Loading

Masyarakat Percaya Paguyuban Pasundan sebagai Lembaga Kompeten dan Kapabel


Penulis: Dadan Supardan
2 Tahun lalu, Dibaca : 896 kali


Chyé

Memasuki usia ke-106 Paguyuban Pasundan, banyak apresiasi dan harapan yang disampaikan masyarakat Jawa Barat kepada organisasi legendaris ini. Salah satu harapan disampaikan oleh tokoh wanita Muda Sunda berprestasi dalam banyak hal: Chyé Rétty Isnéndés.

Berikut petikan wawancara Koran Medikom dan medikomonline.com dengan Teh Chyé, Dosen di Departemen Pendidikan Bahasa Daérah UPI, pemenang Hadiah Sastra Rancage dari H Ajip Rosidi tahun 2000 ini:

Paguyuban Pasundan akan memasuki usia ke-106 pada 20 Juli 2019, apa komentar Teteh?

Pertama-tama mengucapkan Wilujeng Milangkala Nu ka 106, semoga berkah Allah mengiringi organisasi besar ini. Kedua, semoga waras waluya yang mengelolanya, individu-individu pengurusnya yang menjadi aparatus keberlangsungan hidup organisasi legendaris ini.

Menurut penilaian Teteh, kontribusi apa yang paling menonjol dari Paguyuban Pasundan untuk masyarakat Jawa Barat maupun untuk bangsa Indonesia?

Saya tidak terlalu memperhatikan, mohon maaf bila saya salah. Tetapi selama ini yang saya perhatikan adalah Paguyuban Pasundan (PP) berkontribusi besar dan banyak pada bidang pendidikan. Dulu saya pernah PPL di SMA Pasundan, lalu teman-teman saya ada juga yang mengajar di UNPAS, sekarang saya ikut latihan penca dengan Abah Gending Raspuzi dari Garis Paksi di UNPAS. Otomatis, kedua nama lembaga tersebut menempel dalam ingatan dan memperlihatkan bahwa andil PP pada Jawa Barat dan Indonesia memang pada ranah pendidikan.

Menurut analisa Teteh, mengapa Paguyuban Pasundan bisa bertahan hingga satu abad lebih?

Eksistensi PP memang didukung oleh lembaga pendidikannya. Walaupun demikian politik PP juga turut bermain dalam pergerakannya. Selain itu semua ada PP berhasil mempertahankan ‘nama baik dan nama besarnya’ di masyarakat Sunda, sehingga masyarakat mempercayainya sebagai lembaga yang kompeten dan kapabel di bidangnya. Dengan demikian terjadi simbiosis mutualisme antara PP dan masyarakat. Ada satu hal yang patut digarisbawahi yaitu sifat agamis di PP yang berpegang pada ajaran Islam selaras dengan agama mayoritas orang Sunda, ini disadari atau tidak menjadi pengikat dan perekat PP di hati masyarakat Sunda.

Apa yang diharapkan dengan keberadaan Paguyuban Pasundan untuk masyarakat Jawa Barat?

PP terus berperan serta dan berperan aktif dalam kapasitasnya di Jawa Barat. Selain itu, pada wilayah politik, PP harus meningkatkan kualitas diri sebagai wadah pergerakan politik Jabar, penggemblengan generasi muda calon pemimpin bangsa, dan mendorong pribadi-pribadi potensial untuk maju ke tingkat nasional.

Sejauh mana pengaruh Paguyuban Pasundan di tataran nasional?

Pada ranah politik nasional masih kurang terlihat sepak terjang dan pengaruhnya.

 Masukan atau harapan apa yang bisa teteh sampaikan bagi Paguyuban Pasundan?

1) PP harus punya sikap politik sendiri bila berpolitik. Dasar yang harus dipertimbangkan adalah kejujuran dan keadilan juga keberpihakan pada masyarakat. PP harus hati-hati menempatan sesepuh dalam dinamika internal organisasi, harus menghormati orang Sunda dan sesepuh Sunda, tentu saja setelah sikap musyawarah dikedepankan.

2) PP harus bisa menangkap fenomena kasundaan yang menggeliat dengan berbagai macam pandangan yang menyertainya. Mengadakan penelitian terhadap arah dinamika budaya ini, seperti adanya gejala pemisahan agama dan budaya, warna busana yang berubah menjadi hitam di masyarakat dan anak sekolah, dll., lalu PP dapat merumuskan dengan baik sejalan dengan filsafat dan sejarah  yang telah dilakoni dan dilewati orang Sunda sehingga PP bisa menjadi acuan dalam berbudaya Sunda di Jawa Barat.

3) Sejarah PP tidak lepas dari peran pendahulunya yang erat hubungannya dengan sastra Sunda (Daeng Kanduruan Ardiwinata). Akan tetapi pada masa kini setelah R.H. Suryalaga dan Wahyu Wibisana wafat, perhatian pada sastra dirasa kurang. Literasi Sunda ini ikut mengharumkan nama PP di masyarakat dan mencerdaskan kehidupan ruhani bangsa. Ini harus segera diperbaiki dengan mengkader sastrawan Sunda potensial dan PP jadi pangipukan literasi Sunda terutama sastra berbahasa Sunda.

4) PP harus ikut serta dan berperan aktif mencegah kerusakan hutan dan alih fungsi lahan yang massif dan merusak tatanan lingkungan alam Sunda. Dengan stake holder lainnya PP harus bisa sampai taraf regulasi tanah dan lingkungan di Jawa Barat. Wilayah agraria mana yang dilindungi untuk tetap hutan dan dijadikan hutan, untuk dilindungi sebagai tanah pertanian (tidak diserobot oleh perumahan dan alih fungsi lainnya), tanah untuk dibuka perumahan, dll. Intinya dimensi ruang Sunda yang paling rusak di antara provinsi lainnya, harus segera diselamatkan. PP harus mengambil peran untuk itu, karena ruang tempat berdiam menentukan budaya secara keseluruhan, dan manusialah yang harus mengurusnya, selain mengeksplorasi dan mengkreasinya.


BIODATA

Chyé Rétty Isnéndés, penulis dari Nagrak-Sukabumi. Lahir tanggal 02 Désémber 1972. Chyé (dibaca: Ci’) menempuh pendidikan di: TK Kartini Nagrak, Madrasah Diniyah Kaum Nagrak, SDN V Nagrak, di SMP Muhammadiyah 8 Nagrak, dan di SMAN Cibadak. Chyé kuliah S1 di Jurusan Pendidikan Bahasa Daérah FPBS IKIP Bandung (1993-1998), S2 di UGM Yogyakarta (2002-2004), S3 di UPI Bandung (2010-2015.) Sekarang, Chyé bekerja di almamaternya; Departemen Pendidikan Bahasa Daérah UPI (1999 – sekarang).

Berbagai penghargaan telah diterima oleh Chyé berkenaan dengan karya sastra Sunda dan karya akademiknya. Diantaranya: HADIAH SASTRA RANCAGE dari H. Ajip Rosidi tahun 2000 untuk Kumpulan sajak Kidang kawisaya. Hadiah PPSS tahun 2012 untuk lima puisi terpilihnya, hadiah PPSS tahun 2013 untuk cerita pendek Sundanya, dan hadiah LBSS  (Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda) tahun 1999 untuk skripsinya tentang mantra Sunda.

Buku sastranya yang telah terbit: Kidang Kawisaya (kumpulan sajak Sunda, Girimukti Pasaka-1999), Nu Nyusuk dina Sukma (kumpulan sajak Sunda, Daluang Press-2010), Jamparing (novélét Sunda rumaja, Wisata Literasi-2012), Handeuleum ‘na Haté Beureum (novél Sunda sawawa, Yrama Widya-2014), Dua Wanoja (kumpulan carpon Sunda, Kiblat-2014), dan Dongeng-dongeng Petingan ti Sukabumi (Yrama Widya, 2015).

Buku yang berhubungan dengan akademiknya adalah: Teori Sastra (Sonagar Press, 2009), Kajian Sastra (Wisata Literasi, 2010), Kamaheran Nulis Skenario (Sonagar Press, 2016), Perempuan dalam Pergulatan Sastra dan Budaya Sunda (Yrama Widya, 2017), Teori Sastra Kontemporer (bersama penulis Narudin dan Toyidin, UPI PRESS, 2018).

Sehubungan dengan penelitian, topik yang diminatinya adalah seputar sastra, bahasa, dan budaya. Penelitian yang pernah dilakukannya berhubungan dengan karya sastra Sunda klasik dan modern, flora Sunda, upacara adat, dan bahasa Baduy.

Chye juga mengeditori buku, diantaranya: Lir Cahya Nyorot Eunteung: Cipta Sastra Warga Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah (Sonagar Press, 2009) dan Salikur Carpon PATREM (Pustaka Jaya, 2017).

Selain karyanya yang mandiri, karya sastra Chyé berserak pada belasan antologi (dalam bahasa Sunda dan Indonésia). Sebagian karya dan pemikirannya diunggahkannya pada “Chyé Rétty Isnéndés Blog” (http/chyerretty.wwordpress.com). Chyé juga punya grup sastra di dunia maya “KANDAGA SASTRA” untuk mewadahi dan membina anggotanya yang ingin mengembangkan tulisan sastranya. Chyé menjadi admin pada grup “Save Baduy” di facebook dan jadi suporter Green Peace Indonesia (ID 65994) untuk memperlihatkan perhatian dan kecintaanya pada tanah Sunda, terutama. Pernah juga membuat film dokuméntér Flora dalam Budaya Sunda dari hasil penelitiannya, sebagai kampanye­ kepedulian alam hayati Tatar Sunda – yang semakin rusak saja –.

Tag : No Tag

Berita Terkait