Loading

IN(S)T(A)G(R)(A)M


Dimas Bagus Aditya Pamungkas
3 Tahun lalu, Dibaca : 1470 kali


IN(S)T(A)G(R)(A)M

Oleh: Dimas Bagus Aditya Pamungkas, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta

Komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah banyak orang. Sekarang kita sudah masuk dalam era informasi, yang mana media massa menjadi saluran utamanya. Populasi di dunia tidak dapat terhindar dari media massa. Karena komunikasi massa menitikberatkan kajianya pada pola komunikasi melalui media massa, maka ini sudah menjadi tuntutan bagi masyarakat era informasi. Menurut Purworini (2014) komunikasi dua arah akan menggeser komunikasi satu arah seiring berkembangnya teknologi komunikasi khususnya media sosial. Mereka yang tidak mampu menyesuaikan diri akan tergilas oleh peradaban.

Seiring perkembangan teknologi komunikasi yang begitu cepat dan tanpa henti dengan adanya dukungan inovasi baru, kini muncul media berbasis teknologi digital yang menandai munculnya era media baru (new media). New media dapat meningkatkan interaksi sosial antar manusia, contohnya melalui beberapa jejaring sosial. New media ini didukung oleh perangkat informasi yang semakin canggih. Kekuatan utamanya terletak pada perangkat informasi baru seperti komputer, handphone, serta akses internet. Dengan keberadaan akses internet ini, para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi yang bisa digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia. Salah satu produk layanan jejaring sosial yang lahir berkat adanya akses internet yang saat ini sedang populer adalah Instagram.


Gambar 1. Logo Instagram terinspirasi dari kamera polaroid

Instagram merupakan suatu aplikasi yang populer dan di gandrungi oleh berbagai kalangan dari segala usia diera sekarang ini. Fitur yang paling utama dari jejaring sosial ini adalah tempat untuk berbagi foto maupun video dari pengguna kepada pengguna lainnya. Pengguna dapat memberikan caption sesuai dengan apa yang ingin diutarakan dan berbagai jenis filter pada unggahanya. Pada foto atau video yang diunggah, pengguna lain dapat memberikan respon langsung berupa like, comment dan saling mengirim pesan pribadi melalui direct messege. Selain itu, pengguna juga dapat saling mengikuti atau sering disebut dengan follower dan following. Instagram dapat diakses melalui smartphone berbasis android dan OS serta dapat diunggah di Play Store maupun Apple App Store.

Nama instagram berasal dari kata ‘Instan’ yang dimaksudkan seperti kamera polaroid yang pada masanya lebih dikenal dengan foto instan dan ‘Telegram’ yang merujuk pada sebuah alat bekerja mengirimkan informasi kepada orang lain dengan cepat. Hal ini sama dengan fungsi Instagram yang dapat mengunggah foto dengan koneksi internet, sehingga informasi yang ingin di sampaikan bisa tersalurkan dengan cepat.

Dalam perkembanganya Instagram terus berupaya menjadi salah satu media sosial terdepan. Sejak diakuisisi oleh perusahaan internet Facebook, Instagram terus berevolusi menjadi media sosial yang paling diminati. Sadar akan banyaknya pengguna dan kompetitor lain, Instagram terus menambahkan fitur demi mampu bersaing. Salah satu contoh fitur Instagram yang mampu memberi daya saing dari jejaring sosial lainya yaitu Snapchat adalah tersedianya Instagram stories.

Aplikasi yang pada mulanya muncul hanya untuk unggahan foto semata kini berubah menjadi salah satu raksasa media sosial dan dapat digunakan dalam berbagai hal. Fitur yang beragam dan selalu update menjadi daya tarik tersendiri bagi penggunanya. Menurut survei yang dilakukan oleh WeAreSocial.Net dan Hootsuite, pengguna Instagram di Indonesia merupakan yang terbanyak ketiga di dunia yaitu dengan angka kisaran 55 juta pengguna akun.

Menurut Rahadiyan (2017) interaksi sosial di dalam penggunaan media sosial Instagram cukup mempengaruhi emosi seseorang. Biasanya jika unggahan foto maupun video mendapatkan banyak likes maupun komentar positif maka unggahan tersebut akan lama bahkan tidak akan di hapus. Sebaliknya, jika unggahan mendapatkan sedikit likes dan komentar yang negatif maka unggahan tersebut akan segera di hapus. Karena dalam pengguna akun tersebut memberikan harapan secara emosional untuk menjadi yang terbaik.

Alasan mengapa Instagram sangat diminati antara lain adalah keuntungan yang sangat banyak untuk berbagai kebutuhan. Baik untuk media promosi, hiburan, pendidikan, bahkan sarana beragama dan lain lain. Para pengguna dapat mendapatkan uang yang banyak dari akun Instagram, biasanya terdapat pada endorser yang memiliki followers banyak kemudian dimanfaatkan sebagai media promosi. Dalam hal beragama pula Instagram dapat dimanfaatkan sebagai media dakwah. Banyak sekarang para pedakwah yang menyampaikan dakwahnya tidak hanya melalui mimbar saja melainkan di aplikasikan dengan postingan foto maupun video Instagram yang didukung dengan caption. Sebuah contoh cara dakwah yang dilakukan oleh @hanan_attaki terkenal sebagai ustadz gaul di kalangan muslim, @sayahindu yang dikelola oleh pengguna akun hindu di daerah Denpasar, Bali, @ungkapan.kristen oleh agama kristen dan masih banyak lagi.

Namun di balik itu semua, dalam penggunaan Instagram yang memiliki banyak manfaat ini ternyata menyimpan ancaman. Bagi para pengguna akun yang belum siap menggunakan Instagram secara utuh biasanya menggunakan sebagai sarana penyebar sara. Beragam motif digunakan dalam penyebaran sara tersebut. Jika tidak menggunakan real account, fake account atau akun palsu menjadi cara yang paling sering dilakukan. Menurut Nurudin (2018) dalam bermedia sosial pengguna tidak selalu menampakan hal yang sesungguhnya atau nyata. Terutama sara yang paling menonjol adalah sara dalam hal keagamaan.


Gambar 2. Contoh unggahan yang menghina ayat suci agama Islam

Keagamaan merupakan segala tata aturan hidup manusia yang di yakini berasal dari Tuhan yang harus di taati dalam berhubungan sesama manusia maupun lingkungan atau terhadap individu lainya. Perbedaan dalam beragama entah mengapa sulit diterima oleh masing masing golongan. Mengapa sebuah aplikasi yang diciptakan untuk membuat hubungan lebih harmonis lagi setiap umat, malah sebaliknya menimbulkan ancaman. Pada kenyataannya iman dari masyarakat Indonesia sendiri sangat mudah dilemahkan hanya  karena adanya postingan negatif yang menjurus pada hal yang bersifat sara. Mereka akan merasa terprovokasi sehingga konflik perbedaan pun tidak dapat terhindari. Inilah yang perlu diwaspadai. Sebagai pengguna instagram yang baik pastinya lebih mengerti apa itu bahaya sara. Namun, secara pengaplikasianya masih banyak unggahan mengenai sara beragama. Agama jika dibicarakan melalui media memang sangat sensitif. Karena postingan tersebut dilihat oleh kaum berbeda agama lainya.

Penggunaan media sosial instagram dapat juga mempengaruhi kesantunan dalam berbahasa seseorang baik tulis maupun lisan. Seperti yang dilakukan haters yang menggunakan kata kasar maupun yang mengandung unsur sara sehingga menimbulkan pelanggaran prinsip kesopanan maupun kesantunan (Octaviani: 2017).

Sebuah kasus lain yang tidak kalah sensitif dari agama adalah Ras. Rasisme selalu melekat pada suatu kelompok yang merasa pribadinya lebih unggul. Di Indonesia kasus rasisme yang sering terjadi adalah intoleransi dan juga merendahkan suatu ras. Sebagai mana rasisme tetap rasisme walaupun menggunakan nada bercanda, bahkan sering dilakukan contohnya ucapan : si sipit, si hitam, si pesek, dan lain sebagainya.


Gambar 3. Rasisme di dalam Instagram

Rasisme yang dilakukan secara sengaja maupun tidak pada dasarnya menjadi ancaman yang serius dalam mewujudkan perdamaian dunia. Permasalahan rasisme terjadi antara masyarakat mayoritas menguasai minoritas yang disebut dengan kolonialisme internal (Hafizh: 2016). Fenomena ini sebenarnya sangat memperihatinkan karena jelas sudah melanggar peri kemanusiaan. Saling mencela satu dengan yang lain dan menyebarkan ujaran kebencian.Janganlah suatu kaum atau golongan menjelek jelekan pihak lain karena belum tentu pihak yang menjelek jelekan itu lebih baik dari pada yang dijelek jelekan (Hakim: 2018).

Coba kita sedikit berandai andai, bahwa di dalam kehidupan yang di jalani sekarang ini terhindar dari kata sara, rasisme, dan tindakan lain yang dapat memecah belah ikatan lahir dan batin antar sesama. Pasti kehidupan akan lebih indah, damai, dan dapat terlepas dari konflik yang menjenuhkan.Sepertinya menyenangkan.

Seperti yang kita tahu bahwa di balik kegunaan jejaring sosial Instagram yang memiliki banyak manfaat ternyata dapat menimbulkan dampak yang berbahaya ketika kita salah atau tidak mampu menggunakanya dengan bijak. Untuk mengatasi itu semua agar tidak menjadi boomerang untuk diri kita sendiri maupun orang lain, perlu adanya kesadaran yang tinggi mengenai apa sih gunanya instagram diciptakan? Bukan ajang untuk para juru sara unjuk suara. Dan bagaimana problematika menyangkut agama dan mengingatkan untuk tetap menghargai perbedaan masing masing agama dan mengingatkan untuk tetap menghargai perbedaan masing masing agama dalam lingkup bermedia sosial khususnya Instagram.

Untuk mengatasi itu semua toleransi yang besar merupakan kuncinya. Tidak sedikit juga unggahan para akhun yang menyangkut perbedaan agama. Jika kita melihat perbedaan tersebut dengan rasa toleransi yang tinggi akan membuat adem melihatnya. Sebuah contoh unggahan yang dilakukan sebuah akun fotografi @htrgnc yang diambil oleh @mohrezago di rumah sakit Elisabeth Purwokerto 

Gambar 4. Contoh unggahan yang banyak mendapat respon positif karena mengangkat toleransi perbedaan antar agama saat beribadah

menunjukan seorang muslim yang sedang sholat dan nasrani sedang berdoa bersebelahan hanya di batasi dinding saja. Unggahan tersebut menjadi viral dan menunjukan sebuah toleransi yang sebenarnya. Bahkan foto sederhana yang memiliki makna luas ini mendapat respon positif di berbagai khalangan umat beragama.

Marilah kita untuk menghindari konflik yang dapat meluas ini kita gunakan aplikasi instagram dengan bijak sesuai kebutuhannya. Jangan merasa paling benar. Memberikan rasa toleransi yang tinggi akan segala perbedaan yang ada. Jangan sampai negara Indonesia ini terpecah belah oleh unsur sara dalam masing masing golongan. Sebagai netizen yang baik jika memiliki kesalahan perlu adanya saling mengingatkan tidak langsung menghujat agar terhindar dari kesalahpahaman yang menimbulkan konflik. Dari adanya banyak perbedaan setiap masyarakat diharapkan mampu meningkatkan tenggang rasa sehingga perbedaan yang ada dalam masyarakat mampu menguatkan bangsa Indonesia itu sendiri.

Melalui tulisan ini, sesama manusia yang diberikan hak asasi yang sama hentikanlah kebiasaan saling menghina, saling menuduh, provokasi dan lain sebagainya yang dapat merendahkan kaum lain agar kehidupan yang kita jalani di masa yang akan lebih harmonis lagi. Karena sejatinya, apa yang kita tulis maupun ungkapkan akan ada pertanggung jawabanya baik di dalam dunia maupun akhirat.


Tag : No Tag

Berita Terkait