Reporter: Soni Johari
2 Hari lalu, Dibaca : 73 kali
SUKABUMI, medikomonline – Ponpes Modern Dzikir Al'fath menggelar Workshop dan Pameren Ekonomi Kreatif bertempat di Aula Syekh Quro, Ponpes Dzikir Al'fath, Komplek Perumahan Karang Kencana Kelurahan Karang Tengah Kecamatan Gunung Puyuh Kota Sukabumi, Senin 27 April 2026.
Pada acara yang
sama, Ponpes Modern Dzikir Al'fath juga menandatangani MOU dengan Badan Riset dan
Inovasi Nasional (BRIN).
KH Fajar Laksana, Pimpinan
Ponpes Modern Dzikir Al'fath Kota Sukabumi menyampaikan, pihaknya sudah enam
kali melakukan penelitian bekerja sama dengan BRIN Bagian Permusiuman seperti
penelitian benda arkeolog naskah kuno.
Kerja sama
dilakukakn juga guna meneliti produk-produk yang dihasilkan pesantren hususnya
produk obat herbal dan pengolahan sampah.
“Maka kita minta
para peneliti untuk bisa hadir ke sini dan memberikan seminar pengetahuan dan
memberikan praktek agar nanti kita punya program,” ujar KH Fajar Laksana.
Ia menegaskan, pesantren
menjadi miniatur kehidupan. Pesantren di suatu kota bisa menjadi kawasan tersendiri
dilengkapi dengan sarana ekonomi, pendidikan, dan lain-lain. Di pesantren juga ada
PAUD, SD, SMP, SLTA, perguruan tinggi, jamaah pengajian dan komplek perumahan.
“Kita ingin pondok
pesantren menjadi satu model kecil dalam menata kota dan bangsa dan negara. Bagaimana
pesantren membuat satu model program ekonomi silkuler yang kita kenal juga dengan
penataan zerowaste tanpa limbah dan penataan kehidupan,” tuturnya.
Dalam hal ini
jelas KH Fajar Laksana, akan tercipta hidup tanpa ketergantungan pada produk
asing, tidak ketergantungan pada uang. Semua hidup dalam kemandirian dengan kerja
keras. Untuk memenuhi kkebutuhan telur misalnya, tidak perlu beli ke super
market, tetapi punya ternak ayam. Butuh cabe tidak perlu belanja, tinggal petik.
Butuh daging tinggal potong hewan, butuh ikan tinggal mancing.
Dikatakan ada 7
tanaman yang sudah diolah secara tradisi turun temurun dan telah dipraktikkan secara
empiris selama 30 tahun. Akan tetapi perlu dikaji secara akademisi agar ada
legitimasi.
“Butuh pendapat
dari sisi penelitian karena tidak bisa diberikan keluar. Tidak bisa dijual. Selama
30 tahun itu dipasarkan kepada jamaah kita yang datang tanpa promosi. Dimanfaatkannya
masih dalam lingkungan kita,” ujarnya. (Soni Johari)
Tag : No Tag
Berita Terkait
Rehat
Tajuk
Memahami Pemikiran Jenderal Dudung Abdurachman
PERLUNYA MENGUBAH CARA PANDANG PEDAGANG DI LOKASI WISAT...
Berita Populer
Arief Putra Musisi Anyar Indonesia
Ketua Umum GRIB H Hercules Rozario Marshal, Saya Bagian Dari Masyarakat Indramayu
Project Fly High Terinspirasi dari Pengalaman Hidup Dr Joe dan Tamak
Dari Kegiatan Aksi Sosial, Hercules Kukuhkan Ketua DPC GRIB JAYA Se-Jawa Barat
Chief Mate Syaiful Rohmaan
SAU7ANA
GMBI Kawal Kasus Dugaan Penipuan PT. Rifan Financindo Berjangka di PN Bandung
Indramayu Diguncang Gempa Magnitudo 4.4, Kedalaman 280 Kilometer
Ivan Lahardika Arranger dan Komposer Indonesia
SAU7ANA Come Back