Penulis: Fitriyani
17 Jam lalu, Dibaca : 36 kali
Oleh Fitriyani
Minggu sore,
diiringi turunnya hujan dan suara gemericik air, terbersit keinginan untuk
menuliskan sebuah kisah. Kisah tentang temen2 TPP yang saat ini menjadi bagian
dari perjalanan saya di sekolah ini.
Mungkin tidak
pernah terbersit dalam benak kami bahwa perjalanan ini akan menjadi begitu
menarik dan penuh pembelajaran. Kami pernah mengikuti diklat bersama, hanya
berbeda satu atau dua hari dalam jadwal pertemuan di hotel yang sama. Saat itu,
kami belum tahu bahwa kelak akan dipertemukan dalam satu tim dan menjalani
begitu banyak pengalaman bersama.
Saya masih ingat,
dalam hati saya mengafirmasi bahwa inilah tim terbaik yang saya minta kepada
Allah. Kini, setelah melewati berbagai pengalaman, saya semakin meyakini bahwa
ada doa-doa yang Allah kabulkan melalui cara yang tidak pernah kita bayangkan
sebelumnya.
Hari pertama kami
menunaikan tugas bukanlah hari pertama yang biasa. Pembukaan MPLS yang biasanya
dilakukan oleh kepala sekolah, kali ini dihadiri langsung oleh Bapak Menteri
Pendidikan Dasar dan Menengah, Bapak Menko PMK, Kepala Staf Kepresidenan, serta
begitu banyak jajaran pejabat dan awak media.
Sehari sebelumnya,
kami masih disibukkan dengan berbagai persiapan, bahkan belum sepenuhnya bisa
menarik napas lega setelah rangkaian bimbingan teknis yang padat. Namun, begitu
tiba di sekolah, kesibukan justru semakin bertambah.
Lelah tentu ada.
Tantangan pun tidak sedikit. Namun, kami tetap berusaha memberikan yang
terbaik.
Saya meyakini ada
hikmah dan pembelajaran besar yang Allah berikan sejak awal perjalanan kami.
Seolah-olah kami sedang dipersiapkan untuk belajar beradaptasi, bekerja sama,
dan saling menguatkan dalam menghadapi tantangan yang tidak pernah kami
bayangkan sebelumnya.
Setelah pembukaan
MPLS, kami langsung melaksanakan prastudi, sebuah konsep baru yang harus segera
kami pahami dan terapkan.
Di sinilah saya
melihat semangat belajar temen2 TPP. Dengan pendampingan tim Kemendikdasmen dan
para widyaiswara dari BGTK Banten, setiap sore, sekitar pukul empat hingga
enam, kami kembali berdiskusi dan belajar untuk mempersiapkan kegiatan.
Di tengah padatnya
aktivitas, temen2 TPP tetap berusaha memahami hal baru, memperbaiki kekurangan,
dan mencari cara terbaik untuk menerapkannya.
Perjalanan itu
berujung pada gelar karya. Para murid menampilkan hasil pembelajaran mereka,
sementara orang tua hadir untuk menyaksikan dan mengapresiasi karya
anak-anaknya. Tidak sedikit orang tua yang terharu, bahkan menangis, melihat
perkembangan anak-anak mereka dalam waktu sekitar tiga minggu.
Bagi saya, momen
itu sangat berarti. Di balik karya yang ditampilkan, ada waktu, tenaga, ide,
dan kesungguhan temen2 TPP yang mungkin tidak semuanya terlihat oleh orang
lain.
temen2 TPP bukan
sekadar menjalankan program. Mereka sedang membantu murid menemukan
kemampuannya, membangun kepercayaan diri, dan menyadari bahwa mereka mampu
menghasilkan sesuatu yang membanggakan.
Perjalanan
berlanjut pada pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dengan ciri khas
SNT, yaitu pembelajaran mendalam melalui STEAMS, pendekatan interdisipliner,
dan kegiatan kokurikuler.
Konsep-konsep ini
tidak cukup hanya dipahami melalui teori. Semuanya harus dicoba, dijalankan,
dievaluasi, dan diperbaiki secara terus-menerus. Karena itu, kami memilih untuk
belajar sambil melakukan.
Pendampingan,
diskusi, dan briefing setiap sore menjadi ruang refleksi bagi kami untuk
membahas apa yang sudah berjalan, apa yang perlu diperbaiki, dan apa yang dapat
dipelajari.
Saya percaya,
sekolah yang hebat bukanlah sekolah yang semua gurunya sudah mengetahui segala
hal, melainkan sekolah yang para gurunya mau terus belajar, terbuka terhadap
perubahan, dan tidak takut mencoba hal baru.
Belum lama KBM
berjalan, kami kembali mendapat kesempatan menunjukkan hasil pembelajaran
melalui kunjungan Bapak Menko PMK, Bapak Mendikdasmen, Bapak Bupati, dan
jajaran lainnya. Selama lima hari, temen2 TPP mempersiapkan kegiatan dengan
totalitas.
Melalui gallery
walk, para tamu menyaksikan hasil karya dan proses belajar murid, meskipun KBM
baru berlangsung sekitar enam minggu. Apresiasi pun diberikan.
Bagi saya, yang
paling membahagiakan bukan semata-mata apresiasi tersebut, tetapi melihat
bagaimana gagasan yang awalnya terasa baru perlahan menjadi pengalaman belajar
yang nyata.
Tentu, masih
banyak yang harus diperbaiki. Namun, pengalaman ini memberi keyakinan bahwa
ketika kita mau belajar, bekerja sama, dan berani mencoba, perubahan dapat
mulai terlihat sejak langkah-langkah awal.
Selang satu
minggu, kami kembali mempersiapkan open house dengan mengundang berbagai pihak,
mulai dari kepala sekolah SD, SMP, dan SMA, para pengawas, unsur Forkopimda,
hingga tokoh masyarakat.
Namun, qadarullah,
kondisi kesehatan saya tidak memungkinkan untuk beraktivitas seperti biasa.
Saya sakit, tidak bisa berjalan, dan harus beristirahat di tempat tidur.
Sebagai kepala
sekolah, tentu ada perasaan tidak tenang ketika kegiatan besar sudah di depan
mata, sementara saya tidak dapat mendampingi persiapan secara langsung.
Namun, di tengah
keterbatasan itu, saya justru mendapatkan pelajaran yang sangat berharga.temen2
TPP tetap bergerak. KBM berlangsung normal tanpa gangguan yang signifikan,
sementara persiapan open house terus berjalan. Berbagai ide dan kreativitas
dikembangkan. Bahkan, para guru rela menginap di sekolah demi memastikan
semuanya siap.
Ketika akhirnya
saya dapat hadir pada hari pelaksanaan, saya melihat sendiri betapa luar biasa
persiapan yang telah dilakukan.
Saat itu, saya
semakin menyadari bahwa saya tidak berjalan sendirian. Saya memiliki tim yang
tidak hanya menunggu arahan, tetapi juga mampu berinisiatif, bekerja sama, dan
menjaga tanggung jawab bersama.
Bagi saya, inilah
salah satu pelajaran kepemimpinan yang sangat berharga. Menjadi pemimpin bukan
berarti harus selalu hadir dan mengendalikan semuanya. Ada saatnya kita harus
percaya bahwa orang-orang yang bersama kita mampu mengambil peran dan memberikan
yang terbaik.
Terima kasih,
temen2 TPP. Melalui pengalaman ini, saya belajar banyak dari temen2 TPP,
terutama tentang arti kepercayaan yang sesungguhnya.
Jika saya melihat
kembali perjalanan ini, ada begitu banyak hal yang terjadi di luar perkiraan.
Pertemuan saat diklat, hari pertama MPLS yang penuh kejutan, prastudi, gelar
karya yang mengharukan, pelaksanaan KBM, kunjungan para pejabat, hingga open
house yang tetap berjalan ketika saya sedang sakit.
Semua terjadi
begitu berdekatan.
Ada lelah,
tekanan, dan tanggung jawab yang harus diselesaikan. Ada pula waktu bersama
keluarga yang mungkin berkurang dan rencana yang harus berubah. Namun, di
antara semua itu, kita menemukan kebersamaan, pengetahuan baru, keberanian, dan
kebanggaan.
Saya sering
berpikir, mungkin inilah cara Allah mendidik dan mempersiapkan kita. Bukan
selalu melalui keadaan yang nyaman, tetapi melalui amanah yang membuat kita
bertumbuh. Bukan selalu dengan memberi waktu panjang untuk bersiap, tetapi
dengan menghadirkan kesempatan yang mendorong kita belajar lebih cepat.
Saya selalu
meyakini bahwa Allah sedang menyusun tangga-tangga kecil untuk kita pijak.
Mungkin saat ini kita belum mengetahui ke mana tangga itu akan membawa kita.
Kita juga belum melihat keseluruhan gambaran yang sedang disusun-Nya.
Namun, tugas kita
bukanlah menebak seluruh rencana masa depan. Tugas kita adalah menjalani amanah
hari ini dengan sebaik-baiknya, menjaga niat, memperbaiki diri, dan terus
melangkah dengan penuh keyakinan.
Temen2 TPP yang
saya banggakan,
Saya ingin
menyampaikan terima kasih, bukan hanya sebagai kepala sekolah kepada timnya,
tetapi juga sebagai sesama manusia yang sedang belajar menjalani amanah.
Terima kasih
karena telah bersedia bertumbuh bersama. Terima kasih karena tidak menjadikan
keterbatasan pengalaman sebagai alasan untuk berhenti mencoba. Terima kasih
karena tetap belajar meskipun lelah, terus mencari solusi ketika menghadapi
kesulitan, dan memberikan yang terbaik meskipun tidak semua proses berjalan
sesuai harapan.
Saya belajar bahwa
tim yang hebat bukanlah tim yang terdiri atas orang-orang yang sempurna,
melainkan tim yang mau saling melengkapi, saling mengingatkan, dan saling
menguatkan.
Jika selama
perjalanan ini ada kata-kata saya yang kurang berkenan, keputusan yang terasa
berat, atau tuntutan yang membuat temen2 TPP lelah, saya pun masih terus
belajar menjadi lebih baik. Saya ingin sekolah ini bukan hanya menjadi tempat
murid-murid belajar, tetapi juga menjadi ruang tumbuh bagi temen2 TPP.
Tempat kita berani
mencoba, belajar dari kesalahan, menyampaikan gagasan, dan memperbaiki diri
tanpa kehilangan rasa saling menghargai.
Jangan sampai kita
hanya mengingat betapa lelahnya perjalanan ini, tetapi lupa betapa banyak hal
yang telah kita pelajari. Jangan sampai kita hanya menghitung pekerjaan yang
telah diselesaikan, tetapi lupa menghargai orang-orang yang berjuang bersama
kita.
Pada akhirnya,
mungkin bukan nama kegiatan atau siapa yang paling sibuk yang akan kita kenang.
Yang akan tinggal dalam ingatan adalah bahwa kita pernah menjadi bagian dari
perjalanan yang bermakna, membantu anak-anak bertumbuh, membahagiakan orang
tua, dan membangun harapan.
Sore ini, ketika
hujan turun dan suara gemericik air menemani saya menulis, hati saya dipenuhi
rasa syukur.
Syukur karena
Allah mempertemukan saya dengan temen2 TPP. Syukur karena di tengah perjalanan
yang penuh tantangan, saya tidak harus berjalan sendirian. Syukur karena saya
diberi kesempatan menyaksikan bagaimana orang-orang yang awalnya dipertemukan
oleh sebuah penugasan, perlahan tumbuh menjadi tim yang saling menguatkan.
Semoga Allah
selalu menjaga langkah kita, meluruskan niat kita, menguatkan hati kita, dan
memberkahi setiap ikhtiar yang kita lakukan.
Semoga sekolah ini
benar-benar menjadi ruang tumbuh bagi generasi masa depan, sekaligus ruang
tumbuh bagi kita semua.
Dan semoga, suatu
hari nanti, ketika kita menoleh ke belakang, kita dapat tersenyum dengan hati
yang lapang dan berkata:
“Alhamdulillah,
kita pernah menjadi bagian dari perjalanan ini. Kita pernah belajar, berjuang,
dan bertumbuh bersama. Ternyata, di balik semua yang terasa berat saat itu,
Allah sedang mempersiapkan sesuatu yang begitu berharga.”
Terima kasih, tim
TPP yang hebat.
Saya bangga kepada
tim ini. Saya bersyukur bisa berjalan bersama para TPP. Semoga perjalanan ini
terus berlanjut dengan lebih banyak kesempatan untuk belajar, memberi manfaat,
dan menginspirasi.
Sebab, boleh jadi
hari ini kita sedang menjalani hari-hari yang melelahkan. Namun, siapa tahu,
justru inilah masa-masa yang kelak paling kita syukuri.
Dengan penuh rasa
syukur dan hormat,
Dari seorang
kepala sekolah yang terus belajar dari timnya.
Minggu sore, di
sudut ruang kamar
Pukul 17.50
Diiringi suara
adzan Maghrib
Tag : No Tag
Berita Terkait
Rehat
Tajuk
Memahami Pemikiran Jenderal Dudung Abdurachman
PERLUNYA MENGUBAH CARA PANDANG PEDAGANG DI LOKASI WISAT...
Berita Populer
Arief Putra Musisi Anyar Indonesia
Ketua Umum GRIB H Hercules Rozario Marshal, Saya Bagian Dari Masyarakat Indramayu
Project Fly High Terinspirasi dari Pengalaman Hidup Dr Joe dan Tamak
Dari Kegiatan Aksi Sosial, Hercules Kukuhkan Ketua DPC GRIB JAYA Se-Jawa Barat
Chief Mate Syaiful Rohmaan
SAU7ANA
GMBI Kawal Kasus Dugaan Penipuan PT. Rifan Financindo Berjangka di PN Bandung
Indramayu Diguncang Gempa Magnitudo 4.4, Kedalaman 280 Kilometer
Ivan Lahardika Arranger dan Komposer Indonesia
SAU7ANA Come Back