Loading

Mengungkap Rahasia Cinta, Kekuatan Sejati di Balik Ilmu dan Kehidupan


Penulis: Temy Yulianti, S.Pd., M.Pd.
3 Bulan lalu, Dibaca : 309 kali


Temy Yulianti, S.Pd., M.Pd.

(Refleksi Tentang Ruang Lingkup Pertama Kurikulum Berbasis Cinta: Discovery)  


Oleh Temy Yulianti, S.Pd., M.Pd.

(Wakil Kepala Bidang Akademik MAN 20 Jakarta)

 

Panduan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang disusun oleh Direktorat KSKK Madrasah, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia menggunakan kerangka kerja perubahan yang disebut Appreciative Inquiry (AI).

Pendekatan ini berfokus pada kekuatan, keberhasilan, dan potensi terbaik yang dimiliki. bukan pada masalah atau kekurangan. Alur ini disingkat menjadi 4D, yang merupakan singkatan dari : Discovery, Dream, Design  dan Destiny atau Delivery.

Refleksi awal yang coba penulis jabarkan adalah Discovery. Kurikulum Berbasis Cinta, untuk selanjutnya akan disingkat dengan KBC lahir dari sebuah kesadaran bahwa dunia kita sedang mengalami "kekurangan gizi" kasih sayang yang menyebabkan berbagai krisis. Oleh karena itu, fase Discovery (Pencarian) mengajak kita untuk menyelami dan memahami betul apa itu cinta sebelum kita mulai belajar.

Konsep Cinta

Cinta adalah perekat dan kekuatan yang menyatukan seluruh aspek kehidupan kita—mulai dari perasaan di hati, hubungan sosial, hingga hubungan kita dengan Tuhan (spiritual).

KBC bukanlah sekadar kebaruan administratif, melainkan sebuah lompatan konseptual dan spiritual menuju paradigma pendidikan masa depan. Demikian narasi sambutan Bapak Menteri Agama, Nasaruddin Umar dalam panduan sosialisasi KBC ini.

Kurikulum ini bukan sekadar seperangkat perangkat ajar, melainkan filosofi hidup yang menempatkan cinta Tuhan, ilmu, lingkungan, diri dan sesama manusia, serta tanah air sebagai fondasi utama pendidikan.

KBC adalah konsep ilmu yang memandang cinta sebagai kekuatan dasar yang menyatukan seluruh alam semesta. Konsep ini dibangun di atas tiga pilar utama: Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi.

1. Cara Pandang terhadap Hakikat (Ontologi)

KBC mengajarkan bahwa Tuhan, manusia, dan alam semesta adalah satu kesatuan utuh yang tidak bisa dipisahkan. Semua terhubung erat oleh cinta.  Dalam pandangan ini, mencintai Tuhan tidak bisa dipisahkan dari mencintai ciptaan-Nya (manusia dan alam). Jika salah satunya dirusak, maka yang lain ikut terluka.

Selain itu, menghargai semua agama, suku, dan latar belakang adalah bentuk implementasi ontologi, karena kita meyakini bahwa semua adalah bagian dari ciptaan Tuhan yang sama dan harus saling mencintai.

2. Cara Kita Belajar dan Memahami (Epistemologi)

Dalam pandangan KBC, seluruh alam semesta, termasuk diri kita, adalah tanda-tanda kebesaran Tuhan yang harus kita pelajari. Belajar harus dilakukan secara utuh, tidak terpisah-pisah. Contoh nyatanya: Seorang guru Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) tidak hanya menjelaskan teori fotosintesis di dalam kelas, tetapi mengajak siswa belajar langsung di kebun sekolah. Siswa diajak untuk menyentuh tanah, mengamati proses tanaman tumbuh, dan merasakan sendiri bahwa alam adalah guru terbaik. Ini mendorong siswa untuk tidak hanya sekadar tahu, tapi juga merasakan keterkaitan mendalam antara ilmu dan kehidupan.

3. Penerapan dalam Sikap dan Perilaku (Aksiologi)

Manusia harus menggunakan ilmu dan kekuatannya untuk menciptakan kebaikan, keindahan, dan keseimbangan (tawazun) di alam semesta. Contoh nyatanya: Ketika berada di madrasah, siswa aktif dalam program pengelolaan sampah 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Ini bukan sekadar tugas, melainkan tindakan nyata dari etika cinta lingkungan. Mereka memilih menggunakan botol minum isi ulang daripada botol plastik sekali pakai sebagai bentuk tanggung jawab bahwa alam yang diciptakan untuk kita harus dipelihara, bukan dieksploitasi sesuka hati.

Konsep Iman dan Tiga Kerangka Filosofis KBC

Sesungguhnya ada kesamaan antara Konsep Iman dan Tiga Pilar Filosofis KBC Konsep iman, yang didefinisikan sebagai meyakini dalam hati (I'tiqad bil Qolbi), mengikrarkan dengan lisan (Iqrar bil lisan), dan mengamalkan dengan anggota badan (‘Amalu bil Arkan), memiliki kemiripan fundamental dengan tiga kerangka filosofis Kurikulum Berbasis Cinta (KBC): Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi.

Meskipun yang pertama adalah kerangka teologis (agama) dan yang kedua adalah kerangka kurikuler (pendidikan), KBC sesungguhnya menggunakan tiga kerangka filosofisnya sebagai struktur untuk menerjemahkan dan mengaplikasikan konsep iman ke dalam seluruh proses pendidikan.

1. Keyakinan (Hati) dan Cara Pandang (Ontologi)

Pilar pertama dari iman, meyakini dalam hati (I'tiqad bil Qolbi), sejalan dengan kerangka pertama KBC, Ontologi (Cara Pandang terhadap Realitas). Keduanya berfokus pada keyakinan dan cara pandang dasar yang membentuk kesadaran. Jika dalam iman keyakinannya adalah Tuhan itu Esa dan Maha Pengasih, maka dalam KBC, keyakinan ini diperluas: Tuhan, manusia, dan alam semesta adalah satu kesatuan utuh yang diikat oleh kekuatan cinta. Keyakinan filosofis inilah yang menjadi fondasi bagi seluruh pengetahuan dan tindakan selanjutnya.

2. Pengikraran (Lisan) dan Perolehan Ilmu (Epistemologi)

Pilar kedua iman, mengikrarkan dengan Lisan (Iqrar bil lisan), berhubungan erat dengan kerangka KBC, Epistemologi (cara mempelajari dan memahami ilmu). Setelah keyakinan tertanam dalam hati, lisan mengungkapkannya. Demikian pula dalam KBC. Setelah meyakini kesatuan alam (Ontologi), ilmu pengetahuan (Epistemologi) menjadi sarana untuk memahami, menguji, dan membenarkan (mengikrarkan) hubungan kesatuan tersebut. Ilmu pengetahuan di sini berfungsi sebagai alat untuk memahami tanda-tanda kebesaran Tuhan dan keterikatan segala ciptaan-Nya.

3. Pengamalan (Anggota Badan) dan Etika Perilaku (Aksiologi)

Pilar ketiga iman, mengamalkan dengan anggota badan (‘Amalu bil Arkan), berpadu dengan pilar KBC, Aksiologi (penerapan nilai, eika, dan perilaku). Pilar ini adalah fokus pada tindakan nyata dan implementasi. Jika iman diwujudkan melalui ibadah dan amal saleh, Aksiologi KBC mewujudkannya melalui etika luhur dan penciptaan keseimbangan (tawazun). Ini berarti mengamalkan Panca Cinta (Cinta Lingkungan, Cinta Sesama, dll) dalam setiap tindakan sehari-hari, menjadikan pengetahuan (Epistemologi) sebagai panduan untuk mencapai perilaku yang diridai Tuhan.

Dengan demikian, KBC menggunakan Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi sebagai kerangka kurikuler yang utuh untuk membentuk peserta didik agar tidak hanya meyakini (iman), tetapi juga mampu memahami (ilmu) dan mengamalkan (akhlak) nilai-nilai cinta secara menyeluruh.

Mungkin, seperti inilah hakikat dari fase Discovery. Bagaikan penyelam yang mencari mutiara di dasar samudra yang paling dalam.  Dengan menyelami secara mendalam Konsep Cinta, Tiga Pilar Filosofis, dan keterkaitannya dengan konsep Iman, KBC telah meletakkan fondasi yang kokoh. Tahapan Discovery ini memastikan bahwa langkah selanjutnya dalam alur 4D—yaitu Dream, Design, dan Destiny—akan lahir dari kesadaran spiritual, bukan sekadar kebijakan teknis.

Dengan pondasi cinta yang terpatri kuat, KBC optimis dapat melahirkan generasi madrasah yang tidak hanya unggul secara intelektual (Epistemologi), tetapi juga utuh karakternya, serta memiliki kesadaran penuh akan kesatuan dirinya dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta (Ontologi dan Aksiologi). Inilah makna sesungguhnya dari transformasi pendidikan berbasis cinta. Wallahu a’lam bissawab.

 

 

Tag : No Tag

Berita Terkait