Reporter Syah Ma’mur
19 Jam lalu, Dibaca : 200 kali
Kisah kejayaan Raihan bukan sekadar cerita sukses industri musik religi, tetapi juga menyimpan pertanyaan besar yang hingga kini belum terjawab: mengapa formula yang sama belum mampu melahirkan fenomena serupa, terutama di Indonesia yang justru menjadi basis penggemar terbesar mereka?
Kembalinya nama-nama lama seperti Nazrey Johani, Afad,
dan Amran Ibrahim lewat The Rayhan seolah membuka kembali bab lama yang belum
selesai. Namun di balik nostalgia, ada realitas industri yang jauh lebih
kompleks.
Secara historis, kesuksesan Raihan tidak lahir secara
instan. Transformasi dari grup The Zikr menjadi Raihan di bawah Warner Music
adalah hasil rekayasa industri yang matang—mulai dari penyederhanaan personel
hingga perubahan pendekatan musikal.
Namun yang sering dilupakan, keberhasilan itu sangat
bergantung pada momentum. Ketika Radio Televisyen Malaysia (RTM) memutar
lagu-lagu Raihan secara masif di bulan Ramadan, terjadi apa yang dalam dunia
media disebut sebagai forced familiarity—pendengar dipaksa akrab hingga
akhirnya menyukai.
Tetapi di sinilah letak persoalan utamanya:
model distribusi seperti itu hampir mustahil terjadi
di era sekarang.
Di masa kini, algoritma digital menggantikan peran
televisi. Platform seperti YouTube dan TikTok tidak bekerja berdasarkan momen
kolektif, melainkan preferensi individu. Artinya, tidak ada lagi “pemaksaan
selera massal” seperti yang dulu terjadi pada Raihan.
Lebih menarik lagi, jika ditarik ke konteks Indonesia,
fakta yang sering luput dibahas adalah:
Indonesia adalah mesin utama yang memperbesar nama
Raihan.
Antusiasme publik Indonesia terhadap Raihan bukan
sekadar besar—tetapi masif dan nyata. Konser mereka di berbagai kota besar
selalu dipenuhi ribuan penonton. Bahkan, stasiun televisi nasional di Indonesia
pada masa itu saling berebut untuk menayangkan penampilan Raihan secara
langsung, baik dalam program religi maupun konser nasyid.
Pertanyaannya:
kalau Indonesia punya pasar sebesar itu, kenapa tidak
lahir “Raihan versi Indonesia”?
Jawabannya tidak sesederhana soal kualitas musik.
Ada beberapa faktor krusial:
Pertama, positioning.
Raihan hadir sebagai sesuatu yang “baru” saat
itu—nasyid yang modern, ringan, dan bisa dinikmati lintas usia. Sementara di
Indonesia, banyak grup nasyid justru terjebak dalam segmentasi sempit.
Kedua, dukungan industri.
Langkah Warner Music dalam membentuk Raihan
menunjukkan adanya keberanian label besar untuk “bertaruh” pada genre yang
belum tentu laku. Di Indonesia, pendekatan seperti ini cenderung minim.
Ketiga, momentum religi yang terintegrasi dengan
media.
Raihan tidak hanya hadir sebagai musisi, tetapi
sebagai bagian dari atmosfer Ramadan yang disebarkan secara nasional melalui
media arus utama.
Dan yang paling krusial:
Keempat, Indonesia hanya menjadi pasar, bukan pusat
produksi.
Ini adalah ironi terbesar. Penonton terbesar ada di
Indonesia, tetapi kontrol narasi, produksi, dan strategi tetap berada di luar
negeri.
Kini, dengan hadirnya The Rayhan, tantangan yang
dihadapi jauh lebih berat. Mereka tidak lagi berhadapan dengan pasar yang
“kosong”, tetapi dengan audiens yang sudah terfragmentasi, cepat bosan, dan
dikuasai algoritma.
Pertanyaan tajamnya sekarang bukan lagi:
“Bisakah The Rayhan sukses?”
Melainkan:
“Apakah mungkin mengulang fenomena seperti Raihan di
era yang sudah sepenuhnya berubah?”
Jika jawabannya tidak, maka industri—terutama di
Indonesia—perlu berhenti sekadar mengagumi sejarah, dan mulai membangun
ekosistemnya sendiri.
Karena tanpa itu, Indonesia akan terus menjadi pasar
besar…
tanpa pernah menjadi pemain utama.
Tag : No Tag
Berita Terkait
Rehat
Tajuk
Memahami Pemikiran Jenderal Dudung Abdurachman
PERLUNYA MENGUBAH CARA PANDANG PEDAGANG DI LOKASI WISAT...
Berita Populer
Arief Putra Musisi Anyar Indonesia
Ketua Umum GRIB H Hercules Rozario Marshal, Saya Bagian Dari Masyarakat Indramayu
Project Fly High Terinspirasi dari Pengalaman Hidup Dr Joe dan Tamak
Dari Kegiatan Aksi Sosial, Hercules Kukuhkan Ketua DPC GRIB JAYA Se-Jawa Barat
Chief Mate Syaiful Rohmaan
SAU7ANA
GMBI Kawal Kasus Dugaan Penipuan PT. Rifan Financindo Berjangka di PN Bandung
Indramayu Diguncang Gempa Magnitudo 4.4, Kedalaman 280 Kilometer
Ivan Lahardika Arranger dan Komposer Indonesia
SAU7ANA Come Back