Editor: Idris Apandi
21 Jam lalu, Dibaca : 75 kali
Praktik baik pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas VI-A SD
Negeri Batujajar 2, Kabupaten Bandung Barat
Editor:
Idris Apandi, Widyaprada Ahli Madya BBPMP Provinsi Jawa Barat, Fasilitator
Nasional Literasi dan Numerasi Kemendikdasmen
Membaca Cerita, Menyelami
Makna, dan Menumbuhkan Empati
Kemampuan literasi tidak cukup diukur dari kelancaran
murid membaca teks atau kemampuan mereka menjawab pertanyaan berdasarkan
bacaan. Literasi yang kuat tercermin dari kemampuan murid memahami informasi
secara mendalam, menganalisis persoalan, menemukan bukti dalam teks,
menafsirkan makna, serta menggunakan informasi untuk mengambil keputusan dan
menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks pembelajaran di sekolah dasar, penguatan
literasi membutuhkan strategi yang tidak hanya membuat murid membaca, tetapi
juga mendorong mereka berpikir, berdiskusi, bertanya, dan merefleksikan apa
yang telah dipelajari. Guru perlu menghadirkan pengalaman belajar yang dekat
dengan kehidupan murid, memanfaatkan teknologi secara tepat, dan memberikan
kesempatan kepada setiap murid untuk berkembang sesuai dengan kemampuan
awalnya.
Berangkat dari pemikiran tersebut, Reni Lestari, S.Pd.,
Gr., guru kelas VI-A SD Negeri Batujajar 2, Kabupaten Bandung Barat,
melaksanakan praktik baik penguatan literasi melalui analisis teks narasi,
pemanfaatan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dan pengerjaan Lembar Kerja
Peserta Didik (LKPD). Kegiatan yang dilaksanakan pada Oktober 2026 ini menjadi
bagian dari upaya penguatan mutu pembelajaran pascapendampingan Sistem
Penjaminan Mutu Internal (SPMI), literasi dan numerasi (Litnum), serta
digitalisasi pembelajaran. Praktik ini secara khusus diarahkan untuk mengatasi
kesenjangan kemampuan membaca pemahaman.
Melalui kegiatan tersebut, pembelajaran Bahasa Indonesia
tidak lagi sekadar berfokus pada kegiatan membaca dan menjawab soal. Murid
diajak memasuki dunia cerita, memahami karakter tokoh, menelusuri konflik,
menemukan makna kosakata, dan merumuskan solusi terhadap persoalan sosial yang
mereka temukan dalam bacaan.

|
Gambar 1. Reni Lestari, S.Pd., Gr., guru kelas
VI-A SD Negeri Batujajar 2, Kabupaten Bandung Barat sedang menyampaikan
materi. (Dok. SDN Batujajar 2, 2026). |
Berawal dari Kesenjangan Kemampuan Membaca Pemahaman
Salah satu tantangan dalam pembelajaran literasi adalah
membantu murid bergerak dari sekadar memahami informasi tersurat menuju
kemampuan menafsirkan informasi, menghubungkan sebab dan akibat, serta menarik
kesimpulan berdasarkan bukti.
Murid mungkin dapat menceritakan kembali isi sebuah
cerpen, tetapi belum tentu mampu menjelaskan mengapa seorang tokoh bertindak
dengan cara tertentu. Mereka mungkin mengetahui bahwa tokoh sedang menghadapi
masalah, tetapi masih kesulitan mengidentifikasi penyebab konflik, memahami
perasaan tokoh, atau menawarkan penyelesaian yang sesuai.
Tantangan tersebut menuntut guru merancang pembelajaran
yang memberikan ruang lebih luas bagi aktivitas berpikir tingkat tinggi.
Membaca harus menjadi pintu masuk untuk menganalisis, mengevaluasi, dan
membangun pemahaman yang lebih mendalam.
Guru mengajarkan materi pada Bab 1, Aku Anak Indonesia,
dengan menggunakan cerpen berjudul "Aku Anak Indonesia". Cerita
tersebut menjadi bahan untuk mengembangkan kemampuan membaca pemahaman
sekaligus menumbuhkan karakter penalaran kritis, kolaborasi, dan empati.
Tujuan pembelajaran dirancang agar murid mampu
menganalisis watak dan perasaan tokoh, mengidentifikasi konflik cerita, serta
menyusun gagasan solusi yang menunjukkan kepedulian terhadap orang lain. Dengan
demikian, pembelajaran literasi tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan
kebahasaan, tetapi juga menyentuh pembentukan karakter.
Merancang Pembelajaran
yang Berkesadaran, Bermakna, dan Menggembirakan
Sebelum
pembelajaran berlangsung, guru menyiapkan modul ajar, slide interaktif
menggunakan Canva dengan tema Petualangan Garudaku, LKPD , serta perangkat
pendukung berupa proyektor dan papan interaktif digital. KBBI Daring dan Luring
juga disiapkan sebagai sumber belajar untuk membantu murid memahami kosakata
yang belum mereka kenal.
Perencanaan
ini mengintegrasikan teknologi digital dengan pendekatan Deep Learning yang
menekankan tiga prinsip, yaitu berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful),
dan menggembirakan (joyful).
Ketiga
prinsip tersebut bukan sekadar istilah yang dicantumkan dalam modul ajar.
Prinsip-prinsip itu perlu terlihat dalam pengalaman belajar yang benar-benar
dirasakan murid.
Pembelajaran diawali dengan pembiasaan membaca selama 25
menit melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Kegiatan ini memberikan
kesempatan kepada murid untuk membangun kebiasaan membaca, memperluas wawasan,
dan mempersiapkan diri sebelum memasuki kegiatan inti.
Selanjutnya, guru mengajak murid melakukan pengondisian
pernapasan sebagai bagian dari latihan berkesadaran. Kegiatan ini membantu
menciptakan suasana belajar yang lebih siap dan terarah. Setelah itu, kuis
karakter digunakan untuk membangun suasana menggembirakan dan meningkatkan
keterlibatan murid.
Tahapan pembuka tersebut memperlihatkan bahwa kesiapan
belajar tidak hanya berkaitan dengan penguasaan materi. Kondisi emosional,
perhatian, dan suasana kelas juga perlu diperhatikan agar murid dapat terlibat
secara optimal.
Prinsip menggembirakan bukan berarti pembelajaran harus
selalu dipenuhi permainan. Intinya adalah menciptakan pengalaman belajar yang
menarik, aman, dan memberikan kesempatan kepada murid untuk berpartisipasi
secara aktif.
Sementara itu, pembelajaran bermakna diwujudkan dengan
menghubungkan pemahaman terhadap cerita dengan situasi kehidupan nyata,
khususnya ketika murid perlu memahami keadaan orang lain dan memikirkan
tindakan yang dapat membantu mereka.
Membaca Cerpen untuk
Melatih Penalaran Kritis
Setelah
kegiatan pembuka, murid membaca cerpen "Aku Anak Indonesia". Mereka
kemudian diajak mendiskusikan watak tokoh, perasaan yang dialami tokoh, dan
masalah utama yang muncul dalam cerita.
Dalam
kegiatan ini, guru tidak cukup hanya meminta murid menyebutkan bahwa seorang
tokoh memiliki sifat tertentu. Murid perlu diarahkan untuk menjelaskan alasan
di balik penilaiannya. Bukti dari cerita menjadi dasar untuk memperkuat
jawaban.
Misalnya,
ketika murid menafsirkan watak seorang tokoh, mereka perlu menunjukkan
tindakan, ucapan, atau peristiwa dalam cerita yang mendukung kesimpulan
tersebut. Dengan cara ini, pendapat tidak sekadar didasarkan pada dugaan atau
kesan pribadi, melainkan pada informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Aktivitas tersebut merupakan bagian penting dari
penguatan penalaran kritis. Murid belajar membedakan antara pendapat dan bukti,
menghubungkan informasi, serta menyusun kesimpulan berdasarkan hasil pembacaan.
Diskusi kelompok heterogen menjadi strategi untuk
memperkaya proses tersebut. Murid dengan kemampuan yang beragam diberi
kesempatan untuk saling bertukar gagasan, menyampaikan pemahaman, dan membantu
teman yang mengalami kesulitan.
Guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan
diskusi, mengajukan pertanyaan pemantik, dan memberikan dukungan sesuai
kebutuhan murid. Pendampingan diberikan terutama kepada murid yang masih
mengalami kesulitan menghubungkan watak tokoh dengan rangkaian peristiwa dalam
cerita.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa pembelajaran literasi
yang efektif bukan sekadar memberikan tugas yang sama kepada semua murid,
melainkan memastikan setiap murid memperoleh dukungan yang diperlukan untuk
mencapai tujuan pembelajaran.
KBBI Daring: Teknologi untuk Memperdalam Pemahaman
Salah satu bagian menarik dari praktik baik ini adalah
pemanfaatan KBBI Daring dan Luring sebagai sumber belajar. Kamus tidak hanya
digunakan untuk mencari arti kata, tetapi juga untuk membantu murid memahami
teks secara lebih tepat.
Dalam kegiatan pembelajaran, murid menelusuri makna kata
serapan, antara lain aklimatisasi dan adaptasi. Mereka kemudian menyusun
kalimat menggunakan kosakata tersebut sesuai dengan pemahamannya.
Kegiatan ini mengembangkan beberapa keterampilan
sekaligus. Murid belajar mengenali kosakata baru, melakukan pencarian
informasi, memahami makna kata berdasarkan sumber rujukan, dan menerapkan
pengetahuan kebahasaan dalam kalimat.
Pemanfaatan teknologi digital juga memberikan pengalaman bahwa perangkat digital dapat digunakan untuk belajar secara produktif. Canva membantu menghadirkan materi secara visual dan interaktif, sedangkan KBBI Daring mendukung kegiatan eksplorasi bahasa.

|
Gambar 2.
Guru mendampingi murid saat menggunakan KBBI daring dengan menggunakan gawai.
(Dok. SDN Batujajar 2, 2026). |
Namun, teknologi bukan tujuan akhir pembelajaran.
Keberhasilannya ditentukan oleh sejauh mana teknologi membantu murid memahami
materi, memperluas akses terhadap informasi, dan meningkatkan kualitas proses
berpikir.
Guru juga menemukan tantangan berupa keterbatasan waktu
ketika murid mencari arti kata secara mandiri. Untuk mengatasinya, guru
menerapkan teknik membaca memindai (scanning) agar murid dapat menemukan
informasi yang dibutuhkan dengan lebih cepat.
Pengalaman ini memberikan pelajaran bahwa integrasi
digitalisasi memerlukan strategi penggunaan yang jelas. Murid perlu dibimbing
agar mampu menggunakan perangkat dan sumber digital secara efektif, bukan
sekadar mengoperasikannya.
LKPD sebagai Jembatan
antara Membaca dan Berpikir
Penggunaan LKPD menjadi bagian penting dalam mengarahkan
aktivitas murid. Melalui lembar kerja tersebut, kegiatan membaca dan diskusi
memiliki fokus yang jelas, yaitu menganalisis watak tokoh Hana serta
mengidentifikasi masalah utama dalam cerita.
LKPD membantu murid mengorganisasi informasi, mencatat
hasil pemikiran, dan menyusun jawaban secara terstruktur. Bagi guru, hasil
pekerjaan murid dapat menjadi sumber informasi untuk mengetahui sejauh mana
tujuan pembelajaran telah tercapai.
Meskipun demikian, LKPD yang baik tidak seharusnya hanya
berisi pertanyaan yang menuntut jawaban singkat. Pertanyaan perlu mendorong
murid menemukan bukti, menjelaskan alasan, menghubungkan informasi, dan
merumuskan kesimpulan.
Dalam praktik ini, proses pembelajaran juga diarahkan
pada penyusunan solusi empatik bagi murid baru. Murid tidak hanya diminta
memahami persoalan yang dialami tokoh, tetapi juga memikirkan tindakan yang
dapat dilakukan untuk membantu orang lain.
Di sinilah literasi terhubung dengan pendidikan karakter.
Kemampuan memahami cerita berkembang menjadi kesempatan untuk belajar
menempatkan diri pada situasi orang lain, mempertimbangkan perasaan mereka, dan
menawarkan solusi yang menunjukkan kepedulian.
Dengan demikian, pembelajaran Bahasa Indonesia dapat menjadi ruang untuk mengembangkan penalaran kritis sekaligus empati sosial.

|
Gambar 3. Guru mendampingi murid saat mengerjakan LKPD.
(Dok. SDN Batujajar 2, 2026). |
Kolaborasi dan Pendampingan untuk Mengatasi Kesulitan Belajar
Pelaksanaan pembelajaran tidak selalu berjalan tanpa
hambatan. Sebagian kecil murid dengan kemampuan awal sedang hingga rendah masih
membutuhkan bantuan untuk menghubungkan watak tokoh dengan alur cerita. Selain
itu, pencarian kosakata secara mandiri membutuhkan waktu yang cukup banyak.
Guru
merespons tantangan tersebut melalui dua strategi. Pertama, memberikan
pendampingan langsung atau tutoring kepada kelompok yang memerlukan bantuan
tambahan. Kedua, menerapkan peer tutoring atau tutor sebaya dalam kelompok
heterogen.
Strategi
tutor sebaya memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar bersama. Murid
yang telah memahami materi dapat membantu temannya, sedangkan murid yang
mengalami kesulitan memperoleh penjelasan dengan cara yang mungkin lebih mudah
mereka pahami.
Di
sisi lain, guru tetap perlu memantau proses tersebut agar bantuan yang
diberikan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Kolaborasi bukan berarti
menyerahkan seluruh tanggung jawab pembelajaran kepada murid, melainkan
membangun lingkungan belajar yang memungkinkan mereka saling mendukung.
Pengalaman ini menegaskan bahwa perbedaan kemampuan awal
bukan alasan untuk membatasi kesempatan belajar. Justru, guru perlu merancang
dukungan yang memungkinkan setiap murid berkembang secara bertahap.
Hasil Pelaksanaan dan Refleksi Pembelajaran
Evaluasi dilakukan melalui telaah RPP atau modul ajar,
pengisian Lembar Observasi Praktik Pembelajaran dalam kegiatan microteaching,
serta pencatatan refleksi perbaikan pembelajaran bersama observer.
Berdasarkan catatan hasil kegiatan, skor keterlaksanaan
pembelajaran mencapai skor maksimal 4 atau kategori sangat kuat/efektif pada
aspek tujuan pembelajaran, penerapan kemampuan berpikir tingkat tinggi (C4-C5),
keaktifan murid, scaffolding, umpan balik, dan refleksi.
Pada asesmen formatif melalui LKPD, lebih dari 75% murid
mencapai kriteria baik atau sangat baik dalam menganalisis watak tokoh Hana dan
masalah utama cerita. Sementara itu, seluruh kelompok murid berhasil menemukan
makna kata serapan aklimatisasi dan adaptasi melalui KBBI Daring serta menyusun
kalimat terstruktur.
Hasil
tersebut memberikan gambaran positif tentang keterlaksanaan pembelajaran dan
capaian murid pada indikator yang diamati. Namun, untuk memastikan peningkatan
kemampuan literasi secara berkelanjutan, sekolah tetap perlu melakukan
pemantauan melalui asesmen lanjutan dan membandingkan hasil belajar dari waktu
ke waktu.
Refleksi
bersama observer juga menjadi bagian penting dari perbaikan pembelajaran. Guru
tidak hanya menilai hasil pekerjaan murid, tetapi juga menelaah efektivitas
strategi yang digunakan, kecukupan alokasi waktu, kualitas pendampingan, dan
keterlibatan murid selama proses belajar.
Dengan demikian, refleksi tidak berhenti pada pertanyaan apakah pembelajaran telah terlaksana, tetapi berkembang menjadi pertanyaan yang lebih mendasar: bagian mana yang sudah efektif, murid mana yang masih membutuhkan dukungan, dan perubahan apa yang perlu dilakukan pada pembelajaran berikutnya?

|
Gambar
4. Murid mempresentasikan LKPD yang telah dikerjakan pada
diskusi kelompok. (Dok.
SDN Batujajar 2, 2026) |
Menjadikan Praktik Baik
sebagai Budaya Sekolah
Pengalaman
pembelajaran di SD Negeri Batujajar 2 memberikan pelajaran bahwa penguatan
literasi membutuhkan keterpaduan antara kebiasaan membaca, analisis teks,
eksplorasi kosakata, pemanfaatan teknologi, kolaborasi, dan asesmen yang
berorientasi pada proses berpikir murid.
Pendekatan
Deep Learning yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan dapat menjadi
landasan untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih utuh. KBBI membantu
murid memperluas penguasaan kosakata, LKPD mengarahkan aktivitas analisis,
sedangkan diskusi kelompok membuka kesempatan untuk membangun pemahaman
bersama.
Akan
tetapi, keberhasilan satu kegiatan pembelajaran perlu ditindaklanjuti agar
tidak berhenti sebagai pengalaman sesaat. Pembiasaan membaca selama 25 menit perlu dipertahankan.
Teknik membaca memindai perlu terus dilatih. Pendampingan bagi murid yang
membutuhkan bantuan harus dilakukan secara konsisten.
Guru juga merencanakan berbagi praktik baik melalui
Komunitas Belajar (Kombel) sekolah agar strategi yang telah diterapkan dapat
dipelajari dan dikembangkan oleh guru kelas lainnya. Upaya ini diharapkan
mendukung penguatan budaya literasi sekaligus keberlanjutan siklus SPMI di
sekolah.
Penguatan literasi bukan hanya tentang membuat murid
mampu membaca lebih banyak, melainkan membantu mereka memahami lebih dalam,
berpikir lebih kritis, menggunakan informasi secara bertanggung jawab, dan
menunjukkan empati dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika murid membaca cerita lalu mampu menjelaskan alasan
tindakan seorang tokoh, menemukan bukti dalam teks, menggunakan kamus untuk
memahami kata baru, serta merumuskan solusi bagi persoalan yang dialami orang
lain, pembelajaran literasi telah bergerak melampaui kegiatan membaca biasa.
Inilah esensi pembelajaran literasi yang bermakna: murid tidak sekadar membaca untuk mengetahui isi bacaan, tetapi belajar memahami kehidupan melalui bacaan, mengembangkan penalaran melalui bukti, dan menumbuhkan kepedulian melalui pemaknaan.

|
Gambar
5. Jurnal yang dibuat oleh murid setelah membaca sebuah teks. (Dok. SDN
Batujajar 2, 2026) |
Tag : No Tag
Berita Terkait
Rehat
Tajuk
Memahami Pemikiran Jenderal Dudung Abdurachman
PERLUNYA MENGUBAH CARA PANDANG PEDAGANG DI LOKASI WISAT...
Berita Populer
Arief Putra Musisi Anyar Indonesia
Ketua Umum GRIB H Hercules Rozario Marshal, Saya Bagian Dari Masyarakat Indramayu
Project Fly High Terinspirasi dari Pengalaman Hidup Dr Joe dan Tamak
Dari Kegiatan Aksi Sosial, Hercules Kukuhkan Ketua DPC GRIB JAYA Se-Jawa Barat
Chief Mate Syaiful Rohmaan
SAU7ANA
GMBI Kawal Kasus Dugaan Penipuan PT. Rifan Financindo Berjangka di PN Bandung
Indramayu Diguncang Gempa Magnitudo 4.4, Kedalaman 280 Kilometer
Ivan Lahardika Arranger dan Komposer Indonesia
SAU7ANA Come Back