Reporter: Syah Ma'mur
4 Jam lalu, Dibaca : 204 kali
Dari Bandung, Jakarta hingga berbagai kota di Indonesia, empat grup nasyid Malaysia ini pernah menjadi bagian penting dari perjalanan musik nasyid dan musik religi di Indonesia.Jauh sebelum media sosial, YouTube, dan platform streaming menjadi mesin utama industri musik, ada sebuah masa ketika musik nasyid mampu membangun basis penggemar lintas negara melalui kaset, CD, radio, televisi,Pondok Pesantren/Ponpes, majelis majelis Ta'lim, aktivis dakwah kampus berbondong bondong datang menyaksikan konser nasyid secara langsung yang mana setelah era Reformasi Indonesia 1998 ini adalah sejarah awal dan pertama bagi umat Islam Indonesia mendatangi even2 konser Islami yang selama era itu event konser2 di Indonesia didominasi oleh konser2 musik main stream dari negara negara Barat.
Nama nama group
nasyid Raihan, Hijjaz, dan Rabbani,Brothers menjadi empat grup asal Malaysia
yang tidak hanya dikenal di negara asalnya, tetapi juga memiliki penggemar yang
sangat kuat di Indonesia.
Fenomena tersebut
terutama terasa pada penghujung 1990-an hingga dekade 2000-an. Pada masa itu,
nasyid tidak lagi hanya berada di lingkungan komunitas tertentu. Musik dengan
pesan keislaman tersebut mulai memasuki ruang publik dan bersentuhan dengan
industri hiburan arus utama.
Bandung menjadi
salah satu kota yang memiliki hubungan sangat kuat dengan perkembangan fenomena
tersebut.
Sebuah kajian
mengenai sejarah nasyid di Bandung periode 1990–2004 mencatat bahwa nasyid
Malaysia, khususnya Raihan, menjadi sangat populer di masyarakat Bandung.
Bahkan konser Raihan di Sabuga pada 1999 disebut sebagai salah satu konser
nasyid yang paling padat pengunjung pada masa tersebut, dengan sekitar 3.500
penonton.
Namun kisah Raihan
di Indonesia sebenarnya jauh lebih besar daripada sekadar satu konser.
RAIHAN DAN
GELOMBANG BESAR PENGGEMAR INDONESIA
Raihan mulai
dikenal luas melalui album Puji-Pujian, yang diluncurkan pada 1996. Album
tersebut kemudian menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan nasyid
modern Malaysia.
Ketika popularitas
Raihan semakin besar, Indonesia menjadi salah satu pasar yang sangat potensial.
Dalam catatan
wawancara Medikom dengan Dr Kyai Haji Agus Idwar Jumhadi (AIJ) yang pernah
dimuat Medikom, pada 1999 dilakukan road show Raihan di empat kota dan kampus
besar Indonesia, yakni UI Depok, ITB Bandung, UGM Yogyakarta dan UNAIR
Surabaya.
Hasilnya
menunjukkan betapa besarnya antusiasme masyarakat Indonesia.
Balairung UI Depok
tercatat dihadiri lebih dari 9.000 orang, ITB Bandung sekitar 3.500 orang, UGM
Yogyakarta sekitar 4.000 orang, sementara UNAIR Surabaya sekitar 1.500 orang.
Jika angka
tersebut dijumlahkan, empat pertunjukan tersebut saja telah menghasilkan
sekitar 18.000 penonton.
Yang menarik,
menurut penuturan AIJ dalam wawancara tersebut, rangkaian pertunjukan Raihan
pada 1999 pada awalnya lebih mengedepankan syiar dan silaturahmi, bukan
semata-mata pertunjukan komersial.
Fenomena itu
menunjukkan satu hal penting:
Raihan tidak
datang ke Indonesia sebagai artis asing yang sekadar mencari pasar. Mereka
datang dan menemukan komunitas penggemar yang memang sudah menunggu.
Dalam perkembangan
berikutnya, pengelolaan pasar Indonesia Raihan juga melibatkan pihak promotor
dan jaringan lokal, termasuk Venusa Produktion Indonesia, yang pada masa
tersebut ikut berperan dalam mempertemukan Raihan dengan publik Indonesia.
Bahkan berdasarkan
catatan dan pengalaman pelaku yang terlibat dalam aktivitas tersebut, basis
penggemar Raihan pernah menjangkau berbagai wilayah Indonesia.
HIJJAZ DAN KUATNYA
BASIS PENGGEMAR BANDUNG–JAKARTA
Jika Raihan
memiliki daya jangkau yang sangat luas, maka Hijjaz memiliki karakter penggemar
khusus yang sangat kuat di sejumlah kota besar, terutama Bandung dan Jakarta.
Hijjaz hadir pada
periode ketika masyarakat Indonesia sedang mengalami gelombang besar
ketertarikan terhadap musik nasyid Malaysia.
Kehadiran mereka
tidak berhenti pada penjualan album.
Pertunjukan
langsung menjadi bukti bahwa musik nasyid memiliki kemampuan mengumpulkan massa
dalam jumlah besar.
Hijjaz pernah
tampil bersama penyanyi selawat Indonesia Haddad Alwi di Sabuga Hall Bandung,
sebuah venue yang pada masa itu menjadi salah satu tempat penting bagi
pertunjukan musik dan acara berskala besar di Bandung.
Pertengahan dekade
2000-an, Hijjaz juga pernah mengelar show yang sangat keren dan fenomena di
kawasan Lapangan Gazebo Bandung, di depan Gedung Sate kompleks pemerintahan
Propinsi Jawa Barat.
Berdasarkan
catatan yang menjadi bahan tulisan ini, pertunjukan tersebut berhasil
menghadirkan sekitar 5.000 penonton.
Angka tersebut
tentu menarik jika dilihat dari konteks zamannya.
Tidak ada TikTok.
Tidak ada
Instagram.
Tidak ada YouTube
sebagai mesin promosi.
Tidak ada
algoritma yang setiap hari mengirimkan lagu ke layar ponsel.
Penggemar datang
karena mereka mengenal lagu, membeli kaset/CD, mendengarkan radio, melihat
televisi, mengikuti komunitas dan mendapatkan informasi dari jaringan penggemar
serta promotor.
Artinya, kemampuan
sebuah grup nasyid mengumpulkan ribuan orang pada masa tersebut merupakan
indikator kuat bahwa mereka memang memiliki fan base yang nyata.
RABBANI DAN
FENOMENA “INTIFADAH”
Kemudian ada
Rabbani.
Perjalanan Rabbani
bahkan memiliki akar yang lebih panjang. Para anggotanya sebelumnya
beraktivitas bersama group nasyid klasik Nada Murni, sebelum Rabbani resmi
berdiri pada 1997.
Memasuki
penghujung 1990-an dan awal 2000-an, Rabbani semakin dikenal melalui
album-albumnya.
Salah satu titik
penting adalah album Intifadah.
Album tersebut
dirilis pada Desember 2000 dan menjadi salah satu album penting dalam perubahan
warna musik Rabbani. Lagu “Intifadah” kemudian menjadi salah satu lagu khas
mereka. Album tersebut juga dilaporkan terjual lebih dari 70.000 kopi dan
kemudian meraih penghargaan Album Nasyid Terbaik Malaysia pada Anugerah
Industri Muzik(AIM) 2002 dan yang luar biasa kerenya di Indonesia Album Intifadah dari Rabbani terjual 500.000 copy.
Bagi penggemar
Indonesia, periode tersebut menjadi salah satu masa ketika nama Rabbani semakin
kuat.
Di Bandung,
popularitas tersebut bahkan berujung pada pertunjukan yang tidak biasa menjadi
pertunjukan sangat luar biasa.
Pada sekitar 2001,
Rabbani disebut pernah menggelar dua kali
pertunjukan dalam sehari di Sabuga Hall Bandung dengan promotor Venusa
Produktion Indonesia.
Mengapa sampai dua
kali show dalam sehari?
Jawabannya
sederhana:
karena basis
penggemarnya memang sangat besar.
Rabbani bukan nama
baru bagi penggemar nasyid Indonesia.
Mereka sudah
dikenal sejak periode Nada Murni, kemudian bertransformasi menjadi Rabbani dan
terus berkembang.
Dengan demikian,
ketika era album Intifadah datang, mereka tidak membangun pasar dari nol.
Mereka sudah mempunyai modal berupa nama, lagu, sejarah dan basis penggemar.Hal
ini dikuatkan oleh Azadan Rabbani melalui interview Medikom via WhatsApp yang
mana beliau berkunjung ke Jakarta dan Bogor untuk urusan bisnis pada 16 Agustus
2026 , Azadan Rabbani menyampaikan kepada Medikom, ana(saya) masih ingat, malah
kenangan itu sangat sukar untuk dilupakan. Konsert Rabbani di Hall Sabuga Bandung pada tahun 2001 merupakan antara
detik paling bersejarah dalam perjalanan seni kami. Sambutan yang diterima
begitu luar biasa sehingga konsert terpaksa diadakan sebanyak dua kali dalam
satu hari bagi memenuhi permintaan penonton.
Ketika itu, kami
benar-benar terharu dan hampir tidak percaya melihat Hall Sabuga dipenuhi
penonton untuk kedua-dua sesi persembahan. Walaupun penat kerana perlu membuat
dua persembahan dalam sehari, semangat dan sokongan luar biasa daripada para
peminat Indonesia membuatkan segala keletihan seakan-akan hilang.
Para Fans Rabbani
Indonesia Mereka bukan sekadar datang untuk menyaksikan persembahan Rabbani,
malah turut menyanyi bersama-sama dan menghayati setiap lagu yang kami
sampaikan. Walaupun Rabbani berasal dari Malaysia, masyarakat Indonesia
khususnya warga kota Bandung menerima kami dengan penuh kasih sayang seperti
saudara sendiri.
Perasaan kami
ketika itu bercampur-baur—gembira, terharu, bersyukur dan pada masa yang sama
berasa sangat bertanggungjawab. Sambutan tersebut menyedarkan kami bahawa muzik
mampu merentasi sempadan negara, bahasa dan budaya. Mesej tentang kasih sayang,
kemanusiaan serta nilai-nilai kehidupan yang dibawa melalui lagu-lagu Rabbani
dapat diterima dengan begitu baik oleh masyarakat Indonesia.
Bagi ana (saya)
secara peribadi, apabila berdiri di atas pentas dan melihat ribuan penonton
memenuhi Hall Sabuga Bandung, hati saya berkata, “Ini bukan semata-mata
kejayaan Rabbani, tetapi satu amanah yang sangat besar.”
Kenangan itu kekal
dalam hati kami sehingga hari ini. Bandung dan seluruh masyarakat Indonesia
sentiasa mempunyai tempat yang sangat istimewa dalam perjalanan Rabbani. Jika
diberikan kesempatan, sudah tentu kami ingin kembali bertemu dan menghiburkan
para peminat di Indonesia khususnya Bandung dan Jawa Barat.

Azadan Rabbani
nasyid
DAQMIE DAN JEMBATAN MUSIK NASYID KE INDUSTRI MUSIK MODERN
Ada satu nama lain
yang menarik jika membicarakan periode tersebut, yaitu Daqmie.
Dalam perkembangan
musik nasyid Malaysia, Daqmie dikenal sebagai komposer dan arranger.
Keterlibatannya dalam musik yang kemudian karya nya di zaman now viral beredar
di Indonesia (lagu Casblanca,lagu Masa ost series Bida'ah) memperlihatkan bahwa
ekosistem nasyid sebenarnya tidak berdiri sendiri.
Ada penyanyi.
Ada grup.
Ada komposer.
Ada arranger.
Ada label.
Ada promotor.
Dan tentu saja ada
penonton.
Fenomena tersebut
menunjukkan bahwa industri nasyid pada masa itu telah membentuk sebuah
ekosistem lintas negara.
BUKAN SEKADAR
MUSIK RELIGI
Jika melihat
perjalanan Raihan, Hijjaz,Rabbani,Brothers dari perspektif hari ini, ada satu
hal yang sering terlupakan.
Mereka pernah
menjadi sebuah fenomena budaya populer.
Ketiga grup
tersebut tidak hanya menjual lagu.
Mereka membawa
identitas.
Mereka mempunyai
gaya berpakaian.
Mereka mempunyai
karakter vokal.
Mereka mempunyai
lagu-lagu yang dikenal masyarakat.
Dan yang paling
penting, mereka mempunyai komunitas penggemar
yang rela jauh jauh dari seluruh propinsi di Indonesia datang ke lokasi
pertunjukan.
Bahkan sebuah
kajian mengenai perkembangan nasyid Bandung menyebut bahwa popularitas Raihan
ikut mendorong masyarakat mengenal grup-grup nasyid Indonesia yang sebelumnya
kurang mendapatkan perhatian.
Dengan kata lain,
keberhasilan grup nasyid Malaysia justru ikut menciptakan ekosistem nasyid di
Indonesia.
DARI KASET KE
KONSER: SEBUAH INDUSTRI YANG PERNAH BESAR
Ada pelajaran
penting dari fenomena ini.
Pada era 1990-an
hingga awal 2000-an, sebuah lagu bisa menjadi populer tanpa bantuan algoritma.
Promosinya mungkin
hanya melalui radio, televisi, toko kaset, majalah, komunitas, sekolah, kampus,
masjid dan rekomendasi dari mulut ke mulut.
Namun ketika lagu
tersebut berhasil menyentuh masyarakat, dampaknya bisa sangat besar.
Raihan
membuktikannya melalui tur empat kota pada 1999.
Hijjaz
membuktikannya melalui pertunjukan yang mampu mengumpulkan ribuan penggemar.
Rabbani
membuktikannya melalui popularitas album dan konsernya,Brothers pun membuktikan
nya dengan cengkok akrobatik suara kekinian di zaman milenium serta style
tampilan mereka yang modis milenium.
Dan semua itu
terjadi ketika media sosial bahkan belum lahir.
Karena itu,
membicarakan sejarah musik nasyid Indonesia tanpa melihat peran grup-grup
Malaysia seperti Raihan, Hijjaz, Rabbani dan Brothers akan membuat sebagian
dari sejarah tersebut terasa tidak lengkap.
Mereka bukan
sekadar “artis Malaysia yang pernah populer di Indonesia”.
Mereka pernah
menjadi bagian dari perjalanan industri musik religi Indonesia.
DAN PERTANYAANNYA
SEKARANG...
Mengapa fenomena
sebesar itu sulit terulang dengan skala yang sama pada generasi sekarang?
Apakah karena
perubahan industri musik?
Apakah karena pola
konsumsi musik berubah?
Apakah karena
komunitas pendengar sekarang semakin terfragmentasi oleh algoritma?
Atau justru karena
industri musik saat ini belum menemukan kembali formula yang dahulu membuat
sebuah lagu mampu menyatukan ribuan orang dalam satu tempat?
Pertanyaan
tersebut menarik untuk dibahas.
Sebab sejarah
Raihan, Hijjaz,Rabbani dan Brothers menunjukkan bahwa musik nasyid dan musik
religi sebenarnya pernah mempunyai kekuatan komersial, budaya dan massa yang
sangat besar di Indonesia.
Dan Bandung dengan
sejarah komunitas musik terkuat di Indonesia,dengan base aktifis islam
kampus,santri santri Pondok Pesantren/Ponpes serta ekosistem musiknya pernah
menjadi salah satu pusat penting dari cerita tersebut.
Catatan redaksi
Untuk angka dan
detail yang berasal dari bahan wartawan Medikomoline Syah Ma'mur seperti ±5.000 penonton Hijjaz di
Gazebo, dua kali konser Rabbani dalam sehari
di Sabuga Hall Bandung, serta keterlibatan Venusa Produktion Indonesia
dengan fenomena Raihan, sejarah nasyid Bandung, promo tour album Intifadah
group nasyid Rabbani,show Hijjaz dan Brothers di Bandung dan Jakarta ini adalah
arsip berita independen untuk semua
perjalanan sejarah musik nasyid dan musik religi di Indonesia.
Ini bukan semata
mata fenomena yang pernah terjadi darj angle utamanya 4 grup nasyid Malaysia
pernah terkenal di Indonesia”, tetapi:
“Ketika Nasyid
Malaysia Menjadi Fenomena Massa di Indonesia: Jejak Raihan, Hijjaz Rabbani, Brothers
di Era 1990–2000-an.”
Itu terasa seperti
feature sejarah industri musik, bukan sekadar berita nostalgia.Semoga dengan
tulisan ini bisa menjembatani,membuka mata,membuka fikiran,mendinginkan
hati 'perang' komen saling klaim antara
netizen zaman now dan para Gen Z dua negara serumpun, bahwasanya kualitas dan
kuantiti satu karya seni jika ada tumbuh jiwa Mahabbah,Ukhuwah,Tasyamuh dan
Kasih Sayang maka karya seni itu akan bisa menghasilkan Natijah keberkahan dan
kebaikan. Di era kemudahan dunia ujung jari melalui aplikasi platform digital
dan AI karya seni bisa terbang jauh
kemanapun dan diterima oleh berbagai
kalangan agama dan suku bangsa apapun di seluruh dunia.
Tag : No Tag
Berita Terkait
Rehat
Tajuk
Memahami Pemikiran Jenderal Dudung Abdurachman
PERLUNYA MENGUBAH CARA PANDANG PEDAGANG DI LOKASI WISAT...
Berita Populer
Arief Putra Musisi Anyar Indonesia
Ketua Umum GRIB H Hercules Rozario Marshal, Saya Bagian Dari Masyarakat Indramayu
Project Fly High Terinspirasi dari Pengalaman Hidup Dr Joe dan Tamak
Dari Kegiatan Aksi Sosial, Hercules Kukuhkan Ketua DPC GRIB JAYA Se-Jawa Barat
Chief Mate Syaiful Rohmaan
SAU7ANA
GMBI Kawal Kasus Dugaan Penipuan PT. Rifan Financindo Berjangka di PN Bandung
Indramayu Diguncang Gempa Magnitudo 4.4, Kedalaman 280 Kilometer
Ivan Lahardika Arranger dan Komposer Indonesia
SAU7ANA Come Back