Penulis: Susilowati,S.Pd.
17 Jam lalu, Dibaca : 111 kali
Oleh Susilowati,S.Pd.
Kepala Sekolah
SMPIT Sinergi Islamic Boarding School/Pegiat GLN Gareulis Nasional
Membaca sejatinya
bukanlah sekadar menyuarakan abjad atau merangkai kata demi meraih nilai ujian.
Dalam makna filosofis yang lebih dalam, membaca adalah proses meneladani
perintah pertama manusia untuk Iqra memahami alam, membaca keadaan, dan
merefleksikan keberadaan diri.
Dari mana semua
harus di mulai. Sekolah bukanlah ruang pertama dan utama dalam menumbuhkan
kesadaran membaca. Akan tetapi keluargalah ruang proses utama dalam
penumbuhannya.Sekolah merupakan ruang estafet dalam pembiasaan tersebut. Setiap
kali ruang kelas bersiap memulai harinya disinilah penumbuhan itu kembali
dimulai. Namun sayangnya ada sebuah
ritual kecil yang kerap terlewatkan, yakni kebiasaan membaca 15 menit sebelum pelajaran
dimulai. Di balik riuh suara bangku yang digeser dan gemersik kertas buku
pelajaran, membaca sering kali masih dipandang sebatas rutinitas formalistis
atau kewajiban akademis belaka. Padahal, dari tindakan sederhana membalik
lembaran bukulah seluruh pintu ilmu
pengetahuan dan kebingungan dunia mulai terurai.
Rilis skor PISA
tahun 2025 memberikan kita sedikit nafas lega literasi sains dan membaca
mengalami kenaikan 6 poin, meskipun literasi matematika harus terkoreksi turun
2 poin. Namun, di balik angka-angka statistik yang terus dirayakan atau
diratapi itu, muncul sebuah pertanyaan fundamental dalam benak kita sebagai
pendidik: Validkah kemampuan dan keutuhan jiwa seorang anak hanya diukur
dari angka-angka sains dan matematika?
Kita sering kali
terjebak dalam ilusi bahwa kecerdasan anak adalah sebuah garis lurus yang bisa
diukur dengan penggaris yang sama. Padahal, teori Multiple Intelligences
telah lama mengingatkan kita bahwa potensi manusia itu luas, beragam, dan tidak
tunggal. Ada anak yang menemukan dunianya lewat keindahan bahasa, ada yang
memahami realitas lewat keharmonisan nada, gerak tubuh, empati sosial, hingga
perenungan eksistensial.
Ketika evaluasi
global seperti PISA menjebak orientasi pendidikan kita hanya pada standardisasi
numerasi dan literasi teknis, kita berisiko menyederhanakan manusia. Anak-anak
kita bukanlah deretan angka dalam lembar kalkulasi statistik, melainkan jiwa-jiwa
yang sedang belajar memahami dunia.
Tak berpusar hanya
disitu saja, bagaimana membaca dapat menjadi sebuah kegitan yang paling krusial
akan tetapi selalu dipandang tidak penting . Dan sebenarnya kegelisahan terbesar
di sekolah hari ini bukanlah tidak adanya buku, melainkan sulitnya membangun
ekosistem membaca yang hidup. Kurangnya kesadaran untuk konsisten meluangkan 15
menit sebelum belajar mencerminkan bagaimana kita belum sepenuhnya memandang
membaca sebagai kebutuhan spiritual dan intelektual.
Membaca sejatinya
bukanlah sekadar menyuarakan abjad atau merangkai kata demi meraih nilai ujian.
Dalam makna filosofis yang lebih dalam, membaca adalah proses meneladani
perintah pertama manusia untuk Iqra memahami alam, membaca keadaan, dan
merefleksikan keberadaan diri.
Seluruh ilmu
pengetahuan hadir dari tradisi membaca. Dari memahami lewat kata, seorang anak
belajar empati dari menelusuri kisah, seorang anak belajar ketangguhan; dan
dari mencerna pemikiran, seorang anak belajar bersikap bijak terhadap
kehidupan.
Harapan kita
sebagai pendidik bukanlah mencetak generasi yang sekadar pandai menjawab soal
tes PISA, melainkan menyebarkan membaca sebagai sebuah "virus
positif" yang terus tumbuh dan menular. Virus yang tidak mematikan, tetapi
menyalakan daya kritis, kedalaman empati, dan kejernihan berpikir.
Membaca harus
menjadi sarana yang memberikan kepahaman mendalam tentang bagaimana manusia
mensikapi kehidupan mulai dari menyelesaikan konflik pribadi, memahami
perbedaan, hingga mencari jalan keluar atas berbagai persoalan sosial. Ketika
seorang anak terlatih membaca dengan kedalaman jiwa, ia tidak hanya sedang
menumpuk informasi, tetapi sedang membangun fondasi karakter dan solusi bagi
kehidupannya kelak.
Membangun ekosistem
membaca di sekolah memang bukan pekerjaan instan. Ia menuntut keteladanan dan
konsistensi dari para guru. Saat guru hadir bukan hanya sebagai pengajar yang
menuntut, melainkan sebagai sesama pembaca yang menikmati proses belajar, di
situlah kebiasaan 15 menit akan bertransformasi menjadi kebudayaan yang
dinikmati.
Mari kita
kembalikan membaca ke singgasana utamanya bukan sekadar instrumen pendongkrak
skor akademis, melainkan cahaya yang menuntun anak-anak kita menjadi manusia
seutuhnya. (sz)
Susilowati, S.Pd. adalah praktisi
pendidikan dedikatif yang saat ini mengemban amanah sebagai Kepala SMPIT
Sinergi Islamic Boarding School. Mengusung filosofi "Guru Bangsa", ia
aktif menggerakkan roda literasi nasional sebagai Pengurus Literasi di GLN
Gareulis. Kiprahnya berfokus pada transformasi manajemen sekolah berbasis data,
penguatan Kurikulum Nasional, serta penanaman karakter inklusif di ruang kelas.
Penulis dapat dihubungi melalui pos elektronik resmi di [email protected]
Tag : No Tag
Berita Terkait
Rehat
Tajuk
Memahami Pemikiran Jenderal Dudung Abdurachman
PERLUNYA MENGUBAH CARA PANDANG PEDAGANG DI LOKASI WISAT...
Berita Populer
Arief Putra Musisi Anyar Indonesia
Ketua Umum GRIB H Hercules Rozario Marshal, Saya Bagian Dari Masyarakat Indramayu
Project Fly High Terinspirasi dari Pengalaman Hidup Dr Joe dan Tamak
Dari Kegiatan Aksi Sosial, Hercules Kukuhkan Ketua DPC GRIB JAYA Se-Jawa Barat
Chief Mate Syaiful Rohmaan
SAU7ANA
GMBI Kawal Kasus Dugaan Penipuan PT. Rifan Financindo Berjangka di PN Bandung
Indramayu Diguncang Gempa Magnitudo 4.4, Kedalaman 280 Kilometer
Ivan Lahardika Arranger dan Komposer Indonesia
SAU7ANA Come Back