Penulis: Drs. Iskandar, M.Pd.
11 Jam lalu, Dibaca : 54 kali
Oleh Drs. Iskandar, M.Pd. (Dewan Pendidikan Kota Cirebon)
Transformasi
pendidikan Indonesia memasuki babak baru. Pembelajaran mendalam (Deep
Learning), kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dan
penguatan kompetensi digital mulai memperoleh perhatian lebih besar dalam
agenda peningkatan mutu pendidikan. Pada 2026, perluasan pelatihan guru dalam
pembelajaran mendalam, koding, dan AI menjadi salah satu langkah untuk
mempersiapkan pendidikan menghadapi perubahan zaman.
Langkah tersebut
patut diapresiasi. Namun, ada satu pertanyaan mendasar yang tidak boleh
diabaikan: apakah berbagai program tersebut benar-benar mengubah cara guru
mengajar dan cara siswa belajar, atau sekadar menambah jumlah peserta
pelatihan, perangkat digital, dan aplikasi yang digunakan di sekolah?
Pertanyaan ini
penting karena pendidikan tidak dinilai dari kecanggihan sarana yang dimiliki,
melainkan dari kualitas kompetensi yang tumbuh pada peserta didik. Teknologi
dapat membuat pembelajaran terlihat modern, tetapi belum tentu membuat siswa
lebih memahami materi, lebih kritis dalam berpikir, atau lebih mandiri dalam
memecahkan persoalan.
Di sinilah
tantangan sesungguhnya: memastikan bahwa Deep Learning dan AI menjadi instrumen
transformasi pembelajaran, bukan sekadar tren pendidikan.
Memahami Deep
Learning dan AI secara proporsional
Istilah Deep
Learning perlu dipahami secara tepat. Dalam pendidikan, pembelajaran mendalam
mengacu pada proses belajar yang mendorong siswa memahami konsep secara
bermakna, menghubungkan pengetahuan, menerapkannya dalam situasi baru, serta
merefleksikan proses berpikirnya.
Pengertian
tersebut berbeda dari deep learning dalam bidang kecerdasan buatan, yaitu
teknik pembelajaran mesin yang menggunakan jaringan saraf berlapis untuk
mengenali pola dan mengolah data.
Keduanya dapat
saling mendukung, tetapi tidak boleh dicampuradukkan. Penggunaan AI dalam
pembelajaran tidak otomatis menghasilkan pembelajaran mendalam. Sebaliknya,
siswa tetap dapat belajar secara mendalam melalui eksperimen, diskusi,
penelitian sederhana, pemecahan masalah, dan refleksi tanpa menggunakan
perangkat digital.
Dengan demikian,
teknologi bukanlah tujuan akhir. Tujuan pendidikan tetap membangun manusia yang
berpengetahuan, berkarakter, mampu berpikir kritis, kreatif, dan bertanggung
jawab.
Kesalahan yang
perlu dihindari adalah mengukur kemajuan pendidikan berdasarkan banyaknya
teknologi yang digunakan, bukan berdasarkan kualitas pengalaman belajar yang
dihasilkan.
Dari menerima
jawaban menuju membangun pemahaman
Secara teoritis,
pembelajaran mendalam memiliki hubungan erat dengan konstruktivisme, teori
pembelajaran bermakna, dan metakognisi.
Pemikiran Jean
Piaget dan Lev Vygotsky menekankan pentingnya keterlibatan aktif siswa dalam
membangun pengetahuan melalui pengalaman, interaksi, dan bimbingan. David
Ausubel menjelaskan pentingnya menghubungkan pengetahuan baru dengan
pengetahuan yang telah dimiliki. Sementara itu, John Flavell menempatkan
metakognisi—kemampuan menyadari dan mengatur proses berpikir sendiri—sebagai
unsur penting dalam pembelajaran.
Teori-teori
tersebut memberikan satu pesan yang relevan bagi pendidikan di era AI: siswa
tidak cukup hanya memperoleh jawaban yang benar. Mereka harus memahami mengapa
jawaban itu benar, bagaimana jawaban tersebut diperoleh, bukti apa yang
mendukungnya, dan dalam kondisi apa pengetahuan tersebut dapat diterapkan.
Misalnya, ketika
mempelajari pencemaran sungai, siswa tidak cukup meminta AI membuatkan makalah.
Mereka perlu mengamati kondisi lingkungan, mengumpulkan informasi,
membandingkan sumber, menilai kemungkinan penyebab pencemaran, dan menyusun
kesimpulan berdasarkan bukti.
AI dapat membantu
menjelaskan konsep, menawarkan sudut pandang alternatif, atau memberikan
masukan terhadap argumentasi siswa. Namun, proses pengamatan, verifikasi,
penalaran, dan pertanggungjawaban tetap harus menjadi bagian utama kegiatan
belajar.
Pembelajaran yang
baik bukanlah pembelajaran yang membuat siswa paling cepat memperoleh jawaban,
melainkan pembelajaran yang membuat mereka semakin mampu menemukan, memeriksa,
dan mempertanggungjawabkan jawaban.
AI: mitra berpikir
atau pengganti berpikir?
Kecerdasan buatan
menawarkan peluang besar bagi pendidikan. AI dapat membantu guru menyusun
variasi soal, memberikan alternatif penjelasan, menyiapkan bahan ajar, serta
menyediakan umpan balik awal. Bagi siswa, AI dapat menjadi sarana untuk
memahami konsep sulit, berlatih memecahkan masalah, dan mengevaluasi gagasan.
Namun, manfaat
tersebut tidak datang secara otomatis.
Apabila siswa
menggunakan AI untuk menyalin jawaban tanpa memahami isinya, teknologi justru
berpotensi melemahkan proses belajar. Tugas mungkin selesai lebih cepat, tetapi
kemampuan intelektual yang seharusnya dibangun melalui tugas tersebut belum
tentu berkembang.
OECD (Organization
for conomic Co-operation Development) dalam pembahasannya mengenai
transformasi digital pendidikan, menekankan pentingnya memastikan bahwa
pemanfaatan AI menghasilkan pembelajaran yang nyata, bukan sekadar peningkatan
kinerja pada tugas yang dikerjakan dengan bantuan teknologi.
Karena itu,
sekolah perlu membedakan penggunaan AI yang memperkuat kemampuan berpikir
dengan penggunaan yang menggantikan proses berpikir.
AI digunakan
secara konstruktif apabila siswa menyusun jawaban awal, meminta kritik dari AI,
memeriksa kebenaran informasi, memperbaiki argumentasi, dan menjelaskan kembali
hasilnya menggunakan pemahaman sendiri.
Sebaliknya,
penggunaan menjadi kontraproduktif apabila siswa menyerahkan seluruh proses
penyelesaian tugas kepada AI, sedangkan guru hanya menilai hasil akhir tanpa
mengetahui bagaimana hasil itu diperoleh.
Prinsip yang perlu
dikembangkan sederhana: berpikir dahulu, gunakan AI untuk menguji pemikiran,
kemudian verifikasi dan simpulkan secara mandiri.
Prinsip ini bukan
bentuk penolakan terhadap teknologi. Justru inilah cara agar teknologi
memperkuat kapasitas manusia, bukan membuat manusia kehilangan kesempatan untuk
mengembangkan kemampuannya sendiri.
Guru tetap menjadi
penentu utama
Perluasan
pelatihan pembelajaran mendalam, koding, dan AI bagi guru pada 2026 merupakan
langkah yang relevan. Namun, pelatihan tidak boleh diperlakukan sebagai tujuan
akhir.
Sertifikat
pelatihan menunjukkan bahwa seorang guru telah mengikuti atau menyelesaikan
kegiatan tertentu. Sertifikat itu sendiri belum membuktikan bahwa guru mampu
mengubah praktik pembelajaran, merancang tugas autentik, menilai kemampuan
berpikir kritis, atau membimbing siswa menggunakan AI secara bertanggung jawab.
Transformasi
pembelajaran membutuhkan lebih dari sekadar penguasaan aplikasi. Guru perlu
memiliki kompetensi pedagogis, literasi digital, kemampuan merancang asesmen,
pemahaman etika AI, dan keterampilan mengevaluasi hasil belajar.
Guru juga harus
mampu menentukan kapan AI bermanfaat, kapan siswa perlu mengerjakan tugas
secara mandiri, serta kapan interaksi langsung, eksperimen, diskusi, dan
penjelasan guru lebih tepat digunakan.
Karena itu, model
pelatihan perlu bergeser dari pendekatan yang berorientasi pada penyampaian
materi menuju pendekatan berbasis praktik. Guru tidak cukup mempelajari teori
pembelajaran mendalam dan cara menggunakan AI. Mereka perlu merancang
pembelajaran, mengujicobakannya di kelas, mengamati respons siswa, menilai
hasilnya, dan memperbaiki rancangan berdasarkan bukti.
Kepala sekolah,
pengawas, dinas pendidikan, dan komunitas belajar guru harus mendukung proses
tersebut. Guru tidak dapat diminta melakukan transformasi secara berkelanjutan
apabila tidak memperoleh waktu, pendampingan, infrastruktur, dan ruang untuk
belajar dari pengalaman.
Dengan kata lain,
keberhasilan pelatihan harus dibuktikan melalui perubahan praktik mengajar dan
perkembangan kemampuan siswa, bukan hanya melalui jumlah peserta dan sertifikat
yang diterbitkan.
Jangan biarkan
kesenjangan digital memperlebar ketidakadilan
Tantangan lain
yang tidak kalah penting adalah kesenjangan digital. Tidak semua sekolah
memiliki koneksi internet yang stabil, perangkat yang memadai, dukungan teknis,
dan guru dengan tingkat literasi digital yang sama. Kondisi ekonomi keluarga
juga memengaruhi kemampuan siswa mengakses perangkat dan layanan AI.
Kesenjangan ini
berpotensi menciptakan ketidakadilan baru. Siswa di sekolah dengan fasilitas
lengkap dapat memperoleh lebih banyak kesempatan untuk berlatih menggunakan
teknologi, sedangkan siswa di sekolah yang tertinggal harus menghadapi
keterbatasan yang tidak mereka ciptakan sendiri.
Oleh karena itu,
transformasi digital tidak boleh dibangun dengan asumsi bahwa semua sekolah
memiliki titik awal yang sama.
Pemerintah perlu
memetakan kesiapan sekolah secara realistis, memperkuat infrastruktur sesuai
kebutuhan, menyediakan dukungan perangkat bagi siswa yang membutuhkan, dan
mengembangkan materi yang dapat digunakan dengan koneksi terbatas atau secara
luring.
Pengadaan
perangkat juga harus mempertimbangkan biaya pemeliharaan, pelatihan, keamanan
data, dan keberlanjutan penggunaan. Perangkat yang mahal tetapi jarang
dimanfaatkan secara pedagogis bukanlah bukti keberhasilan transformasi.
Yang lebih
mendasar, penggunaan AI tidak boleh menjadi persyaratan tersembunyi dalam
penyelesaian tugas apabila tidak semua siswa memiliki akses yang setara.
Hak memperoleh
pendidikan bermutu tidak boleh bergantung pada kemampuan ekonomi keluarga atau
kualitas jaringan internet di tempat tinggal siswa.
Etika AI harus
menjadi bagian dari pendidikan karakter
Keterampilan
menggunakan AI perlu disertai tanggung jawab moral dan akademik.
Siswa harus
memahami bahwa AI dapat menghasilkan informasi yang salah, mengandung bias,
atau menyajikan pernyataan yang terdengar meyakinkan tetapi tidak memiliki
dasar yang kuat. Mereka juga perlu mengetahui pentingnya menjaga privasi,
menghormati hak cipta, mencantumkan sumber, dan mematuhi aturan penggunaan AI
dalam tugas sekolah.
Sekolah perlu
mengembangkan pedoman yang jelas: tugas mana yang memperbolehkan AI, tugas mana
yang membatasi penggunaannya, dan tugas mana yang harus dikerjakan secara
mandiri.
Guru pun perlu
memberikan keteladanan. Penggunaan AI untuk membantu menyiapkan bahan ajar tidak
membebaskan guru dari kewajiban memeriksa kebenaran isi, kesesuaian materi, dan
kemungkinan bias.
Pendidikan AI pada
akhirnya bukan sekadar mengajarkan siswa menjadi pengguna teknologi yang
terampil. Pendidikan harus membentuk manusia yang mampu menggunakan teknologi
secara kritis, jujur, adil, dan bertanggung jawab.
Kecakapan teknis
tanpa integritas dapat melahirkan penyalahgunaan teknologi. Sebaliknya,
integritas yang disertai literasi digital akan membantu siswa menghadapi
perubahan dengan lebih bijaksana.
Ukur dampak, bukan
sekadar aktivitas
Persoalan penting
dalam implementasi kebijakan pendidikan adalah bagaimana membuktikan bahwa
suatu program benar-benar memberikan manfaat.
Jumlah peserta
pelatihan, jumlah perangkat, jumlah akun AI, dan jumlah sekolah yang mengikuti
program merupakan indikator pelaksanaan. Namun, indikator tersebut tidak cukup
untuk menunjukkan peningkatan kualitas belajar.
Evaluasi harus
menjawab pertanyaan yang lebih mendasar. Apakah pemahaman konsep siswa
meningkat? Apakah mereka lebih mampu menjelaskan alasan di balik jawaban?
Apakah mereka mampu menerapkan pengetahuan dalam situasi baru? Apakah kemampuan
berpikir kritis dan kemandirian mereka berkembang? Apakah manfaat program
dirasakan oleh siswa di sekolah dengan kondisi akses yang berbeda?
Untuk menjawabnya,
sekolah perlu menggunakan asesmen awal dan akhir, tugas autentik, observasi
pembelajaran, portofolio, wawancara, serta penilaian kemampuan siswa
menyelesaikan masalah tanpa bantuan AI.
Penilaian juga
harus membedakan kemampuan siswa ketika bekerja secara mandiri dan ketika
menggunakan AI. Perbandingan ini dapat membantu guru mengetahui apakah
teknologi benar-benar memperkuat penguasaan materi atau hanya mempermudah
penyelesaian tugas.
Evaluasi berkala
diperlukan untuk mengetahui apakah pemahaman bertahan dalam jangka waktu
tertentu. Jika memungkinkan, perbandingan dengan kelompok atau kelas yang
setara dapat membantu memperkirakan dampak program, dengan tetap memperhatikan
kondisi awal dan keadilan bagi peserta didik.
Apabila penggunaan
AI meningkat, tetapi pemahaman konsep dan kemandirian siswa tidak menunjukkan
perbaikan, sekolah harus berani mengevaluasi desain pembelajaran. Solusinya
bukan selalu menambah aplikasi atau memperbanyak pelatihan, melainkan
memperbaiki cara teknologi digunakan.
Agenda pembenahan:
dari kebijakan menuju perubahan nyata
Agar transformasi
pembelajaran memberikan hasil yang berkelanjutan, setidaknya ada lima agenda
yang perlu diprioritaskan.
Pertama, menjadikan hasil
belajar siswa sebagai ukuran utama keberhasilan program. Evaluasi harus menilai
pemahaman, kemampuan menerapkan pengetahuan, berpikir kritis, dan kemandirian.
Kedua, mengubah
pelatihan guru menjadi proses pengembangan kompetensi yang berkelanjutan.
Setiap pelatihan perlu diikuti praktik di kelas, pendampingan, refleksi, dan
perbaikan pembelajaran.
Ketiga, mengembangkan
tugas autentik yang menghubungkan pembelajaran dengan persoalan nyata. Siswa
harus dilatih menggunakan pengetahuan untuk menganalisis masalah, menguji
bukti, merancang solusi, dan mempertanggungjawabkan kesimpulan.
Keempat, menetapkan
kebijakan penggunaan AI yang menjamin keamanan data, integritas akademik,
transparansi, dan kesesuaian dengan usia siswa.
Kelima, memastikan
pemerataan akses melalui pemetaan kesiapan sekolah, dukungan infrastruktur,
materi luring, dan pendampingan sesuai kebutuhan. Program harus diperluas
berdasarkan bukti manfaat dan kesiapan, bukan semata-mata karena tuntutan
mengikuti tren.
Pemerintah pusat
perlu menyediakan arah kebijakan dan standar evaluasi. Pemerintah daerah dan
dinas pendidikan harus menyesuaikan implementasi dengan kondisi lokal. Kepala
sekolah perlu memastikan perubahan terjadi dalam praktik pembelajaran,
sedangkan guru menjadi pelaksana utama yang mengintegrasikan teknologi dengan
kebutuhan siswa.
Masyarakat dan
Dewan Pendidikan juga dapat berperan melalui pemantauan, penyampaian aspirasi,
evaluasi pemerataan, serta rekomendasi kebijakan berbasis bukti.
Dalam konteks
daerah, pembelajaran bahkan dapat memanfaatkan persoalan lokal sebagai sumber
belajar. Isu lingkungan, sampah, budaya, sejarah, ekonomi masyarakat, dan
pelayanan publik dapat menjadi bahan tugas autentik. AI membantu siswa menyusun
pertanyaan dan membandingkan informasi, tetapi data lapangan, pengalaman
masyarakat, dan penalaran siswa tetap menjadi dasar kesimpulan.
Dengan demikian,
teknologi tidak menjauhkan pendidikan dari kehidupan nyata. Sebaliknya,
teknologi membantu siswa memahami lingkungannya secara lebih mendalam.
Penutup: teknologi
harus memperkuat manusia
Deep Learning dan
AI membuka peluang besar untuk memperbaiki pendidikan Indonesia. Namun, peluang
itu hanya akan menjadi kemajuan apabila teknologi ditempatkan dalam kerangka
pedagogis yang tepat, didukung guru yang kompeten, diakses secara adil, dan dievaluasi
berdasarkan hasil belajar.
Pembelajaran
mendalam memberi arah tentang kualitas belajar yang hendak dicapai. AI
menyediakan sarana untuk memperkaya prosesnya. Guru memastikan bahwa keduanya
menghasilkan pengalaman belajar yang bermakna, sedangkan evaluasi memastikan
bahwa perubahan benar-benar terjadi.
Pendidikan tidak
boleh terjebak pada anggapan bahwa semakin banyak teknologi digunakan, semakin
tinggi pula mutu pembelajaran. Teknologi yang digunakan tanpa tujuan pedagogis
yang jelas dapat menghasilkan pekerjaan yang lebih cepat tanpa menjamin pemahaman
yang lebih baik.
Karena itu,
keberhasilan transformasi harus dilihat dari empat hal: meningkatnya kompetensi
guru, semakin mendalamnya pemahaman siswa, semakin meratanya kesempatan
belajar, dan semakin kuatnya kemampuan berpikir mandiri.
AI boleh membantu
siswa menemukan jawaban. Namun, siswa harus tetap mampu mempertanyakan jawaban,
memeriksa kebenarannya, menjelaskan alasannya, dan bertanggung jawab atas
kesimpulannya.
Pada akhirnya, ukuran
kemajuan pendidikan bukanlah seberapa canggih teknologi yang masuk ke ruang
kelas, melainkan seberapa kuat kemampuan berpikir, karakter, dan kemandirian
yang tumbuh di dalam diri setiap peserta didik.
Transformasi pendidikan
yang sesungguhnya bukan sekadar digitalisasi pembelajaran. Ia adalah upaya
memanusiakan pembelajaran melalui pemanfaatan teknologi secara cerdas, adil,
kritis, dan bertanggung jawab.
Tag : No Tag
Berita Terkait
Rehat
Tajuk
Memahami Pemikiran Jenderal Dudung Abdurachman
PERLUNYA MENGUBAH CARA PANDANG PEDAGANG DI LOKASI WISAT...
Berita Populer
Arief Putra Musisi Anyar Indonesia
Ketua Umum GRIB H Hercules Rozario Marshal, Saya Bagian Dari Masyarakat Indramayu
Project Fly High Terinspirasi dari Pengalaman Hidup Dr Joe dan Tamak
Dari Kegiatan Aksi Sosial, Hercules Kukuhkan Ketua DPC GRIB JAYA Se-Jawa Barat
Chief Mate Syaiful Rohmaan
SAU7ANA
GMBI Kawal Kasus Dugaan Penipuan PT. Rifan Financindo Berjangka di PN Bandung
Indramayu Diguncang Gempa Magnitudo 4.4, Kedalaman 280 Kilometer
Ivan Lahardika Arranger dan Komposer Indonesia
SAU7ANA Come Back