Loading

Dua Dekade Mengabdi untuk Guru Indonesia, Ahmad Budidarma, Pendidikan Tak Boleh Berhenti di Atas Kertas


Penulis: Nuning Sapta Rahayu
11 Jam lalu, Dibaca : 40 kali


Dr. Ahmad Budidarma, S.Kom., M.M

Dr. Ahmad Budidarma, S.Kom., M.M, Ketua Tim Kerja Pembelajaran, Kesejahteraan, dan Penghargaan pada Direktorat Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Sumber: Ahmad Budidarma)


Lebih dari dua dekade mengabdi di dunia pendidikan mengajarkan Ahmad Budidarma bahwa membangun pendidikan Indonesia tidak cukup dilakukan melalui kebijakan dan program di atas kertas. Pendidikan harus hadir dalam kehidupan nyata, menjangkau guru di pelosok negeri, serta membuka kesempatan belajar yang bermutu bagi setiap anak, tanpa terkecuali. 

Bagi Ketua Tim Kerja Pembelajaran, Kesejahteraan, dan Penghargaan pada Direktorat Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah ini, keberhasilan pendidikan pada akhirnya bukan sekadar tentang berapa banyak program dijalankan, melainkan seberapa besar perubahan yang dirasakan guru dan murid.

Lebih dari Dua Dekade Mengabdi untuk Guru

Dr. Ahmad Budidarma, S.Kom., M.M., mulai mengabdi sebagai calon pegawai negeri sipil (CPNS) pada 2005 dan resmi menjadi pegawai negeri sipil (PNS) pada 2006. Sejak saat itu, perjalanan kariernya semakin erat dengan upaya mendukung peningkatan kualitas, profesionalisme, dan kesejahteraan guru di Indonesia.

Dalam menjalankan amanahnya saat ini, ia bersama tim berupaya memperkuat pembelajaran, meningkatkan kompetensi profesional guru, serta mendorong perhatian yang lebih besar terhadap kesejahteraan dan penghargaan atas dedikasi para pendidik.

Baginya, guru bukan sekadar pelaksana kurikulum. Guru merupakan penggerak perubahan, pembentuk karakter bangsa, sekaligus bagian penting dalam mempersiapkan masa depan Indonesia.

Pandangan tersebut menjadi landasan dalam menjalankan tugas. Upaya meningkatkan kualitas guru, menurutnya, bukan semata-mata persoalan administratif atau pelaksanaan program, melainkan tanggung jawab untuk memastikan bahwa guru memperoleh dukungan yang dibutuhkan dalam menjalankan profesinya.

Sebab, kualitas pendidikan berkaitan erat dengan kesempatan yang dimiliki guru untuk terus belajar, berkembang, dan memberikan layanan pembelajaran yang bermakna bagi peserta didik.

Dari Teknologi Informasi Menuju Manajemen Pendidikan

Perjalanan akademik Ahmad Budidarma memperlihatkan semangat belajar yang terus berkembang. Ia memulai pendidikan melalui Diploma III Manajemen Informatika, kemudian melanjutkan studi Sarjana Sistem Informasi di Universitas Gunadarma.

Perjalanan tersebut berlanjut ke jenjang magister dengan mengambil konsentrasi Manajemen Sumber Daya Manusia di Universitas Lambung Mangkurat. Ketertarikannya terhadap persoalan pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia kemudian membawanya menempuh pendidikan doktoral pada Program Studi Manajemen Pendidikan di Universitas Negeri Jakarta. Pada Juli 2025, ia berhasil menyelesaikan pendidikan doktoralnya.

Latar belakang pendidikan yang bermula dari bidang teknologi informasi tidak menghalanginya untuk berkontribusi dalam pengembangan pendidikan. Sebaliknya, perjalanan tersebut menjadi bagian dari proses panjang yang mempertemukannya dengan beragam persoalan, mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia hingga pengembangan kebijakan pendidikan.

Baginya, keberhasilan menyelesaikan pendidikan doktor bukanlah akhir perjalanan akademik. Ia memandangnya sebagai awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk memberikan kontribusi melalui pemikiran, penelitian, dan pengabdian.

Pandangan ini sejalan dengan prinsip belajar sepanjang hayat yang selalu dipegangnya. Dunia pendidikan terus berubah, sehingga para pelakunya perlu terus memperbarui pengetahuan, memperluas perspektif, dan menyesuaikan pendekatan dengan kebutuhan zaman.

Pengalaman di Daerah 3T: Ketika Kebijakan Bertemu Kenyataan

Salah satu pengalaman yang membekas dalam perjalanan pengabdian Ahmad Budidarma adalah keterlibatannya dalam Program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T), khususnya pada 2016.

Melalui pengalaman tersebut, Ketua Tim Kerja Pembelajaran, Kesejahteraan, dan Penghargaan pada Direktorat Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus tersebut semakin memahami bahwa persoalan pendidikan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kondisi geografis, distribusi guru, akses transportasi, kesejahteraan pendidik, serta keberlanjutan kebijakan.

Indonesia memiliki wilayah yang luas dengan karakteristik dan kebutuhan pendidikan yang beragam. Tantangan yang dihadapi sekolah di perkotaan tidak selalu sama dengan persoalan yang dialami satuan pendidikan di pulau-pulau terluar atau daerah terpencil.

Dalam konteks tersebut, pemerataan guru menjadi persoalan penting. Ketersediaan tenaga pendidik tidak hanya berkaitan dengan jumlah, tetapi juga menyangkut bagaimana guru dapat menjangkau wilayah yang membutuhkan dan memperoleh dukungan untuk menjalankan tugasnya.

Pengalaman itu kemudian menjadi salah satu pijakan bagi Ahmad Budidarma dalam melakukan penelitian disertasi mengenai evaluasi kebijakan Program SM3T tahun 2016–2017 di Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau.

Penelitian tersebut mencerminkan perhatiannya terhadap hubungan antara kebijakan dan kebutuhan nyata di lapangan. Baginya, pendidikan tidak boleh berhenti pada teori atau perencanaan administratif. Kebijakan harus mampu memberikan manfaat bagi masyarakat, termasuk mereka yang tinggal jauh dari pusat perkotaan.

Ia juga mengingat semangat para guru dan calon guru yang bersedia meninggalkan kenyamanan kota untuk mengajar di wilayah dengan berbagai keterbatasan. Pengalaman tersebut memperkuat keyakinannya bahwa pengabdian para pendidik perlu diimbangi dengan kebijakan yang mendukung keberlangsungan tugas mereka.

Menguatkan Kompetensi Guru, Membuka Peluang bagi Murid 

Dr. Ahmad Budidarma dalam salah satu kegiatan microcredential bersama perguruan tinggi Internasional (Sumber: Kemendikdasmen)

Selain memperhatikan pemerataan guru, Ahmad Budidarma juga terlibat dalam berbagai upaya pengembangan kompetensi pendidik. Cakupannya antara lain penguatan pembelajaran, pendidikan inklusif, keterampilan vokasional bagi guru pendidikan khusus, bimbingan dan konseling, serta pengembangan kompetensi melalui pembelajaran digital.

Salah satu bidang yang menjadi perhatiannya adalah penguatan keterampilan vokasional bagi guru pendidikan khusus. Program yang dikoordinasikan dan dilaksanakan bersama tim mencakup keterampilan teknologi informasi dan pemasaran digital (digital marketing), pertanian, serta tata rias kecantikan.

Pengembangan keterampilan tersebut diarahkan untuk membantu guru menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual sesuai kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus. Pendidikan, dalam pandangan ini, tidak hanya berbicara tentang pencapaian akademik, tetapi juga tentang pengembangan keterampilan hidup dan peluang menuju kemandirian.

Upaya peningkatan kompetensi juga dilakukan melalui program microcredential yang melibatkan kerja sama dengan perguruan tinggi internasional, antara lain Hiroshima University di Jepang dan Monash University di Australia. Bidang pembelajaran yang disebutkan dalam wawancara meliputi pendidikan inklusif, literasi dan numerasi, serta penguatan kesejahteraan psikologis guru.

Di sisi lain, penguatan layanan bimbingan dan konseling menjadi perhatian melalui program peningkatan kompetensi guru, termasuk guru yang bukan berlatar belakang bimbingan dan konseling. Salah satu pelaksanaannya berlangsung di Nusa Tenggara Timur.

Pengembangan pembelajaran digital melalui Studio Guru dan berbagai webinar peningkatan kompetensi juga menjadi bagian dari upaya memperluas akses guru terhadap sumber belajar tanpa harus selalu meninggalkan daerah tempat mereka bertugas.

Berbagai inisiatif tersebut menunjukkan bahwa pengembangan profesional guru membutuhkan pendekatan yang beragam. Kebutuhan guru pendidikan khusus, misalnya, tidak selalu sama dengan kebutuhan guru mata pelajaran di sekolah menengah. Demikian pula tantangan pendidik di wilayah terpencil memerlukan perhatian yang sesuai dengan kondisi setempat.

Namun, bagi Ketua Tim Kerja Pembelajaran, Kesejahteraan, dan Penghargaan tersebut, keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah peserta pelatihan, banyaknya webinar, atau sertifikat yang diterbitkan.

Inovasi pendidikan baru memiliki makna ketika pengetahuan yang diperoleh guru diterapkan dalam praktik pembelajaran dan memberikan dampak nyata bagi murid. Karena itu, pendampingan, penyebarluasan praktik baik, dan evaluasi dampak program tetap menjadi hal penting untuk diperkuat.

Tantangan Pendidikan Indonesia Membutuhkan Solusi yang Berkelanjutan

Menurut Ahmad Budidarma, salah satu tantangan terbesar pendidikan Indonesia adalah memastikan setiap anak memperoleh layanan pendidikan bermutu tanpa dibatasi lokasi geografis, kondisi ekonomi, maupun kebutuhan belajarnya.

Ia mengidentifikasi sejumlah persoalan yang memerlukan perhatian berkelanjutan, mulai dari pemerataan dan distribusi guru, peningkatan kompetensi dalam merespons perkembangan teknologi dan kecerdasan artifisial (AI), hingga penguatan pendidikan inklusif.

Kesejahteraan dan penghargaan terhadap guru serta kesinambungan kebijakan juga menjadi bagian penting dari tantangan tersebut.

Untuk menjawabnya, ia memandang perlunya kebijakan berbasis data, afirmasi bagi wilayah yang membutuhkan, penguatan kompetensi guru secara berkelanjutan, serta kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, masyarakat, dan dunia usaha.

Pendekatan tersebut penting karena persoalan pendidikan tidak dapat diselesaikan melalui satu program atau satu pihak saja. Pemerataan guru, misalnya, membutuhkan pemahaman terhadap kondisi daerah, perencanaan kebutuhan tenaga pendidik, dan dukungan yang memungkinkan guru menjalankan tugasnya secara berkelanjutan.

Sementara itu, perkembangan teknologi menuntut guru untuk terus belajar dan beradaptasi. Pemanfaatan AI dapat menjadi peluang dalam pembelajaran, tetapi tetap perlu disertai pertimbangan pedagogis dan pemahaman terhadap kebutuhan peserta didik.

Bagi Ahmad Budidarma, transformasi pendidikan juga perlu menempatkan guru sebagai subjek perubahan, bukan sekadar objek kebijakan. Guru perlu dilibatkan, didukung, dan diberi kesempatan untuk berkembang agar perubahan yang direncanakan dapat diterapkan secara bermakna di ruang kelas.

Dengan demikian, pendidikan bermutu untuk semua tidak berhenti sebagai slogan, tetapi menjadi kenyataan yang dapat dirasakan setiap anak Indonesia.

Integritas, Kebermanfaatan, dan Semangat Belajar Sepanjang Hayat

Dalam menjalankan tugas, Ahmad Budidarma memegang tiga nilai utama, yaitu integritas, kebermanfaatan, dan semangat belajar sepanjang hayat.

Integritas, menurutnya, berarti bekerja dengan penuh tanggung jawab, menjaga kepercayaan, dan menempatkan kepentingan pendidikan di atas kepentingan pribadi. Kebermanfaatan berarti memastikan bahwa setiap pekerjaan memiliki tujuan yang jelas dan memberikan dampak positif bagi orang lain. Adapun semangat belajar sepanjang hayat menjadi pengingat bahwa perubahan zaman menuntut setiap orang untuk terus mengembangkan diri.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi dalam menjalankan program pendidikan. Keberhasilan suatu inisiatif bukanlah hasil kerja satu orang, melainkan buah kontribusi banyak pihak, mulai dari pimpinan dan rekan kerja hingga guru, fasilitator, perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan mitra nasional maupun internasional.

Pengalaman bekerja sama dengan berbagai perguruan tinggi dan mitra dari Jepang, Australia, serta Korea Selatan memperkuat keyakinannya bahwa kolaborasi dapat membuka kesempatan belajar yang lebih luas bagi guru Indonesia.

Meski demikian, Ahmad Budidarma mengingatkan bahwa praktik baik dari negara lain perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik pendidikan nasional. Pembelajaran dari pengalaman internasional akan lebih bermakna apabila penerapannya mempertimbangkan kondisi sekolah, karakteristik peserta didik, dan tantangan yang dihadapi para pendidik di Indonesia.

Dalam memaknai kepemimpinan, ia menekankan pentingnya pertumbuhan bersama. Baginya, setiap anggota tim memiliki peran yang berarti dalam mencapai tujuan bersama.

Prinsip tersebut ia rangkum melalui gagasan untuk belajar, menyejahterakan, dan menghargai bersama. Kepemimpinan bukan tentang siapa yang paling menonjol, melainkan tentang bagaimana sebuah tim dapat berkembang dan memberikan manfaat secara kolektif.

Pendidikan Harus Membuka Harapan bagi Setiap Anak

Ke depan, Ahmad Budidarma berharap Indonesia memiliki sistem pendidikan yang semakin adil, inklusif, berkualitas, dan mampu menjangkau seluruh anak bangsa.

Ia membayangkan anak-anak yang tinggal di pulau terluar, wilayah pegunungan, maupun daerah terpencil memperoleh kesempatan belajar yang sama baiknya dengan anak-anak di kota besar.

Harapan tersebut juga berkaitan dengan masa depan profesi guru. Menurutnya, penghargaan terhadap guru perlu diwujudkan bukan hanya melalui pengakuan simbolis, tetapi juga melalui dukungan nyata terhadap kompetensi, kesejahteraan, dan pengembangan karier mereka.

Kepada para guru Indonesia, ia menyampaikan pesan agar terus belajar, beradaptasi dengan perkembangan zaman, dan tidak takut menghadapi perubahan teknologi, termasuk AI. Teknologi dapat membantu proses pembelajaran, tetapi empati, keteladanan, sentuhan kemanusiaan, dan kebijaksanaan guru tetap memiliki peran penting dalam mendampingi murid.

Sementara itu, kepada generasi muda, Ketua Tim Kerja Pembelajaran, Kesejahteraan, dan Penghargaan pada Direktorat Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus ini mengingatkan agar tidak berhenti bermimpi dan belajar. Keterbatasan tidak semestinya menjadi alasan untuk menyerah, melainkan dapat menjadi kesempatan untuk tumbuh dan menemukan jalan kontribusi.

Perjalanan akademik dan kariernya sendiri memperlihatkan bagaimana seseorang dapat berkembang melintasi bidang keilmuan. Berawal dari teknologi informasi, ia kemudian mendalami manajemen sumber daya manusia dan manajemen pendidikan, sambil terus memperluas kontribusinya dalam pengembangan guru.

Perjalanan tersebut menjadi pengingat bahwa seseorang tidak harus mengetahui seluruh jalan hidupnya sejak awal. Kemauan untuk terus belajar, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan memberikan manfaat bagi sesama merupakan bekal penting untuk terus bertumbuh.

Setelah lebih dari dua dekade mengabdi, Ahmad Budidarma semakin meyakini bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari banyaknya program yang terlaksana, tetapi dari perubahan yang dapat dihadirkan bagi guru dan masa depan anak-anak Indonesia.

Sebagaimana pesannya dalam wawancara ini, pembangunan pendidikan bukan sekadar membangun sekolah atau menyusun kebijakan, melainkan membangun harapan, membuka kesempatan, dan mempersiapkan masa depan anak-anak bangsa.

Selama masih ada guru yang tulus mengajar dan terus berupaya memberikan yang terbaik bagi muridnya, harapan bagi masa depan pendidikan Indonesia akan selalu terbuka. Tantangannya adalah memastikan bahwa semangat pengabdian tersebut didukung oleh kebijakan, kolaborasi, dan kesempatan belajar yang benar-benar menjangkau semua. 

Tag : No Tag

Berita Terkait