Loading

Polda Metro Jaya Bangun Silaturahmi 6 Tokoh Pemuka Agama


Penulis: Herz/Editor: Dadan Supardan
10 Hari lalu, Dibaca : 26 kali


Kombes Pol Badya Wijaya SH MH berserta beberapa tokoh pemuka agama.

JAKARTA, Medikomonline.com Perkembangan isu yang sedang menghangat di tanah air berapa hari kebelakang seperti kejadian bom bunuh diri di depan Katedral Makassar menjadi spirit tersendiri bagi Mapolda Metro Jaya untuk melakukan pertemuan bersama seluruh tokoh terkemuka agama di Indonesia.

Mengenai situasi dan kondisi tersebut Mapolda Metro Jaya Rabu (31 Maret 2021) sekitar pukul 10.00 -11.30 WIB mengundang para tokoh agama se-DKI Jakarta, dengan tujuan untuk mendinginkan/colling system situasi dan kondisi perkembangan terakhir di Jakarta di Cafe Kopitiam Polda Metro Jaya.

Selain Kombes Pol Badya Wijaya SH MH juga hadir Ustad Abi Jajang (Islam), Romo A Sayadi (Katolik), Pendeta Manuel Raintung (Protestan), Rusli Tan (Walubi - Budha), Dewi Riyawati S (Konghucu), Endang Tien (Hindu), PS. Kasubdit Bintibsos Kompol Sujanto, Kasi Binturmas Kompol MH Panjaitan SH.

Dalam pertemuan Direktur Binmas Polda Metrojaya menyampaikan apresiasi peran para tokoh yang tergabung dalam FKRK dalam menjaga Kamtibmas DKI Jakarta cukup bagus. Ia mengucapkan rasa ikut bersedih hati dan prihatin atas kejadian bom bunuh diri di depan Katedral Makasar beberapa waktu lalu.

“Mari kita semua untuk tetap tenang sekaligus mengajak umatnya tetap tenang dan menjaga kebersamaan. Dan membuat testimoni berisi ajakan kepada umat demi terwujudnya kedamaian dan viralkan,” katanya.

Dirinya mencontohkan seperti apa yang dilakukan dan dijadikan referensi ceramahnya, Imam besar Masjid Istiqlal KH Nazaruddin Umar tentang Fiqih dan Tasawuf.

Dalam kesempatan tersebut, Mapolda Metro Jaya Jakarta akan mengintensifkan kegiatan silaturahmi dengan kunjungan ke masing-masing tokoh agama. Harapan doa untuk Kapolda semoga beliau tetap sehat untuk memimpin PMJ dalam wujudkan Kamtibmas,” harap Kombes Pol Badya Wijaya SH MH.

Sementara itu Ustadz Abi Jajang tokoh kemuka agama Islam dalam kesempatannya mengutarakan, Islam tidak mengajarkan bom bunuh diri dalam menegakkan Islam.

“Kita semua prihatin kepada saudara kita di Katedral yang menjadi korban dan yang terpenting kami berupaya untuk tetap menjaga keamanan dan kerukunan. Mari juga kita bersama-sama membuat statmen untuk menyejukkan keadaan,” Ajak Ustadz Abi Jajang.

Romo A. Sayadi dari pemuka tokoh agama Katolik mengatakan, manusiawi bila masing- masing personel merasa kecewa karena banyak giat sosial yang sudah dilakukan termasuk untuk di luar umat Katolik.

Umat bertanya salah kami apa? Tapi kami sadar itu semua akibat dari salah tafsir dalam memahami agama. Terkait dengan keamanan kami yakin TNI dan Polri bisa mengelola dan perlu diintensifkan pertemuan dengan tokoh lintas agama termasuk anak-anak kita,” katanya.

Masih di tempat dan kesempatan yang sama, Dewi Riyawati dari Konghucu mengatakan, ikut perihatin dengan kejadian bom di Makassar dan berharap semua tetap bisa tenang, jangan takut dengan teroris.

Mari kita tingkatkan dan menghimbauan kepada seluruh umat untuk tetap menjaga keamanan dan ketertiban wilayah masing-masing,” tuturnya.

Sementara itu, Ibu Endang Tien dari agama Hindu mengutarakan, ikut berduka atas kejadian bom bunuh diri di depan gereja katedral Makassar.

Dirinya mengutuk kejadian tersebut dan mengajak tetap menjaga kebersamaan dan kerukunan antarberagama atau sesama.

Rusli Tan dari Walubi berharap aparat keamanan melakukan law enforcement kejadian bom bunuh diri itu, meski itu sudah masuk kasus kriminal. Dan hukum harus ditegakkan secara maksimalkan,” ucapnya.

Rusli berharap, ekonomi di Indonesia bisa lebih membaik. Ia juga mengajak untuk tetap menjaga kebersamaan dan kerukunan.

Di akhir penghujung acara, Pendeta Manuel Rantung dari agama Protestan menyampaikan bahwa keyakinan pelaku tidak ribuan tapi puluhan dan tidak banyak. Hal-hal yang berkenaan dengan anti NKRI anti kemapanan masih ada.

Makanya dirinya berharap, untuk saling menguatkan dan sering bertemu supaya kebersamaan di antara kita selain intens terbangun juga hubungan akan makin lebih baik.

Acara silaturahmi berjalan dengan baik dan terjalin komunikasi yang komunikatif serta tetap memedomani protokol kesehatan. Harapan mereka semua, minimal setiap 2 minggu sekali atau 1 bulan sekali diagendakan pertemuan FKRK tersebut. 

Tag : No Tag

Berita Terkait