Penulis: Dr. Dadang Solihin, S.E, M.A.
1 Jam lalu, Dibaca : 32 kali
Oleh Dr. Dadang Solihin, S.E, M.A.
Taprof Bidang
Sosial Budaya Lemhannas RI 17 Mei 2026
1. Pengantar
Kunjungan Presiden
Amerika Serikat Donald Trump ke China pada 12–15 Mei 2026 untuk melakukan
pembicaraan strategis dengan Xi Jinping kembali menegaskan bahwa rivalitas
global saat ini tidak lagi semata-mata ditentukan oleh kekuatan militer
konvensional, melainkan juga oleh perang psikologi, perang persepsi, dan perang
legitimasi. Dalam konteks tersebut, pemikiran Sun Tzu dalam The Art of War1
menjadi semakin relevan untuk memahami dinamika geopolitik abad ke-21.
Sun Tzu menegaskan
bahwa kemenangan tertinggi adalah menaklukkan musuh tanpa peperangan. Dalam
praktik geopolitik modern, prinsip tersebut diterjemahkan melalui strategi
mempermalukan musuh secara diplomatik, politik, ekonomi, maupun informasi.
Tujuan utamanya bukan sekadar penghinaan simbolik, tetapi penghancuran moral,
legitimasi, dan kohesi internal lawan sehingga lawan kehilangan daya tawar
strategisnya. Amerika Serikat dan Tiongkok pada saat ini terlibat dalam pola
persaingan yang sangat mencerminkan pendekatan tersebut.
Amerika Serikat
berupaya menekan legitimasi Tiongkok melalui isu hak asasi manusia di Xinjiang,
Hong Kong, dan Tibet, serta melalui narasi global mengenai COVID-19.
Sebaliknya, Tiongkok menggunakan diplomasi agresif “Wolf Warrior” untuk
memperlihatkan kemunduran moral dan politik Amerika Serikat di mata
negara-negara Global South. Persaingan tersebut menunjukkan bahwa perang modern
telah bergeser dari perang fisik menuju
perang narasi dan persepsi global.
Dari perspektif
geopolitik, rivalitas tersebut merupakan bentuk kontestasi antara kekuatan
status quo dan rising power dalam memperebutkan pengaruh global. Fenomena ini
dapat dijelaskan melalui konsep “Thucydides Trap”2, yaitu kecenderungan konflik
antara kekuatan lama dan kekuatan baru. Indonesia sebagai negara besar di
kawasan Indo-Pasifik berada pada posisi strategis sekaligus rentan terhadap
dampak rivalitas tersebut.
Dalam perspektif
Ketahanan Nasional, perang persepsi global dapat memengaruhi stabilitas
ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan, dan keamanan nasional
Indonesia. Disinformasi, propaganda digital, polarisasi opini publik, serta
penetrasi kepentingan asing berpotensi mengganggu kohesi nasional apabila tidak
diantisipasi secara tepat. Oleh karena itu, bangsa Indonesia memerlukan
ketahanan informasi dan ketahanan kepemimpinan nasional yang kuat agar tidak
mudah terseret dalam konflik kepentingan global.
Dari perspektif
Kepemimpinan Nasional, pemimpin Indonesia harus memiliki kecerdasan strategis,
kemampuan membaca lingkungan strategis global, serta kemampuan menjaga
keseimbangan diplomasi secara adaptif. Kepemimpinan nasional tidak boleh
reaktif terhadap tekanan geopolitik, tetapi harus mampu menjaga kepentingan
nasional berdasarkan prinsip bebas aktif.
Permasalahan ini
juga berkaitan erat dengan Empat Konsensus Dasar Bangsa Indonesia. Implementasi
nilai Pancasila menjadi fondasi moral dalam menghadapi perang narasi global
agar bangsa Indonesia tidak kehilangan jati diri. Implementasi nilai UUD 1945 menegaskan
kewajiban negara melindungi seluruh rakyat Indonesia dari ancaman ideologis dan
informasi. Implementasi nilai NKRI mengharuskan seluruh elemen bangsa menjaga
persatuan nasional di tengah tekanan geopolitik global. Sementara implementasi
nilai Bhinneka Tunggal Ika menjadi benteng sosial budaya dalam menghadapi
polarisasi yang dipicu perang persepsi internasional.
Dalam konteks
Wawasan Nusantara, Indonesia harus dipandang sebagai satu kesatuan geopolitik,
geostrategi, geoekonomi, dan geososial budaya yang utuh. Persaingan AS–Tiongkok
jangan sampai memecah orientasi strategis nasional atau menjadikan Indonesia
sekadar arena perebutan pengaruh kekuatan besar.
Sementara itu,
dari perspektif Kewaspadaan Nasional, perang mempermalukan musuh ala Sun Tzu
mengajarkan bahwa ancaman modern sering kali tidak tampak dalam bentuk agresi
militer langsung, melainkan dalam bentuk perang informasi, perang ekonomi, dan
manipulasi persepsi publik. Ancaman
tersebut lebih sulit dikenali karena bekerja melalui media digital,
diplomasi internasional, hingga pengaruh budaya global.
Hakikat utama dari
strategi mempermalukan musuh adalah perebutan legitimasi dan pengaruh tanpa
perang terbuka. Apabila Indonesia gagal memahami dinamika tersebut, maka
kepentingan nasional dapat terganggu melalui meningkatnya polarisasi domestik,
ketergantungan ekonomi strategis, hingga melemahnya posisi diplomatik Indonesia
di tingkat global. Karena itu, Indonesia harus memperkuat Ketahanan Nasional
secara komprehensif dengan kepemimpinan nasional yang adaptif, berkarakter
negarawan, dan berorientasi pada kepentingan nasional jangka panjang.
2. Latar Belakang
Perkembangan
lingkungan strategis global pada abad ke-21 menunjukkan perubahan mendasar
dalam pola rivalitas antarnegara besar. Persaingan geopolitik tidak lagi hanya
diwujudkan melalui penggunaan kekuatan militer konvensional, tetapi juga
melalui perang psikologi, perang informasi, perang ekonomi, dan perang reputasi
yang bertujuan melemahkan legitimasi lawan tanpa konfrontasi terbuka. Dalam
konteks tersebut, strategi mempermalukan musuh menjadi salah satu instrumen
geopolitik modern yang semakin sering digunakan oleh negara-negara besar untuk
menghancurkan moral, kredibilitas, dan pengaruh lawan di mata masyarakat
internasional maupun rakyat domestiknya sendiri.
Pemikiran Sun Tzu dalam
The Art of War menjelaskan bahwa kemenangan tertinggi adalah kemenangan yang
diperoleh tanpa peperangan fisik. Sun Tzu menekankan bahwa menghancurkan strategi,
moral, dan kohesi internal musuh jauh lebih efektif dibandingkan menghancurkan
kekuatan militernya secara langsung. Prinsip tersebut pada masa kini tercermin
dalam pola rivalitas antara Amerika Serikat dan China yang
saling menggunakan perang narasi dan perang persepsi sebagai bagian dari
strategi geopolitik global.
Amerika Serikat
secara konsisten menggunakan isu demokrasi, hak asasi manusia, transparansi
pemerintahan, serta kebebasan sipil untuk menekan legitimasi Tiongkok di mata
dunia internasional. Kritik terhadap isu Xinjiang, Hong Kong, Tibet, hingga narasi mengenai pandemi COVID-19 menjadi instrumen
untuk membangun persepsi bahwa Tiongkok merupakan ancaman terhadap tatanan
internasional liberal. Pendekatan ini tidak hanya bertujuan menekan Tiongkok
secara diplomatik, tetapi juga memperlemah citra kepemimpinan Xi Jinping di
mata komunitas global.
Sebaliknya, Tiongkok
juga menggunakan strategi serupa terhadap Amerika Serikat. Melalui diplomasi agresif yang dikenal
sebagai “Wolf Warrior Diplomacy”, Tiongkok berusaha membangun narasi bahwa
Amerika Serikat sedang mengalami kemunduran moral, politik, dan ekonomi.
Ketimpangan sosial, polarisasi politik domestik, diskriminasi rasial, hingga
kegagalan penanganan pandemi dijadikan bahan propaganda untuk memperlihatkan
kelemahan Amerika Serikat sebagai pemimpin global. Dengan demikian, rivalitas
kedua negara berkembang menjadi perang legitimasi global yang tidak hanya
melibatkan kekuatan negara, tetapi juga media internasional, teknologi digital,
platform media sosial, dan opini publik dunia.
Kondisi tersebut
memperlihatkan bahwa geopolitik modern telah memasuki era perang multidimensi. Medan
pertempuran tidak lagi terbatas pada wilayah darat, laut, udara, dan ruang
angkasa, tetapi juga mencakup ruang siber, ruang informasi, dan ruang persepsi
publik. Dalam situasi demikian, negara yang mampu mengendalikan narasi global
akan memiliki pengaruh strategis yang lebih besar dibandingkan negara yang
hanya mengandalkan kekuatan militer.
Indonesia sebagai
negara besar di kawasan Indo-Pasifik menghadapi tantangan yang sangat kompleks
akibat rivalitas tersebut. Posisi geografis Indonesia yang strategis menjadikan
Indonesia sebagai salah satu pusat perhatian geopolitik dunia. Indonesia berada
di jalur perdagangan internasional,
jalur komunikasi laut
strategis, dan kawasan yang menjadi titik temu kepentingan kekuatan
besar global. Karena itu, Indonesia tidak dapat melepaskan diri dari dampak
rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok.
Tekanan geopolitik
tersebut dapat memengaruhi stabilitas nasional Indonesia dalam berbagai aspek.
Pada bidang politik, perang narasi global berpotensi memicu polarisasi
opini publik domestik. Pada bidang
ekonomi, rivalitas perdagangan dan teknologi dapat memengaruhi stabilitas
investasi, rantai pasok global, serta ketergantungan teknologi nasional. Pada
bidang sosial budaya, derasnya arus informasi dan propaganda asing dapat
memengaruhi identitas nasional dan kohesi sosial masyarakat Indonesia.
Dalam perspektif
Ketahanan Nasional, situasi ini menunjukkan pentingnya memperkuat ketahanan
ideologi, ketahanan informasi, ketahanan digital, dan ketahanan sosial budaya
bangsa Indonesia. Indonesia harus mampu menjaga independensi strategis nasional
agar tidak terseret dalam konflik kepentingan kekuatan besar. Politik luar
negeri bebas aktif harus tetap menjadi landasan utama diplomasi Indonesia dalam
menghadapi rivalitas geopolitik global.
Tabel
Indikasi
Strategis Rivalitas AS–Tiongkok dalam Perspektif Sun Tzu
|
No
|
Indikasi Strategis |
Bentuk Implementasi
|
Dampak Global
|
Implikasi bagi Indonesia
|
|
1 |
Perang Narasi HAM |
Kritik AS terhadap Xinjiang dan
Hong Kong |
Polarisasi geopolitik global |
Tekanan diplomatik terhadap posisi Indonesia |
|
2 |
Diplomasi Wolf Warrior |
Serangan verbal diplomatik Tiongkok di forum internasional |
Perubahan persepsi terhadap kepemimpinan global AS |
Pengaruh terhadap opini publik domestik |
|
3 |
Perang Teknologi |
Pembatasan chip AI, Huawei, dan teknologi strategis |
Fragmentasi ekosistem teknologi dunia |
Ketergantungan teknologi dan keamanan digital |
|
4 |
Perang Ekonomi |
Tarif dagang, pembatasan ekspor, dan sanksi ekonomi |
Ketidakpastian ekonomi internasional |
Gangguan perdagangan dan investasi nasional |
|
5 |
Perang Informasi |
Disinformasi, propaganda digital, dan manipulasi media |
Krisis kepercayaan publik global |
Ancaman terhadap stabilitas nasional dan persatuan bangsa |
Tabel di atas
menunjukkan bahwa rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok telah berkembang
menjadi perang multidimensi yang mencakup aspek diplomasi, ekonomi, teknologi,
informasi, dan psikologi global. Strategi mempermalukan musuh digunakan sebagai
instrumen untuk menghancurkan legitimasi lawan tanpa peperangan terbuka. Kedua
negara tidak hanya berupaya memenangkan persaingan kekuatan material, tetapi
juga berusaha mengendalikan persepsi publik internasional agar memperoleh
pengaruh geopolitik yang lebih besar.
Bagi Indonesia,
kondisi tersebut mengandung risiko sekaligus peluang strategis. Risiko muncul
apabila Indonesia gagal menjaga independensi nasional dan terjebak dalam
polarisasi geopolitik global. Indonesia dapat menjadi arena perebutan pengaruh
politik, ekonomi, maupun informasi yang berpotensi melemahkan stabilitas
nasional. Namun di sisi lain, rivalitas tersebut juga membuka peluang bagi
Indonesia untuk memperkuat perannya sebagai kekuatan penyeimbang strategis di
kawasan Indo-Pasifik melalui diplomasi aktif, pembangunan ekonomi nasional, dan
penguatan Ketahanan Nasional.
Dalam perspektif
Lemhannas RI, tantangan utama Indonesia adalah memastikan bahwa seluruh unsur
Astagatra tetap kokoh menghadapi dinamika geopolitik global. Ketahanan ideologi
harus diperkuat melalui pengamalan nilai-nilai Pancasila. Ketahanan politik harus
dijaga melalui demokrasi yang stabil dan berintegritas. Ketahanan ekonomi harus
diperkuat melalui kemandirian nasional dan hilirisasi industri strategis.
Ketahanan sosial budaya harus diwujudkan melalui penguatan identitas nasional
dan semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Dengan demikian,
pemahaman terhadap strategi mempermalukan musuh ala Sun Tzu menjadi penting
bukan untuk membangun permusuhan, tetapi untuk meningkatkan kewaspadaan
nasional dalam menghadapi perang narasi dan perang persepsi global yang semakin
kompleks pada era geopolitik modern.
3. Pembahasan
Strategi
mempermalukan musuh merupakan bagian dari bentuk perang nonmiliter yang
bertujuan menghancurkan legitimasi, moral, dan kepercayaan publik lawan tanpa
konfrontasi fisik secara langsung. Strategi ini berkembang seiring transformasi
lingkungan strategis global yang semakin dipengaruhi oleh perkembangan
teknologi informasi, media digital, dan interdependensi ekonomi dunia. Pada era
geopolitik modern, kemenangan tidak lagi
hanya ditentukan oleh superioritas militer, tetapi juga oleh kemampuan
mengendalikan persepsi, opini publik,
dan legitimasi internasional.
Pemikiran Sun Tzu dalam
The Art of War menegaskan bahwa kemenangan
tertinggi adalah kemenangan yang diperoleh tanpa peperangan terbuka. Prinsip
tersebut saat ini terlihat jelas dalam rivalitas antara Amerika Serikat dan
China yang sedang menjalankan perang legitimasi global melalui berbagai
instrumen nonmiliter. Amerika Serikat berupaya mempertahankan posisinya sebagai
pemimpin tatanan dunia liberal dengan menggunakan isu demokrasi, hak asasi
manusia, transparansi, dan supremasi hukum sebagai instrumen diplomasi global.
Sebaliknya, Tiongkok membangun narasi kebangkitan dunia multipolar dengan
menampilkan keberhasilan ekonomi, stabilitas politik, serta kemitraan strategis
dengan negara-negara berkembang sebagai alternatif terhadap dominasi Barat.
Persaingan
tersebut menunjukkan bahwa geopolitik abad ke-21 telah bergerak menuju perang
narasi dan perang persepsi global. Media internasional, platform digital,
kecerdasan buatan, dan media sosial menjadi arena baru pertarungan pengaruh
antarnegara. Dalam konteks ini, strategi mempermalukan lawan dilakukan melalui
pengungkapan kelemahan politik, kegagalan ekonomi, pelanggaran hak asasi
manusia, maupun ketidakmampuan kepemimpinan dalam menghadapi krisis global.
Tujuannya adalah menciptakan persepsi bahwa lawan kehilangan legitimasi moral
dan politik di mata masyarakat internasional.
Dari perspektif
geopolitik Indonesia, perkembangan tersebut harus dipahami sebagai perubahan
karakter ancaman nasional. Ancaman terhadap kedaulatan negara tidak lagi hanya
berbentuk agresi militer, tetapi juga infiltrasi informasi, manipulasi opini
publik, perang siber, dan tekanan ekonomi global. Oleh karena itu, konsep Ketahanan
Nasional Indonesia harus diperluas secara multidimensional dengan memperkuat
ketahanan ideologi, ketahanan informasi, ketahanan ekonomi, ketahanan digital,
dan ketahanan sosial budaya.
Indonesia sebagai
negara besar di kawasan Indo-Pasifik memiliki posisi strategis sekaligus rentan
terhadap dampak rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok. Letak geografis
Indonesia yang berada di jalur perdagangan internasional dan jalur komunikasi
laut strategis menjadikan Indonesia sebagai arena perebutan pengaruh geopolitik
global. Dalam situasi tersebut, Indonesia harus mampu menjaga independensi
strategis nasional agar tidak terseret ke dalam blok kekuatan tertentu yang
dapat mengganggu kepentingan nasional jangka panjang.
Politik luar
negeri bebas aktif harus tetap menjadi landasan utama diplomasi Indonesia.
Indonesia perlu memperkuat diplomasi strategis yang adaptif, fleksibel, dan
berorientasi pada kepentingan nasional. Hubungan baik dengan Amerika Serikat
maupun Tiongkok harus dijaga secara seimbang tanpa mengorbankan prinsip
kedaulatan nasional. Indonesia tidak boleh menjadi subordinat kepentingan
geopolitik negara lain, melainkan harus tampil sebagai kekuatan penyeimbang
strategis yang mampu menjaga stabilitas kawasan Indo-Pasifik.
Selain diplomasi,
Indonesia juga perlu membangun kapasitas nasional dalam menghadapi perang
informasi global. Perkembangan teknologi digital memungkinkan penyebaran
propaganda, disinformasi, dan manipulasi opini publik secara cepat dan masif.
Dalam kondisi demikian, masyarakat Indonesia dapat menjadi sasaran operasi
pengaruh asing yang bertujuan memecah persatuan nasional dan menciptakan
instabilitas politik domestik.
Karena itu,
penguatan literasi digital masyarakat menjadi sangat penting. Masyarakat harus
memiliki kemampuan kritis dalam memilah informasi, memahami propaganda digital,
serta menghindari polarisasi sosial akibat manipulasi media. Negara juga perlu
memperkuat keamanan siber nasional melalui pengembangan teknologi nasional,
penguatan infrastruktur digital strategis, dan peningkatan kapasitas sumber
daya manusia di bidang keamanan informasi.
Dalam perspektif
Ketahanan Nasional, perang informasi global merupakan ancaman serius terhadap
stabilitas bangsa. Apabila tidak diantisipasi dengan baik, propaganda
asing dapat memengaruhi ideologi
masyarakat, memperuncing konflik sosial, serta melemahkan kepercayaan publik
terhadap institusi negara. Oleh sebab itu, sinergi antara pemerintah,
masyarakat, akademisi, media, dan sektor swasta menjadi sangat penting dalam
menjaga ruang informasi nasional agar tetap sehat, produktif, dan berorientasi
pada kepentingan bangsa.
Kepemimpinan
nasional menjadi faktor penentu dalam menghadapi dinamika geopolitik global
tersebut. Pemimpin nasional harus memiliki wawasan geopolitik yang luas,
kemampuan membaca perubahan lingkungan strategis, serta kecerdasan dalam
merumuskan kebijakan nasional yang adaptif terhadap perubahan global.
Kepemimpinan nasional tidak boleh bersifat reaktif atau pragmatis jangka
pendek, tetapi harus memiliki orientasi strategis jangka panjang demi menjaga
keberlanjutan kepentingan nasional Indonesia.
Dalam perspektif
Lemhannas RI, kepemimpinan nasional harus mencerminkan karakter negarawan yang
berlandaskan nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Pemimpin nasional harus mampu menjaga persatuan bangsa di tengah derasnya arus
globalisasi dan polarisasi geopolitik internasional. Kepemimpinan nasional juga
harus mampu membangun kepercayaan publik, memperkuat kohesi sosial, serta
menjaga stabilitas nasional dalam menghadapi tekanan global yang semakin
kompleks.
Sementara itu,
dalam perspektif Wawasan Nusantara, Indonesia harus tetap memandang dirinya
sebagai satu kesatuan geopolitik yang utuh dan tidak terpisahkan. Rivalitas
global tidak boleh memecah kohesi nasional melalui infiltrasi ideologi,
polarisasi politik, maupun konflik identitas sosial budaya. Keberagaman bangsa
Indonesia justru harus dijadikan kekuatan strategis nasional dalam menghadapi
tekanan eksternal.
Sun Tzu
mengingatkan bahwa kemenangan sejati bukanlah kemenangan yang diperoleh melalui
penghancuran fisik, melainkan kemenangan yang mampu menciptakan stabilitas dan
pengaruh tanpa peperangan terbuka. Dalam konteks Indonesia, hal tersebut berarti
bahwa pembangunan Ketahanan Nasional, penguatan diplomasi strategis,
pengembangan kemandirian ekonomi, penguasaan teknologi, dan penguatan karakter
kebangsaan merupakan instrumen utama untuk menghadapi rivalitas geopolitik
global abad ke-21.
Dengan demikian,
strategi mempermalukan musuh yang digunakan dalam rivalitas Amerika Serikat dan
Tiongkok harus dipahami Indonesia sebagai pelajaran strategis untuk memperkuat
kewaspadaan nasional. Indonesia harus mampu menjadi bangsa yang tangguh, mandiri,
dan berdaulat dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan,
kepentingan nasional, dan semangat persatuan dalam menghadapi dinamika
geopolitik dunia yang semakin kompleks.
4. Penutup
Dinamika
geopolitik abad ke-21 menunjukkan bahwa perang modern telah berubah menjadi
perang persepsi, perang legitimasi, dan perang pengaruh global. Strategi
mempermalukan musuh sebagaimana diajarkan Sun Tzu kini menjadi instrumen
penting dalam rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok. Pertempuran tidak lagi
hanya berlangsung di medan perang, tetapi juga di ruang diplomasi, media
internasional, teknologi digital, dan opini publik dunia.
Bagi Indonesia,
situasi ini merupakan tantangan strategis yang harus dihadapi dengan kecerdasan
geopolitik, kewaspadaan nasional, dan kepemimpinan nasional yang visioner.
Indonesia tidak boleh sekadar menjadi objek perebutan pengaruh kekuatan besar,
melainkan harus tampil sebagai subjek geopolitik yang mampu menjaga kedaulatan,
persatuan, dan kepentingan nasionalnya sendiri.
Ketahanan Nasional
Indonesia harus dibangun secara komprehensif, integral, holistik, integratif,
dan profesional. Ketahanan ideologi harus diperkuat melalui pengamalan
nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ketahanan
politik harus diwujudkan melalui
demokrasi yang sehat dan berintegritas. Ketahanan ekonomi harus diperkuat
melalui kemandirian nasional dan penguasaan teknologi strategis. Ketahanan
sosial budaya harus dibangun melalui penguatan identitas nasional dan semangat
Bhinneka Tunggal Ika.
Di tengah perang
narasi global, bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin-pemimpin nasional yang
tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki watak kebangsaan,
moralitas negarawan, serta keberanian menjaga kepentingan nasional di atas
kepentingan kelompok atau kekuatan asing. Kepemimpinan nasional harus mampu
menjadi jangkar stabilitas bangsa sekaligus navigator strategis dalam
menghadapi turbulensi geopolitik global.
Wawasan Nusantara
harus terus menjadi landasan berpikir strategis bangsa Indonesia. Indonesia harus
dipandang sebagai satu kesatuan geopolitik yang utuh dari Sabang sampai
Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Persatuan nasional merupakan kekuatan utama
Indonesia dalam menghadapi tekanan global yang semakin kompleks dan
multidimensional.
Pada akhirnya,
ajaran Sun Tzu mengingatkan bahwa kemenangan tertinggi bukanlah menghancurkan
lawan melalui peperangan terbuka, melainkan menciptakan situasi strategis yang
membuat lawan kehilangan kemampuan untuk mendominasi. Dalam konteks Indonesia,
kemenangan sejati adalah ketika bangsa ini mampu menjaga persatuan, memperkuat
Ketahanan Nasional, mempertahankan kedaulatan, dan mewujudkan cita-cita
Indonesia Emas 2045 di tengah rivalitas global yang semakin tajam.
Indonesia harus hadir
sebagai bangsa besar yang bermartabat, berkarakter, dan berdaulat; bangsa yang
mampu berdiri tegak dalam percaturan dunia
dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila, semangat kebangsaan,
dan kepentingan nasional.
Daftar Pustaka
Allison, G.
(2017). Destined for war: Can America and China escape Thucydides’s trap?
Houghton Mifflin Harcourt.
Brzezinski, Z.
(1997). The grand chessboard: American primacy and its geostrategic
imperatives. Basic Books.
Clausewitz, C. V.
(1989). On war. Princeton University Press. Kissinger, H. (2011). On China.
Penguin Books.
Mearsheimer, J. J.
(2014). The tragedy of great power politics. W. W. Norton & Company. Nye,
J. S. (2004). Soft power: The means to success in world politics.
PublicAffairs.
Nye, J. S. (2011).
The future of power. PublicAffairs.
Sun Tzu. (2005).
The Art of War. Shambhala Publications.
Waltz, K. N.
(1979). Theory of international politics. McGraw-Hill. Zedong, M. (2000). On
protracted war. Foreign Languages Press.
Tag : No Tag
Berita Terkait
Rehat
Tajuk
Memahami Pemikiran Jenderal Dudung Abdurachman
PERLUNYA MENGUBAH CARA PANDANG PEDAGANG DI LOKASI WISAT...
Berita Populer
Arief Putra Musisi Anyar Indonesia
Ketua Umum GRIB H Hercules Rozario Marshal, Saya Bagian Dari Masyarakat Indramayu
Project Fly High Terinspirasi dari Pengalaman Hidup Dr Joe dan Tamak
Dari Kegiatan Aksi Sosial, Hercules Kukuhkan Ketua DPC GRIB JAYA Se-Jawa Barat
Chief Mate Syaiful Rohmaan
SAU7ANA
GMBI Kawal Kasus Dugaan Penipuan PT. Rifan Financindo Berjangka di PN Bandung
Indramayu Diguncang Gempa Magnitudo 4.4, Kedalaman 280 Kilometer
Ivan Lahardika Arranger dan Komposer Indonesia
SAU7ANA Come Back