Penulis: Idris Apandi
18 Jam lalu, Dibaca : 54 kali
Oleh Idris Apandi
(Widyaprada Ahli Madya BBPMP
Provinsi Jawa Barat, Fasilitator Nasional Literasi dan Numerasi Kemendikdasmen)
Kemampuan
literasi dan numerasi merupakan fondasi penting bagi setiap murid untuk
belajar, berkomunikasi, dan menjalani kehidupan sehari-hari. Literasi bukan
sekadar kemampuan membaca rangkaian huruf menjadi kata atau kalimat, sedangkan
numerasi bukan hanya kemampuan menghitung angka. Keduanya berkaitan dengan
kemampuan memahami informasi, mengolah makna, memecahkan masalah, serta
menggunakan pengetahuan dalam kehidupan nyata. Bagi murid berkebutuhan khusus,
terutama murid tunarungu dan murid dengan hambatan ganda, penguatan literasi
dan numerasi membutuhkan pendekatan yang lebih adaptif, konkret, visual, dan
sesuai dengan karakteristik masing-masing individu.
Semangat
itulah yang tercermin dalam praktik pembelajaran di SLB B Sumbersari Kota
Bandung. Sekolah ini membangun pembiasaan literasi setiap hari selama 15 menit
sebelum kegiatan belajar mengajar (KBM) dimulai. Kegiatan tersebut bukan
sekadar rutinitas pembuka pembelajaran, melainkan ikhtiar untuk memperkaya
kosakata, mengenalkan konsep kata dan kalimat, serta membantu murid
menghubungkan bahasa tulis dengan komunikasi melalui isyarat.
Membiasakan Literasi, Menumbuhkan Keberanian
Berkomunikasi
Di SLB
B Sumbersari, kegiatan literasi dikembangkan sesuai dengan jenjang dan
kemampuan murid. Pada jenjang SD, kegiatan bercerita bersama guru dilaksanakan
setiap minggu. Sementara
itu, murid jenjang SMP dan SMA berlatih memahami teks bacaan berupa cerita
sederhana. Melalui kegiatan tersebut, murid memperoleh kesempatan untuk
mengenal kata-kata baru, memahami isi bacaan, dan mengomunikasikan kembali
informasi yang diperoleh.
Salah
satu program yang dikembangkan adalah LIMAS, singkatan dari Literasi 15 Menit.
Pelaksanaannya meliputi membaca secara verbal sesuai kemampuan murid, memahami
kata sederhana dengan bantuan isyarat atau visual, menceritakan kembali hasil
bacaan, serta menjawab pertanyaan berdasarkan teks.
Keberhasilan
program ini tidak diukur dari banyaknya kata yang mampu dibaca murid. Hal yang
lebih penting adalah apakah mereka mulai memahami makna kata, mampu
menghubungkan kata dengan gambar atau pengalaman, dan dapat berkomunikasi dua
arah mengenai bacaan yang dipelajari. Ketika seorang murid mampu menjelaskan
isi cerita melalui isyarat, gambar, tulisan, atau bentuk komunikasi lain yang
dikuasainya, sesungguhnya proses literasi sedang tumbuh.
Di
sinilah guru perlu memaknai literasi secara lebih luas. Kemampuan verbal bukan
satu-satunya ukuran keberhasilan belajar. Bahasa isyarat, gambar, simbol, dan
media visual dapat menjadi jembatan bagi murid untuk memahami bahasa dan
menyampaikan gagasannya.
Menghadirkan Pembelajaran yang Konkret dan Menyenangkan
Salah
satu tantangan penguatan literasi di SLB B Sumbersari adalah terbatasnya
ketersediaan buku cerita bergambar, novel sederhana, dan referensi visual yang
sesuai dengan kebutuhan murid, termasuk murid yang memiliki hambatan ganda
berupa hambatan pendengaran dan intelektual. Selain itu, keterbatasan kemampuan
berisyarat murid dan guru juga menjadi tantangan tersendiri dalam membangun
komunikasi yang efektif.
Situasi
tersebut menuntut kreativitas guru dalam memilih media dan strategi
pembelajaran. Pembelajaran tidak cukup hanya mengandalkan penjelasan lisan atau
teks tertulis yang panjang. Guru perlu menghadirkan pengalaman belajar yang
dapat dilihat, disentuh, diamati, dicoba, dan dihubungkan dengan kehidupan
sehari-hari.
SLB B
Sumbersari telah memanfaatkan beragam media, antara lain kartu flashcard,
gambar, benda konkret, video edukatif, permainan interaktif visual, serta Papan
Interaktif Digital (PID). Dalam pembelajaran tentang anggota tubuh, misalnya,
guru dapat menunjukkan gambar, mengenalkan nama bagian tubuh, menghubungkannya
dengan isyarat, kemudian meminta murid memasangkan gambar dengan kata yang
sesuai.
Pembelajaran
juga dikembangkan melalui kegiatan langsung, seperti membuat playdough,
menanam tauge, memilah sampah, membuat pupuk kompos organik, dan bermain cat
air. Murid dilibatkan dalam kegiatan kelompok, seperti memasak pada
pembelajaran tata boga dan membuat kerajinan tangan berupa gelang, kalung,
gantungan kunci, atau gantungan telepon genggam.
Kegiatan
tersebut membuka peluang penguatan literasi sekaligus numerasi. Murid dapat
mengenal nama bahan, membaca petunjuk sederhana, mengikuti urutan kegiatan,
menghitung jumlah benda, membandingkan ukuran, dan mengelompokkan objek
berdasarkan warna, bentuk, atau fungsi. Penguatan literasi dan numerasi pun
tidak harus selalu berlangsung melalui lembar kerja. Keduanya dapat tumbuh
melalui pengalaman nyata yang bermakna.
Dari LIMAS Menuju NUMAS
Jika
LIMAS menjadi pintu masuk pembiasaan literasi, pengembangan NUMAS atau Numerasi
15 Menit merupakan langkah strategis berikutnya. Berdasarkan evaluasi program
sekolah, numerasi selama ini lebih banyak terintegrasi dalam kegiatan pembukaan
pembelajaran atau mata pelajaran tertentu, seperti Matematika dan IPA. Karena
itu, NUMAS direncanakan sebagai program prioritas untuk memperkuat pembiasaan
numerasi sebelum KBM.
NUMAS
dapat dikembangkan melalui aktivitas sederhana yang dekat dengan kehidupan
murid. Guru dapat mengajak murid menghitung jumlah benda, mencocokkan angka
dengan kuantitas, mengurutkan ukuran, mengenali bentuk geometri, membandingkan
banyak dan sedikit, serta menggunakan konsep waktu dan uang dalam simulasi
kegiatan sehari-hari.
Sebagai
contoh, saat kegiatan tata boga, murid dapat menghitung jumlah bahan yang
dibutuhkan, membandingkan ukuran wadah, atau mengurutkan tahapan memasak. Saat
menanam tauge, murid dapat menghitung jumlah benih, mengamati pertumbuhan
tanaman, dan membandingkan perubahan tinggi tanaman dari waktu ke waktu.
Tentunya,
tingkat kesulitan kegiatan perlu disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan
setiap murid. Sebagian murid mungkin belajar melalui benda konkret, sementara
yang lain dapat menggunakan gambar, angka tertulis, atau permainan digital.
Tujuannya bukan menyeragamkan kemampuan, melainkan memberikan kesempatan kepada
setiap murid untuk berkembang.
Kolaborasi Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat
Penguatan
literasi dan numerasi tidak dapat dibebankan kepada guru semata. Sekolah perlu
membangun lingkungan yang mendukung, menyediakan bahan bacaan visual,
memanfaatkan ruang perpustakaan, dan mengembangkan pembelajaran yang ramah
terhadap kebutuhan murid. Namun, keterbatasan sarana, termasuk ketersediaan PID
yang baru menjangkau satu ruangan untuk jenjang SMA, menjadi pekerjaan rumah
yang perlu diatasi secara bertahap.
Di
sisi lain, keterlibatan keluarga juga penting. SLB B Sumbersari telah
mengupayakan pemantauan pengisian jurnal 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat
(KAIH) oleh keluarga, sedangkan pembiasaan di masyarakat diharapkan turut
memperkuat kebiasaan positif murid. Tantangannya adalah membangun komunikasi
dan kerja sama dengan orang tua secara lebih efektif.
Sekolah
dapat mengembangkan komunikasi sederhana, memberikan contoh aktivitas literasi
dan numerasi yang mudah dilakukan di rumah, serta mengajak orang tua menghargai
setiap kemajuan anak. Tidak semua keluarga memiliki buku atau perangkat
digital. Karena itu, benda-benda di rumah, seperti sendok, gelas, pakaian,
buah, dan uang, dapat dimanfaatkan sebagai media belajar.
Menghargai Proses, Merayakan Kemajuan
Pengalaman
SLB B Sumbersari memberikan pelajaran bahwa penguatan literasi dan numerasi
memerlukan kesabaran, kreativitas, konsistensi, dan penghargaan terhadap
keberagaman kemampuan murid. Program LIMAS yang telah berjalan perlu
dipertahankan dan ditingkatkan kualitasnya, sedangkan NUMAS perlu dirancang,
dilaksanakan, dan dievaluasi secara sistematis.
Guru
juga perlu mencatat perkembangan murid, mulai dari pengenalan kosakata,
pemahaman bacaan sederhana, kemampuan berkomunikasi dua arah, hingga penerapan
konsep bilangan dalam aktivitas sehari-hari. Hasil pengamatan tersebut dapat
digunakan untuk menentukan bantuan dan strategi pembelajaran berikutnya.
Keberhasilan
pendidikan bukan semata-mata ditentukan oleh seberapa cepat murid membaca atau
menghitung, tetapi juga oleh seberapa jauh mereka mampu memahami lingkungan,
mengomunikasikan kebutuhan, mengambil keputusan sederhana, dan menjadi lebih
mandiri.
Di SLB
B Sumbersari Kota Bandung, setiap gambar yang dipahami, kata yang dikenali,
isyarat yang digunakan, angka yang dihitung, dan gagasan yang disampaikan
merupakan bagian dari perjalanan belajar yang berharga. Literasi dan numerasi
akan semakin bermakna ketika keduanya tidak hanya diajarkan sebagai
keterampilan akademik, tetapi juga ditumbuhkan sebagai bekal kehidupan. Sebab,
setiap murid memiliki potensi untuk berkembang, dan tugas pendidikan adalah
menghadirkan jalan yang sesuai agar potensi itu dapat tumbuh sebaik-baiknya.
Tag : No Tag
Berita Terkait
Rehat
Tajuk
Memahami Pemikiran Jenderal Dudung Abdurachman
PERLUNYA MENGUBAH CARA PANDANG PEDAGANG DI LOKASI WISAT...
Berita Populer
Arief Putra Musisi Anyar Indonesia
Ketua Umum GRIB H Hercules Rozario Marshal, Saya Bagian Dari Masyarakat Indramayu
Project Fly High Terinspirasi dari Pengalaman Hidup Dr Joe dan Tamak
Dari Kegiatan Aksi Sosial, Hercules Kukuhkan Ketua DPC GRIB JAYA Se-Jawa Barat
Chief Mate Syaiful Rohmaan
SAU7ANA
GMBI Kawal Kasus Dugaan Penipuan PT. Rifan Financindo Berjangka di PN Bandung
Indramayu Diguncang Gempa Magnitudo 4.4, Kedalaman 280 Kilometer
Ivan Lahardika Arranger dan Komposer Indonesia
SAU7ANA Come Back