Reporter: Syah Ma'mur
1 Hari lalu, Dibaca : 117 kali
Saya mendapatkan informasi dari pelbagai narasumber yang pernah bekerja sebagai tim belakang layar bersama Peterpan dan NOAH, baik dalam kegiatan promosi maupun konser. Dari cerita mereka, perjalanan band besar ini ternyata tidak selalu berjalan mulus seperti yang terlihat di atas panggung. Di balik gemerlap konser dan sorotan lampu panggung, ada masa ketika sang vokalis, Ariel, pernah berada di titik yang sangat berat hingga sempat mempertimbangkan untuk meninggalkan band yang telah membesarkan namanya.
Bagi pecinta musik
Indonesia, nama NOAH bukanlah band biasa. Sebelum dikenal dengan nama tersebut,
mereka tampil sebagai Peterpan—band yang meledak pada awal 2000-an dan berhasil
mengukir sejarah besar di industri musik nasional. Pergantian nama menjadi NOAH
menandai babak baru perjalanan mereka, namun perubahan itu juga membawa
tantangan besar yang tidak ringan bagi seluruh personelnya.
Dari berbagai
cerita yang beredar di kalangan kru produksi dan tim belakang panggung, masa
sekitar tahun 2010 disebut sebagai salah satu periode paling berat dalam
perjalanan band tersebut. Saat itu, kondisi internal band mengalami guncangan
yang cukup besar akibat perubahan formasi dan berbagai tekanan dari luar.
Dalam sebuah
perbincangan publik yang pernah dilakukan bersama motivator Merry Riana, para
personel NOAH sempat membuka sedikit kisah tentang masa tersebut. Mereka
mengakui bahwa periode itu merupakan fase yang penuh ujian bagi keberlangsungan
band.
Pergantian
personel menjadi salah satu faktor yang sangat memengaruhi kondisi internal.
Keputusan beberapa anggota untuk mundur dari band bukan hanya berdampak pada
struktur kelompok, tetapi juga memengaruhi mental para personel yang masih
bertahan.
Ariel sendiri
pernah mengungkapkan bahwa perjalanan sebuah band tidak hanya diisi oleh momen
sukses yang terlihat publik. Di balik layar, ada banyak fase naik turun yang
jarang diketahui orang. Ketika satu per satu anggota mulai mengambil jalan
masing-masing, tekanan psikologis pun ikut meningkat.
Dari cerita yang
berkembang di kalangan orang-orang yang pernah bekerja bersama mereka, kondisi
tersebut sempat membuat hampir semua personel merasakan kelelahan mental. Tidak
sedikit yang pernah berada di titik di mana muncul keinginan untuk berhenti sejenak
dari dunia yang telah mereka jalani selama bertahun-tahun.
Hal yang cukup
mengejutkan, Ariel sebagai figur utama band juga pernah merasakan hal yang
sama. Ia pernah berada pada fase di mana dirinya mempertanyakan banyak hal,
termasuk alasan mengapa berbagai perubahan besar terjadi di dalam band yang
selama ini ia perjuangkan.
Tekanan yang
dirasakan tidak hanya berasal dari pekerjaan atau jadwal konser yang padat. Ada
pula beban mental yang datang dari ekspektasi publik serta tanggung jawab besar
untuk terus menghasilkan karya yang dapat diterima oleh penggemar.
Beberapa personel
lainnya juga mengakui bahwa rutinitas panjang dalam dunia musik sering kali
memunculkan kejenuhan. Jadwal manggung yang berulang dari kota ke kota, proses
kreatif yang terus dituntut berjalan, hingga tekanan industri hiburan, perlahan
dapat menguras energi para musisi.
Dalam situasi
seperti itulah rasa bosan mulai muncul. Namun bagi para personel NOAH,
kebosanan tersebut bukan berarti kehilangan cinta terhadap musik. Sebaliknya,
itu menjadi tanda bahwa mereka membutuhkan jeda untuk mengembalikan semangat
yang sempat menurun.
Salah satu langkah
yang akhirnya mereka ambil adalah memberi ruang bagi diri mereka sendiri untuk
beristirahat dari aktivitas panggung. Para personel sepakat untuk mengambil
jeda cukup panjang dari jadwal konser yang selama ini begitu padat.
Masa istirahat
tersebut dimanfaatkan untuk berbagai hal sederhana yang jarang mereka rasakan
sebelumnya—menghabiskan waktu bersama keluarga, menjauh sejenak dari hiruk
pikuk industri musik, dan menata kembali pikiran.
Keputusan tersebut
terbukti memberi dampak positif. Setelah masa jeda berakhir, mereka kembali
dengan pendekatan yang berbeda. Alih-alih langsung kembali ke panggung, mereka
memilih fokus pada proses rekaman dan penciptaan karya baru di studio.
Proses kreatif itu
menjadi cara bagi mereka untuk menemukan kembali semangat bermusik yang sempat
melemah. Dengan menjauh sementara dari rutinitas konser, mereka dapat kembali
menikmati proses membuat musik secara lebih santai dan mendalam.
Kisah ini
menunjukkan bahwa perjalanan sebuah band besar tidak selalu dipenuhi kemudahan.
Di balik popularitas dan kesuksesan, terdapat berbagai tekanan, keraguan, serta
keputusan sulit yang harus dihadapi oleh para musisinya.
Namun justru dari
fase-fase sulit itulah sebuah band diuji ketahanannya. Dan dalam kasus NOAH,
berbagai ujian tersebut pada akhirnya justru memperkuat mereka untuk tetap
berdiri sebagai salah satu band paling berpengaruh dalam sejarah musik
Indonesia.
Tag : No Tag
Berita Terkait
Rehat
Tajuk
Memahami Pemikiran Jenderal Dudung Abdurachman
PERLUNYA MENGUBAH CARA PANDANG PEDAGANG DI LOKASI WISAT...
Berita Populer
Arief Putra Musisi Anyar Indonesia
Ketua Umum GRIB H Hercules Rozario Marshal, Saya Bagian Dari Masyarakat Indramayu
Project Fly High Terinspirasi dari Pengalaman Hidup Dr Joe dan Tamak
Dari Kegiatan Aksi Sosial, Hercules Kukuhkan Ketua DPC GRIB JAYA Se-Jawa Barat
Chief Mate Syaiful Rohmaan
SAU7ANA
GMBI Kawal Kasus Dugaan Penipuan PT. Rifan Financindo Berjangka di PN Bandung
Indramayu Diguncang Gempa Magnitudo 4.4, Kedalaman 280 Kilometer
Ivan Lahardika Arranger dan Komposer Indonesia
SAU7ANA Come Back