Loading

Pemkot Cimahi Siapkan Solusi Dampak Muka Air Tanah Menurun


Reporter: Ganda TB
20 Jam lalu, Dibaca : 49 kali


M. Roni

CIMAHI, Medikomonline   –  Pemerintah Kota Cimahi terus menunjukkan kepeduliannya terhadap masyarakat yang terdampak kekeringan akibat musim kemarau berkepanjangan. 

Salah satu langkah nyata dilakukan melalui monitoring distribusi bantuan air bersih bagi warga di RT 02/RW 03, Kelurahan Karangmekar, Kecamatan Cimahi Tengah, Kamis (5/11/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, diwakili oleh Asisten Administrasi Umum (Asisten III) Pemkot Cimahi, M. Roni. 

Turut hadir Kepala Pelaksana BPBD Kota Cimahi, Fithriandy Kurniawan, Camat Cimahi Tengah, Lurah Karangmekar, serta unsur relawan yang terlibat dalam penanganan kebutuhan air bersih masyarakat.

Kehadiran jajaran pemerintah daerah tersebut menjadi bentuk perhatian terhadap kondisi warga yang mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih, terutama akibat menurunnya ketersediaan air dari sumur warga maupun pasokan PDAM.

Saat diwawancarai awak media, M. Roni menyampaikan bahwa dampak kemarau panjang terhadap kebutuhan air bersih masyarakat cukup luar biasa. 

Menurutnya, persoalan ketersediaan air merupakan kebutuhan mendasar yang harus menjadi perhatian serius pemerintah.

"Musim kemarau panjang ini dampaknya luar biasa. Kebutuhan air bersih masyarakat menjadi sesuatu yang harus benar-benar kita perhatikan. Di wilayah ini masih banyak warga yang membutuhkan pasokan air karena sumber air dari sumur bor maupun PDAM mulai berkurang," ungkap M. Roni.

Ia menjelaskan, meskipun hujan sudah beberapa kali turun, kondisi tersebut belum sepenuhnya memulihkan ketersediaan air bersih. 

Pemerintah Kota Cimahi pun membuka peluang untuk melanjutkan distribusi bantuan apabila kebutuhan masyarakat masih belum terpenuhi.

Menurutnya, pemerintah telah menyiapkan sejumlah alternatif sumber air untuk mengantisipasi persoalan kekeringan. Salah satunya melalui pembangunan lima titik sumur artesis yang merupakan hasil kerja sama dengan TNI di sejumlah kelurahan.

Keberadaan sumur artesis tersebut diharapkan dapat menjadi sumber alternatif sekaligus membantu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat ketika pasokan air mengalami penurunan.

Lebih jauh, M. Roni juga menyoroti persoalan penurunan muka air tanah yang terjadi setiap tahun. Ia menyebutkan bahwa penurunan tersebut diperkirakan mencapai hampir 15 sentimeter per tahun.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk tidak hanya bergantung pada bantuan distribusi air bersih, tetapi juga mulai melakukan langkah konservasi air sejak dari lingkungan tempat tinggal masing-masing.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah membuat sumur resapan dan lubang biopori guna membantu air hujan masuk kembali ke dalam tanah sehingga cadangan air tanah tetap terjaga.

"Harapan kami ke depan, masyarakat ikut menjaga ketersediaan air tanah. Salah satunya dengan membuat sumur resapan maupun biopori. Dengan begitu, air hujan bisa lebih banyak terserap ke dalam tanah dan penurunan muka air tanah tidak semakin drastis setiap tahunnya," jelasnya.

Ia berharap, melalui kolaborasi antara pemerintah, TNI, BPBD, relawan, dan masyarakat, persoalan kekurangan air bersih dapat ditangani secara berkelanjutan.

Monitoring distribusi air bersih ini sekaligus menjadi pengingat bahwa penanganan kekeringan tidak cukup hanya melalui bantuan sesaat. 

Diperlukan langkah jangka panjang, kesadaran bersama, serta pengelolaan sumber daya air yang baik agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi, baik saat musim kemarau maupun ketika curah hujan kembali normal.

 

Tag : No Tag

Berita Terkait