Loading

Scroll Boleh, Asal Nggak Asal, Pentingnya Literasi Digital bagi Pelajar


Penulis: Vini Fitriyani
1 Hari lalu, Dibaca : 41 kali


Vini Fitriyani

Oleh Vini Fitriyani

Bandung, 24 Oktober 2026

 

Bagi generasi muda, internet dan media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari mencari materi pelajaran, menonton video edukasi, berkomunikasi dengan teman, hingga mengikuti perkembangan informasi, semuanya dapat dilakukan melalui ponsel. Namun, kemudahan tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan menggunakan teknologi secara bijak. Di sinilah literasi digital menjadi penting bagi pelajar.

Literasi digital bukan sekadar kemampuan mengoperasikan ponsel atau menggunakan aplikasi. Lebih dari itu, literasi digital mencakup kemampuan mencari, memahami, memeriksa, dan memanfaatkan informasi secara kritis, aman, serta bertanggung jawab.

UNESCO melalui konsep Media and Information Literacy menekankan pentingnya kemampuan masyarakat untuk menilai informasi secara kritis, mengenali misinformasi, dan menggunakan teknologi secara etis. Kemampuan ini semakin relevan ketika informasi menyebar dengan cepat melalui media sosial dan berbagai platform digital.

Jangan Langsung Percaya Semua Informasi

Salah satu tantangan yang dihadapi pelajar di ruang digital adalah banyaknya informasi yang belum tentu benar. Sebuah unggahan dapat terlihat meyakinkan, memiliki banyak tanda suka, atau dibagikan oleh banyak orang, tetapi hal tersebut tidak otomatis membuktikan kebenarannya.

Karena itu, pelajar perlu membiasakan diri memeriksa sumber informasi, membaca isi berita secara lengkap, melihat tanggal publikasi, serta membandingkan informasi dengan sumber tepercaya. Jika kebenarannya belum jelas, informasi tersebut sebaiknya tidak langsung dibagikan.

Kebiasaan sederhana ini dapat membantu mengurangi penyebaran hoaks sekaligus melatih kemampuan berpikir kritis. Dengan begitu, pelajar tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga pengguna internet yang mampu menilai informasi secara bertanggung jawab.

Bijak Bermedia Sosial, Aman Menjaga Privasi

Selain persoalan informasi, etika dan keamanan digital juga perlu diperhatikan. Komentar yang merendahkan, perundungan daring, penyebaran foto tanpa izin, dan membagikan data pribadi secara sembarangan dapat menimbulkan dampak bagi diri sendiri maupun orang lain.

Pelajar perlu memahami bahwa aktivitas di internet memiliki konsekuensi. Sebelum mengunggah sesuatu, penting untuk mempertimbangkan apakah konten tersebut benar, bermanfaat, menghormati orang lain, dan tidak membahayakan privasi siapa pun.

Penggunaan kata sandi yang kuat, menjaga kerahasiaan kode verifikasi, serta menghindari tautan mencurigakan juga merupakan bagian dari kebiasaan digital yang aman.

Teknologi Seharusnya Mendukung Proses Belajar

Di sisi lain, teknologi digital memiliki peluang besar untuk mendukung pendidikan. Pelajar dapat memanfaatkan buku elektronik, video pembelajaran, perpustakaan digital, dan berbagai sumber belajar daring untuk memperluas pengetahuan.

Kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) juga dapat dimanfaatkan untuk membantu memahami materi yang sulit. Meski demikian, hasil dari teknologi tersebut tetap perlu diperiksa kebenarannya. AI sebaiknya menjadi alat bantu belajar, bukan pengganti proses berpikir, membaca, dan mengerjakan tugas secara mandiri.

Dalam konteks ini, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menerbitkan Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 18 Tahun 2026 tentang Pembatasan Penggunaan Gawai di Satuan Pendidikan. Kebijakan tersebut mendorong penggunaan gawai secara bijaksana dan mendukung proses pembelajaran, bukan melarang pemanfaatan teknologi secara keseluruhan.

Perlu Kerja Sama Sekolah dan Keluarga

Penguatan literasi digital tidak dapat dibebankan kepada pelajar saja. Sekolah dapat mengintegrasikan keterampilan memeriksa informasi, etika bermedia, dan keamanan digital dalam kegiatan pembelajaran. Guru juga dapat memberikan contoh penggunaan teknologi untuk mencari referensi dan mengembangkan pengetahuan.

Sementara itu, keluarga dapat membantu membangun kebiasaan menggunakan gawai secara sehat, mendampingi anak ketika menghadapi persoalan di internet, dan mendorong komunikasi terbuka mengenai pengalaman mereka di ruang digital.

Dinas Pendidikan dan pihak terkait juga dapat mendukung penguatan literasi digital melalui edukasi, penyediaan sumber belajar, serta program yang sesuai dengan kebutuhan sekolah dan peserta didik.

Pada akhirnya, menjadi generasi yang melek digital bukan berarti harus selalu mengikuti tren teknologi terbaru. Hal yang lebih penting adalah mampu memanfaatkan teknologi untuk hal yang produktif, menjaga keamanan diri, menghormati orang lain, dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi.

Jadi, scroll media sosial boleh saja. Namun, jangan sampai jari lebih cepat membagikan informasi daripada pikiran memeriksa kebenarannya. Sebab, pelajar yang cerdas di era digital bukan hanya mereka yang mahir menggunakan teknologi, melainkan juga mereka yang mampu menggunakannya secara bijak dan bertanggung jawab.

 

Tag : No Tag

Berita Terkait