jakarta. Pergerakan orang-orang
dibatasi, khususnya lagi mereka yang dicurigai, termasuk untuk pergi ke luar
Jakarta untuk masuk ke wilayah yang dikuasai republik.
Dalam
kondisi ini maka perjuangan 180 wartawan dari Sulawesi dan Kalimantan, serta
daerah lain di Jawa, untuk berkumpul bukanlah urusan mudah. Manai Sophiaan perlu
waktu 35 hari untuk masuk ke Surakarta setelah naik kapal rakyat dari Makassar
dan turun di pantai utara Jawa. Tetapi kekuatan tekad membuat akhirnya 180
orang yang hadir mengikuti Kongres. Wartawan dari Jakarta sampai di Solo
berperan sebagai guide bagi wartawan
internasional yang diizinkan meliput masuk ke Yogyakarta untuk melihat dengan
mata sendiri kondisi negara yang baru berdiri beberapa bulan, apakah betul kemerdekaan
didukung rakyat atau hanya menjadi negara boneka Jepang yang
didengung-dengungkan penjajah Belanda.
Harian
Merdeka 9 Februari menulis: “Rombongan wartawan luar negeri jang datang di Djokja tg 6 Pebr
memerlukan djoega mengoendjoengi tjandi Borobudur dengan diantarkan oleh para
wartawan Indonesia. Disepanjang djalan mereka amat tertarik kepada tanaman
disawah, orang2 jang sedang bekerdja dan anak2 dipinggir djalan jang
menjeroekan pekik “merdeka” jang oleh mereka poen didjawab dengan pekik “merdeka”
djoega.
Hal kedua
adalah representasi. Walaupun disebutkan dalam berita bahwa 180 orang yang
hadir dari Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi tetapi sebenarnya itu sudah mewakili
sebagian besar wartawan dan media top Indonesia. Ada Sumanang (Antara), Harsono
Tjokroaminoto (Al Djihad), Soemantoro (Kedaulatan Rakyat), Djawoto (Antara)
yang hadir dan akhirnya menjadi pengurus pertama PWI. Yang disebut dari Jawa
itu misalnya termasuk BM Diah (Merdeka), Sjamsudin St Ma’moer (Rakyat) yang
berasal dari Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Termasuk datang Bung Tomo
(Antara). Mereka itu merasa harus bersatu untuk ikut aktif menyatukan rakyat
Indonesia yang kembali dijajah Belanda, dibantu oleh pendudukan Inggris di
berbagai daerah khususnya di Jawa.
Media
republiken menggalang pendapat umum, menyatukan
semua kelompok untuk tetap setia pada republik dan pemimpinnya. Rakyat marah
dan merencanakan demonstrasi besar untuk merayakan 6 bulan kemerdekaan pada
tanggal 17 Februari 1946. Di berbagai
pelosok Tanah Air terjadi gerakan untuk menunjukkan dukungan bagi pemerintahan Soekarno-Hatta dan Perdana
Menteri Sutan Sjahrir karena bertepatan dengan dibahasnya Indonesia dalam
sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York.
Headline
Merdeka 12 Februari 1946 berjudul “Tjita—Tjita
Indonesia Djangan Dihalangi Kekerasan Sendjata”—Kata Manuilsky, mengutip
pidato utusan Ukraina di PBB, Dr Dmitri Manuilsky, yang meminta agar PBB
mengirim komisi ke Indonesia. “Tidak ada orang bisa menyangkal bahwa tentera
Inggris telah menyerang penduduk Indonesia di Djawa pada waktu beberapa bulan
yang lampau dengan mempergunakan tank-tank, kapal terbang dan lain-lain alat
militer.”
Terkait
dengan keadaan Indonesia ada berita berjudul “Tegak Di Belakang Presiden” sebagai hasil Kongres Pejabatan Pos,
Telegrap dan Telepon seluruh Jawa dan Madura yang diadakan di Madiun 10, 11,
dan 12 Februari. Ada berita berjudul “Gerakan
Republik Indonesia Soerakarta Menjatakan Kepertjajaan 100%” terhadap
Pemerintah yang dijalankan oleh Kabinet Sjahrir, setelah organisasi yang
memiliki 75.000 itu rapat pada 9 Februari.
Dalam
suasana itulah kongres wartawan yang diadakan di Surakarta pada 9 dan 10
Februari. Mereka menunjukkan keberpihakan, karena yakin media punya peran besar
untuk menunjukkan sikap rakyat Indonesia, termasuk ke pihak luar yang mendukung
kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu ditegaskan sikap wartawan ialah “Tiap wartawan Indonesia berkewajiban
bekerja bagi kepentingan Tanah Air dan Bangsa serta selalu mengingat akan
Persatuan Bangsa dan Kedaulatan Negara”. Sehingga seperti juga unsur bangsa
lainnya yang tengah berjuang mempertahankan negaranya yang tengah dijajah lagi,
wartawan peserta kongres menempatkan diri sebagai pejuang sekaligus. Dan
menyadari bahwa besarnya politik adu domba Belanda, mengingatkan bahwa dalam
bekerja mereka harus memikirkan persatuan dan kedaulatan negara.
Poin lain
hasil kongres adalah kesadaran bahwa para wartawan Indonesia yang hadir sudah
memikirkan masalah percetakan dan penerbitan koran, sebagai alat produksi dan
juga alat perjuangan. Sebab hanya melalui media mereka bisa terus menggelorakan
perjuangan dan memberi informasi kepada masyarakat di berbagai pelosok yang
juga coba dikuasai oleh Belanda. Berdirinya PWI ini kemudian kita ketahui
diikuti dengan berdirinya Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) setahun kemudian di
Yogya.
Berbagai catatan di atas menunjukkan magnitude peristiwa 9 Februari 1946 sebagai modal untuk menetapkannya sebagai Hari Pers Nasional dibandingkan dengan peristiwa lainnya, sebab tanggal itu bukan sekadar hari lahir PWI tetapi bersatunya seluruh wartawan untuk menyokong Republik Indonesia berusia jabang bayi yang terancam keberadaannya, agar dapat bertahan kukuh berdiri sebagai negara kesatuan seperti yang kita saksikan saat ini.
***
Dalam
pertemuan yang dilakukan Dewan Pers untuk membahas Hari Pers Nasional atas
usulan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Ikatan Jurnalis Televisi
Independen (IJTI) dan dihadiri pemangku kepentingan, April 2018 lalu, sebagian
besar peserta berpendapat bahwa sebaiknya organisasi wartawan dan pers lebih
memikirkan tentang berbagai persoalan yang melanda jurnalisme saat ini. Mulai
dari merosotnya performa media cetak dari sisi jumlah media, jumlah oplah, dan
keuntungan, karena digerus news agregator; semakin dipinggirkannya etika
jurnalistik atas nama rating, kecepatan memberitakan, dan menurunnya kualitas
wartawan; semakin suburnya media siber tidak bermutu karena begitu mudah dan
murah untuk mendirikannya, yang diikuti dengan semakin banyaknya orang mengaku
wartawan yang sama sekali tidak dibekali pelatihan ketrampilan jurnalistik
apalagi pemahaman Kode Etik Jurnalistik.
Wartawan
adalah profesi intelektual yang bekerja bagi sebesar-besarnya kepentingan
publik, dalam hal ini untuk mengontrol kekuasaan, menyampaikan informasi,
mengajak mereka berpartisipasi dalam pengambil kebijakan dengan membuka ruang
diskusi dengan pembuat kebijakan. Wartawan bukan politisi yang sibuk
berpolitik, yang sibuk untuk menuding dan mencari-cari kesalahan orang,
mempersoalkan yang tidak penting, karena rasa tidak suka atau cemburu.
Dewan Pers
yang memiliki SDM dan anggaran terbatas seharusnya dibantu oleh konstituen agar kemerdekaan pers
Indonesia dapat terpelihara sesuai dengan semangat reformasi, apalagi saat ini
tengah digerogoti pihak-pihak yang mengaku wartawan tetapi tidak bekerja dalam
koridor kode etik yang telah disepakati bersama oleh komunitas pers. Adapula
untuk mengamandenen UU Pers no 40 agar pers kembali ke dalam rezim izin dan
sensor, dengan alasan kemerdekaan pers sudah kebablasan karena media mengungkap
kebobrokan kinerja aparat eksekutif, anggota parlemen, maupun penegak hukum
lainnya.
Sebagai
organisasi terbesar dengan anggota mencapai hampir 20.000 wartawan aktif PWI menjadi pendukung
utama sertifikasi wartawan yang digagas Dewan Pers, telah mensertifikasi sekitar 13.000 anggotanya, dari total sekitar 20.000 sertifikat yang telah dikeluarkan
Dewan Pers. PWI juga mendorong media yang dipimpin anggotanya untuk diverifikasi
agar dipercaya baik oleh narasumber maupun mitra kerja. PWI juga melatih lebih
dari 1000 anggotanya setiap tahun agar semakin profesional, berwawasan, dan
menjunjung tinggi etika jurnalistik.**
(Tulisan ini
merupakan hak jawab atas tulisan Leo S Batubara di Kompas terkait HPN 2018.
Karena Hendry Ch Bangun masih aktif di Kompas, digunakan nama Tribuana Said,
Penasehat PWI Pusat. Data tentang sertifikasi anggota PWI diperbaiki sampai
kondisi akhir 2021 dan ada sedikit penambahan kalimat)
Tag : No Tag
Berita Terkait
Rehat
Tajuk
Memahami Pemikiran Jenderal Dudung Abdurachman
PERLUNYA MENGUBAH CARA PANDANG PEDAGANG DI LOKASI WISAT...
Berita Populer
Arief Putra Musisi Anyar Indonesia
Ketua Umum GRIB H Hercules Rozario Marshal, Saya Bagian Dari Masyarakat Indramayu
Project Fly High Terinspirasi dari Pengalaman Hidup Dr Joe dan Tamak
Dari Kegiatan Aksi Sosial, Hercules Kukuhkan Ketua DPC GRIB JAYA Se-Jawa Barat
Chief Mate Syaiful Rohmaan
SAU7ANA
GMBI Kawal Kasus Dugaan Penipuan PT. Rifan Financindo Berjangka di PN Bandung
Indramayu Diguncang Gempa Magnitudo 4.4, Kedalaman 280 Kilometer
Ivan Lahardika Arranger dan Komposer Indonesia
SAU7ANA Come Back