Editor: Idris Apandi
20 Jam lalu, Dibaca : 125 kali
Editor: Idris Apandi (Widyaprada Ahli Madya BBPMP Provinsi Jawa Barat, Fasilitator Nasional Literasi dan Numerasi Kemendikdasmen)
Di
sebuah ruang kelas, sebuah kartu bergambar apel dapat menjadi pintu masuk
menuju dunia pengetahuan. Balok-balok berwarna bukan sekadar mainan, melainkan
sarana untuk mengenal angka dan memahami jumlah. Sementara itu, sebuah gerakan
menunjuk gambar mungkin menjadi cara seorang anak menyampaikan jawaban,
mengungkapkan keinginan, atau menunjukkan bahwa dirinya memahami sesuatu.
Bagi
sebagian orang, membaca berarti melafalkan huruf dan kata, sedangkan berhitung
identik dengan menuliskan angka dan menyelesaikan operasi matematika. Namun,
pembelajaran bagi peserta didik autis dengan hambatan komunikasi nonverbal
mengajarkan kepada kita bahwa literasi dan numerasi memiliki banyak pintu
masuk. Tidak semua anak harus belajar dengan cara yang sama. Ada anak yang
lebih mudah memahami informasi melalui gambar, benda konkret, sentuhan,
gerakan, atau media digital interaktif.
Pemahaman inilah yang menjadi landasan penguatan literasi
dan numerasi di SDLB Autis SLBN Widi Asih, Kabupaten Pangandaran. Melalui
strategi yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik, sekolah berupaya
menghadirkan pembelajaran yang lebih ramah, bermakna, dan mendukung tumbuhnya
kemandirian.
Memahami Anak Sebelum Mengajarkan Pengetahuan
Setiap anak memiliki potensi yang layak dikembangkan.
Tantangannya, potensi tersebut terkadang tidak mudah terlihat apabila
pembelajaran hanya mengandalkan komunikasi lisan, bacaan panjang, atau soal
tertulis yang abstrak.
Sebagian peserta didik autis dengan hambatan nonverbal
memiliki kekuatan dalam mengingat informasi visual. Mereka juga dapat
menunjukkan ketertarikan terhadap tablet, media interaktif, benda berwarna,
serta objek dengan tekstur tertentu. Potensi ini merupakan modal penting untuk
merancang pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Di sisi lain, hambatan komunikasi dapat membuat anak
kesulitan menyampaikan pemahaman, kebutuhan, atau rasa tidak nyaman melalui
ujaran. Konsep abstrak pun dapat terasa lebih sulit apabila tidak dibantu
gambar dan benda nyata. Rentang perhatian yang relatif singkat serta
sensitivitas sensori juga perlu diperhatikan oleh guru.
Karena itu, pembelajaran tidak cukup hanya berorientasi
pada penyampaian materi. Guru perlu terlebih dahulu mengenali cara anak
memahami informasi, merespons instruksi, menunjukkan pilihan, dan
berkomunikasi. Asesmen awal menjadi langkah penting untuk memetakan kemampuan
mengenali gambar, mencocokkan simbol, mengelompokkan benda, menghitung, serta
menentukan bentuk komunikasi yang paling efektif bagi setiap anak.
Dari sinilah pembelajaran yang berpihak pada peserta
didik dimulai: bukan memaksa semua anak mengikuti satu cara belajar, melainkan
menyesuaikan cara mengajar agar setiap anak memperoleh kesempatan untuk
berkembang.
Ketika Lingkungan Sekolah Menjadi Buku Terbuka
Literasi tidak harus selalu dimulai dari buku tebal. Di
sekolah, literasi dapat tumbuh melalui benda-benda yang dijumpai anak setiap
hari. Pintu kelas dapat diberi label gambar dan kata. Tempat mencuci tangan
dilengkapi simbol yang mudah dikenali. Gambar benda dipasangkan dengan tulisan
namanya. Kartu bergambar membantu anak mengenali kebutuhan, aktivitas, dan
lingkungan sekitarnya.
Lingkungan semacam ini menghadirkan pengalaman literasi
yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Anak tidak hanya belajar mengenali
simbol, tetapi juga memahami kegunaannya dalam situasi nyata.
Untuk mendukung numerasi, sekolah dapat menyediakan papan
angka timbul, balok hitung, benda manipulatif, dan busy board numerasi. Anak
berlatih membandingkan jumlah, mengenali warna dan bentuk, serta memasangkan
kumpulan benda dengan simbol angka.
Sudut sensori dan literasi visual juga menjadi bagian
penting dari lingkungan belajar. Ruangan yang tenang, terstruktur, tidak
terlalu menyilaukan, dan relatif minim distraksi membantu anak mengikuti
kegiatan dengan lebih nyaman. Buku bergambar taktil dan benda yang dapat
disentuh memberikan pengalaman belajar melalui lebih dari satu indra.
Lingkungan sekolah pun berubah menjadi ruang belajar yang
hidup. Literasi dan numerasi tidak hanya hadir ketika guru membuka pelajaran,
tetapi juga ketika anak berjalan menuju kantin, menggunakan toilet, memilih
alat belajar, atau mengikuti rutinitas kebersihan diri.
LITNUM-VI: Belajar Melalui Gambar, Sentuhan, dan Pengalaman
Salah satu strategi yang dikembangkan adalah Program
LITNUM-VI, singkatan dari Literasi dan Numerasi Visual Interaktif. Program ini
bertujuan meningkatkan pemahaman simbolik, termasuk makna gambar dan kata,
sekaligus mengembangkan kemampuan numerasi dasar melalui media multisensori.
Pelaksanaannya diawali dengan asesmen untuk mengetahui
minat, kemampuan, dan tingkat pemahaman visual anak. Guru
kemudian menyiapkan jadwal visual, kartu bergambar berbasis PECS (Picture
Exchange Communication System), benda konkret, serta media numerasi yang
sesuai.
Dalam
kegiatan literasi, anak dapat berlatih mengurutkan tiga kartu gambar yang
menggambarkan aktivitas sederhana, misalnya mencuci tangan, makan, kemudian
minum. Kegiatan ini membantu
anak memahami urutan peristiwa melalui representasi visual.
Dalam kegiatan numerasi, anak dapat mengelompokkan balok
berdasarkan warna dan ukuran, kemudian menghitung benda dalam rentang satu
sampai lima. Setelah itu, anak memasangkan jumlah benda dengan kartu angka yang
sesuai.
Guru
memberikan contoh terlebih dahulu (modeling), kemudian membimbing anak
secara bertahap (prompting). Ketika kemampuan anak berkembang, bantuan
dikurangi secara perlahan (fading) agar anak memiliki kesempatan
melakukan kegiatan secara lebih mandiri.
Kemajuan tidak selalu ditunjukkan melalui jawaban lisan.
Ketepatan menunjuk gambar, memilih kartu, memasangkan benda, atau menyelesaikan
urutan aktivitas juga dapat menjadi bukti pemahaman. Guru mencatat respons
tersebut dalam jurnal perkembangan harian sebagai dasar menentukan langkah
pembelajaran berikutnya.
Lima hingga Sepuluh Menit yang Penuh Makna
Salah satu pembiasaan yang dirancang di SLBN Widi Asih
adalah Visual Story & Concrete Counting Time, yakni kegiatan membaca
gambar dan menghitung benda konkret selama lima hingga sepuluh menit sebelum
pembelajaran dimulai. Waktunya singkat, tetapi kegiatannya memiliki tujuan yang
jelas: mengenalkan hubungan antara gambar, kata, benda, dan jumlah secara
konsisten.
Anak
diajak mencocokkan kartu gambar dengan benda nyata. Selanjutnya, anak berlatih
memasangkan benda berjumlah satu sampai lima dengan kartu angka. Keberhasilan
kegiatan ditandai, antara lain, dengan kemampuan menunjukkan sedikitnya tiga
kartu gambar yang sesuai dengan benda yang dicontohkan dan mencocokkan jumlah
benda dengan simbol angka yang tepat sesuai target pembelajaran.
Pembiasaan
ini mengingatkan kita bahwa keberhasilan pendidikan tidak selalu diukur dari
banyaknya materi yang diselesaikan dalam satu pertemuan. Bagi sebagian anak,
memahami satu konsep melalui latihan yang berulang dan menyenangkan merupakan
kemajuan yang sangat berarti.
Tentu saja, pengulangan perlu disertai kepekaan terhadap
kondisi anak. Ketika anak menunjukkan tanda kelelahan atau ketidaknyamanan,
guru perlu menyesuaikan aktivitas, memberikan waktu tunggu, dan menciptakan
suasana yang lebih tenang.
Kolaborasi yang Melampaui Dinding Kelas
Keberhasilan penguatan literasi dan numerasi tidak dapat
dibebankan kepada guru seorang diri. Keluarga, kepala sekolah, dan seluruh
warga sekolah perlu membangun pemahaman yang sama tentang kebutuhan serta cara
komunikasi anak.
Buku penghubung visual dapat digunakan untuk menyampaikan
simbol, aktivitas, dan perkembangan yang dipelajari anak di sekolah agar dapat
dilanjutkan di rumah. Konsistensi penggunaan simbol membantu anak mengenali
makna dalam berbagai situasi.
Guru
juga perlu menghargai setiap bentuk komunikasi nonverbal, baik melalui gerakan,
pilihan kartu gambar, maupun perangkat komunikasi alternatif dan augmentatif
atau AAC (Augmentative and Alternative Communication). Respons anak perlu diterima sebagai bagian dari proses
komunikasi, bukan diabaikan hanya karena tidak disampaikan melalui kata-kata.
Program LITNUM-VI direncanakan berkelanjutan sepanjang
tahun ajaran 2026/2027, dengan keterlibatan kepala sekolah, tim pengembang
kurikulum, guru kelas, dan orang tua. Penguatan lingkungan visual juga
diarahkan ke tempat-tempat di luar kelas, seperti kantin, perpustakaan, dan
toilet, sehingga keterampilan yang dipelajari dapat digunakan dalam kehidupan
sehari-hari.
Menumbuhkan Harapan, Merawat Kemandirian
Pengalaman merancang pembelajaran bagi peserta didik
autis dengan hambatan nonverbal mengajak kita merenungkan kembali makna
keberhasilan pendidikan. Keberhasilan bukan semata-mata ketika anak mampu
menjawab soal tertulis atau mengucapkan kata dengan lancar. Keberhasilan juga
tampak ketika anak mampu memilih aktivitas, menunjukkan kebutuhan, mengenali
simbol, menghitung benda, mengikuti jadwal, dan melakukan kegiatan bina diri
dengan bantuan yang semakin berkurang.
Tantangan berupa keterbatasan media adaptif, kebutuhan
pengulangan, perubahan kondisi sensori, dan belum konsistennya penggunaan
simbol di rumah maupun sekolah tetap perlu diatasi. Namun, tantangan tersebut
bukan alasan untuk membatasi kesempatan belajar anak. Justru, tantangan menjadi
pengingat agar sekolah terus berinovasi, meningkatkan kompetensi guru, dan
memperkuat kemitraan dengan keluarga.
Literasi dan numerasi yang inklusif bukan sekadar tentang
mengenalkan huruf, kata, dan angka. Lebih dari itu, keduanya merupakan jalan
untuk membantu anak memahami dunia, menyampaikan keinginan, mengambil pilihan,
dan menjalani kehidupan dengan lebih mandiri.
Sebuah kartu yang berhasil dipilih, sejumlah benda yang
berhasil dihitung, atau urutan gambar yang berhasil dipahami mungkin tampak
sederhana bagi sebagian orang. Namun, di balik setiap kemajuan itu, ada proses
belajar, kesabaran, dan harapan yang terus dirawat.
Di SLBN Widi Asih Pangandaran, pembelajaran yang
berangkat dari gambar, sentuhan, dan pengalaman nyata menjadi ikhtiar untuk
membuka lebih banyak pintu menuju pengetahuan. Sebab, setiap anak berhak
belajar dengan cara yang sesuai dengan kebutuhannya, dan setiap kemajuan layak
dihargai sebagai langkah menuju masa depan yang lebih mandiri.
Tag : No Tag
Berita Terkait
Rehat
Tajuk
Memahami Pemikiran Jenderal Dudung Abdurachman
PERLUNYA MENGUBAH CARA PANDANG PEDAGANG DI LOKASI WISAT...
Berita Populer
Arief Putra Musisi Anyar Indonesia
Ketua Umum GRIB H Hercules Rozario Marshal, Saya Bagian Dari Masyarakat Indramayu
Project Fly High Terinspirasi dari Pengalaman Hidup Dr Joe dan Tamak
Dari Kegiatan Aksi Sosial, Hercules Kukuhkan Ketua DPC GRIB JAYA Se-Jawa Barat
Chief Mate Syaiful Rohmaan
SAU7ANA
GMBI Kawal Kasus Dugaan Penipuan PT. Rifan Financindo Berjangka di PN Bandung
Indramayu Diguncang Gempa Magnitudo 4.4, Kedalaman 280 Kilometer
Ivan Lahardika Arranger dan Komposer Indonesia
SAU7ANA Come Back