Loading

RIDWAN KAMIL, ADE LONDOK, DAN PENCITRAAN


Mansurya Manik
1 Bulan lalu, Dibaca : 146 kali

Oleh Mansurya Ginting Manik

 

Saat ini jagat Jawa Barat sedang ramai memperbincangkan perilaku seseorang yang mendapat penghargaan dari Pemerintah Jawa Barat Gubernur Ridwan Kamil karena orang tersebut memiliki kemampuan berkata kasar dan caci maki. Adalah Nandar Ukandar yang lebih dikenal dengan nama Ade Londok, video pendeknya viral di media sosial karena gaya bahasa kasarnya campuran bahasa Indonesia dan bahasa Sunda dalam mempromosikan sebuah produk makanan pedagang kecil jenis odading.

Pada saat itu, bahasa kasar Ade Londok dianggap sesuatu yang lucu dan menarik, sehingga memberi efek positif bagi pedagang dan Ade Londok. Berkahnya, pedagang odading naik omzet penjualannya dan Ade Londok diangkat jadi Duta Kuliner oleh Gubernur Jawa Barat. Namun pada video pendek lain, unggahan Ade Londok dengan bahasa kasar ketika mengomentari pengendara sepeda motor seorang bapak dan anak perempuannya yang dibonceng di belakang dengan muatan penuh barang juga menjadi viral serta mendapat reaksi  negatif dari masyarakat.

Ditambah lagi reaksi Ade Londok dalam video pendek membalas reaksi negatif masyarakat dengan caci maki yang berlebihan menjadikan bertambah negatif lagi reaksi masyarakat. Bahasa kasar terkesan lucu dan tidak menimbulkan reaksi negatif pada waktu dan tempat tertentu, tetapi pada tempat dan waktu yang lain bahasa kasar akan menimbulkan ketersinggungan dan reaksi negatif bagi yang mendengarnya.

Mengapa masyarakat memberikan reaksi negatif terhadap bahasa yang disampaikan Ade Londok? Sesungguhnya hal tersebut adalah bentuk protes terhadap Ridwan Kamil yang memberikan penghargaan dan fasilitas terhadap orang yang memiliki kemampuan dan keberanian berkata kasar. Mengapa masyarakat protes, karena hal tersebut bertentangan dengan kelaziman dan norma etika yang diajarkan pada masyarakat Jawa Barat (khususnya orang Sunda) dan masayarakat Indonesia pada umumnya tentang tata krama berbahasa.

Sejak awal ketika anak mulai diajar belajar berbicara, kemudian di dunia pendidikan formal selama dua belas tahun, anak-anak diajarkan cara berbahasa yang baik dan benar, bahkan menjadi mata pelajaran yang diberi nilai di raportnya.

Tetapi Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menjungkirbalikkan semua tatanan yang ada, hanya karena seseorang mampu menaikan omzet penjualan walau dengan cara menabrak etika moral, oleh Ridwan Kamil sebagai Gubernur Jawa Barat dengan serta merta memberi penghargaan yang tinggi kepada orang tersebut dengan menjadikannya Duta Kuliner Jawa Barat. Penghargaan Ridwan Kamil adalah bukti pembenaran dari bolehnya seseorang melabrak etika moral, efeknya para orang tua dan pendidik menjadi kelabakan dalam menjelaskan pada anak-anak dan anak didiknya bahwa dalam bergaul harus dengan bahasa yang sopan, santun dan saling menghormati. Sebab “bahasa mencerminkan bangsa”.

Dari peristiwa ini, apa hikmah yang dapat diambil? Pertama; betapa kuatnya media sosial dalam mempengaruhi persepsi masyarakat, begitu sebuah peristiwa menjadi viral, dampaknya jadi luar biasa, bisa positif ataupun negatif. Karena itu perbanyaklah isi media sosial dengan hal yang positif supaya masyarakat menjadi lebih produktif. Kedua: semakin kuatlah kesan yang sudah ada bahwa Ridwan Kamil dalam memimpin Jawa Barat, sihir pencitraan tetap menjadi panglima, Ridwan Kamil mau melakukan panjat sosial dengan momentum viralnya video pendek Ade Londok dalam mempromosikan kuliner pedagang kecil. Kenaikan omzet penjualan dan keterkenalan pedagang odading tersebut bukanlah hasil kerja dan karya Satuan Kerja Perangkat Daerah dan atau Tim Akselerasi Pembangunan Jawa Barat yang dipimpinnya, tetapi akibat kecelakaan viral di media sosial. Ridwan Kamil tidak memperhitungkan sisi negatif ketika mengangkat seseorang yang berperilaku menyimpang dari etika moral berbahasa yang baik dan benar, bagi Ridwan Kamil yang penting dia tetap dicitrakan sebagai pemimpin yang peduli terhadap rakyat dan pedagang kecil.

Padahal usul fiqih menjelaskan “menolak mafsadat yang besar lebih didahulukan dari mengambil manfaat yang kecil”. Janganlah gegara nila setitik rusak susu sebelanga. Peristiwa ini jangan dianggap sepele, karena menjadi keresahan para orang tua dan pendidik. Para siswa akan protes ketika gurunya memberi nilai rendah karena siswa dinyatakan etika moralnya tidak sesuai dengan standar yang diajarkan oleh para guru, para siswa akan menjadikan penghargaan Ridwan Kamil atas peristiwa ini sebagai pembenaran tingkah laku mereka yang tidak sesuai dengan etika moral.

Ketiga; para orangtua dan guru harus bekerja lebih keras lagi dalam menerangkan dan mendidik anak-anak dan anak didiknya bahwa untuk menggapai prrestasi tetap harus dengan cara-cara yang benar. Kalaupun kemarin Gubernur Ridwan Kamil memberikan penghargaan, bukan karena bahasa kasar yang tidak sesuai dengan etika moral sehingga orang tersebut diberi penghargaan, tetapi karena orang tersebut berhasil membantu orang lain untuk meningkatkan penjualan dan menaikkan ekonomi salah satu pedagang. Tentu penjelasan ini butuh proses, walaupun tetap saja akan ada imbas negatifnya, sebab faktanya karena bahasa kasarlah orang tersebut mendapat penghargaan.

Kitab Suci ummat Islam, Alquran dalam surah Al-Hujurat ayat 11 memberikan tuntunan pada kita dalam bertutur kata, Allah berfirman “…janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”.

------------------------------

Bandung, 24 Oktober 2020

# pegiat pendidikan

# persatuan orangtua peserta didik (portudik)

Tag : No Tag

Berita lainnya