Penulis: Otong Setiawan Djuharie
6 Jam lalu, Dibaca : 108 kali
Oleh Otong Setiawan Djuharie
Ada guru yang namanya masih disebut dengan penuh hormat
puluhan tahun setelah seorang murid meninggalkan bangku sekolah. Bukan
semata-mata karena guru itu mengajarkan rumus yang rumit atau membuat muridnya
memperoleh nilai tinggi, melainkan karena ia pernah mendengarkan, memahami, dan
membuat seorang anak percaya bahwa dirinya mampu menjadi lebih baik.
Sebaliknya, ada pula pengalaman di ruang kelas yang
membekas sebagai luka: dipermalukan karena salah menjawab, diledek karena
ketidakdisiplinan, dibanding-bandingkan dengan teman, dianggap tidak memiliki
kemampuan hanya karena lambat memahami pelajaran, atau dihina karena kecurangan
tertentu. Pengalaman semacam ini mengingatkan kita bahwa pengaruh seorang guru
tidak berhenti pada apa yang diajarkannya. Cara ia memperlakukan murid sering
kali sama menentukan dengan materi yang disampaikannya.
Lantas, apa sesungguhnya yang diharapkan siswa dan orang
tua dari seorang guru?
Jawabannya tentu tidak tunggal. Siswa menginginkan
pengalaman belajar yang membuat mereka merasa aman, dihargai, dan tertantang
untuk berkembang. Orang tua berharap anaknya memperoleh pengetahuan, memiliki
prestasi yang baik, serta tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Namun,
di balik harapan yang beragam itu, ada satu kebutuhan yang mempertemukan
keduanya: mereka ingin guru yang sungguh-sungguh peduli terhadap perkembangan
anak.
Anak ingin didengar, bukan sekadar dinilai.
Bagi siswa, guru yang baik bukanlah sosok yang selalu
benar atau tidak pernah keliru. Mereka membutuhkan orang dewasa yang bersedia
mendengarkan pertanyaan, keraguan, bahkan kegagalan mereka tanpa tergesa-gesa
menghakimi. Seorang anak yang berani mengatakan bahwa dirinya belum paham
sesungguhnya sedang menunjukkan kepercayaan. Kepercayaan itu jangan dihancurkan
dengan ejekan atau komentar yang merendahkan.
Kesalahan merupakan bagian wajar dari proses belajar.
Karena itu, guru perlu membedakan antara mengoreksi pekerjaan yang keliru dan
mempermalukan orang yang mengerjakannya. Kekeliruan harus diperbaiki, tetapi
martabat siswa tetap harus dijaga. Ketika anak tidak takut berbuat salah, ia
memiliki ruang untuk mencoba, bertanya, dan menemukan cara berpikir yang lebih
baik.
Siswa juga mengharapkan pembelajaran yang masuk akal bagi
kehidupan mereka. Mereka tidak cukup hanya diminta menghafal definisi,
mengerjakan soal, dan mengejar nilai. Mereka ingin memahami mengapa suatu
pengetahuan penting, bagaimana konsep digunakan dalam kehidupan sehari-hari,
dan apa manfaatnya bagi masa depan. Di sinilah kemampuan pedagogis
guru—kemampuan merancang dan melaksanakan pembelajaran yang sesuai dengan
kebutuhan peserta didik—menjadi sangat penting.
Menguasai materi pelajaran memang prasyarat. Akan tetapi,
menguasai materi tidak otomatis berarti mampu membuat orang lain memahaminya.
Guru perlu menerjemahkan hal yang rumit menjadi sesuatu yang dapat dijangkau
siswa tanpa menghilangkan kedalaman ilmunya.
Orang tua menginginkan lebih dari sekadar angka rapor.
Nilai tetap penting. Orang tua berhak berharap anaknya
memperoleh hasil belajar yang baik. Namun, nilai yang tinggi tidak selalu
mencerminkan pemahaman yang mendalam, sebagaimana nilai rendah tidak
serta-merta menunjukkan bahwa seorang anak tidak memiliki potensi.
Orang tua membutuhkan guru yang mampu melihat kemajuan,
bukan hanya membandingkan pencapaian. Ada siswa yang cepat memahami konsep, ada
yang memerlukan penjelasan berulang, dan ada pula yang baru menunjukkan
kemampuannya ketika memperoleh pendekatan belajar yang berbeda. Memperlakukan
semua anak secara identik belum tentu menghasilkan keadilan. Yang diperlukan
ialah kesempatan yang adil bagi setiap anak untuk berkembang sesuai kebutuhan
dan kemampuannya.
Dalam praktiknya, keadilan itu tampak melalui hal-hal
sederhana: memberi kesempatan kepada siswa yang pendiam untuk berbicara,
menghargai usaha anak yang sedang mengalami kesulitan, serta tidak menjadikan
latar belakang keluarga atau kedekatan pribadi sebagai ukuran perlakuan. Guru
yang adil tidak harus memberikan hasil yang sama kepada semua siswa, tetapi
memastikan bahwa setiap siswa memperoleh dukungan dan kesempatan belajar yang
layak.
Disiplin pun perlu ditempatkan secara proporsional. Orang
tua tentu tidak ingin anaknya tumbuh tanpa aturan. Namun, ketegasan tidak
identik dengan bentakan, ancaman, atau hukuman yang mempermalukan. Aturan yang
jelas, konsekuensi yang konsisten, dan penjelasan yang masuk akal justru
membantu anak memahami tanggung jawabnya. Tujuan disiplin bukan membuat siswa
takut kepada guru, melainkan membangun kemampuan mengendalikan diri sekalipun
tidak sedang diawasi.
Kepercayaan orang tua dibangun melalui komunikasi dan
keteladanan.
Hubungan guru dan orang tua semestinya tidak baru
terjalin ketika anak memperoleh nilai buruk atau melakukan pelanggaran.
Komunikasi yang baik berlangsung sebelum masalah membesar. Guru perlu
menyampaikan perkembangan anak secara jujur, menjelaskan kesulitan yang
dihadapi, sekaligus mengajak orang tua mencari jalan keluar.
Dalam hubungan semacam ini, orang tua bukan sekadar pihak
yang menerima laporan, sedangkan guru bukan pihak yang selalu harus membela
diri. Keduanya memiliki tanggung jawab berbeda, tetapi kepentingannya bertemu
pada pertumbuhan anak. Kritik orang tua perlu didengar secara terbuka,
sementara guru juga perlu menyampaikan penilaian profesionalnya dengan alasan
yang dapat dipertanggungjawabkan.
Lebih jauh, orang tua berharap guru turut membentuk
karakter anak. Harapan ini tidak mungkin dipenuhi hanya melalui nasihat tentang
kejujuran, kesopanan, tanggung jawab, atau kedisiplinan. Siswa mengamati apakah
guru menepati janji, mengakui kesalahan, menghormati perbedaan, dan
memperlakukan setiap orang dengan pantas. Keteladanan memberikan bobot pada
nilai-nilai yang diajarkan.
Tentu saja, menuntut guru menjadi teladan bukan berarti
mengharuskan mereka menjadi manusia sempurna. Guru juga dapat keliru, lelah,
dan menghadapi keterbatasan. Justru kesediaan mengakui kekeliruan dan
memperbaikinya merupakan pelajaran berharga bagi siswa.
Pada akhirnya, guru tidak dapat menjamin bahwa setiap
murid akan meraih prestasi tertinggi atau menempuh jalan hidup yang mulus. Akan
tetapi, guru dapat menciptakan kondisi yang memungkinkan setiap anak belajar
dengan bermartabat, mengenali potensinya, dan berani menghadapi tantangan.
Sekolah boleh memiliki kurikulum, target capaian, dan
standar evaluasi. Semua itu diperlukan. Namun, ukuran keberhasilan pendidikan
tidak semestinya berhenti pada selesainya materi atau tercapainya angka
ketuntasan. Ada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah anak menjadi lebih
memahami dunia, lebih bertanggung jawab, dan lebih percaya pada kemampuannya
sendiri?
Sebab, bertahun-tahun setelah meninggalkan sekolah,
seorang anak mungkin lupa pada sebagian rumus dan definisi yang pernah
dihafalnya. Namun, ia bisa tetap mengingat guru yang memberinya kesempatan
kedua, yang mengoreksi tanpa merendahkan, atau yang percaya kepadanya ketika ia
sendiri mulai meragukan kemampuannya.
Di situlah pendidikan meninggalkan
jejak yang sesungguhnya. Guru yang baik bukan hanya membantu anak mengetahui
lebih banyak, melainkan menolongnya tumbuh menjadi manusia yang lebih utuh.
Otong Setiawan Djuharie, M.Pd. Ph.D. adalah pendidik,
konsultan pendidikan, dan dosen pada Fakultas Adab dan Humaiora Universitas
Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung.
Tag : No Tag
Berita Terkait
Rehat
Tajuk
Memahami Pemikiran Jenderal Dudung Abdurachman
PERLUNYA MENGUBAH CARA PANDANG PEDAGANG DI LOKASI WISAT...
Berita Populer
Arief Putra Musisi Anyar Indonesia
Ketua Umum GRIB H Hercules Rozario Marshal, Saya Bagian Dari Masyarakat Indramayu
Project Fly High Terinspirasi dari Pengalaman Hidup Dr Joe dan Tamak
Dari Kegiatan Aksi Sosial, Hercules Kukuhkan Ketua DPC GRIB JAYA Se-Jawa Barat
Chief Mate Syaiful Rohmaan
SAU7ANA
GMBI Kawal Kasus Dugaan Penipuan PT. Rifan Financindo Berjangka di PN Bandung
Indramayu Diguncang Gempa Magnitudo 4.4, Kedalaman 280 Kilometer
Ivan Lahardika Arranger dan Komposer Indonesia
SAU7ANA Come Back