Penulis: Drs. Sabar Sumarta
2 Bulan lalu, Dibaca : 312 kali
Penulis: Drs. Sabar Sumarta
(Relawan PMI
Kabupaten Klaten dan Sekretaris Yayasan Pendidikan Al Firdaus Kita, Klaten
Selatan)
Saya rutin donor
darah tiap tiga bulan sekali walaupun
bisa dua bulan sekali sejak tahun 90 an. Tak terasa sekarang sudah berusia 60
tahun limit normal harus dengan pemeriksaan dokter. Semoga tetap sehat
bermanfaat untuk kemanusiaan.
Hari ini ada
berita menarik seperti iklan lewat medsos, donor darah bersedekah dapat door
prize bebas pilih. Sangat bertentangan pendapat seorang teman yang pernah
disampaikan di forum donor darah 25x 75x di Watu gong Semarang "door prize
itu dapat mengurangi keikhlasan".
Kata kata itu
masih terngiang dan ku ingat terus hingga saya bimbang akan donor darah hari
ini. Tetapi hari ini Rebu legi momen
yang sangat bersejarah menurut orang tua saya , disamping itu bila donor hari
ini donor yang ke 100 kalinya.
"Bismillahirrahmanirrahim" saya berniat donor darah sukarela.
Saat dokter
memeriksa tekanan darah, "kok tinggi pak, di kasih obat dulu ya"
pintanya.
"Saya
istirahat sebentar saja dulu nggih bu dokter," jawabku pelan.
Berdiri izin
menuju ruang aktaf yang kosong. Memang setahun ini pemeriksaan tensinya
cenderung naik setelah purna tugas dari tugas rutin dinasnya.
Kusandarkan kepala
di kursi sofa dibawah AC sambil menghubungi beberapa kontak person yang
tersimpan di HP. Tak lama berselang terlelaplah
dalam mimpi.
Tidak lebih
sepuluh menit terbangun kembali antri di kursi tunggu paling ujung.
"Tensinya
sudah normal pak". Saat diperiksa kembali oleh bu dokter. Saat pemeriksa
Hb sedikit cemas karena tidak turun dibawah air raksa artinya hbnya jurang dari
12 ml/dl. Diulang lagi ternyata aman memenuhi syarat untuk diambil darahnya.
"Bisa
dilanjutkan pak," kata bu dokter.
Seorang petugas
membantu melengkapi data digital yang tersedia
di depan komputer yang seharusnya harus diisi masing masing.
"Berat badan
berapa pak?" tanyanya.
Kujawab pelan,
"Tambah 5 kg mas."
"Jadi seratus
nggih pak," lanjutnya.
"Ya mas
betul, serba seratus," imbuhku.
Sebelum masuk
ruang aktaf, saya harus mencuci tangan sampai siku dengan sabun sesuai SOP,
agar bersih sehat tidak terkontaminasi
bakteri dari luar.
Seorang petugas
setingkat perawat menyambutnya dengan ramah dan tersenyum manis.
"Monggo pak,
lengan kanan atau lengan kiri."
"Kiri saja
bak," jawabku datar.
Sambil naik ke
kursi aktaf yang bersih nyaman sambil melihat acara TV chanel drama korea.
"Tangan
mengepal jempol di dalam nggih," pintanya.
"Bismillahirrahmanirrahim".
darah keluar lancar, walau tusukan jarumnya terasa nyeri dan panas.
"Merk kantong
nya apa to bak?" Aku bertanya.
"In control pak"
merk baru.
Tak lebih 5 menit
pengambilan darah selesai, jarumpun dilepas sedikit masih terasa panas.
"Sudah pak
terima kasih," ucapnya.
"Monggo
pinarak di ruang rehat," sambungnya.
"Souvenir
boleh pilih yang mana," petugas lainya menyusul menanyakan.
"Manut saja,
mas," jawabku.
Beberapa orang
sedang rehat teh atau kopi panas
tersedia self service sambil ngemil roti yang ada dalam toples.
Seorang laki-laki
paruh baya pak Jito namanya pegawai kantor kalurahan sudah 56× berseloroh
" Jarum suntiknya panas dan perih ya pak?
"Nggih pak
betul, sudah dua kali ini saya merasakan," jawabku.
"Berapa to
harga darah saat ini?” tanya pak Jito lagi.
Darah tidak
diperjual belikan tapi perlu diproses sebelum di transfusikan yang disebut BPPD
(biaya pengganti pengolahan darah).
"Sekitar 490
ribu," jawabku ragu.
"Kok jarumnya
sakit ya?"
Saya mengangguk
membenarkan dan tidak komentar.
Ya sebaiknya saran
dari para donor darah sukarelawan harus diperhatikan karena sumber utama tapi saya ragu dapat disampaikan atau tidak
pada pimpinannnya, dan juga nerupakan media gethok tular yang tidak perlu keluar
banyak uang.
Pak Jito sudah 56x
donor darah, jika setiap pengambilan
satu kantong 350 ml berarti darah yang disumbangkan sebanyak 56x350, berapa
liter?
Atau bila dikrus
rupiah saat ini jika setiap kolf BPPD nya 490 ribu berarti sebanyak 56x490
ribu. Bisakah untuk untuk membeli kantong yang lebih baik tidak panas dan
nyaman?
Pertanyaan
pertanyaan seperti ini hanya suatu gambaran saja tidak perlu ada jawaban. Bukan berarti ikhlas dan tidak ikhlas, bukan
menuntut hak yang berlebihan. Hanya kenyamanan pasien saat diambil darahnya.
Saya terima
souvener atas pilihan perugas. bukan pilihan saya. Karena pesan seorang teman
masih melekat. "Jangan sampai mengurangi keikhlasan
Setelah selesai
minum kopi saya pamitan pulang tidak melanjutkan omon omon yang lainnya .
Alhamdulillah terlaksana juga donor darah ke 100 kalinya. Yang dulunya terpaksa
menjadi terbiasa semoga berkah dan berokah berguna untuk sesama.
Tag : No Tag
Berita Terkait
Rehat
Tajuk
Memahami Pemikiran Jenderal Dudung Abdurachman
PERLUNYA MENGUBAH CARA PANDANG PEDAGANG DI LOKASI WISAT...
Berita Populer
Arief Putra Musisi Anyar Indonesia
Ketua Umum GRIB H Hercules Rozario Marshal, Saya Bagian Dari Masyarakat Indramayu
Project Fly High Terinspirasi dari Pengalaman Hidup Dr Joe dan Tamak
Dari Kegiatan Aksi Sosial, Hercules Kukuhkan Ketua DPC GRIB JAYA Se-Jawa Barat
Chief Mate Syaiful Rohmaan
SAU7ANA
GMBI Kawal Kasus Dugaan Penipuan PT. Rifan Financindo Berjangka di PN Bandung
Indramayu Diguncang Gempa Magnitudo 4.4, Kedalaman 280 Kilometer
Ivan Lahardika Arranger dan Komposer Indonesia
SAU7ANA Come Back