Loading

DLH Cimahi Soroti Sampah Isu Strategis Berkelanjutan


Reporter: Ganda TB
1 Hari lalu, Dibaca : 48 kali


Pemerintah Kota Cimahi resmi meresmikan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Utama Cimahi


CIMAHI, Medikomonline -  Pemerintah Kota Cimahi resmi meresmikan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Utama Cimahi Selatan, Selasa (10/2/2026). 

Peresmian yang digelar langsung di lokasi TPST tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tingkat Kota Cimahi Tahun 2026.

Peringatan HPSN yang jatuh setiap 21 Februari memiliki makna historis mendalam bagi Cimahi. 

Tragedi longsor Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah pada 2005 menjadi pengingat kuat bahwa persoalan sampah harus ditangani secara serius, terencana, dan berkelanjutan.

Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, menegaskan bahwa HPSN tidak sekadar seremoni, melainkan harus diwujudkan melalui aksi nyata yang berdampak langsung bagi lingkungan dan masyarakat.

“Peresmian TPST Utama Cimahi Selatan ini merupakan wujud komitmen kami untuk terus berbenah. 

Sampah tidak boleh lagi menjadi ancaman, tetapi harus dikelola secara bertanggung jawab agar memberi manfaat serta menjamin keselamatan lingkungan,” ujar Ngatiyana.

Ia menjelaskan, TPST Utama Cimahi Selatan dirancang memiliki kapasitas pengolahan 10 hingga 15 ton sampah per hari. 

Dengan total timbulan sampah Kota Cimahi mencapai sekitar 234 ton per hari, fasilitas ini diharapkan mampu mengurangi beban pengangkutan ke TPA sekaligus memperkuat program Cimahi Zero to TPA.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi, Chanifah Listyarini, menyampaikan bahwa pengelolaan sampah merupakan isu strategis dalam pembangunan berkelanjutan.

Dengan jumlah penduduk sekitar 584 ribu jiwa (Data SIPSN 2025), produksi sampah Kota Cimahi berkisar antara 234 hingga 250 ton per hari.

“Saat ini tingkat pengelolaan sampah Kota Cimahi baru mencapai sekitar 49,6 persen. Artinya, masih ada pekerjaan besar untuk menutup lebih dari 50 persen sampah yang belum terkelola optimal,” ungkapnya.

Sebelum TPST Cimahi Selatan beroperasi, Pemkot Cimahi telah memiliki dua TPST utama, yakni TPST Santiong dan TPST Lebaksaat di wilayah Cimahi Utara. 

Namun, meningkatnya timbulan sampah dan kebutuhan layanan pengolahan membuat kehadiran TPST Cimahi Selatan menjadi langkah strategis dalam pemerataan layanan, peningkatan kapasitas, serta penguatan sistem pengelolaan sampah terpadu.

Chanifah menjelaskan, fasilitas TPST ini memanfaatkan bangunan eks pabrik yang sudah tidak beroperasi, sehingga proses penyediaan sarana dapat dilakukan lebih cepat. 

Selain pengolahan utama, TPST ini juga dilengkapi unit finishing goods yang mampu mengolah residu menjadi produk bernilai guna seperti refuse derived fuel (RDF) untuk kebutuhan industri.

“TPST ini kami dedikasikan untuk melayani wilayah Cimahi Selatan yang menampung lebih dari separuh penduduk Kota Cimahi. 

Keberhasilannya sangat bergantung pada dukungan masyarakat, terutama dalam pemilahan sampah dari sumber,” jelasnya.

Lebih lanjut, Chanifah menegaskan bahwa peresmian TPST bukanlah titik akhir, melainkan awal penguatan jaringan pengolahan sampah di seluruh wilayah Cimahi. 

Selain RDF, pengembangan pengolahan sampah juga diarahkan pada produk bernilai tambah seperti kompos standar, biomassa, maggot kering, biji plastik, hingga paving block.

Ia menekankan, pengelolaan sampah tidak hanya menyangkut aspek teknis operasional, tetapi juga pembiayaan, partisipasi masyarakat, serta penguatan kelembagaan dan regulasi.

Melalui momentum HPSN 2026, Pemerintah Kota Cimahi berharap peresmian TPST Utama Cimahi Selatan menjadi tonggak penting menuju sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi, sekaligus mempertegas komitmen menghadirkan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan bagi masyarakat.

 

Tag : No Tag

Berita Terkait