Loading

Ketika Student Centre UIN Bandung Tak Lagi Nyaman bagi Mahasiswa


Penulis: Desila Aulia Rahmawati
17 Jam lalu, Dibaca : 56 kali


Desila Aulia Rahmawati

Oleh Desila Aulia Rahmawati


Dokumentasi pribadi

Student Centre yang Belum Nyaman Digunakan

Gedung Student Centre (SC) UIN Sunan Gunung Djati Bandung seharusnya menjadi tempat yang aman, bersih, dan nyaman bagi mahasiswa untuk menjalankan kegiatan organisasi, berdiskusi, serta mengembangkan minat dan bakat. Namun, kondisi lingkungan gedung yang belum terawat membuat fungsi tersebut belum dapat dirasakan secara maksimal oleh seluruh penggunanya.

Berdasarkan pengamatan, sejumlah persoalan masih terlihat di beberapa bagian Student Centre. Dinding gedung yang baru dicat kembali tampak kotor, sampah masih ditemukan di sudut tangga dan lorong, pencahayaan di sejumlah area tidak memadai, kamar mandi yang bau dan terlihat horor, serta musala yang tidak layak digunakan untuk beribadah dengan nyaman.

Kondisi tersebut bukan hanya mengganggu penampilan gedung, melainkan juga memengaruhi rasa aman mahasiswa. Lorong yang gelap, terutama ketika sore atau malam hari, membuat sebagian mahasiswa enggan berlama-lama di Student Centre. Gedung yang semestinya mendukung aktivitas mahasiswa justru dapat menimbulkan kesan kumuh, sepi, dan tidak ramah bagi penggunanya.

Lorong Gelap, Sampah Berserakan, dan Musala Terabaikan

Salah satu persoalan yang paling terlihat adalah pencahayaan. Beberapa lampu di lorong dan tangga tidak berfungsi, sementara sebagian stopkontak juga tidak dapat digunakan. Kondisi ini bukan hanya mengurangi kenyamanan, tetapi juga berpotensi mengganggu keselamatan mahasiswa, khususnya ketika mereka melintas pada sore atau malam hari.

Masalah lain terdapat pada kebersihan. Sampah masih ditemukan di sejumlah titik, seperti pintu masuk, sudut tangga, lorong belakang, dan sekitar ruang sekretariat organisasi. Keterbatasan tempat sampah serta belum terlihatnya pengawasan kebersihan yang konsisten membuat persoalan tersebut mudah berulang. Dinding yang tampak cepat kotor meskipun baru dicat juga memperkuat kesan bahwa perawatan gedung belum berjalan optimal.

Musala di dalam gedung turut menjadi perhatian. Ruang yang seharusnya digunakan untuk beribadah dengan nyaman dan khusyuk tampak kurang terawat, berdebu, minim pencahayaan, dan belum didukung perlengkapan salat yang memadai. Sebagian ruang juga digunakan untuk menyimpan barang. Padahal, musala merupakan fasilitas penting bagi mahasiswa yang berkegiatan di Student Centre.

Pemeliharaan Gedung yang Belum Optimal

Kondisi tersebut menunjukkan perlunya evaluasi terhadap pemeliharaan Student Centre. Kerusakan fasilitas dan persoalan kebersihan dapat terus berulang apabila pemeriksaan gedung tidak dilakukan secara berkala serta tidak ada sistem pelaporan yang jelas dan terdokumentasi.

Pembagian tanggung jawab antara pengelola gedung, petugas kebersihan, organisasi mahasiswa, dan pengguna ruang juga perlu diperjelas. Mahasiswa memang berkewajiban menjaga kebersihan, tetapi perbaikan instalasi listrik, penyediaan sarana kebersihan, serta kelayakan musala tetap memerlukan penanganan dan pengawasan dari pihak pengelola.

Kondisi ini tidak seharusnya dianggap wajar. Jika dibiarkan, mahasiswa akan semakin enggan menggunakan Student Centre, sementara gedung tersebut kehilangan perannya sebagai ruang yang mendukung aktivitas kemahasiswaan.

Smart Student Centre: Solusi yang Dapat Diterapkan

Perbaikan tidak cukup berhenti pada pengecatan dinding atau penambahan tempat sampah. Student Centre membutuhkan sistem pengelolaan yang membuat kerusakan mudah dilaporkan, cepat ditangani, dan dapat dipantau bersama.

1.  Peta Digital Kerusakan

Di setiap lantai dapat dipasang kode QR yang terhubung dengan formulir laporan. Mahasiswa dapat melaporkan lampu mati, stopkontak rusak, kebocoran, sampah menumpuk, atau fasilitas musala yang bermasalah. Laporan memuat lokasi, foto kondisi, waktu pelaporan, kategori masalah, dan tingkat urgensi.

Setiap laporan kemudian diberi status, seperti “diterima”, “dalam penanganan”, atau “selesai”. Dengan cara ini, mahasiswa memiliki jalur resmi untuk menyampaikan masalah dan dapat melihat perkembangan penanganannya.

2.  Bank Sampah Internal

Student Centre dapat menerapkan pemilahan sampah sederhana menjadi sampah organik, anorganik, dan residu. Sampah anorganik bernilai, seperti botol plastik dan kardus, dapat dikumpulkan oleh organisasi secara terjadwal.

Hasil penjualan sampah dapat digunakan untuk mendukung kebutuhan bersama, misalnya membeli perlengkapan kebersihan, mukena, sajadah, atau lampu darurat. Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak hanya berfokus pada pembuangan, tetapi juga mendorong kepedulian terhadap fasilitas bersama.

3.  Penanggung Jawab Area

Setiap organisasi atau UKM dapat diberi giliran untuk mengawasi satu area selama satu bulan. Tugasnya bukan menggantikan petugas kebersihan, melainkan memastikan area tidak digunakan untuk menumpuk barang, melaporkan kerusakan, dan mengingatkan pengguna lain agar menjaga kebersihan. Sistem ini dapat membangun rasa memiliki tanpa membebankan seluruh pekerjaan pemeliharaan kepada mahasiswa.

Mewujudkan Ruang yang Aman dan Nyaman bagi Mahasiswa

Pihak kampus perlu menyampaikan siapa pengelola Student Centre, bagaimana mekanisme pelaporan kerusakan, dan berapa lama standar waktu perbaikannya. Informasi tersebut dapat dipasang pada papan pengumuman atau laman resmi agar mahasiswa mengetahui bahwa laporan mereka ditindaklanjuti.

Di sisi lain, mahasiswa dan organisasi pengguna ruang harus ikut menjaga fasilitas dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak instalasi, serta menata sekretariat dan area sekitar dengan baik. Keterlibatan semua pihak diperlukan agar kebersihan dan keamanan gedung tidak hanya menjadi tanggung jawab satu kelompok.

Student Centre tidak hanya membutuhkan tampilan yang lebih baik. Gedung ini membutuhkan perawatan yang konsisten, pencahayaan yang berfungsi, musala yang bersih dan layak digunakan, pengangkutan sampah secara rutin, serta mekanisme pelaporan yang mudah diakses. Dengan langkah-langkah tersebut, Student Centre dapat menjadi ruang yang benar-benar aman, bersih, dan nyaman bagi mahasiswa untuk beraktivitas.

Profil Penulis

Desila Aulia adalah seorang mahasiswi di UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang berdomisili di Bandung. Dapat dihubungi melalui Instagram @ihavenoidesss.

 

 

Tag : No Tag

Berita Terkait