Loading

XIN JIANG, MELODI DARI JALUR SUTRA


Penulis: Hendrius Candra
1 Jam lalu, Dibaca : 32 kali


Hendrius Candra

Oleh Hendrius Candra

(Jawa Barat Bogor KCD-1, Ciampea)

 

X?nji?ng hé Zh?ngguó de qít? dìfang bù y?yàng. Xinjiang beda dengan daerah lain di China. Berbeda secara signifikan dalam aspek geografi, budaya, demografi, kuliner, hingga pembagian waktu. Komposisi biologinya pun memiliki banyak kekhasan yang tiada tara. Sebagai daerah otonom yang terletak di ujung barat laut China, Xinjiang memiliki karakteristik unik yang lebih condong ke arah Asia Tengah dan Timur Tengah daripada wilayah pesisir timur China seperti Beijing atau Shanghai. Negeri unik ini memiliki sejarah panjang interaksi antara budaya Tionghoa, Turki, dan Mongol. Munculah istilah “China Muslim”. Geliat kehidupan negeri ini bagaikan liukan melodi dari jalur sutra dengan irama yang fluktuatif dan dinamis, kadang lambat, kadang menengah, kadang menghentak ke atas. Politik cukup mengganggu kedamaian negeri yang menjadi salah satu pelintasan jalan Bhiksu Tong Sam Cong, bersama 3 muridnya (Sun Go Kong, Cu Fat Kai, dan Sha Wu Ching) yang bertajuk “Perjalanan Mencari Kitab Suci ke Barat” (Xi You Ji) karya Wu Cheng’en pada masa Dinasti Ming. Xinjiang memadukan peradaban Islam di jalur sutra dengan keindahan alam yang luar biasa dramatis. 

Geografis

Xinjiang adalah salah satu daerah otonom khusus Tiongkok yang terletak di jauh sebelah barat laut wilayah daratan negeri Tirai Bambu. Dikelilingi oleh banyak negara dan berada di pedalaman Eurasia, Xinjiang menjadi salah satu wilayah eksotis yang menarik untuk dikunjungi.

Daerah Otonomi Uighur Xinjiang adalah provinsi terbesar di Tiongkok, yang memiliki luas area sebesar 1,66 juta kilometer persegi atau hampir mencakup seperenam keseluruhan wilayah Tiongkok. Saking luasnya, Xinjiang berbatasan langsung dengan 8 negara tetangga, yaitu Kazakhstan, Kirgistan, dan Tajikistan di barat laut; Pakistan dan India di barat daya; Mongolia di timur laut; Rusia di utara, dan Afganistan di barat. Sebagai pembanding, ukuran provinsi lain cenderung lebih kecil dengan lanskap dataran rendah, perbukitan, atau pesisir pantai (terutama di timur).

Xinjiang sejatinya adalah perpaduan antara Gurun Taklamakan di selatan, Gurun Gobi di timur dan Gunung Tianshan yang bersalju di sebelah utara. Iklim gurun membawa hawa kering dan dingin. Salju bisa berlangsung selama 6 bulan.

Secara geografis, Xinjiang juga terbagi menjadi Cekungan Dzungaria di utara dan Cekungan Tarim di selatan karena Pegunungan Tianshan. Sebagian besar penduduk di provinsi ini terkonsentrasi di Cekungan Dzungaria, terutama di dekat ibu kota regionalnya, Urumqi.  Kota-kota oasis ada di sepanjang tepi Cekungan Tarim, seperti Kashgar dan Turpan.

Danau Kanas dan Desa Hemu.

Kanas di Pegunungan Altai, Xinjiang, terkenal akan keindahan alamnya yang memukau dan warisan budayanya yang kaya. Danau Kanas punya lanskap yang sangat indah dan jernih. Spot seperti Moon Bay dan Fairy Bay di dekat danau ini juga cocok untuk dijadikan spot berfoto-foto. Sementara itu, Desa Hemu menawarkan lanskap desa yang damai dengan rumah-rumah kayu, pemandangan alam yang pekat, serta aktivitas menarik seperti hiking juga menunggang kuda.

Kota Kuno Jiaohe.

Kota Kuno Jiaohe di Distrik Gaochang, Kota Turpan adalah tujuan wajib untuk wisatawan. Pasalnya, tempat ini merupakan reruntuhan bersejarah bagian dari situs Warisan Budaya Dunia UNESCO Jalur Sutra: Jaringan Rute Chang’an–Tianshan (atau Silk Road). Di sini, kita bisa mengintip kehidupan kuno Tiongkok, terutama pada masa Silk Road.

Pasar Kashgar

Ingin mengintip kehidupan masyarakat Xinjiang? Kita bisa pergi ke Kota Kashgar dan mengunjungi Pasar Kashgar (Kashgar Bazaar) untuk melihatnya. Tempat ini merupakan pasar perdagangan internasional terbesar di Barat Laut Tiongkok yang punya sejarah lebih dari 2.000 tahun. Selain mendapatkan tampilan otentik suasana pasar lokal, kamu juga bisa menemukan lebih dari 5.000 toko dan kios yang menjual berbagai produk dan kudapan khas Xinjiang. Mulai dari buah-buahan kering, kacang-kacangan, makanan ringan, hingga pakaian lokal, topi, alat musik, kerajinan tangan; semuanya ada!

Danau Surgawi

Kalau kamu up for adventures, kamu juga bisa coba pergi ke Danau Surgawi (Heavenly Lake) di Pegunungan Tianshan. Ini merupakan tempat yang populer di Xinjiang, karena memiliki pemandangan yang sangat indah sekaligus menjadi situs Warisan Alam Dunia UNESCO. Biarpun menjadi salah satu tempat yang ada dalam mitologi Tiongkok, tempat ini hanya berjarak 68 kilometer atau satu jam berkendara dari Urumqi.

Demografi dan etnis

Dari sisi sosial dan etniknya, Xinjiang memiliki beragam etnis. Penduduk asli Xinjiang berasal dari ras-ras Turki yang beragama Islam, dengan pengaruh budaya Asia Tengah yang kuat. Etnis paling majemuk adalah suku Uighur muslim Turki, yang mencakup sekitar setengah dari populasi wilayah tersebut. Selain itu, mayoritas penduduk Xinjiang juga merupakan Suku Han Tiongkok (seperti orang Tionghoa di kebanyakan kota metropolitan seantero Tiongkok), Suku Kazakh, Hui, dan Manchu. Sebagai pembanding, daerah China lainnya, didominasi oleh etnis Han yang mencakup sekitar 91% total populasi nasional.

Anomali Zona Waktu

Di atas kertas, Urumqi dan semua wilayah Xinjiang menggunakan Zona Waktu Beijing. Artinya, mereka hidup dan beraktivitas mengikuti ‘jam kerja’ di Kota Beijing. Secara geografis Xinjiang berbeda 2 jam dari Beijing, Tertinggal 2 jam lebih lambat dari Beijing. Matahari terbit dan terbenam jauh lebih malam. Pemerintah China secara resmi menetapkan satu zona waktu tunggal (Waktu Beijing/GMT+8) untuk seluruh negeri. Untuk menghindari masalah pada ritme sirkadian (atau jam internal tubuh), masyarakat Xinjiang ‘memundurkan’ waktu beraktivitas harian mereka. Akibatnya, masyarakat di Xinjiang baru memulai aktivitas kantor atau sekolah sekitar jam 10 pagi, dan untuk makan dan pulang kerja mereka lakukan pada pukul 2 siang dan 7 malam. Makan malam sering kali baru dilakukan pada jam 8 atau 9 malam karena matahari masih terang benderang.

Punya Bandara Paling Banyak Seantero Tiongkok

Biarpun bukan provinsi yang memiliki ibu kota negara ataupun kota metropolitan, Xinjiang menjadi wilayah se-Tiongkok Raya yang memiliki bandara terbanyak. Melansir dari laman Far West China, hingga saat ini ada 22 bandar udara di Xinjiang. Wow! Meski begitu, tidak semua bandara ini mengangkut penumpang setiap hari atau setiap minggunya, tetapi, semua bandara ini ada dan aktif.

Hewan Khas

Wilayah Xinjiang, memiliki ekosistem yang sangat kontras mulai dari Pegunungan Tianshan yang dingin hingga Gurun Taklamakan yang gersang. Kondisi ini melahirkan berbagai spesies unik. Pika Ili (Ochotona iliensis), adalah endemik Xinjiang (Sangat Langka). Ini merupakan mamalia kecil berwajah mirip boneka beruang yang dijuluki "magic bunny". Mereka hidup di tebing berbatu Pegunungan Tianshan pada ketinggian di atas 4.000 meter. Berang-berang Mengxin (Sino-Mongolian Beaver) merupakan satwa khas dan dilindungi. Inilah satu-satunya berang-berang yang hidup di wilayah ini, tepatnya di sepanjang Sungai Ulungur, Prefektur Altay. Satwa ini berstatus dilindungi kelas satu di Tiongkok. Unta Bactrian Liar (Camelus ferus), khas gurun. Merupakan salah satu mamalia besar paling langka di dunia yang mampu bertahan hidup di lingkungan ekstrem gurun garam Lop Nur. Macan Tutul Salju (Panthera uncia), hewan khas pegunungan yang merupakan predator puncak yang mendiami kawasan pegunungan tinggi bersalju seperti Tianshan dan Altun.

Tumbuhan Unik

Karena Xinjiang didominasi oleh pegunungan alpine dan gurun, tumbuhannya memiliki adaptasi yang sangat kuat.  Pohon Poplar Efrat (Populus euphratica), dikenal sebagai "fosil hidup" gurun. Pohon ini sangat khas di Cekungan Tarim dan Gurun Taklamakan karena kemampuannya bertahan hidup di tanah yang sangat kering dan asin. Pohon Elm Siberia (Ulmus pumila), banyak ditemukan di wilayah Xinjiang karena ketahanannya yang tinggi terhadap iklim dingin yang ekstrem dan angin kencang. Pohon Larch (Larix) dan Cemara (Picea), merupakan tumbuhan jarum (konifer) dominan yang membentuk hutan taiga yang subur di kawasan wisata terkenal seperti Kanas, Xinjiang Utara. Aprikot Liar (Prunus armeniaca), Khususnya Lembah Xinyuan, terkenal dengan hutan aprikot liar yang sangat luas yang mekar indah setiap musim semi. Tumbuhan Paling Fenomenal, pastinya Lumut gurun Syntrichia caninervis adalah jenis lumut khas dan sangat tangguh yang ditemukan di Gurun Gurbantunggut. Tumbuhan ini mampu bertahan hidup dalam kondisi yang dapat mematikan bagi sebagian besar tumbuhan, termasuk dehidrasi parah, radiasi intens, suhu dingin ekstrem, serta lingkungan luar angkasa yang menyerupai Mars. Tanaman buah tin varietas Xinjiang Flat (atau Xinjiang Flat Fig) merupakan salah satu kultivar unik dari pohon ara (Ficus carica) yang dikenal memiliki bentuk buah pipih dan berasal dari wilayah Xinjiang, Tiongkok. Bentuk buahnya cenderung pipih (flat) tidak seperti bentuk buah tin pada umumnya yang membulat atau agak memanjang. Buah menampilkan kulit berwarna hijau dan daging buah bagian dalam berwarna merah muda yang menyala.

Bahasa yang Berbeda

Xinjiang memiliki bahasa yang unik tersendiri. Bahasa Uighur (dengan aksara berbasis Arab) digunakan secara resmi berdampingan dengan bahasa Mandarin. Berbeda dengan bahasa Mandarin yang umum di pakai di daerah lain dengan karakter Tiongkok.

Jadi Provinsi Paling Banyak Agama Seantero Tiongkok

Selain bandara, keyakinan rohani juga merupakan hal lain yang terbanyak di Xinjiang. Hal ini berkat keberagaman penduduk Xinjiang, yang mana berasal dari banyak suku. Agama-agama yang bisa di temukan di wilayah ini adalah Islam, Buddha, Taoisme, Katolik, Kristen, Konfuisme, dan Ortodoks Timur. Ada juga sekuler (non-religius).  Islam menjadi agama dengan pengaruh sosial dan budaya paling dominan. Arsitektur kota tua banyak bernuansa Timur Tengah.

Masyarakat di Xinjiang menganut pelbagai agama. Agama Islam mempunyai pengaruh yang paling kuat. Tempat agama di Xinjiang mempunyai sebanyak lebih 23,000 buah termasuk masjid, kuil lama dan gereja Kristian dan ini telah memenuhi permintaan penduduk beragama. Pertubuhan agama di Xinjiang termasuk Persatuan Islam, Institut Islam, Persatuan Agama Buddha dan lain-lain.

Lebih 9 juta orang dari 10 etnik menganut agama Islam di Xinjiang termasuk etnik Uyghur, Khazak, Hui dan lain-lain. Jumlah penduduk yang beragama Islam menempati 56.3% jumlah penduduk Xinjiang. Penduduk etnik Mongol di Xinjiang kebanyakan menganut agama Buddha Tibet. Jumlah penganut agama Kristian di Xinjiang mencatat 30 ribu orang.

Jalur Sutra, Mencari Jejak Islam di Xinjiang
"Xinjiang" secara harfiah bermakna 'Perbatasan Baru' atau 'Daerah Baru'. Ini adalah nama yang diberikan semasa Dinasti Qing Manchu. Xinjiang menjadi persimpangan Eurasia, menghubungkan peradaban besar India dan Tiongkok ke Eurasia barat melalui Jalur Sutra. Sejarah dan masa depan wilayah ini terkait erat dengan Asia Timur dan Asia Tengah. Saat ini, wilayah ini terhubung dengan negara-negara tetangganya di Asia Tengah melalui jalan raya dan jalur kereta api. Selain penting secara strategis, wilayah ini juga penting secara ekonomi. Xinjiang terkenal dengan ekspor buah-buahan, termasuk anggur dan melon. Selain itu, kapas, bit gula, gandum, sutra, dan kenari juga dibudidayakan. Domba dipelihara untuk daging dan wolnya. Industri lainnya meliputi tekstil, pengolahan bahan makanan, kulit, kertas, gula, karpet, minyak mentah dan olahan, besi dan baja, metalurgi, mesin, bahan kimia, dan pembangkit listrik

Urumqi - Xinjiang di China adalah bekas Jalur Sutra, tempat pintu masuk Islam ke Negeri Tirai Bambu. Setelah 2.000 tahun. Dulu Xinjiang ini bernama Xi Yu, alias Western Region. Kisah Bhiksu Tong Sam Cong, bersama 3 muridnya (Kera Sakti Sun Go Kong, Pendekar Berwajah babi Cu Fat Kai, dan murid paling sabar dan penurut Sha Wu Ching) yang bertajuk Journey to The West, ya maksudnya lewat daerah Xinjiang ini untuk menuju India.

Peradaban sudah berlangsung sejak 50 ribu tahun lalu. Namun, kisah Jalur Sutra membuat tempat ini melegenda dalam peradaban manusia. Xinjiang menjadi sangat penting ketika dibukanya Jalur Sutra pada zaman Dinasti Han tahun 60 SM. Dari Ibukota Xian (belum Beijing) jalurnya menuju Xinjiang, lalu ada persimpangan pertama ke India. Sementara kalau lurus dari Xinjiang ke Kazakhstan, Uzbekistan dan Iran, lalu berjumpa lagi persimpangan di Turki untuk menuju ke Jazirah Arab. Sementara kalau lurus lagi ujungnya adalah Romawi.

Sutra dan giok adalah dua barang utama yang beredar di Jalur Sutra selain rempah-rempah, gading, kain tenun dan lain-lain. Namun selain itu, terjadi pertukaran pemikiran di antara manusia. Buddha dan Islam masuk ke China lewat Jalur Sutra. Sampai hari ini, jejak itu masih terlihat.

Uyghur, Kazakhs dan Hui adalah suku yang beragama Islam. Mereka adalah bukti penyebaran dakwah Islam di Jalur Sutra. Di Ibukota Urumqi, akan lebih gampang melihat masjid daripada kelenteng. Semua petunjuk jalan diberikan dua tulisan, Mandarin dan Arab Uyghur.

Kuliner Khas Halal

Kuliner khas Xinjiang yang halal dan terkenal didominasi oleh pengaruh budaya suku Uyghur dan Asia Tengah, dengan ciri khas penggunaan daging domba, rempah yang kaya, serta olahan mie dan gandum. Di sini, makanan halal bukan hal sulit ditemukan. Produk halal di Xinjiang mudah ditemukan di supermarket, tinggal perhatikan tulisan Arab yang dibaca 'Muslimin' karena kata 'Halal' ditulis dengan aksara Mandarin. Masakan tradisional yang khas adalah Nasi Palov, Pilaf atau Polo atau Osh dalam bahasa Uzbek. Ini semacam nasi goreng dengan daging kambing yang penuh rempah serta parutan wortel dan sayuran. Nasi ini adalah simbol multikulturalisme di Jalur Sutra. Legenda menyebutkan, Ibnu Sina adalah pencipta Nasi Palov atas perintah Raja Timur Lenk untuk meracik makanan dengan bumbu yang mudah ditemukan di sepanjang Jalur Sutra.

Kuliner Xinjiang, halal/Muslim-friendly. Banyak yang sudah terkenal di dunia. Berbasis daging domba/sapi, roti naan, kebab, rempah jintan, dan bebas babi/alkohol. Porsi makanan jauh lebih besar. Beda dengan di wilayah lain di China yang berbasis nasi, babi (pork), hidangan laut (seafood), dengan cita rasa manis (selatan) atau asin/pedas (utara/tengah).

Dapanji (Da Pan Ji), disebut juga "Big Plate Chicken" atau ayam piring besar. Hidangan berupa potongan ayam yang dimasak dengan saus pedas, cabai, kentang, dan bawang, sering kali disajikan bersama mie lebar. Uyghur Polo (Pilaf), merupakan nasi rempah khas Xinjiang yang dimasak bersama potongan daging domba, wortel, bawang bombai, dan kismis dalam satu panci besar. Kawab (Sate Domba Xinjiang) adalah sate daging domba yang dipanggang dengan taburan jintan (cumin), bubuk cabai, dan garam. Menu ini sangat ikonik dan populer. Lagham / Lamian Xinjiang, mie buatan tangan (hand-pulled noodles) yang kenyal, disajikan dengan tumisan daging sapi atau domba, sayuran, dan kuah atau saus khas. Samsa: Roti panggang khas berbentuk segitiga atau bulat yang diisi dengan cincangan daging domba dan lemak domba, lalu dipanggang di dalam oven tradisional (tandoor). Naan, berupa roti pipih khas Xinjiang yang dipanggang dengan taburan biji wijen, menjadi makanan pokok sehari-tahun untuk sarapan atau teman makan sup

Seni Muqam dan Tradisi “Hua’er”

Selama berabad-abad, Jalur Sutra bukan hanya menjadi jalur perdagangan sutra dan rempah, tetapi juga jalur pertukaran nada dan jiwa. Di wilayah Tiongkok, khususnya di provinsi Ningxia dan Xinjiang, tumbuh sebuah tradisi musik yang unik dan jarang terekspos dunia luar. Musik Islam di Tiongkok adalah hasil perkawinan indah antara estetika musik Oriental yang meditatif dengan kedalaman spiritualitas Islam. Inilah gaya hidup "Islam Tionghoa" yang mampu menjaga identitas keimanan di tengah kebudayaan Konghucu dan Taoisme yang dominan. Ada harmoni Oriental dan spiritualitas Islam di sini. Itulah melodi dari jalur sutra.

Muqam Xinjiang (terutama Dua Belas Muqam Uyghur) adalah mahakarya seni musik klasik, tarian, dan syair puisi tradisional dari masyarakat Uyghur di Xinjiang, Tiongkok, yang diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak benda Manusia. Kesenian ini karya para maestro Uighur. Ciri khasnya adalah ritme yang berubah-ubah, nyanyian yang lantang, langkah tarian yang luwes, dan narasi yang menarik. Seni ini tidak hanya semata-mata merupakan cara masyarakat Uighur mengekspresikan emosinya, tetapi juga gambaran nyata tentang budaya, sejarah, dan kehidupan sosial mereka. Seni Muqam berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Uighur. Melodi merdu Muqam dapat terdengar hampir di setiap tempat yang dihuni suku Uighur. Seni unik ini telah menjadi identitas dan warisan budaya suku Uighur. Gaya hidup masyarakat Uighur yang komunal membuat pertunjukan musik ini menjadi ajang silaturahmi akbar yang mempererat persaudaraan antarwarga Muslim di sana.

Lagu-lagu dalam Muqam menggunakan teks puisi klasik yang mendalam, balada rakyat, dan syair sufistik yang mencerminkan sejarah serta filosofi hidup masyarakat Xinjiang. Alam Khan adalah salah satu lagu rakyat Uyghur Xinjiang yang sangat legendaris dan dikenal luas di seluruh China, menceritakan tentang pesona seorang gadis bernama Alam Khan. Mitiz Meshrep merupakan lagu rakyat tradisional yang biasa dinyanyikan dalam perayaan komunitas (Meshrep). Yang lainnya ada Dolan Muqam, musik rakyat khas yang menggabungkan melodi kuno dan ekspresi tarian yang penuh semangat.

Dikenal juga seni Dastan, tradisi kisah epik atau puisi naratif panjang yang disampaikan dengan cara dinyanyikan, sering kali menceritakan kisah cinta romantis atau kepahlawanan.

Seni lainnya datang dari etnis Hui, salah satu komunitas Muslim terbesar di Tiongkok, memiliki tradisi vokal yang dikenal sebagai "Hua’er". Gaya bernyanyi ini sering kali dilakukan di wilayah pegunungan dengan nada tinggi yang melengking. Meski secara teknis mirip dengan nyanyian rakyat Tiongkok, lirik-liriknya sering kali disisipi oleh nilai-nilai moral Islam, rasa syukur kepada Pencipta, dan kerinduan pada tanah suci. Gaya hidup masyarakat Hui yang agraris dan religius menjadikan musik ini sebagai teman saat bekerja di ladang sekaligus media dakwah yang santun dan menyatu dengan alam.

Pembangunan pesat di Urumqi

Yang jelas, pemerintah China tampak juga belajar dari kesalahan. Pembangunan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup, mungkin bisa menjadi solusi. Gedung apartemen bermunculan, gedung-gedung kantor dibangun, jalan ton dan rel kereta api melintas di sana-sini.

2.000 Tahun setelah Jalur Sutra dibuka, Xinjiang tidak kehilangan makna di tengah peradaban dunia. Seiring dengan pemerintah China menggagas One Belt One Road (OBOR), merevitalisasi Jalur Sutra Asia-Eropa, maka Xinjiang mencari bentuk baru kontribusinya terhadap perekonomian dunia. Xinjiang menjadi daerah inti untuk Silk Road Economic Belt. Dengan 18 pelabuhan darat kelas A, Xinjiang melanjutkan apa yang telah dilakukan sejak 2.000 tahun lalu: menjadi jalur perdagangan antar peradaban Eropa, Timur Tengah dan China.

Muslim Uigur Kini

Muslim Uighur kini kembali menjadi salah satu topik berita beberapa hari belakangan ini karena terjadinya apa yang disebut sebagai "kerusuhan antar etnis" kaum Muslim Uighur pada satu pihak berhadapan dengan etnis Han, yang umumnya merupakan pendatang dari China Tengah dan Timur. Dilaporkan kerusuhan ini memakan korban ratusan jika tidak ribuan kalangan Muslim Uighur.

Kaum Muslim Uighur hanyalah salah satu dari 10 kelompok etnis Muslim yang dalam kategorisasi demografi-relijius China disebut sebagai "kelompok etnis minoritas". Meski wilayah Asia Tengah ini sangat jauh dari Beijing, genggaman kekuasaan pemerintah China tak kurang kuatnya menjangkau wilayah ini dari waktu ke waktu.

Seorang teman bercerita bahwa, ketika dia berulangkali melaksanakan ibadah haji dan umrah, jumlah orang-orang Xinjiang di Mekah-Madinah semakin banyak. Diduga Penyebabnya adalah meningkatnya kontrol dan represi pemerintahan Beijing terhadap kaum Muslimin Xinjiang, sebagai dampak merdekanya beberapa daerah dan kelompok etnis Muslim di Asia Tengah seusai runtuhnya Uni Soviet.
Ada cerita nestapa mereka berada di bawah kekuasaan negara "Tirai Bambu", yang membuat mereka berpencaran ke berbagai negara Timur Tengah dan juga beberapa negara Eropa dan Amerika Serikat. Dalam diaspora ini, mereka melakukan berbagai usaha untuk bisa bertahan termasuk berdagang karpet dan peralatan haji dan umrah di Tanah Suci, dan juga membuka restoran.
Puncak kenestapaan yang mereka alami terjadi pada masa Mao Zedong, dan kemudian sempat berkurang untuk kemudian meningkat kembali pada masa pasca runtuhnya kekuasaan Uni Soviet di Asia Tengah. Sejak merdekanya beberapa negara di kawasan Asia Tengah, seperti Uzbekistan (September 1991), Kyrgyzstan (September 1991), Tajikistan (September 1991), Turkmenistan (Oktober 1991), dan Kazakhstan (Desember 1991) sebagai akibat bubarnya Uni Soviet, cengkeraman China terhadap wilayah Xinjiang kian kuat, karena kekhawatiran atas "efek domino" yang boleh jadi juga melanda kawasan Muslim Xinjiang.

Selain meningkatkan kontrol terhadap kaum Muslimin guna mencegah kemungkinan penyebaran "efek domino" keruntuhan Soviet, pemerintah China juga mencermati penyebaran gagasan dan gerakan Islam transnasional, terutama melalui apa yang disebut penguasa Beijing sebagai "Islam Wahabi". Gagasan dan gerakan semacam ini dalam berbagai bentuk dan nama, yang juga menyebar di wilayah Asia Tengah lainnya, dalam pandangan pemerintah China dengan segera dapat menyebar ke wilayah Xinjiang, yang sangat boleh jadi memicu perlawanan terhadap Beijing.

Kebijakan lainnya yang terbukti menciptakan "api dalam sekam" adalah migrasi etnis Han dalam jumlah besar ke wilayah Xinjiang, yang bekerja dalam berbagai proyek pembangunan dan juga bergerak dalam bidang ekonomi dan perdagangan. Migrasi suku Han semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir, ketika di wilayah Xinjiang ditemukan cadangan minyak bumi dan gas dalam jumlah sangat besar. Migrasi besar-besaran etnis Han yang secara agama dan kultural berbeda banyak dengan etnis Uighur dan suku-suku Muslim lainnya, menimbulkan persepsi di kalangan kaum Muslimin di wilayah ini tentang meningkatnya proses "pelenyapan budaya dan etnis" Muslim Xinjiang umumnya.

Gerakan Kemerdekaan dan Tuduhan Terorisme

Karena posisinya yang berada di tapal batas penting Jalur Sutra kuno dan berbatasan dengan banyak negara Asia Tengah, Xinjiang memiliki pengawasan keamanan internal yang jauh lebih ketat (seperti pemeriksaan pos keamanan dan pemindaian identitas) dibandingkan dengan area metropolitan atau pedesaan di wilayah China lainnya.

Setelah 2.000 tahun, Xinjiang menjelma menjadi daerah yang menggeliat pembangunannya. Xinjiang mengejar ketertinggalannya dengan daerah China di pesisir Timur dan Selatan. Geliat pembangunan ini dipicu juga dari kisah duka, tatkala terjadi kerusuhan antar etnis Uighur dan Han pada 2009. Kecemburuan ekonomi dan politik, dipicu aksi kekerasan menyebabkan kerusuhan besar dengan korban tewas lebih dari 197 orang.

Cerita makin keruh lagi di luar negeri karena disebut terjadi diskriminasi terhadap muslim, padahal inti masalahnya kerusuhan etnis, bukan agama. Namun, Xinjiang juga dibayang-bayangi masalah separatisme sejak tahun 1960 yang dimotori beberapa kelompok, yang terakhir adalah Turkistan Islamic Party (TIP).
Perlawanan terhadap kekuasaan Tiongkok telah berlangsung sejak lama di Xinjiang. Saat ini, kebanyakan pemimpin perlawanan berada di pengasingan, antara lain di Turki, Jerman dan Amerika Serikat. Kebanyakan gerakan ini adalah gerakan kesukuan yang sekuler, walaupun terdapat beberapa gerakan yang berideologi Islam.

Sejak Peristiwa 11 September di Amerika Serikat, pemerintah Tiongkok juga mengklaim terdapat gerakan terorisme internasional di Xinjiang, yang dituduh berkaitan dengan Gerakan Taliban di Afganistan. Menurut laporan pemerintah Tiongkok pada tahun 2002, setidaknya 57 orang tewas akibat serangan teroris di Xinjiang. Di sisi lain, media barat menuduh Pemerintah Tiongkok melakukan pelanggaran HAM, kejahatan ras, pelarangan kebebasan beragama dan kriminalisasi terhadap etnis Uyghur dengan beredarnya foto penyiksaan dan pemborgolan oleh aparat. Orang-orang yang tertangkap pada foto tersebut disinyalir sebagai mereka yang tertangkap basah untuk merencanakan pemberontakan terhadap pemerintah dan pelaku aksi jaringan terorisme.

Tuduhan media barat dibantah oleh Juru Bicara Kemenlu RRT, Wang Wenbin saat pernyataan Amerika Serikat untuk tidak berpartisipasi pada Olimpiade Beijing 2022 dengan alasan krisis HAM Uyghur. Wang menyatakan perlakuan Tiongkok terhadap Uyghur yang dimaksud adalah tentang pemberantasan terorisme dan separatisme, bukan tentang pelanggaran HAM.

Pelanggaran Hak Asasi Manusia

Pemerintah Tiongkok dilaporkan telah melakukan pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Xinjiang, di antaranya pelanggaran kebebasan beragama, kebebasan berkumpul dan berpendapat, hambatan atas pendidikan, diskriminasi, serta hukuman mati terhadap tahanan politik. Keberadaan sekolah Islam, masjid dan imam dikontrol secara ketat, dan para imam diharuskan "berdiri di sisi pemerintah dengan teguh dan menyampaikan pendapatnya dengan tidak samar-samar". Sejak 1995 hingga 1999, pemerintah telah meruntuhkan 70 tempat ibadah serta mencabut surat izin 44 imam. Pemerintah juga secara resmi menerapkan larangan ibadah perorangan di tempat-tempat milik negara. Pihak keamanan melakukan pencarian rutin terhadap "penerbitan ilegal" serta "bahan-bahan agama ilegal".

Selain itu, diskriminasi terjadi di sekolah-sekolah, di mana asrama-asrama diperiksa. Di bidang tenaga kerja bisnis dan pemerintahan, orang-orang Muslim sering dihambat dari jabatan yang tinggi.

Menurut Amnesty International, Xinjiang adalah satu-satunya provinsi di Tiongkok yang mengizinkan hukuman mati terhadap tahanan politik. Jumlah tepat korban hukuman mati dirahasiakan oleh negara, tetapi menurut Dogu Turkestan, jumlah korban tewas akibat hukuman mati atau penyiksaan oleh pemerintah mencapai 2.500 dari tahun 1999 — 2000.

Akhirnya, Xinjiang memang eksotik. Xinjiang memang banyak bedanya  dengan daerah lain di China. Jangan diganggu karena urusan politik. Ada melodi jalur sutra di sana. Dengarkanlah yang ini:

Dàmò g?y?n tuólíng xi?ng,
S?chóu g?dào wànl? cháng.
Liánt?ng d?ngx? chuán huáxià,
Qi?nz?i c?ngs?ng zhù hu?huáng.

Asap tunggal di gurun luas, genta unta berdenting,
Jalan kuno sutra membentang sepanjang puluhan ribu mil.
Menghubungkan Timur dan Barat, menyebarkan budaya Tiongkok,
Ribuan tahun pasang surut sejarah, membentuk keagungan yang gemilang.

(Hendrius Candra, dari berbagai sumber)

 

Tag : No Tag

Berita Terkait