Loading

MENANAMKAN RASA SYUKUR PADA MURID


Penulis: Tatang Sunendar
8 Jam lalu, Dibaca : 79 kali


Ilustrasi

Oleh Tatang Sunendar

 

Dalam sebuah kegiatan parenting di sebuah sekolah dasar, tempat cucu saya bersekolah, seorang narasumber menyampaikan pesan yang sederhana, tetapi sangat menarik untuk direnungkan: “Tanamkan rasa syukur pada anak sejak dini.” Pernyataan tersebut mengingatkan kita bahwa pendidikan anak bukan semata-mata tentang mengembangkan kecerdasan intelektual, tetapi juga membangun hati dan karakter agar mereka mampu menghargai kehidupan.

Pertanyaannya, mengapa rasa syukur perlu ditanamkan kepada murid sejak dini? Bukankah anak-anak sudah terbiasa mengucapkan alhamdulillah ketika mendapatkan sesuatu? Ternyata, bersyukur bukan sekadar mengucapkan kata-kata, melainkan kesadaran untuk mengenali nikmat, menghargai kebaikan, dan menggunakan apa yang dimiliki untuk hal-hal yang bermanfaat.

Adalah kehidupan yang semakin kompetitif, anak-anak mudah terjebak dalam kebiasaan membandingkan dirinya dengan orang lain. Mereka ingin memiliki mainan seperti temannya, telepon genggam yang lebih bagus, mainan , pakaian yang lebih menarik, atau berbagai fasilitas yang belum tentu mereka butuhkan. Jika tidak dibimbing, anak dapat tumbuh dengan perasaan selalu kekurangan, sekalipun sesungguhnya banyak nikmat yang telah diterimanya.

Oleh karena itu, menanamkan rasa syukur sejak dini merupakan investasi penting dalam pembentukan karakter. Anak yang belajar bersyukur akan lebih mudah menghargai apa yang dimiliki, menghormati perjuangan orang lain, mengendalikan keinginan, dan memahami bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari banyaknya benda yang dimiliki.

Syukur dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadis

Dalam ajaran Islam, syukur merupakan bagian penting dari keimanan dan akhlak mulia. Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an, Surah Ibrahim ayat 7:“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” Ayat ini mengajarkan bahwa manusia hendaknya menyadari dan menghargai nikmat Allah. Syukur tidak hanya diwujudkan melalui ucapan, tetapi juga melalui hati yang mengakui nikmat, lisan yang memuji Allah, serta perbuatan yang menggunakan nikmat tersebut untuk kebaikan.

Rasulullah saw. juga mengajarkan agar kita melihat orang yang berada di bawah kita dalam urusan dunia dan tidak hanya melihat orang yang berada di atas kita. Pesan ini diriwayatkan dalam hadis sahih oleh Imam Muslim. Hikmahnya, manusia tidak mudah meremehkan nikmat yang telah diterimanya hanya karena terus membandingkan kehidupannya dengan orang lain.

Pesan tersebut sangat relevan bagi pendidikan anak. Murid perlu dibimbing untuk memahami bahwa setiap anak memiliki keadaan dan kelebihan yang berbeda. Mereka tidak harus menjadi seperti orang lain untuk merasa berharga. Mereka perlu belajar mengenali potensi diri, menghargai kebaikan yang diterima, serta berusaha memperbaiki diri tanpa iri terhadap keberhasilan teman.

Mengapa Rasa Syukur Perlu Ditanamkan Sejak Dini?

Masa anak-anak merupakan kesempatan penting untuk membangun kebiasaan dan karakter. Apa yang dilakukan secara berulang, dicontohkan oleh orang dewasa, dan diperkuat dalam kehidupan sehari-hari berpeluang menjadi bagian dari kepribadian anak.

Menanamkan rasa syukur membantu murid mengembangkan sikap rendah hati, peduli, sabar, dan menghargai orang lain. Mereka belajar bahwa kesempatan bersekolah merupakan nikmat yang perlu dimanfaatkan, makanan yang tersedia tidak boleh disia-siakan, fasilitas sekolah harus dijaga, dan bantuan orang lain patut dihargai.

Anak juga belajar bahwa tidak semua keinginannya harus dipenuhi. Ketika belum memiliki sesuatu yang dimiliki temannya, ia dapat belajar menerima keadaan sambil tetap berusaha meraih cita-cita. Dengan demikian, syukur bukan berarti berhenti berusaha, melainkan menjalani kehidupan dengan menghargai apa yang ada sambil terus memperbaiki diri.

Rasa syukur pun dapat menjadi landasan bagi tumbuhnya kepedulian sosial. Murid yang menyadari bahwa dirinya menerima banyak kebaikan diharapkan terdorong untuk berbagi, membantu teman yang kesulitan, menghormati guru, dan menyayangi keluarga. Inilah karakter yang tidak cukup diajarkan melalui nasihat, tetapi harus ditumbuhkan melalui pengalaman nyata. Bagaimana Caranya ?

Teknik Hening Sepuluh Menit: Sederhana, tetapi Bermakna

Salah satu cara yang dapat diterapkan sekolah adalah membiasakan murid melakukan kegiatan hening selama kurang lebih sepuluh menit, setiap dua minggu sekali atau sesaui kondisi . Kegiatan ini dapat dilaksanakan pada awal pembelajaran atau pada waktu refleksi yang telah disepakati bersama.

Guru mengajak murid duduk dengan nyaman, menenangkan diri, dan mengarahkan perhatian pada hal-hal baik yang mereka alami. Guru tidak perlu memberikan ceramah panjang. Cukup dengan suara yang tenang dan pertanyaan sederhana, murid diajak merenungkan nikmat yang selama ini mungkin dianggap biasa.

“Anak-anak, mari kita hening sejenak. Apa yang patut kita syukuri hari ini? Kita masih diberi kesehatan. Kita mempunyai tangan yang dapat digunakan untuk menulis dan menggambar , mata untuk melihat keindahan, telinga untuk mendengar, kaki untuk berjalan, serta akal untuk berpikir dan belajar. Kita juga memperoleh kesempatan bersekolah, mendapatkan bimbingan guru, memiliki teman, dan menerima kasih sayang dari orang-orang yang peduli kepada kita.”

Guru kemudian dapat mengajak murid mengingat orang tua atau pengasuh yang mendampingi mereka, makanan yang tersedia setiap hari, air bersih yang dapat digunakan, rumah atau tempat berlindung, serta kesempatan bermain dan belajar. Murid juga dapat bersyukur atas pengalaman sederhana, seperti mendapat pertolongan teman, berhasil menyelesaikan tugas, atau memperoleh kesempatan memperbaiki kesalahan.

Setelah kegiatan hening, murid diminta menyebutkan atau menuliskan tiga hal yang disyukurinya. Selanjutnya, mereka memilih satu tindakan nyata sebagai wujud syukur, misalnya merapihkan pakaian, alat tulis , senyum terhadap teman, membantu orang tua, belajar dengan sungguh-sungguh, mengucapkan terima kasih kepada guru,pada orang yang telah membantu,  menjaga kebersihan kelas, berbagi dengan teman, atau merawat fasilitas sekolah.

Dengan cara tersebut, kegiatan hening tidak berhenti pada perenungan. Murid belajar menghubungkan kesadaran dengan tindakan. Mereka memahami bahwa bersyukur atas tangan berarti menggunakannya untuk berkarya dan menolong, bersyukur atas kesempatan belajar berarti belajar dengan sungguh-sungguh, serta bersyukur atas lingkungan sekolah berarti ikut menjaganya.

Pelaksanaannya tentu perlu disesuaikan dengan usia dan kebutuhan murid. Guru juga harus menggunakan pendekatan yang terbuka dan hangat , terutama bagi anak yang memiliki keterbatasan fisik atau menghadapi kesulitan keluarga. Tidak boleh ada pemaksaan untuk menceritakan persoalan pribadi atau membandingkan keadaan satu anak dengan anak lainnya. Setiap murid berhak merasa aman, dihargai, dan didampingi.

Syukur sebagai Penguatan Pembelajaran Mendalam dan Pendidikan Karakter

Pembiasaan rasa syukur memiliki hubungan erat dengan semangat Pembelajaran Mendalam, yaitu pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Melalui kegiatan hening, murid berlatih menyadari pengalaman dirinya. Melalui pertanyaan reflektif, mereka memaknai berbagai nikmat yang diterima. Melalui tindakan nyata, mereka menerapkan nilai syukur dalam kehidupan sehari-hari.

Proses memahami, mengaplikasi, dan merefleksi menjadi lebih hidup karena pembelajaran tidak hanya menyentuh aspek pengetahuan, tetapi juga perasaan dan perilaku. Murid tidak sekadar mengetahui pengertian syukur, melainkan belajar mempraktikkannya dalam hubungan dengan Tuhan, keluarga, guru, teman, dan lingkungan.

Kegiatan ini sekaligus memperkuat pendidikan karakter. Sekolah tidak cukup hanya menghasilkan murid yang unggul dalam nilai akademik, tetapi juga perlu menumbuhkan pribadi yang berakhlak mulia, bertanggung jawab, rendah hati, dan peduli terhadap sesama. Kecerdasan perlu berjalan seiring dengan kematangan karakter agar ilmu yang dimiliki benar-benar membawa manfaat.

Agar pembiasaan ini berhasil, sekolah perlu membangun kemitraan dengan keluarga. Orang tua dapat melanjutkan kebiasaan refleksi di rumah, misalnya dengan mengajak anak menyebutkan satu hal yang disyukuri sebelum tidur atau saat makan bersama. Guru dan orang tua juga harus menjadi teladan dengan membiasakan ucapan terima kasih, menghargai usaha anak, dan tidak berlebihan dalam mengeluh di hadapan mereka.

Kegiatan hening sepuluh menit setiap dua minggu memang tampak sederhana. Namun, jika dilaksanakan secara konsisten, disertai keteladanan dan tindak lanjut, kegiatan tersebut dapat menjadi ruang untuk menumbuhkan kesadaran diri dan kebiasaan menghargai kehidupan. Keberhasilannya tidak diukur hanya dari kemampuan murid menyebutkan nikmat, tetapi dari perubahan perilaku yang terlihat dalam keseharian.

Pada akhirnya, menanamkan rasa syukur bukan sekadar program tambahan di sekolah. Ia merupakan bagian dari upaya memanusiakan manusia melalui pendidikan yang menyentuh pikiran, hati, dan tindakan. Anak perlu dibantu memahami bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan, tetapi dalam berbagai keadaan selalu ada kesempatan untuk belajar, berbuat baik, dan memperbaiki diri.

Sebagai penutup, mari kita jadikan rasa syukur sebagai kebiasaan yang tumbuh di sekolah dan keluarga. Jangan menunggu anak memiliki segalanya untuk mengajarkannya bersyukur. Justru ketika anak mampu menghargai hal-hal sederhana, di situlah benih karakter mulia mulai tumbuh.

Orang bijak berkata “Anak yang pandai bersyukur tidak selalu memiliki segala yang diinginkan, tetapi belajar menghargai segala yang dimiliki. Sebab, pendidikan sejati bukan hanya mengajarkan anak meraih cita-cita setinggi langit, melainkan juga menumbuhkan hati yang rendah untuk berterima kasih, tangan yang ringan untuk berbagi, dan langkah yang teguh untuk menebar kebaikan.”……….. Wallahu A'lam Bishawab.

Tag : No Tag

Berita Terkait