Loading

KARENA AKU SANTRI


PEnulis: Sintia Rahmah Zahra, S.Pd.,M.Pd.
18 Jam lalu, Dibaca : 48 kali


Sintia Rahmah Zahra, S.Pd.,M.Pd.

Oleh Sintia Rahmah Zahra, S.Pd.,M.Pd.

(Guru SMK Negeri 1 Bojongpicung)

 

Gelisah berdiam di relung hati,

ketika agama lebih kerap ditampakkan dengan wajah membentak, sementara tutur lembut yang membawa damai

justru disambut cercaan.

Fitnah berulang, makian menjadi percakapan, dan hatiku kembali diliputi perih.

Karena aku santri.

Di antara luka, masih kusimpan harapan.

Pelan-pelan kusampaikan kepada insan yang kujumpai:

mari pulang pada inti ajaran.

Sampaikan kebaikan dengan kebijaksanaan, pilih kata yang merawat, bukan melukai;

tebarkan teduh, jangan menumbuhkan permusuhan. Itulah yang terus kuusahakan,

karena aku santri.

Aku terdiam ketika pendidikan

ditimbang semata-mata dengan angka keuntungan. Atas nama kemajuan dan keahlian,

rencana usaha dibentangkan, perhitungan laba dijadikan ukuran. Segalanya tampak menjanjikan

di tengah gemerlap kota besar. Dadaku makin sesak menyaksikan

arah pengabdian yang perlahan berubah.


Dakwah yang semestinya membuka jalan petunjuk seakan disulap menjadi siasat,

kata-kata disusun bukan demi menuntun, melainkan demi pundi-pundi yang bertambah.

Dalam sunyi, hadir kembali wajah guru-guruku:

para kiai dan nyai yang tulus mengasuh. Seolah kudengar pesan mereka,

“Anakku, jangan jual ilmu demi kemewahan. Ilmu dan rezeki sama-sama titipan Tuhan. Bagikan pengetahuan dengan lapang, sebagaimana dahulu engkau menerimanya. Berikhtiarlah; biarkan Allah mencukupkan.”

Maka kujawab dengan suara tenang:

izinkan aku tetap memilih jalan ini. Meski ilmu yang kubawa tak seberapa,

akan kubagikan tanpa menakar kekayaan,

kepada yang berlimpah maupun yang kekurangan. Tak boleh ada yang disisihkan.

Karena aku santri.

Aku tak sanggup berpaling

saat nama agama dipakai menutupi hasrat.

Perkawinan rahasia dipromosikan tanpa kehati-hatian, poligami dipertontonkan demi kebanggaan diri, kekerasan di rumah dianggap perkara lumrah, sementara luka para penyintas pelecehan

malah dipermainkan sebagai gurauan. Amarahku tak membuatku bungkam,

karena aku santri.

Dengan percaya bahwa agamaku mengajarkan kasih dan Tuhanku Maha Pengasih,

kuhadapi pembenaran itu dengan ilmu. Kukumpulkan kenyataan, bukti, dan suara

perempuan, anak-anak, serta mereka yang mudah disakiti. Semoga agama tak lagi dijadikan selubung

bagi tindakan yang merampas keadilan. Aku akan terus bersuara,

karena aku santri.


Karena aku santri,

aku tak rela membiarkan kepedulian padam. Kusaksikan nilai luhur terkikis sedikit demi sedikit, sementara nama suci diseret

untuk melayani nafsu, harta, dan kuasa. Dan karena aku santri,

akan kutempuh jalan ini tanpa gentar, meski kadang lengang dan sunyi. Dengan harap yang tetap menyala

serta tawakal yang menenangkan jiwa,

kuajak manusia menuju kebaikan melalui kebaikan, kutahan keburukan tanpa menambah keburukan.

Langkahku akan terus berlanjut, menyusuri jejak yang diwariskan para masyayikh, kiai, dan bu nyai, mereka yang menanamkan ilmu serta mengajarkan arti pengabdian.

Karena aku santri.

Tag : No Tag

Berita Terkait