Penulis: Dr. Dadang Solihin, S.E, M.A. T
1 Hari lalu, Dibaca : 108 kali
Oleh Dr. Dadang Solihin, S.E, M.A.
Taprof Bidang
Sosial Budaya Lemhannas RI 16 Mei 2026
1. Pengantar
Kunjungan Presiden
Donald Trump bersama rombongan pemerintah Amerika Serikat ke Tiongkok pada tanggal
12–15 Mei 2026 dan pembicaraan strategis
selama dua hari dengan Presiden
Xi Jinping menjadi salah satu peristiwa geopolitik paling penting dalam
dinamika hubungan internasional kontemporer. Pertemuan tersebut tidak sekadar
mencerminkan hubungan bilateral dua negara besar, tetapi memperlihatkan upaya
dunia dalam mengelola rivalitas strategis global yang semakin kompleks di
tengah perubahan tatanan dunia menuju sistem multipolar.
Fenomena tersebut
erat kaitannya dengan konsep Thucydides’s Trap yang dipopulerkan oleh Graham
Allison. Konsep ini menjelaskan bahwa konflik besar cenderung terjadi ketika
kekuatan lama merasa terancam oleh bangkitnya kekuatan baru. Dalam konteks saat
ini, Amerika Serikat dipandang sebagai kekuatan dominan dunia, sementara
Tiongkok muncul sebagai rising power yang mengalami pertumbuhan ekonomi, militer, dan teknologi secara sangat cepat. Persaingan kedua negara
telah merambah berbagai bidang strategis, mulai dari perdagangan,
semikonduktor, kecerdasan buatan, energi, keamanan maritim, hingga pengaruh
geopolitik di kawasan Indo-Pasifik.
Bagi Indonesia, rivalitas
tersebut memiliki implikasi yang sangat besar terhadap Geopolitik, Ketahanan Nasional, dan
Kepemimpinan Nasional. Posisi geografis Indonesia yang berada di persilangan
dua samudra dan dua benua menjadikan Indonesia sebagai kawasan strategis yang
tidak dapat dilepaskan dari perebutan pengaruh global. Indonesia memiliki
posisi sentral dalam jalur perdagangan dunia, keamanan maritim, dan stabilitas
kawasan Asia Tenggara. Oleh sebab itu, setiap eskalasi rivalitas AS–Tiongkok
akan berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap kepentingan nasional
Indonesia.
Dalam perspektif
geopolitik, dinamika tersebut menuntut Indonesia untuk memperkuat peran
strategisnya sebagai kekuatan penyeimbang di kawasan Indo-Pasifik. Politik luar
negeri bebas aktif harus menjadi instrumen utama agar Indonesia tidak terjebak
dalam rivalitas blok kekuatan dunia. Indonesia harus mampu menjaga hubungan
baik dengan Amerika Serikat maupun Tiongkok tanpa kehilangan independensi
nasional dan kedaulatan politik luar negerinya.
Dalam perspektif
Ketahanan Nasional, ancaman yang muncul tidak lagi hanya bersifat militer
konvensional. Ancaman modern berkembang menjadi perang ekonomi, perang siber,
perang teknologi, perang informasi, hingga infiltrasi ideologi transnasional.
Oleh sebab itu, penguatan seluruh dimensi Astagatra menjadi sangat penting agar
Indonesia tetap mampu menjaga stabilitas nasional dalam menghadapi lingkungan
strategis global yang penuh ketidakpastian.
Empat Konsensus Dasar Kebangsaan menjadi fondasi utama
dalam menghadapi tantangan tersebut.
Implementasi nilai Pancasila
harus menjadi landasan moral dan ideologis
bangsa dalam menghadapi pengaruh global. Implementasi nilai
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 menegaskan pentingnya perlindungan terhadap kedaulatan dan
kepentingan nasional. Implementasi nilai Negara Kesatuan Republik Indonesia
mengharuskan adanya persatuan nasional yang kokoh, sedangkan implementasi nilai
Bhinneka Tunggal Ika menjadi perekat sosial bangsa di tengah ancaman polarisasi
dan disinformasi global.
Dalam konteks lingkungan
strategis global, muncul sejumlah skenario pengelolaan rivalitas AS–Tiongkok. Pertama,
skenario Coexistence with Rules, yaitu hidup berdampingan dengan aturan yang
jelas sehingga konflik terbuka dapat dihindari. Kedua, skenario Concert of
Powers, yakni pembentukan mekanisme kolektif negara-negara besar untuk menjaga
stabilitas global. Ketiga, skenario Domain Separation, yaitu pembagian arena
kompetisi agar rivalitas tidak berkembang menjadi perang total.
Hakikat dari
seluruh dinamika tersebut adalah perebutan pengaruh, kepentingan strategis, dan
dominasi global di abad ke-21. Apabila Indonesia gagal membaca perubahan
geopolitik dunia, maka kepentingan nasional
dapat terancam dalam bentuk
ketergantungan ekonomi,
melemahnya persatuan nasional, terganggunya stabilitas keamanan, serta
berkurangnya ruang strategis Indonesia dalam percaturan internasional. Karena
itu, Indonesia membutuhkan kepemimpinan nasional yang visioner, berkarakter
negarawan, dan berwawasan nusantara agar mampu menjaga kedaulatan nasional
serta menjadikan Indonesia sebagai aktor strategis yang disegani dunia.
2. Latar Belakang
Perubahan
geopolitik global dewasa ini menunjukkan adanya pergeseran keseimbangan
kekuatan internasional dari dominasi unipolar menuju sistem multipolar.
Kebangkitan Tiongkok sebagai kekuatan ekonomi dan militer global memunculkan
kekhawatiran Amerika Serikat terhadap perubahan distribusi kekuatan dunia.
Rivalitas tersebut semakin terlihat melalui perang dagang, pembatasan teknologi
semikonduktor, kompetisi kecerdasan buatan, penguatan aliansi militer
Indo-Pasifik, hingga meningkatnya tensi di Laut Tiongkok Selatan dan Selat
Taiwan.
Kunjungan Donald
Trump ke Tiongkok pada Mei 2026 menjadi indikasi bahwa kedua negara menyadari
pentingnya menjaga stabilitas global melalui diplomasi strategis. Namun
demikian, diplomasi tersebut tidak menghilangkan rivalitas mendasar yang terus
berkembang dalam berbagai bidang strategis. Situasi ini mencerminkan teori
Thucydides’s Trap yang menyatakan bahwa perubahan keseimbangan kekuatan sering
kali memicu konflik antara negara dominan dan kekuatan baru yang sedang
bangkit.
Bagi Indonesia,
kondisi tersebut menghadirkan tantangan sekaligus peluang strategis. Indonesia
berada di kawasan Indo-Pasifik yang menjadi pusat gravitasi ekonomi dan
keamanan global. Posisi tersebut menjadikan Indonesia sebagai arena penting
dalam perebutan pengaruh geopolitik dunia.
Tabel
Indikasi
Strategis Rivalitas AS–Tiongkok terhadap Indonesia
|
No
|
Indikasi Strategis
|
Bidang Terdampak |
Dampak terhadap Indonesia |
Implikasi Ketahanan
Nasional |
|
1 |
Perang dagang dan teknologi |
Ekonomi dan Industri |
Ketergantungan rantai pasok global |
Kerentanan ekonomi nasional |
|
2 |
Persaingan semikonduktor dan AI |
Teknologi dan Siber |
Ketergantungan teknologi asing |
Ancaman kedaulatan digital |
|
3 |
Eskalasi Laut
Tiongkok Selatan |
Pertahanan dan Keamanan |
Potensi gangguan stabilitas kawasan |
Ancaman kedaulatan maritim |
|
4 |
Perebutan pengaruh Indo-Pasifik |
Politik Luar Negeri |
Tekanan terhadap politik bebas aktif |
Risiko polarisasi geopolitik |
|
5 |
Perang informasi dan propaganda |
Sosial Budaya |
Disinformasi dan fragmentasi sosial |
Melemahnya persatuan nasional |
Tabel tersebut
menunjukkan bahwa rivalitas AS–Tiongkok memiliki dampak multidimensional
terhadap Indonesia. Persaingan ekonomi dan teknologi dapat mengganggu
stabilitas pembangunan nasional apabila Indonesia terlalu bergantung pada salah
satu kekuatan global. Di sisi lain, eskalasi keamanan di Indo-Pasifik
berpotensi mengganggu stabilitas maritim Indonesia sebagai negara kepulauan
terbesar di dunia.
Selain itu,
perkembangan teknologi modern menyebabkan batas antara ancaman sipil dan
militer semakin kabur. Teknologi digital, kecerdasan buatan, dan sistem siber
kini menjadi instrumen kekuatan geopolitik baru. Oleh sebab itu, Indonesia
harus memperkuat kemampuan nasional dalam bidang teknologi strategis agar tidak
menjadi objek dominasi global.
Dalam perspektif
lingkungan strategis, muncul tiga kemungkinan skenario pengelolaan rivalitas
AS–Tiongkok. Pertama, Coexistence with Rules yang menekankan hidup berdampingan
melalui aturan bersama. Kedua, Concert of
Powers yang melibatkan negara-negara besar dan kekuatan regional untuk menjaga
stabilitas global. Ketiga, Domain Separation yang membagi arena kompetisi agar
rivalitas tidak berkembang
menjadi konflik terbuka.
Ketiga skenario
tersebut menunjukkan bahwa masa depan stabilitas dunia akan sangat bergantung
pada kemampuan negara-negara besar mengelola rivalitas secara rasional. Bagi
Indonesia, kondisi ini menuntut penguatan Ketahanan Nasional dan Kepemimpinan
Nasional yang memiliki visi geopolitik jangka panjang.
3. Pembahasan
Dalam perspektif
strategis khas Lemhannas RI, rivalitas AS–Tiongkok harus dipahami sebagai
tantangan geopolitik multidimensional yang membutuhkan respons nasional secara
integral, holistik, dan berkelanjutan. Indonesia tidak boleh hanya menjadi
objek persaingan global, tetapi harus tampil sebagai subjek geopolitik yang
memiliki posisi tawar strategis dalam percaturan internasional.
Skenario
Coexistence with Rules memberikan peluang bagi Indonesia untuk memainkan peran
sebagai kekuatan penyeimbang di kawasan Indo-Pasifik. Dalam skenario ini, dunia
mengakui realitas multipolar sehingga Amerika Serikat dan Tiongkok tetap
bersaing, tetapi melalui aturan yang jelas untuk mencegah konflik terbuka.
Indonesia dapat memanfaatkan situasi tersebut dengan memperkuat diplomasi bebas
aktif, mendorong penyelesaian damai sengketa Laut Tiongkok Selatan, dan
memperkuat kerja sama ekonomi tanpa kehilangan independensi nasional.
Sementara itu,
skenario Concert of Powers membuka ruang bagi Indonesia untuk memperkuat peran
ASEAN sebagai pusat stabilitas kawasan. Dalam skenario ini, negara-negara besar
seperti India, Jepang, Uni Eropa, dan ASEAN dilibatkan dalam mekanisme kolektif
menjaga stabilitas global. Indonesia harus
menjadi motor penggerak diplomasi regional agar ASEAN tidak hanya menjadi objek
persaingan geopolitik, tetapi menjadi aktor strategis yang mampu memengaruhi
arah kebijakan Indo-Pasifik.
Adapun skenario
Domain Separation menunjukkan kemungkinan pembagian arena kompetisi antara
Amerika Serikat dan Tiongkok. Dalam konteks ini, Indonesia perlu memperkuat
kemandirian nasional di bidang ekonomi, teknologi, energi, dan pertahanan agar
tidak terjebak dalam ketergantungan terhadap salah satu kekuatan global.
Dari perspektif
Ketahanan Nasional, ketiga skenario tersebut menunjukkan pentingnya penguatan
seluruh dimensi Astagatra. Ketahanan ekonomi harus diperkuat melalui hilirisasi
industri, penguatan UMKM, ketahanan pangan, dan diversifikasi mitra dagang.
Ketahanan pertahanan keamanan harus diperkuat melalui modernisasi pertahanan
maritim, penguatan keamanan siber, dan peningkatan kapasitas industri
pertahanan nasional.
Pada aspek sosial
budaya, penguatan karakter kebangsaan menjadi sangat penting di tengah
meningkatnya perang informasi global. Pancasila harus menjadi benteng ideologis
bangsa dalam menghadapi infiltrasi ideologi transnasional dan polarisasi sosial
yang dapat mengancam persatuan nasional.
Kepemimpinan
nasional menjadi faktor penentu dalam menghadapi dinamika global tersebut.
Indonesia membutuhkan pemimpin yang memiliki wawasan geopolitik, integritas
moral, kemampuan diplomasi strategis, dan orientasi kuat terhadap kepentingan
nasional jangka panjang. Kepemimpinan nasional harus mampu mengonsolidasikan
seluruh kekuatan nasional agar Indonesia tetap kokoh menghadapi perubahan
geopolitik global yang semakin dinamis.
4. Penutup
Indonesia saat ini
berada pada titik persimpangan sejarah yang sangat menentukan. Rivalitas antara
Amerika Serikat dan Tiongkok bukan sekadar kompetisi dua negara besar, tetapi
bagian dari perubahan besar tata dunia abad ke-21 yang akan memengaruhi arah peradaban
global.
Dalam situasi
tersebut, Indonesia harus mampu hadir sebagai bangsa besar yang memiliki jati
diri, keteguhan ideologi, dan kepemimpinan nasional yang berkarakter negarawan.
Kunjungan Donald Trump
ke Tiongkok dan dialog strategis dengan Xi Jinping menunjukkan bahwa bahkan
kekuatan besar dunia pun menyadari pentingnya diplomasi dan pengelolaan konflik
secara rasional. Indonesia harus mengambil pelajaran strategis dari dinamika
tersebut bahwa kekuatan bangsa tidak hanya diukur dari kemampuan militer,
tetapi juga dari kemampuan menjaga stabilitas nasional, membangun persatuan,
dan memperkuat daya saing bangsa.
Ketahanan Nasional
Indonesia harus dibangun secara komprehensif, integral, holistik, integratif,
dan profesional. Pembangunan ekonomi harus memperkuat kemandirian nasional,
bukan memperbesar ketergantungan asing. Penguasaan teknologi harus diarahkan
untuk membangun kedaulatan digital nasional. Pendidikan nasional harus
melahirkan generasi unggul yang cerdas, adaptif, berkarakter, dan memiliki
nasionalisme yang kuat.
Lebih dari itu,
seluruh elemen bangsa harus memperkuat semangat persatuan dan kesadaran bela
negara. Ancaman geopolitik modern hadir dalam bentuk yang semakin kompleks,
mulai dari perang siber, perang informasi, infiltrasi ideologi, hingga dominasi
ekonomi dan teknologi global. Oleh sebab itu, kewaspadaan nasional harus terus
ditingkatkan agar bangsa Indonesia tidak mudah terpecah oleh pengaruh
eksternal.
Dalam kerangka
Wawasan Nusantara, Indonesia harus terus memandang dirinya sebagai satu
kesatuan politik, ekonomi, sosial budaya, serta pertahanan keamanan. Persatuan
nasional merupakan kekuatan utama bangsa dalam menghadapi tekanan geopolitik
global. Karena itu, sinergi antara pemerintah, TNI, Polri, akademisi, media,
dunia usaha, dan masyarakat sipil harus terus diperkuat sebagai bagian dari
sistem Ketahanan Nasional yang utuh.
Indonesia
membutuhkan kepemimpinan nasional yang memiliki cakrawala pandang universal,
tetapi tetap berakar kuat pada nilai-nilai Pancasila dan kepentingan nasional.
Pemimpin yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara
moral, berintegritas, dan mampu menjadi teladan kebangsaan. Pemimpin yang mampu
menjadikan Indonesia bukan sekadar objek perebutan pengaruh
global, tetapi subjek geopolitik yang aktif, mandiri, dan disegani
dunia.
Dengan semangat
Pancasila, Wawasan Nusantara, dan Ketahanan Nasional, Indonesia harus terus
melangkah maju sebagai bangsa yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian dalam
kebudayaan. Di tengah dinamika Thucydides’s Trap AS–Tiongkok, Indonesia harus
hadir sebagai jangkar stabilitas kawasan Indo-Pasifik, pelopor perdamaian
dunia, dan kekuatan moral internasional menuju terwujudnya Indonesia Emas 2045.
Daftar Pustaka
Allison, G.
(2017). Destined for war: Can America and China escape Thucydides’s trap?
Houghton Mifflin Harcourt.
Brzezinski, Z.
(1997). The grand chessboard: American primacy and its geostrategic
imperatives. Basic Books.
Fukuyama, F.
(2014). Political order and political decay: From the industrial revolution to
the globalization of democracy. Farrar, Straus and Giroux.
Huntington, S. P.
(1996). The clash of civilizations and the remaking of world order. Simon &
Schuster.
Kaplan, R. D.
(2012). The revenge of geography: What the map tells us about coming conflicts
and the battle against fate. Random House.
Kennedy, P.
(1987). The rise and fall of the great powers. Random House. Khanna, P. (2019).
The future is Asian. Simon & Schuster.
Kissinger, H.
(2011). On China. Penguin Press. Kissinger, H. (2014). World order. Penguin
Press.
Mearsheimer, J. J.
(2001). The tragedy of great power politics. W.W. Norton & Company.
Tag : No Tag
Berita Terkait
Rehat
Tajuk
Memahami Pemikiran Jenderal Dudung Abdurachman
PERLUNYA MENGUBAH CARA PANDANG PEDAGANG DI LOKASI WISAT...
Berita Populer
Arief Putra Musisi Anyar Indonesia
Ketua Umum GRIB H Hercules Rozario Marshal, Saya Bagian Dari Masyarakat Indramayu
Project Fly High Terinspirasi dari Pengalaman Hidup Dr Joe dan Tamak
Dari Kegiatan Aksi Sosial, Hercules Kukuhkan Ketua DPC GRIB JAYA Se-Jawa Barat
Chief Mate Syaiful Rohmaan
SAU7ANA
GMBI Kawal Kasus Dugaan Penipuan PT. Rifan Financindo Berjangka di PN Bandung
Indramayu Diguncang Gempa Magnitudo 4.4, Kedalaman 280 Kilometer
Ivan Lahardika Arranger dan Komposer Indonesia
SAU7ANA Come Back