PENULIS : YONIF - EDITOR : YONIF
17 Jam lalu, Dibaca : 31 kali
KEMARAU PANJANG, RIBUAN HEKTARE TANAMAN PADI DI INDRAMAYU GAGAL PANEN
Sabtu, 17 Oktober 2026 | Pukul: 11:11 WIB
INDRAMAYU, MEDIKOMONLINE.COM – Sejumlah wilayah di kabupaten Indramayu mengalami gagal panen. Penyebabnya selain kemarau panjang, juga minimnya ketersediaan air. Kondidsi itu yang menjadi penyebab matinya tanaman padi di musim kemarau.
Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu, Sutatang, menjelaskan bahwa saat ini puncak panen di Kabupaten Indramayu sudah terlewati.
“Masih ada yang panen tapi spot-spot,” tutur Sutatang, Jum’at (16/10).
Hasil panen pun cukup tinggi yaitu rata-rata minimal 7 ton gabah per hektar. Bahkan, lanjut Sutatang ada pula petani yang menghasilkan gabah hingga 9 ton per hektar.
Namun dibalik keberhasilan panen, Sutatang pun mengakui sejumlah tanaman padi di Kabupaten Indramayu mengalami gagal panen alias puso.
Tanaman padi yang mengalami puso tersebar di Kecamatan Kroya, Gabuswetan, Terisi, Patrol dan Balongan dengan luas sekitar 10.670 hektar dengan umur 30 hari setelah tanam (hst).
Minimnya sumber daya air membuat tanaman padi mengering hingga akhirnya puso.
“Padahal tanaman padi yang puso sudah mengalami pemupukan pertama,” tutur Sutatang.
Menurutnya, petani sudah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit mulai pengolahan tanah, pembibitan, pemupukan dan lainnya.
Ketika ditanya sumber mata air di tanaman padi yang mengalami puso, Sutatang mengungkapkan berasal dari Waduk Jatiluhur dan Bendung Cipanas.
“Kalau Waduk Cipanas sudah normal, Insya allah ke depannya aman,” tutur Sutatang.
Salah satu faktor yang menyebabkan Waduk Cipanas belum berfungsi normal yaitu pada infrastruktur penyaluran air menuju persawahan yang belum optimal.
Dijelaskan Sutatang petani dibuat gembira dengan hasil panen gadu tahun ini. Selain produktivitas yang meningkat, harga gabah pun tinggi. Harga gabah gabah kering panen (GKP) pada masa panen gadu di Kabupaten Indramayu ada dikisaran Rp 8.500 – Rp 9.000 per kilogram. Sedangkan harga gabah kering giling (GKG) di kisaran Rp 9.500 per kilogram.
“Harga gabah saat ini di atas HPP yang ada di angka Rp 6.500 dan untuk GKP dan Rp 7.400 hingga Rp 8.000 per kilogram untuk GKG,” tutur Sutatang.
Tingginya harga gabah membuat sebagian besar petani memilih untuk menjual langsung gabah yang baru dipanen dengan menyisakan secukupnya untuk kebutuhan di rumah.
“Selain itu petani juga membutuhkan modal untuk menanam padi di musim rendeng. Jarak panen gadu dengan tanam rendeng memang tidak jauh tahun ini,” tutur Sutatang.
Diperkirakan November mendatang petani sudah mulai melakukan tahapan tanam musim rendeng.*** (Hyf)
EDITOR : YONIF
Tag : No Tag
Berita Terkait
Rehat
Tajuk
Memahami Pemikiran Jenderal Dudung Abdurachman
PERLUNYA MENGUBAH CARA PANDANG PEDAGANG DI LOKASI WISAT...
Berita Populer
Arief Putra Musisi Anyar Indonesia
Ketua Umum GRIB H Hercules Rozario Marshal, Saya Bagian Dari Masyarakat Indramayu
Project Fly High Terinspirasi dari Pengalaman Hidup Dr Joe dan Tamak
Dari Kegiatan Aksi Sosial, Hercules Kukuhkan Ketua DPC GRIB JAYA Se-Jawa Barat
Chief Mate Syaiful Rohmaan
SAU7ANA
GMBI Kawal Kasus Dugaan Penipuan PT. Rifan Financindo Berjangka di PN Bandung
Indramayu Diguncang Gempa Magnitudo 4.4, Kedalaman 280 Kilometer
Ivan Lahardika Arranger dan Komposer Indonesia
SAU7ANA Come Back