Loading

DPRD Jabar Dorong Peningkatan Jalan Leucir, Dinas Bina Marga Malah Biarkan Retakan Beton Proyek Jalan Parung Panjang – Bunar


Penulis: IthinK
7 Jam lalu, Dibaca : 50 kali


Retakan beton Proyek Pekerjaan Rekonstruksi Jalan Ruas Jalan Parung Panjang - Bunar (BTT) tidak dilakukan perbaikan oleh penyedia jasa dalam masa pemeliharaan. (Foto: Medikom)

BANDUNG, Medikomonline.com - Komisi IV DPRD Jawa Barat mendorong peningkatan Program Jabar Istimewa Jalan Leucir lebih tepat sasaran, serta memperhatikan kebutuhan masyarakat termasuk harus sesuai dengan perencanaan dan kemampuan anggaran daerah. 

Hal itu disampaikan Anggota Komisi IV DPRD Jawa Barat Uden Dida Efendi dari Fraksi PPP di Kota Bandung, Rabu (19/8/2026).

 

Menurut Uden Dida Efendi, Jabar Istimewa Jalan Leucir menjadi program yang baik karena sebagai salah satu upaya percepatan pembangunan infrastruktur jalan di wilayah kabupaten dan kota hingga desa.  Namun demikian, dalam pelaksanaannya perlu disertai dengan perencanaan yang matang dan sinkronisasi bersama pemerintah daerah.

 

“Program yang bagus untuk mempercepat proses pembangunan infrastruktur jalan supaya benar-benar dapat terealisasikan secara merata. Tetapi tentunya harus dihitung terlebih dahulu dan disesuaikan terhadap kemampuan anggaran,” kata Uden Dida Efendi. 

 

Pada momentum Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Barat, pihaknya berharap program Jabar Istimewa Jalan Leucir ini dapat terus ditingkatkan. Sehingga manfaat pembangunan infrastruktur dapat dirasakan masyarakat di berbagai wilayah Jawa Barat.

 

“Harapan saya, apa yang menjadi ide atau gagasan Pak Gubernur bisa terealisasi dan sesuai dengan harapan masyarakat seluruh Jawa Barat,” harap Uden Dida Efendi.

 

Dinas Bina Marga Jabar Biarkan retakan beton badan jalan

Bertolak belakang dengan harapan Komisi IV DPRD Jawa Barat, retakan beton badan jalan Proyek Pekerjaan Rekonstruksi Jalan Ruas Jalan Parung Panjang - Bunar (BTT) malah dibiarkan oleh UPTD Pengelolaan Jalan dan Jembatan Wilayah Pelayanan I, Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Jawa Barat. Kerusakan badan jalan seharusnya segera diperbaiki karena masih menjadi kewajiban penyedia jasa selama masa pemeliharaan.

Berdasarkan pantauan Tim Investigasi Redaksi Koran Medikom (Medikomonline.com) pada bulan Agustus 2026 di lokasi Pekerjaan Rekonstruksi Jalan Ruas Jalan Parung Panjang - Bunar (BTT), ditemukan banyak retakan perkerasan beton di lapangan. Sayangnya kerusakan beton ini tidak dilakukan perbaikan  oleh penyedia jasa dalam  masa pemeliharaan.

Pekerjaan Rekonstruksi Jalan Ruas Jalan Parung Panjang - Bunar (BTT) dengan nilai pagu anggaran Rp.26.199.620.000,- dilaksanakan oleh UPTD Pengelolaan Jalan dan Jembatan Wilayah Pelayanan I, Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Jawa Barat pada tahun anggaran 2025 lalu. Paket Pekerjaan Rekonstruksi Jalan Ruas Jalan Parung Panjang - Bunar (BTT) berada di bawah PPK Ade Subhan, S.T. dan Kepala UPTD Pengelolaan Jalan dan Jembatan Wilayah Pelayanan I Andi Nugroho, S.T. 

Proyek Pekerjaan Rekonstruksi Jalan Ruas Jalan Parung Panjang - Bunar (BTT) dikerjakan oleh Penyedia Jasa PT. Tiga Perkasa dengan nilai kontrak Rp. 24.686.697.771,00.

Permasalahan kerusakan/retakan beton badan jalan proyek Pekerjaan Rekonstruksi Jalan Ruas Jalan Parung Panjang - Bunar (BTT) ini telah dikonfirmasi oleh Medikomonline.com secara tertulis kepada Kepala UPTD Pengelolaan Jalan dan Jembatan Wilayah Pelayanan I Andi Nugroho, S.T.  pada tanggal 07 Agustus 2026 lalu.

Kemudian pada hari Jumat, 14 Agustus 2026, Medikomonline.com mendapatkan penjelasan dari PPK Ade Subhan, S.T. Dalam keterangan tertulisnya, Ade Subhan mengatakan bahwa penyedia jasa tidak melakukan  perbaikan karena Penyedia Jasa mempunyai jadwal perbaikan pada masa pemeliharaan ini, tetapi terlebih dahulu diperlukan pemeriksaan dan evaluasi untuk menentukan tingkat serta jenis kerusakan dan metode penanganan yang sesuai.

“Selanjutnya, penanganan dilakukan sesuai dengan hasil pemeriksaan dan ketentuan dalam masa pemeliharaan,” kata Ade Subhan.

Ade Subhan menambahkan, upaya perbaikan dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan kondisi retakan dilapangan. Metode penanganan disesuaikan dengan tingkat dan karakteristik kerusakan agar hasil perbaikan memenuhi persyaratan teknis.

Terkait faktor penyebab retakan beton,  Ade Subhan menjelaskan, salah satu faktor yang diduga turut mempengaruhi adalah beban dan getaran kendaraan bermuatan berat yang melintasi perkerasan pada saat beton masih dalam proses pengerasan. Kondisi tersebut berpotensi memberikan pembebanan lebih awal terhadap beton. (IthinK)

 

 

 

Tag : No Tag

Berita Terkait