Loading

Jejak yang Tak Pernah Hilang


Penulis Octavia Fitri Priani
21 Jam lalu, Dibaca : 92 kali


Octavia Fitri Priani

Penulis Octavia Fitri Priani

Siswi SMA negeri 1 Cikembar

 

“Bruuukk…!” Aku terjatuh dari kasur.

“Syukurlah, ternyata ini hanya sebuah mimpi,” ucapnya. Mimpi yang seolah nyata terjadi, kobaran api yang menyala membakar dedaunan yang kering akibat kemarau yang panjang. Jeritan suara hewan yang terperangkap di area kebakaran menjadi korban, seakan-akan pertanda bahwa alam sedang marah atas kelakuan manusia yang suka semena-mena.

Dan ia bersyukur ternyata itu hanyalah sebuah mimpi karena ia merasa tidak mungkin hutan yang sangat rimbun dengan pepohonan terbakar begitu saja oleh ganasnya api. Sungguh tidak mungkin dan tidak akan pernah terjadi.

Di suatu pagi dengan suara alam yang menenangkan jiwa dan pikiran, suara-suara hewan yang bersahutan seolah menceritakan tentang kebahagiaan atas alam yang Tuhan siapkan. Perjalanan menjelajah hutan kali ini begitu menyenangkan. Akan tetapi, aku merasakan suara jejak kaki yang seperti mengikuti. Tidak lama, suara itu berhenti. Namun, di belakang sudah penuh dengan kobaran api.

Aku berlari sekuat mungkin karena api tersebut bagaikan korban yang sedang mengejar pelaku kerusakan alam. Angin pun seolah mendukung, ia berembus sangat keras tanpa henti. Kobaran api semakin besar. Suara hewan pun mulai terdengar berlari ke sana kemari mencari pertolongan, namun sayangnya mereka sudah terkepung api. Kejadian itu sungguh memilukan hati.

Lagi dan lagi, itu hanyalah mimpi. Ia heran mengapa mimpi tersebut seolah memberikan kode tentang apa yang akan terjadi.

Seperti kebiasaan yang sering ia lakukan pada Minggu pagi, ia selalu pergi ke hutan untuk sekadar melihat kondisi hutan. Lalu, ia pun bergumam,

“Bagaimana hutan ini di kemudian hari?”

Dengan penuh tanda tanya, ia melihat hutan di sekitarnya.

Pepohonan menjulang tinggi bagaikan tiang-tiang langit, rumput yang hijau seperti karpet alami. Sungai-sungai mengalir dari hulu hingga ke hilir. Berisiknya suara hewan menjadikan irama yang menandakan adanya sebuah kehidupan. Namun, kian hari perubahan itu pasti ada. Hijaunya dedaunan kini tergantikan dengan daun-daun kering dan ranting pun mulai berserakan di tanah akibat kemarau yang panjang.

Malam pun tiba. Seperti biasa, setiap Minggu ia selalu menginap di rumah pohonnya. Hari semakin malam, namun anehnya ia tak kunjung tertidur. Tidak lama, terdengar suara segerombolan orang dan setelah dilihat ternyata hanya pemburu yang tengah mencari mangsanya.

Ia pun mulai melamun lalu mulai bertanya pada dirinya sendiri,

“Mungkin kini jiwa-jiwa tersebut sudah mati karena banyak akal yang sudah terganti. Tempat sunyi bagaikan hutan mati. Masih menjadi misteri sejak kapan alam kehilangan jati diri,” ucapnya.

---

“Tanah gersang menjadi saksi atas kerakusan raja lahan. Pepohonan ditebang tanpa adanya izin dari alam. Tumbuhan bermanfaat dialihfungsikan menjadi obat-obat maksiat,” ucap seorang pemuda dengan penuh kesal.

Tidak lama setelah itu, suara langkah pun terdengar lagi. Dilihat dari jendela, ternyata ada dua orang tak dikenal menggunakan penutup wajah. Ia memperhatikan apa yang sedang mereka lakukan. Karena penasaran, ia pun mengambil senter untuk melihat siapa orang tersebut.

Ketika senter sudah ditemukan, ternyata keadaan di luar sudah dikelilingi kobaran api. Tanpa memikirkan barang bawaan, ia keluar dengan sangat tergesa-gesa untuk melarikan diri dari kejaran api yang seperti mengejar.

Perjalanan menuju keluar hutan dipenuhi dengan jeritan hewan yang seakan-akan meminta pertolongan. Aku tidak bisa berbuat apa-apa karena api mulai membesar.

Sesampainya kembali di permukiman desa, “Kebakaran, kebakaran hutan!” teriakku dengan panik.

Seluruh warga keluar mendengar teriakanku dan benar saja, hutan saat ini sudah dipenuhi api yang sangat besar bagaikan lautan api. Tidak lama, seorang pria tak dikenal pun datang. Ia lalu berbisik,

“Setelah ini, hanya kamulah satu-satunya yang menjadi harapan untuk hutan kembali pulih,” bisiknya.

Kebakaran tersebut menjadi pengalaman yang sangat berarti karena ia melihat banyak sekali korban dari kebakaran ini, terutama tumbuhan dan hewan. Untungnya, tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.

---

Kegersangan muncul atas paksaan manusia yang sudah jauh dari Tuhan. Rimbunnya air embun kini berganti menjadi debu. Kalimantanlah saksinya atas kekuasaan Tuhan yang sangat berarti, namun banyak jiwa-jiwa yang telah merusak tanpa adanya niat untuk mengganti.

Seseorang berdiri dengan hati yang sudah pasti dan berjanji untuk segera memperbaiki apa yang sudah mati.

“Hutan yang telah mati, aku akan berjanji untuk menghidupkan kembali setelah apa yang sudah terjadi. Aku berjanji akan menjaganya dengan sepenuh hati,” ucap seorang pemuda dengan penuh semangat.

Melihat kondisi hutan yang memilukan, yang tersisa hanyalah puing-puing kebakaran, tulang-belulang hewan, dan pohon yang sudah kering. Tak terasa, air mata mulai mengalir melihat keadaan yang sangat memprihatinkan. Ia merasa gagal untuk menjaga titipan Tuhan.

Hatinya berkecamuk tatkala melihat hewan-hewan yang sudah mati terbakar. Bahkan, hewan yang tak memiliki salah pun menjadi korban atas keserakahan manusia.

“Salahku tidak bisa mencegah manusia yang serakah sehingga banyak yang tidak bersalah menjadi korban,” ucapnya.

“Aku berjanji kejadian ini tidak akan terulang kembali. Biarlah manusia-manusia keji menanggung dosa yang mungkin akan kembali pada dirinya sendiri.”

“Alam adalah titipan Tuhan yang harus kita jaga. Tanpanya, kita akan hidup di mana? Seharusnya kita membuka mata atas kerusakan alam yang seharusnya diperbaiki, bukan dibiarkan tanpa ada bukti yang pasti.”

Sukabumi, 25 September 2026

Tag : No Tag

Berita Terkait