Penulis: Dr. Muslich Taman
7 Jam lalu, Dibaca : 33 kali
Oleh Dr. Muslich Taman, Humas SMAN I Rumpin, Penulis Buku: Guru Sang Arsitek Masa Depan
Setiap tahun, 22
Oktober diperingati sebagai Hari Santri Nasional. Bendera dikibarkan, sarung
dan peci dikenakan, pesantren dikenang, dan jasa para santri dalam perjuangan
bangsa kembali digaungkan. Namun, di balik kemeriahan itu, ada pertanyaan yang
patut direnungkan: sudahkah ilmu yang kita pelajari sebagai santri telah
membuat kita menjadi manusia yang lebih baik? Manusia yang bermanfaat?
Pertanyaan ini
penting, sebab Indonesia tidak kekurangn orang pintar. Lembaga pendidikan terus
melahirkan lulusan, gelar akademik semakin beragam, dan teknologi menyediakan
akses pengetahuan yang nyaris tanpa batas. Namun, kepintaran saja tidak cukup.
Tak banyak manfaat. Kita membutuhkan manusia yang bukan hanya pandai berbicara
tentang kebenaran, tetapi juga berani menjalaninya, dan menjadi teladan.
Pintar adalah
kemampuan, sedangkan benar adalah komitmen moral. Kepintaran membantu seseorang
menemukan jalan, tetapi integritas menentukan apakah jalan itu layak ditempuh.
Tanpa kejujuran, kecerdasan bisa menjadi alat manipulasi. Tanpa amanah, jabatan
bisa berubah menjadi kesempatan untuk menguntungkan diri sendiri. Tanpa akhlak,
ilmu berisiko kehilangan kemanfaatannya. Bahkan, menjadi beban dan musibah.
Di sinilah
persoalan keteladanan menjadi penting. Kita sering menjumpai kesenjangan antara
nasihat dan tindakan: kejujuran dikampanyekan, tetapi kecurangan ditoleransi;
kedisiplinan dituntut, tetapi tanggung jawab diabaikan; keadilan disuarakan,
tetapi egois pada diri sendiri dibenarkan. Tentu, ini bukan gambaran semua
orang. Namun, setiap ketidaksesuaian antara perkataan dan perbuatan layak
menjadi bahan introspeksi bersama. Di hari santri ini.
Allah Swt.
mengingatkan dalam QS. As-Saff ayat 2–3 agar orang beriman tidak mengatakan
sesuatu yang tidak dikerjakannya. Peringatan ini menegaskan bahwa kebenaran
bukan sekadar pengetahuan yang tersimpan di kepala atau kata-kata yang indah di
bibir. Kebenaran harus menjelma menjadi perilaku sehari-hari.
Rasulullah pun
menjadi teladan utama sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Ahzab ayat 21. Beliau
tidak hanya menyampaikan ajaran, tetapi memperlihatkan bagaimana ajaran itu
dihidupkan dalam keseharian. Dari sini kita belajar bahwa pendidikan paling
kuat bukan semata-mata nasihat, melainkan keteladanan.
Hari Santri
semestinya menjadi momentum menghidupkan kembali hubungan antara ilmu dan adab.
Tradisi pesantren mengajarkan kesungguhan belajar, penghormatan kepada guru,
kesederhanaan, kedisiplinan, dan pengabdian. Namun, menghormati guru bukan
berarti mengultuskannya. Adab harus berjalan bersama keberanian berpikir
kritis, kejujuran, dan kesediaan memperbaiki kekeliruan.
Tanggung jawab
membangun karakter tentu tidak hanya berada di pundak pesantren. Keluarga
adalah sekolah pertama tempat anak menyaksikan kejujuran dipraktikkan. Sekolah
menjadi ruang untuk menumbuhkan disiplin, keadilan, dan tanggung jawab. Para
pemimpin di semua level dan pejabat pun dituntut menunjukkan bahwa kekuasaan
merupakan amanah, bukan keistimewaan untuk menempatkan diri di atas aturan.
Apalagi, menghalalkan segala cara.
Lantas, dari mana
perubahan harus dimulai? Dari diri sendiri. Berani jujur meskipun tidak
diawasi, menepati janji meskipun tidak menguntungkan, mengakui kesalahan
meskipun meruntuhkan gengsi, dan memperlakukan orang lain secara adil meskipun
berbeda kepentingan. Kebaikan yang konsisten sering kali lebih mendidik
daripada seribu nasihat yang tidak pernah dipraktikkan.
Kita tidak sedang
mengatakan bahwa kita ini benar-benar kekurangan orang jujur. Banyak orang
bekerja dengan tulus, menjaga amanah, dan berbuat baik tanpa sorotan. Di mana
pun posisinya. Justru, mereka perlu menjadi teladan yang dihargai, agar
integritas tidak kalah oleh popularitas dan pencitraan lewat jabatan.
Pada akhirnya,
keberhasilan Hari Santri tidak cukup diukur dari semarak peringatannya, tetapi
juga dari nilai-nilai yang terus hidup setelah perayaan usai. Sebab, bangsa ini
bukan hanya membutuhkan orang yang cerdas menjawab persoalan, melainkan juga
manusia yang teguh menjaga kebenaran ketika tidak seorang pun melihat.
Ilmu membuat kita
mengetahui kebenaran. Akhlak mendorong kita mengamalkannya. Dan keteladanan
membuat kebenaran itu hidup dalam diri orang lain. Itulah warisan berharga yang
seharusnya kita rawat dari semangat Hari Santri demi masa depan Indonesia.
Wallahu a'lam bis shawab.
Tag : No Tag
Berita Terkait
Rehat
Tajuk
Memahami Pemikiran Jenderal Dudung Abdurachman
PERLUNYA MENGUBAH CARA PANDANG PEDAGANG DI LOKASI WISAT...
Berita Populer
Arief Putra Musisi Anyar Indonesia
Ketua Umum GRIB H Hercules Rozario Marshal, Saya Bagian Dari Masyarakat Indramayu
Project Fly High Terinspirasi dari Pengalaman Hidup Dr Joe dan Tamak
Dari Kegiatan Aksi Sosial, Hercules Kukuhkan Ketua DPC GRIB JAYA Se-Jawa Barat
Chief Mate Syaiful Rohmaan
SAU7ANA
GMBI Kawal Kasus Dugaan Penipuan PT. Rifan Financindo Berjangka di PN Bandung
Indramayu Diguncang Gempa Magnitudo 4.4, Kedalaman 280 Kilometer
Ivan Lahardika Arranger dan Komposer Indonesia
SAU7ANA Come Back