Loading

Dari Panglipur ke Hollywood, Cecep Arif Rahman: Silat Membuka Jalan, Film Mencairkan Komunikasi


Reporter: Syah Ma'mur
13 Jam lalu, Dibaca : 176 kali


Hak Cipta Foto Kristian Hansen

Bandung— Lebih dari empat dekade mengabdikan diri pada Pencak Silat, Master Cecep Arif Rahman telah membawa nama Garut dan tradisi Silat Panglipur dari panggung-panggung seni bela diri hingga layar lebar Indonesia dan perfilman internasional.

Perjalanan itu bermula pada 1986. Tumbuh di kawasan kaki Gunung Galunggung, Garut, Cecep mulai mempelajari Pencak Silat di Perguruan Panglipur Galih. Setelah menempuh pendidikan guru, ia kemudian memperdalam keilmuan silat di Bandung, termasuk belajar kepada maestro Pencak Silat  Almarhumah Raden Hajah. Enni Rukmini Sekarningrat. Sejak 1991, Cecep mulai mengajar silat.

Dedikasinya kemudian membawanya ke berbagai panggung Pencak Silat dunia. Pada pertengahan 1990-an, Cecep meraih medali emas kategori tunggal tangan kosong pada Kejuaraan Dunia Pencak Silat di Hatyai, Thailand. Perjalanannya berlanjut ke Prancis melalui Bercy Festival des Arts Martiaux, salah satu festival bela diri bergengsi di Paris. Dari sana, ia juga mendapat kesempatan mengisi seminar dan workshop Pencak Silat di sejumlah negara, termasuk Prancis, Italia, Inggris, Rusia, Belanda, dan Amerika Serikat.

Pertemuannya dengan dunia film kemudian berlangsung secara alami melalui lingkungan Pencak Silat. Cecep telah mengenal Iko Uwais(Perguruan Tiga Berantai) dan Yayan Ruhian(KATEDA/PSTD) melalui festival Bercy. Bahkan sebelum akhirnya menjadi aktor, ia pernah mendapat tawaran untuk terlibat dalam film Merantau, namun saat itu memilih tidak mengambilnya karena baru menjalani tugas sebagai pegawai negeri.

Nama Cecep akhirnya benar-benar mencuat lewat The Raid 2: Berandal. Dalam film arahan Gareth Evans tersebut, ia memerankan karakter The Assassin, sosok pembunuh yang menjadikan kerambit sebagai senjata khasnya. Duel brutalnya melawan Rama yang diperankan Iko Uwais menjadi salah satu adegan laga yang paling dikenang dari film tersebut. Keahlian Cecep memainkan kerambit bahkan menjadi salah satu faktor penting yang memperkuat karakter dan adegan pertarungan dalam film itu.

Setelah The Raid 2, perjalanan Cecep semakin luas. Ia tampil dalam sejumlah film Indonesia seperti 3: Alif Lam Mim, Skakmat, Iseng, Wiro Sableng, 212 Warrior, Gundala, Satria Dewa: Gatotkaca, Mendarat Darurat, Qodrat dan sejumlah produksi lainnya. Ia juga dipercaya terlibat sebagai penata atau pengarah adegan laga dalam beberapa produksi film.

Pencak Silat kemudian membawanya menyeberangi batas industri film nasional. Bersama Iko Uwais dan Yayan Ruhian, Cecep tampil dalam Star Wars: The Force Awakens sebagai bagian dari Kanjiklub Gang. Empat tahun kemudian, ia kembali tampil di panggung Hollywood melalui John Wick: Chapter 3 – Parabellum, beradu aksi dengan Keanu Reeves dalam film arahan Chad Stahelski tersebut. Kerambit kembali menjadi salah satu elemen penting dalam adegan laga Cecep.

Namun kemampuan Cecep tidak berhenti pada tangan kosong maupun kerambit. Dalam tradisi Panglipur, permainan golok serta cabang/siku-siku dan trisula memiliki makna dalam konsep serang bela—sebuah keseimbangan antara serangan dan pertahanan. Cecep sendiri pernah menjelaskan bahwa golok dan cabang/siku-siku/trisula merupakan simbol dari konsep tersebut dalam sistem Panglipur.

Di balik perjalanan panjang tersebut, ada sisi personal yang justru menarik. Dalam sebuah podcast bersama Kristian Hansen pewawancara asal luar negeri di Garut, Cecep mengungkapkan bahwa dirinya pernah mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan lingkungan sekitar.

Menariknya, dunia film justru menjadi salah satu ruang yang secara perlahan mengubah keadaan itu. Ketika dirinya mulai berinteraksi dengan lebih banyak orang melalui produksi film Indonesia hingga internasional, kemampuan berkomunikasinya dengan masyarakat sekitar ikut berkembang. Perlahan, komunikasi yang sebelumnya terasa sulit menjadi lebih cair dan terbuka.

Hal tersebut juga dirasakan langsung oleh penulis Medikom beserta keluarga ketika berkesempatan bersilaturahmi, ngopi bersama, sekaligus ngaliwet dengan keluarga Master Cecep Arif Rahman di Kopi Lembur Pasir Salam, Soreang, Kabupaten Bandung. Di tengah suasana kekeluargaan itu, nyaris tidak terlihat sosok seorang superstar film kelas dunia yang telah bermain dalam produksi Indonesia hingga Hollywood. Yang tampak justru seorang Master yang rendah hati, sopan, ramah, dan selalu menyambut orang dengan senyum.

Kesederhanaan tersebut seolah menjadi sisi lain dari perjalanan panjang Cecep Arif Rahman. Di balik kemampuan memainkan kerambit, golok dan berbagai senjata tradisional dalam seni bela diri, serta pengalaman tampil dalam film-film kelas dunia, tetap terlihat sosok seorang pendekar yang dekat dengan akar budaya dan lingkungan tempat ia berasal.

Kisah Cecep Arif Rahman akhirnya bukan hanya tentang seorang pesilat Garut yang berhasil menembus Hollywood. Lebih dari itu, perjalanan selama puluhan tahun menunjukkan bagaimana Pencak Silat dapat menjadi jalan untuk mengenalkan budaya Indonesia ke dunia—sementara dunia film justru membuka ruang baru bagi seorang pendekar untuk semakin dekat dengan manusia dan lingkungan di sekitarnya.

Tag : No Tag

Berita Terkait