Penulis: Yuni Wulan Dwiyanti
21 Jam lalu, Dibaca : 58 kali
Mahasiswa Sastra Inggris, UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Namun, perjalanan karya tidak berhenti ketika tulisan berhasil
diterbitkan. Ketika publikasi
mahasiswa tersebar di berbagai media dan jurnal, pembaca bisa
kesulitan menemukannya kembali. Karena itu, capaian publikasi tidak hanya
berbicara tentang jumlah, tetapi juga jejak karya.
Persoalan ini bisa dilihat melalui pengalaman Program Studi Sastra
Inggris UIN Bandung, pada 2022 hingga 2023, mahasiswa Sastra Inggris UIN
Bandung mempublikasikan 385 karya
tulis berbahasa Inggris. Jumlah itu terdiri atas 131 karya pada 2022 dan 254 karya pada 2023. Data
tersebut menunjukkan aktivitas menulis mahasiswa yang sudah bergerak melampaui
ruang kelas.
Pemberitaan Media
Gempar menyebut karya
tersebut terbit melalui sejumlah media dan platform. Di antaranya Jurnal
Academia, Medium, Beritadisdik.com, Radarkaur.id, Kumparan,
dan Kompasiana. Publikasi
mahasiswa tersebut berawal dari proses pembelajaran Academic
Writing di lingkungan program studi. Dosen pengampu Academic Writing, Otong Setiawan Djuharie, M.Pd., memberikan
arahan sebelum mahasiswa membawa tulisan menuju ruang publik.
Perkembangan itu berlanjut setelah capaian tersebut. Pada Juli 2025, UIN
Bandung mencatat 99 artikel mahasiswa Sastra Inggris telah terbit di jurnal
nasional terindeks Sinta, Moraref, dan Google Scholar. Artikel tersebut membahas linguistik,
kesusastraan, dan penerjemahan melalui proses penulisan hingga revisi.
Catatan tersebut memperlihatkan bahwa publikasi mahasiswa bukan sekadar aktivitas tambahan
setelah tugas selesai. Tulisan mahasiswa menjadi bagian dari proses belajar
sekaligus pengalaman membawa karya kepada pembaca. Namun, jumlah yang bertambah
juga membuat karya semakin tersebar di berbagai tempat.
Publikasi mahasiswa yang tersebar sebenarnya menunjukkan peluang bagi
kampus untuk memperluas dampak pembelajaran. Tulisan mahasiswa dapat menjadi
bacaan, referensi, sekaligus rekam perjalanan akademik penulisnya Namun, karya
yang berada di banyak media dapat semakin sulit ditemukan setelah beberapa semester.
Pembaca biasanya perlu mengetahui nama penulis atau tempat karya tersebut
pernah diterbitkan.
Masalah serupa tidak hanya berkaitan dengan Sastra Inggris UIN Bandung. Setiap
kampus dengan aktivitas publikasi mahasiswa dapat menghadapi persoalan yang
sama. Karena itu, solusinya dapat diarahkan pada sistem yang membantu pembaca menemukan
karya dari berbagai tempat.
Salah satu bentuknya adalah halaman digital khusus untuk mengumpulkan
jejak publikasi mahasiswa. Model tersebut tidak harus menggantikan media tempat
karya pertama kali diterbitkan. Kampus cukup menyediakan satu halaman yang
mencantumkan nama penulis, judul, tahun terbit, dan jenis publikasi. Tautan
menuju sumber asli juga dapat disertakan agar karya tetap berada di media
asalnya. Dengan cara ini, pembaca memiliki satu pintu untuk menemukan berbagai
karya mahasiswa.
Program Studi Sastra Inggris UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang
menunjukkan salah satu model yang dapat dilihat. Program studi tersebut
menyediakan halaman resmi bernama “Publikasi Mahasiswa” dan mengelompokkan
karya berdasarkan tahun. Halaman itu memuat nama mahasiswa, posisi kontributor,
jenis publikasi, penerbit, judul karya, serta bukti publikasi.
Publikasi mahasiswa kemudian tidak hanya menjadi hasil tugas yang
tersimpan di banyak tempat. Kampus dapat mengubahnya menjadi arsip digital yang
lebih mudah ditelusuri oleh mahasiswa dan masyarakat. Model tersebut juga dapat
diterapkan oleh program studi lain sesuai kebutuhan masing-masing. Tidak semua
kampus harus menggunakan format yang sama selama fungsi utamanya tetap
berjalan.
Pengelolaan tersebut menjadi penting karena nilai sebuah karya tidak
berhenti ketika karya berhasil diterbitkan. Dalam pemberitaan mengenai 385 karya, Dr. Andang Saehu, M.Pd., menekankan
manfaat menulis bagi kemampuan mahasiswa. Ia juga menyebut karya ilmiah dapat
membantu membangun branding image melalui karya yang dibaca publik. Karena
itu, kampus dapat melihat publikasi mahasiswa sebagai bagian dari ekosistem
pembelajaran.
Karya yang berangkat dari tugas kuliah tidak seharusnya berhenti sebagai
arsip pribadi. Karya yang sudah diterbitkan dapat terus memberi manfaat jika
keberadaannya mudah ditemukan. Sistem sederhana berupa satu halaman digital
dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga jejak tersebut. Ketika publikasi
terus bertambah, menjaga jejaknya menjadi bagian penting dari perjalanan
tersebut.
Profil singkat: Saya merupakan mahasiswa aktif Sastra Inggris yang
memiliki ketertarikan pada dunia literasi, penulisan, dan pendidikan. Saya
senang menulis dan mengeksplorasi berbagai isu yang dekat dengan kehidupan
mahasiswa dan lingkungan pendidikan.
Tag : No Tag
Berita Terkait
Rehat
Tajuk
Memahami Pemikiran Jenderal Dudung Abdurachman
PERLUNYA MENGUBAH CARA PANDANG PEDAGANG DI LOKASI WISAT...
Berita Populer
Arief Putra Musisi Anyar Indonesia
Ketua Umum GRIB H Hercules Rozario Marshal, Saya Bagian Dari Masyarakat Indramayu
Project Fly High Terinspirasi dari Pengalaman Hidup Dr Joe dan Tamak
Dari Kegiatan Aksi Sosial, Hercules Kukuhkan Ketua DPC GRIB JAYA Se-Jawa Barat
Chief Mate Syaiful Rohmaan
SAU7ANA
GMBI Kawal Kasus Dugaan Penipuan PT. Rifan Financindo Berjangka di PN Bandung
Indramayu Diguncang Gempa Magnitudo 4.4, Kedalaman 280 Kilometer
Ivan Lahardika Arranger dan Komposer Indonesia
SAU7ANA Come Back