Loading

Sampah Mahasiswa, Tanggung Jawab Siapa, Cerita dari UIN Bandung


Penulis: Mutiara Meilia Sani
17 Jam lalu, Dibaca : 39 kali


Mutiara Meilia Sani

Oleh Mutiara Meilia Sani


https://uinsgd.ac.id/sampah-pbak-melonjak-40-petugas-kebersihan-dikerahkan/

Setiap Agustus, kampus kedatangan mahasiswa baru dan tumpukan sampah baru. Humas UIN Sunan Gunung Djati Bandung melaporkan bahwa PBAK 2026 meningkatkan volume sampah di sejumlah area kampus, sehingga petugas kebersihan UIN 1 dan UIN 2 digabungkan dengan jumlah lebih dari 40 orang untuk membersihkan area kampus. Menurut pengawas cleaning service yang diwawancarai, pengangkutan yang biasanya satu kali sehari naik menjadi tiga kali.

Dari peristiwa itu reaksi yang biasa muncul adalah menyalahkan mahasiswa karena kurangnya kesadaran dan ketidakpedulian terhadap sampah yang mereka sendiri. Namun diwaktu yang bersamaan, berita yang sama menunjukkan perbedaan dengan gambaran yang lebih rumit. Pengawas itu menyebut bahwa  sebagian mahasiswa sudah tertib dengan membuang sampah ke tong yang telah disiapkan, sementara sebagian lain masih acuh dan meninggalkan sampahnya begitu saja disembarang tempat. Artinya, perilaku mahasiswa memang beragam, tetapi masalahnya tidak hanya berhenti di situ.

Petugas kebersihan sudah menunjuk akar masalahnya

Bagian paling menarik dari berita itu justru usulan dari lapangan. Sang pengawas menilai tumbler bisa membantu mengurangi sampah, tetapi hanya jika disertai penyediaan tempat pengisian ulang air di titik yang mudah dijangkau agar tumbler dapat dipakai berkelanjutan. Ia juga menyinggung bahwa tumbler berbahan kaca pada PBAK sebelumnya menimbulkan kekhawatiran karena berpotensi pecah, dan berharap panitia memilih bahan stainless.

Contoh itu menunjukkan bagaimana desain kegiatan menentukan sampah yang muncul. Pilihan barang yang dibagikan, ada atau tidaknya titik isi ulang, dan letak tempat makan semuanya diputuskan sebelum mahasiswa baru tiba. Ia juga mengeluhkan  mahasiswa yang makan di dalam kelas dengan menggeser meja dan kursi. Kebiasaan itu bisa dibaca sebagai soal disiplin, tetapi bisa juga sebagai tanda bahwa tempat makan yang disediakan belum cukup atau belum nyaman.

Pola serupa terlihat di kampus lain. Di UIN Imam Bonjol Padang, petugas disebar ke sejumlah titik Gedung J untuk menangani sampah selama PBAK 2026, dengan aula dipenuhi kotak snack. Ribuan orang berkumpul, konsumsi dibagikan dalam kemasan sekali pakai, dan sampah menumpuk.

Pesan lingkungan ada, konsistensinya yang belum

PBAK 2026 mengusung tema yang menyinggung kepedulian lingkungan. Redaksi Jurnalposmedia mencatat bahwa UIN Bandung pada 2025 sudah mengangkat tema ekoteologi dan menyebut penggunaan tumbler serta pengolahan limbah sebagai bagian dari praktik kepedulian lingkungan. Opini itu menyimpulkan bahwa yang perlu diperkuat adalah konsistensi antara pesan, perilaku, dan pengelolaan kegiatan. Aku sepakat, dan menurutku konsistensi itu perlu diuji bukan hanya saat PBAK, tetapi juga setiap hari di kantin dan di sudut-sudut kampus.

Tiga faktor yang diam-diam membentuk kebiasaan

Pertama, kebijakan kantin. Kantin menentukan apa yang tersedia, dalam kemasan apa, dan dengan harga berapa. Kalau gelas plastik adalah satu-satunya opsi, mahasiswa tidak sedang memilih. Alternatif yang dapat dilakukan bisa dengan memberikan diskon bagi pembeli yang membawa wadah tumbler sendiri atau wadah pinjam-kembali bisa mengubah ribuan transaksi kecil sepanjang semester. Menurut ku, dengan diberlakukannya sistem self-service dapat menjadi cara menjaga kebesihan area kantin, dimana mahasiswa diwajibkan untuk membuang sampah bekas makanan nya sendiri setelah makan dan membawa piring kotor nya kembali pada penjual agar kebersihan di area kantin tetap terjaga. Jadi orang yang makan setelahnya tidak perlu repot membersihkan lagi.

Kedua, titik isi ulang air. Usulan petugas kebersihan tadi sejalan dengan temuan lain. Penelitian di Politeknik Manufaktur Negeri Bandung menemukan bahwa persepsi mahasiswa terhadap booth refill air cenderung positif. Sebuah ulasan RRI menyatakan bahwa perubahan perilaku tidak hanya bergantung pada kesadaran individu, tetapi juga pada dukungan infrastruktur. Mahasiswa yang membawa tumbler tetapi harus berjalan jauh ke dispenser yang kosong akhirnya akan membeli air kemasan.

Ketiga, sistem pemilahan. Tempat sampah terpilah yang tidak diikuti pengangkutan terpilah hanya jadi hiasan. Studi di Universitas Negeri Gorontalo menemukan bahwa satu fakultas bisa punya praktik pemilahan tertinggi (70,5%) sekaligus penggunaan botol plastik sekali pakai tertinggi (85,2%). Rajin memilah belum tentu mengurangi sampah dari sumbernya.

Mengapa ini penting

Skalanya besar. Data SIPSN 2024 mencatat ada sekitar 33,34 juta ton timbulan sampah, dengan sisa makanan sebagai jenis terbesar (39,41%) dan plastik di posisi kedua (19,55%). Jajanan berbungkus plastik dan minuman bergelas sekali pakai masuk ke dua kategori itu. Soal penanganan, Jurnalposmedia mengutip catatan KLH/BPLH, bahwa hingga akhir 2025 hanya sekitar 25 persen sampah nasional yang terkelola. Kampus memang bukan penyebab utama, tetapi bisa menjadi tempat belajar tentang sistem yang berjalan.

Edukasi perlu, tetapi tidak cukup

Studi di Poltekkes Bandung menemukan bahwa sosialisasi meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku mahasiswa dalam penggunaan tumbler. Tetapi edukasi tanpa fasilitas seperti meminta orang berenang tanpa menyediakan kolam.

Siapa yang bertanggung jawab?

Jawabannya bukan satu pihak. Mahasiswa bertanggung jawab atas pilihan pribadinya: membawa tumbler, tidak meninggalkan sampah, makan di tempat yang disediakan. Panitia juga bertanggung jawab atas barang dan konsumsi yang dibagikan. Pengelola kantin dan pimpinan kampus bertanggung jawab atas sistem yang membentuk pilihan sehari-hari.

Ukurannya sederhana. Pada PBAK berikutnya, apakah ada titik isi ulang, tumbler yang aman dan tahan lama, konsumsi dengan kemasan lebih sedikit, dan pemilahan sejak di lokasi? Kalau jawabannya masih sama, kita akan membaca berita yang sama setahun lagi, mungkin dengan jumlah petugas yang berbeda. 

Daftar Sumber

  1. Humas UIN Sunan Gunung Djati Bandung. "Sampah PBAK Melonjak, 40 Petugas Kebersihan Dikerahkan." 26 Agustus 2026. https://uinsgd.ac.id/sampah-pbak-melonjak-40-petugas-kebersihan-dikerahkan/
  2. Jurnalposmedia. "PBAK dan Sampah yang Tak Ikut Pulang." Opini, 29 Agustus 2026. Reporter: Ine Sintiabela. https://jurnalposmedia.com/pbak-dan-sampah-yang-tak-ikut-pulang/
  3. LPM Suara Kampus. "25 Personel Petugas Kebersihan Dikerahkan Tangani Sampah PBAK di Gedung J." 2026. https://suarakampus.com/25-personel-petugas-kebersihan-dikerahkan-tangani-sampah-pbak-di-gedung-j/
  4. ANTARA Jabar. "Masyarakat diingatkan agar habiskan makanan guna kurangi food waste" (data SIPSN 2024). https://jabar.antaranews.com/berita/591701/masyarakat-diingatkan-agar-habiskan-makanan-guna-kurangi-food-waste
  5. "Evaluasi Efektivitas Booth Refill Air 'Kick Your Plast'" (Politeknik Manufaktur Negeri Bandung). https://penerbitadm.pubmedia.id/index.php/iso/article/view/3246
  6. RRI. "Gerakan Bawa Tumbler, Masih Sekadar Tren atau Sudah Jadi Kebiasaan?" https://rri.co.id/bogor/berita-lain/2473329/gerakan-bawa-tumbler-masih-sekadar-tren-atau-sudah-jadi-kebiasaan
  7. "Analisis Perilaku Ramah Lingkungan Mahasiswa dalam Mengurangi Sampah Plastik di Lingkungan Universitas Negeri Gorontalo." https://www.ejournal.tsb.ac.id/index.php/jpi/article/view/4540
  8. "Sosialisasi Pengurangan Sampah Plastik Air Minum Meningkatkan Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Mahasiswa dalam Penggunaan Tumbler," Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. https://sangkuriang.poltekkesbandung.ac.id/koleksi/4369

Tag : No Tag

Berita Terkait