Penulis: Redaksi
1 Hari lalu, Dibaca : 54 kali
PANGANDARAN, Medikomonline.com - Pandemi Covid-19
beberapa tahun lalu menjadi titik balik bagi banyak orang untuk mengubah arah
hidup. Pengalaman pahit manis ini dirasakan langsung oleh Agus Supriyatman,
atau yang lebih akrab disapa Agus Kucir.
Di balik popularitas Rumah Makan Saung Lesehan Agus Kucir
yang berada di Sindangwangi, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, Agus
Kucir kelahiran Tasikmalaya, 17 Agustus 1975 ini menyimpan rekam jejak panjang
sebagai seorang jurnalis senior yang ikut mengawal sejarah lahirnya DOB
Kabupaten Pangandaran.
Agus menceritakan bahwa bisnis kuliner yang ia kelola saat
ini merupakan buah pikiran bersama sang istri, Mila Karmila ketika pandemi
gelombang pertama melanda. Pembatasan aktivitas di luar ruangan membuat ruang
gerak jurnalis lapangan menjadi sangat terbatas. Kondisi tersebut memicu sang
istri untuk mengusulkan ide membuka usaha makanan di rumah sebagai langkah
bertahan hidup.

Photo: Sejarah lahirnya DOB Pangandaran di DPR MPR RI
Sebelum terjun ke dunia UMKM, Agus adalah seorang pemburu
berita yang telah mengecap asam garam dunia pers sejak akhir era Orde Baru,
tepatnya sekitar tahun 1997. Pada masa itu, profesi wartawan memiliki tantangan
birokrasi yang sangat ketat di bawah naungan Departemen Penerangan. Tugas
pertamanya dimulai di wilayah Cilacap, Jawa Tengah, sebelum akhirnya ia pindah
tugas ke kawasan Priangan Timur untuk meliput dinamika di Ciamis dan wilayah
pesisir Pangandaran.
Dedikasinya di dunia jurnalistik tidak selalu berjalan
mulus. Agus bahkan sempat mengalami fase kelam akibat krisis ekonomi paruh
waktu pada awal tahun 2000-an, di mana penghasilan dari media cetak lokal belum
menjanjikan kemapanan materi. Tekanan tersebut sempat memicu keretakan rumah
tangga hingga berujung perceraian, bahkan membuat mentalnya jatuh hingga
terpaksa menarik ojek dan berjualan bubur demi menyambung hidup demi anak
tercinta.
Momentum tsunami dahsyat yang menerjang Pangandaran pada
tahun 2006 menjadi titik balik yang memanggil jiwanya kembali ke lapangan.
Pasca-bencana, lewat bendera tulisannya di Koran Medikom, Agus aktif mengawal
ruang diskusi bersama tokoh-tokoh presidium seperti H Supratman, Drs Agun
Gunandjar Sudarsa, Eka Santosa, serta tokoh lokal (alm) H. Adang Hadari dan
(alm) H. Yos Rosbi. Perjuangan melelahkan yang menguras energi dan materi
tersebut akhirnya membuahkan hasil manis dengan disahkannya Daerah Otonom Baru
(DOB) Kabupaten Pangandaran pada 25 Oktober 2012.

RM Saung Lesehan
Agus Kucir
Kini, bapak dari enam anak ini memilih melabuhkan
pengabdiannya di jalur ekonomi kreatif melalui konsep warung saung bambu
tradisional. Berbeda dengan rumah makan modern di kawasan pantai, Agus
menawarkan menu fresh food otentik khas Sunda berupa ikan bakar bumbu cobek
honje (kecombrang), pindang gunung bumbu tradisional yang digerus manual tanpa
mesin blender. Juga makanan khas daerah pesisir seafood cumi asam manis dan
cumi tepung.
Untuk memberikan kenyamanan bagi pelancong dari luar kota
yang akan berburu makanan seafood seperti Bandung dan Jakarta, ia menerapkan
harga yang lebih ekonomis dijual per porsi bukan kiloan dibandrol mulai dari
harga Rp 25.000 dan Rp 30.000 per porsinya.

Photo: Kontrakan
Agus Kucir
Selain usaha di kuliner, Agus Kucir juga merambah ke dunia
property yaitu membangun beberapa titik kontrakan. Usaha kontrakan dirinya
mengakui, awalnya memikirkan karena punya anak banyak maka bangun rumah, eh
malah ide bisnis buat dikontrakin. “Sekarang ini kan di depan rumah ini ada
Kontrakan Agus Kucir 1 ada lima pintu, terus di Kontrakkan Agus Kucir ll ada 8
pintu dan Kontrakan Agus Kucir III ada 4 pintu. Mungkin kontrakan yang
berikutnya dari dua tempat lagi yang tadi mau akan kita selesaikan buat bekal
masa depan nanti,” katanya.
Sebagai mantan jurnalis yang kini menjadi pelaku usaha
lokal, Agus berharap Pemerintah Kabupaten Pangandaran bisa memberikan ruang
komunikasi yang lebih interaktif dan apresiatif, baik bagi para pelaku UMKM
maupun bagi para tokoh sejarah yang telah berdarah-darah memperjuangkan
pemekaran wilayah ini.
Bagi Agus, sisa usianya saat ini harus diisi dengan kegiatan
yang produktif dan solutif untuk warga sekitar. Hal itu ia buktikan melalui
aksi sosial nyata secara swadaya di lingkungan tempat tinggalnya di Padaherang.
Agus menginisiasi pemasangan fasilitas penerangan jalan umum (PJU) di tiga
wilayah rukun tetangga (RT 31, RT 14, dan RT 16) hingga area masjid.
Tidak hanya itu, ia bersama masyarakat juga bergotong royong
melakukan pengecoran akses jalan sepanjang 200 meter dari perempatan jalan
nasional menuju fasilitas ibadah setempat agar mobilitas warga menjadi lebih
aman dan nyaman. (Redaksi)
Tag : No Tag
Berita Terkait
Rehat
Tajuk
Memahami Pemikiran Jenderal Dudung Abdurachman
PERLUNYA MENGUBAH CARA PANDANG PEDAGANG DI LOKASI WISAT...
Berita Populer
Arief Putra Musisi Anyar Indonesia
Ketua Umum GRIB H Hercules Rozario Marshal, Saya Bagian Dari Masyarakat Indramayu
Project Fly High Terinspirasi dari Pengalaman Hidup Dr Joe dan Tamak
Dari Kegiatan Aksi Sosial, Hercules Kukuhkan Ketua DPC GRIB JAYA Se-Jawa Barat
Chief Mate Syaiful Rohmaan
SAU7ANA
GMBI Kawal Kasus Dugaan Penipuan PT. Rifan Financindo Berjangka di PN Bandung
Indramayu Diguncang Gempa Magnitudo 4.4, Kedalaman 280 Kilometer
Ivan Lahardika Arranger dan Komposer Indonesia
SAU7ANA Come Back