Loading

Mengajar Bukan Sekadar Menyampaikan Materi: Memahami Pedagogik dalam Kehidupan Sekolah


Penulis: Muklis
12 Jam lalu, Dibaca : 47 kali


Muklis

Oleh Muklis (Guru Pendidikan Khusus Kab. Pangandaran)

 

Bayangkan sebuah kelas ketika guru menjelaskan penjumlahan. Di papan tulis tertulis 3 + 2 = 5. Beberapa murid segera mengangguk dan mengerjakan latihan. Seorang murid masih menatap angka, sementara murid lainnya baru memahami setelah menghitung tiga tutup botol yang digabungkan dengan dua tutup botol. Penjelasannya sama, tetapi jalan menuju pemahaman ternyata berbeda. Ilustrasi sederhana ini menunjukkan persoalan yang akrab dalam kehidupan sekolah: materi yang sudah disampaikan belum tentu sudah dipahami.

Di sinilah pedagogik menemukan maknanya. Pedagogik dapat dipahami sebagai kajian tentang pendidikan dan proses membantu murid belajar. Perhatiannya mencakup tujuan yang hendak dicapai, karakteristik murid, pengalaman belajar yang dirancang, serta cara mengetahui perkembangannya. Dalam praktik sehari-hari, pedagogik hadir ketika guru mempertimbangkan mengapa suatu kegiatan dipilih dan bagaimana kegiatan itu membantu murid mencapai tujuan.

Karena itu, pekerjaan guru melibatkan rangkaian keputusan yang saling berkaitan. Jika tujuannya memahami penjumlahan sebagai kegiatan menggabungkan, pengalaman belajar perlu memberi kesempatan kepada murid untuk melihat atau melakukan penggabungan. Penilaiannya pun perlu menunjukkan pemahaman tersebut. Keberhasilan menyalin contoh dari papan tulis belum cukup memberikan gambaran apakah murid memahami makna penjumlahan.

Lee S. Shulman, dalam artikelnya pada 1986, mengemukakan pentingnya pengetahuan tentang bagaimana suatu materi diajarkan, yang dikenal sebagai pedagogical content knowledge. Gagasan ini membantu menjelaskan bahwa penguasaan materi perlu terhubung dengan kemampuan menyajikannya. Guru perlu memilih contoh, perumpamaan, penjelasan, dan representasi yang membuat pengetahuan dapat dijangkau oleh murid.

Seorang guru mungkin sangat memahami bilangan. Namun, ketika berhadapan dengan murid yang belum mengenali hubungan antara lambang angka dan jumlah benda, ia perlu menemukan titik awal yang sesuai. Bagi murid tertentu, titik awal itu berupa benda konkret. Bagi yang sudah memahami konsepnya, latihan langsung menggunakan angka dapat menjadi pilihan. Keputusan tersebut memerlukan pengamatan terhadap kemampuan awal setiap murid.

Dalam konteks SLB, pertimbangan ini terasa dekat dengan keseharian guru. Satu kegiatan dapat memerlukan pilihan cara berkomunikasi, tingkat bantuan, dan waktu pengerjaan yang berbeda. Seorang murid dapat menunjukkan jawaban dengan berbicara, menunjuk, memilih kartu, atau menyusun benda. Guru perlu memastikan bahwa cara menjawab memungkinkan kemampuan yang menjadi tujuan pembelajaran terlihat dengan jelas.

Pedagogik juga tampak ketika guru memilih kalimat instruksi. Perintah seperti “Ambil bukunya, buka halaman lima, lalu kerjakan soal pertama” memuat beberapa tindakan sekaligus. Jika murid kesulitan mengikutinya, guru dapat menyampaikan satu langkah terlebih dahulu, memastikan murid memahami, kemudian melanjutkan. Penyesuaian ini membantu guru mengetahui bagian mana yang sudah dapat dilakukan dan bagian mana yang masih memerlukan dukungan.

Barak Rosenshine, melalui Principles of Instruction pada 2012, merangkum prinsip pembelajaran berbasis penelitian, antara lain menyajikan materi dalam langkah kecil, memberikan contoh, membimbing latihan, dan memeriksa pemahaman. Prinsip tersebut memberi pegangan untuk merancang pembelajaran secara bertahap. Guru dapat memperagakan suatu proses, mengajak murid mencoba bersama, lalu memberi kesempatan bekerja lebih mandiri sesuai perkembangannya.

Tindakan kecil lainnya adalah memberi waktu berpikir. Setelah mengajukan pertanyaan, guru dapat menyediakan jeda yang sesuai sebelum mengulang atau memberikan bantuan. Selama jeda itu, guru mengamati respons murid: apakah sedang memperhatikan benda, menyusun jawaban, atau belum memahami pertanyaan. Pengamatan tersebut menjadi dasar untuk menentukan bantuan berikutnya, sehingga bantuan diberikan sesuai kebutuhan yang terlihat.

Memeriksa pemahaman juga perlu dilakukan melalui tindakan yang dapat diamati. Pertanyaan “Sudah mengerti?” dapat dilengkapi dengan permintaan untuk menunjukkan, mencoba, menjelaskan kembali, atau menerapkan pengetahuan dalam situasi sederhana. Saat belajar penjumlahan, misalnya, murid diminta menggabungkan dua kelompok benda dan menentukan jumlahnya. Respons murid memberi informasi untuk melanjutkan, mengulang, atau mengubah cara penyajian materi.

Pada akhirnya, memahami pedagogik mengajak guru menata perhatian sejak sebelum pembelajaran dimulai. Siapa murid yang akan belajar? Apa yang sudah mereka kuasai? Pengalaman apa yang dapat membantu mereka memahami? Bagaimana kemajuannya akan dikenali? Pertanyaan-pertanyaan ini membuat keputusan mengajar memiliki arah yang jelas. Dari pemilihan satu benda, satu kalimat instruksi, hingga satu kesempatan mencoba, guru sedang membangun jalan belajar yang dapat ditempuh murid. Di situlah mengajar menjadi pekerjaan yang penuh pertimbangan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap perkembangan setiap anak.

 

Tag : No Tag

Berita Terkait