Loading

Talang Sari 1989: Ketika “Hijrah” Jadi Kecurigaan Negara


Penulis: Syah Ma'mur
1 Bulan lalu, Dibaca : 216 kali


Gambar Ilustrasi Jamaah Warsidi,Hak cipta Syah Ma'mur

Bandung-Flash back lokasi tragedi kejadian di waktu dulu dan di sekarang Dusun Talangsari III (sekarang berubah nama)

Desa: Rajabasa Lama

Kecamatan: Way Jepara

Kabupaten: Lampung Timur

Provinsi: Lampung

Negara: Indonesia

Ini adalah lokasi exact (tepat) peristiwa tahun 1989.

Nama Lama vs Nama Sekarang

Nama lama: Dusun Talangsari III

Nama populer lokal: Cihideung

Nama sekarang: Dusun Subing Putra III

Nama diganti supaya menghilangkan stigma tragedi.

Kadang yang terlihat “tenang dan religius” bisa dianggap ancaman,tergantung siapa yang melihat. Talang Sari 1989 adalah contoh nyata, ketika sekelompok orang memilih hidup lebih “islami” dengan cara mereka sendiri, tapi justru berhadapan dengan kerasnya negara di era Orde Baru.

Kelompok yang dipimpin Warsidi ini bukan ormas besar, bukan juga gerakan politik nasional. Mereka lebih mirip komunitas kecil yang pengen “balik ke Islam versi murni”—langsung ke Al-Qur’an dan Hadis, tanpa campuran adat yang mereka anggap nggak perlu.

Mereka disiplin.

Mereka sederhana.

Dan yang paling penting, mereka memilih menjauh dari rules negara pemerintah Republik Indonesia.

Di sinilah mulai muncul masalah.

Di luar sana, dunia Islam waktu itu juga lagi ramai dengan gelombang purifikasi. Ada Salafi di Arab Saudi dengan figur seperti Abd al-Aziz ibn Baz, ada Ikhwanul Muslimin Mesir yang dirintis Hassan al-Banna dan dipertegas pemikirannya oleh Sayyid Qutb, sampai Jamaat-e-Islami Pakistan oleh Abul A'la Maududi.

Semua punya satu benang merah.

Pengen Islam jadi pedoman hidup total.

Tapi bedanya, gerakan-gerakan itu main di ruang publik—bahkan politik.

Sementara Jamaah Warsidi?

Mereka justru “mundur ke dalam”.

Bikin komunitas sendiri.

Interaksi dibatasi.

Lebih fokus ke internal daripada ekspansi.

Secara logika, ini bukan gerakan ofensif.

Lebih ke defensif—menjaga diri dari dunia luar yang dianggap nggak sejalan.

Tapi… kita harus lihat konteks zamannya.

Di bawah kepemimpinan Soeharto (presiden ke 2 Republik Indonesia,32 tahun memimpin dengan tangan besi), negara Republik Indonesia selama kepemimpinannya  sensitif alergi tingkat "DEWA" banget sama hal-hal yang,

tidak terkontrol

tidak terdaftar

tidak bisa dipetakan

Dan komunitas komunitas tertutup?

Otomatis masuk "radar" intel pemerintah Republik Indonesia.

Dari situ, cerita mulai berubah.

Yang satu merasa sedang menjalankan agama (Imam Warsidi & Jamaah Warsidi).

Yang satu merasa sedang menjaga negara (Soeharto Presiden ke 2 Indonesia & Pasukan Militernya bareng Intel2 negara)

Dan ketika dua persepsi ini ketemu tanpa jembatan…

yang terjadi bukan dialog—tapi benturan sangat keras.

Sampai hari ini, Talang Sari masih punya dua wajah

versi negara,pencegahan ancaman

versi lain:,tragedi kemanusiaan

Dan jujur aja, kebenaran utuhnya mungkin ada di tengah-tengah.

"Reflektif' dari penulis

Tragedj Talang Sari 1989 ngajarin satu hal penting,

niat baik/naiwatu thoyiban aja nggak cukup—cara dan konteks itu segalanya.

“Hijrah” itu  mulia banget.

Tapi kalau sampai bikin lo,

nutup diri total

ngerasa paling benar sendiri

atau putus dari realitas sosial

itu udah mulai bahaya—bukan cuma buat orang lain, tapi juga buat diri sendiri.

 Pesan penulis untuk Gen Z Indonesia yang Lagi Semangat/Ghirah BerHijrah dengan Jazbah/Kekuatan Ruhani yang kuat,

Buat lo yang lagi semangat belajar agama Islam—itu keren, itu bagus.

Tapi inget,

Pilih guru yang Ulama Mursyid ber akhlak Murabbi, pilih pengajian dan ta'lim, itu harus pakai akal yang jernih + hati yang tulus murni

Jangan cuma karena kelihatannya “paling keras”, terus dianggap “paling benar”

Islam itu bukan cuma soal benar-salah, tapi juga hikmah, akhlak, dan keseimbangan

Cari majelis/pengajian/ta'lim yang,

ngajarin ilmu, bukan kebencian,

ngajarin adab, bukan cuma dalil

ngajarin hidup di masyarakat, bukan lari dari masyarakat

Karena hijrah yang kuat itu bukan yang kabur dari dunia…

tapi yang mampu hidup di dunia tanpa kehilangan arah.

Tag : No Tag

Berita Terkait