Reporter: Syah Ma'mur
2 Jam lalu, Dibaca : 29 kali
Bandung Jawa Barat
Indonesia — Tahun 2002 menjadi salah satu fase penting dalam perkembangan musik
nasyid di Asia Tenggara. Pada periode tersebut, grup nasyid asal Malaysia,
Nowseeheart, merilis album keduanya yang berjudul “Berjalan, Melihat &
Menafsir.”
Album ini tidak
hanya menjadi tonggak perjalanan karier Nowseeheart, tetapi juga memperkuat
hubungan kultural musik religi antara Indonesia dan Malaysia.
Bagi sebagian
pelaku media pada masa itu, termasuk penulis yang memulai karier jurnalistik di
tahun yang sama, kehadiran album ini menjadi bagian dari dinamika industri
musik religi yang sedang berkembang.
Salah satu ciri
khas yang mulai diperkenalkan dalam album ini adalah penggunaan topi baret,
yang kemudian menjadi identitas visual kuat bagi Nowseeheart.
Di balik produksi
album tersebut, terdapat peran besar almarhum Haji Mujahid Abdul Wahab, yang
bertindak sebagai komposer sekaligus produser. Ia dikenal sebagai sosok kreatif
yang aktif di dunia nasyid maupun musik komersial.
Dalam sejumlah
kesempatan, almarhum juga diketahui memiliki kontribusi dalam mendukung
perjalanan band Indonesia Sixth Sense yang digawangi vokalis Adi Prio asal
Jember, Jawa Timur.
Keterkaitan
tersebut menjelaskan mengapa beberapa karya Nowseeheart sempat
diinterpretasikan ulang oleh Sixth Sense.
Namun, di tengah
produktivitasnya, Mujahid kemudian memilih untuk mundur dari Nowseeheart guna
fokus pada aktivitas produksi musik.
Secara musikal,
“Berjalan, Melihat & Menafsir” menghadirkan komposisi yang variatif. Album
ini memadukan unsur akustik, nasyid tradisional, hingga sentuhan elektrik,
sehingga menghasilkan warna musik yang tidak monoton.
Dari sisi lirik,
pendekatan yang digunakan relatif sederhana, namun tetap memiliki kedalaman
makna yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Sejumlah lagu yang
cukup dikenal antara lain Ku Harap Cinta, Belum Kita Lupakan, Keluarga Bahagia,
dan Selamat Tinggal Silamku.


Di sisi lain, lagu
Seorang Gadis menjadi salah satu karya yang jarang disorot, meskipun mengandung
pesan reflektif yang kuat mengenai kehidupan dan penyesalan masa lalu.
Dalam konteks
musikal nasyid, kekuatan harmoni vokal menjadi elemen utama. Album ini dinilai
berhasil menghadirkan harmonisasi yang solid, seperti yang terdengar dalam lagu
Hijrah dan Kekasih.
Selain itu,
karakter vokal solo para personel juga menjadi faktor pembeda.
Nowseeheart
memiliki dua karakter vokal yang saling melengkapi, yakni almarhum Bob NSH
dengan suara bass yang dalam, serta Azahari NSH dengan karakter vokal tinggi
yang tegas.
Kolaborasi Bob
juga sempat terdengar bersama Nazrey Johani dari grup nasyid Raihan dalam karya
Nabi Anak Yatim.
Pembagian peran
vokal yang disesuaikan dengan nuansa lirik menghasilkan dinamika emosi yang
seimbang dalam setiap lagu.
Atas pencapaian
tersebut, Nowseeheart berhasil meraih penghargaan Vokal Grup Terbaik dalam
ajang Anugerah Industri Muzik 2002.
Namun, perjalanan
grup ini kemudian mengalami perubahan signifikan setelah kehilangan dua sosok
penting, yakni Mujahid dan Bob, yang telah berpulang.
Di Indonesia,
tahun 2002 juga mencatat momen penting lain yang jarang terdokumentasi secara
luas.
Tokoh nasyid
nasional, Dr. H. Agus Idwar Jumhadi, diketahui pernah menginisiasi sebuah mega
konser nasyid lintas negara Indonesia–Malaysia di Ibukota Jakarta Indonesia.
Acara tersebut menghadirkan para munsyid dari kedua negara, termasuk
Nowseeheart yang turut mempromosikan album ini secara langsung.
Pada masanya,
konser tersebut tergolong besar dan menjadi salah satu upaya awal dalam
membangun ekosistem musik nasyid lintas negara.
Kini, lebih dari
dua dekade berlalu, muncul pertanyaan mengenai posisi musik nasyid di tengah
perubahan lanskap industri musik.
Dengan jumlah
populasi Muslim Indonesia yang sangat besar, peluang untuk menghidupkan kembali
nasyid sebenarnya tetap terbuka.
Namun di sisi
lain, perkembangan teknologi digital dan dominasi algoritma media sosial turut
memengaruhi arah popularitas sebuah karya musik.
Apakah nasyid akan
kembali menemukan momentumnya?
Ataukah kejayaan
tersebut akan tetap menjadi bagian dari sejarah yang belum sepenuhnya
terdokumentasi dalam arus utama industri musik?
Pertanyaan
tersebut masih terbuka—dan jawabannya kemungkinan besar akan ditentukan oleh
generasi berikutnya.
Tag : No Tag
Berita Terkait
Rehat
Tajuk
Memahami Pemikiran Jenderal Dudung Abdurachman
PERLUNYA MENGUBAH CARA PANDANG PEDAGANG DI LOKASI WISAT...
Berita Populer
Arief Putra Musisi Anyar Indonesia
Ketua Umum GRIB H Hercules Rozario Marshal, Saya Bagian Dari Masyarakat Indramayu
Project Fly High Terinspirasi dari Pengalaman Hidup Dr Joe dan Tamak
Dari Kegiatan Aksi Sosial, Hercules Kukuhkan Ketua DPC GRIB JAYA Se-Jawa Barat
Chief Mate Syaiful Rohmaan
SAU7ANA
GMBI Kawal Kasus Dugaan Penipuan PT. Rifan Financindo Berjangka di PN Bandung
Indramayu Diguncang Gempa Magnitudo 4.4, Kedalaman 280 Kilometer
Ivan Lahardika Arranger dan Komposer Indonesia
SAU7ANA Come Back