Reporter: Syah Ma'mur
1 Hari lalu, Dibaca : 150 kali

(Hak cipta foto Ustadz DR Agus Idwar)
Jakarta, 8 Oktober 2026 —Wartawan Medikom Bandung, Rosdi
The ZIKR Malaysia dan Nazmi Penasyid dan Pelantun Salawat dari Kuala
Lumpur mendapat undangan resmi langsung
dari ustadz DR Agus Idwar untuk menghadiri even keren di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Madani
International Film Festival bukan hanya festival film, tapi juga festival ideas
dan kebudayaan inklusif. Di tahun ke-9 ini mengangkat tema “Rimpang.” Di antara
acara yang menarik adalah Performance Lecture bertajuk “Nasyidmorfosis” yang
berlangsung meriah di Teater Wahyu Sihambing, Kamis (8/10/2026), pukul
16.00–18.00 WIB.
Performance Lecture “Nasyidmorfosis” ini menghadirkan
para pelaku penting dalam perjalanan nasyid Indonesia. Acara ini menjadi ruang
refleksi sekaligus pertunjukan yang mengajak publik menelusuri bagaimana nasyid
mengalami evolusi dan transformasi dari masa ke masa di tengah gempuran budaya
populer.
Performance Lecture ini menghadirkan Agus Idwar
Jumhadi (Guswar) sebagai host sekaligus penggagas konsep Nasyidmorfosis,
bersama Opick, Snada, dan Ebiet Beat A. Hadir pula Rosdi zahari dari grup The
Zikir, Malaysia, yang berbagi perspektif mengenai perkembangan dan tantangan
nasyid di Malaysia.
Konsep “Nasyid Morfosis” diangkat dari kajian akademik
Guswar berjudul Nasyidmorfosis di Indonesia, yang membahas transformasi nasyid
sebagai media dakwah dan bagian dari dinamika budaya populer di Indonesia.
Nasyid tidak dipandang sebagai genre yang statis, tetapi sebagai bentuk
ekspresi yang terus mengalami perubahan dalam hal personel atau munsyid, lirik,
musik, kemasan, medium, hingga cara penyampaiannya kepada masyarakat.
Yang menarik, pembahasan Nasyidmorfosis tidak hanya
dilakukan melalui paparan akademik, tetapi langsung melalui cerita, pengalaman,
dan karya para pelaku sejarah nasyid Indonesia.
Acara dibuka oleh Snada yang tampil bersama Guswar
membawakan lagu “Assalamualaikum”. Penampilan ini menjadi pengantar perjalanan
historis nasyid Indonesia, khususnya bagaimana nasyid pada masa awal berkembang
melalui format acappella dan kemudian beradaptasi dengan perkembangan industri
musik dan budaya populer.
Perjalanan transformasi tersebut kemudian dilanjutkan
melalui sesi bersama Ebiet Beat A, yang dikenal sebagai salah satu pionir rap
nasyid di Indonesia. Ebiet sebelumnya merupakan rapper yang berkarya di ranah
musik umum. Ketertarikannya terhadap nasyid tumbuh pada awal 2000-an setelah
mendengarkan karya-karya Snada dan karya rap yang dibawakan Guswar.
Ebiet kemudian membawa pendekatan rap ke dalam dunia
nasyid, sesuatu yang pada saat itu masih sangat jarang ditemukan. Perpindahan
tersebut tidak berlangsung tanpa tantangan. Identitas rapper yang lekat dengan
kultur musik populer dianggap berseberangan dengan citra nasyid pada masa itu.
Namun, berkat konsistensi dan keistiqamahannya, Ebiet tetap memilih jalan
tersebut dan kemudian dikenal sebagai salah satu pelaku yang mempertemukan rap
dan nasyid.
“Dulu waktu saya saya masih nge-rap, dan belum
memasukkan nasyid dalam musik rap, saya biasa tampil di pub atau klub malam
dengan gaya hidup di dalamnya. Nasyid banyak mengubah hidup saya. Bahkan saya
bisa ke jantung rap dunia, Amerika, karena nasyid,” paparnya.
Dalam acara tersebut, Ebiet membawakan 2 lagu. Yang
pertama, “24 Tahun”, karya yang menjadi bagian penting dalam perjalanan
transformasinya dari rapper umum menuju rapper nasyid. Ia kemudian membawakan
“Muslim United”, lagu yang pernah dipersembahkan dalam acara Muslim Day Parade
di New York.
“Perjalanan Ebiet menunjukkan bahwa transformasi
nasyid tidak selalu berarti meninggalkan identitas, tetapi dapat menjadi proses
menemukan bentuk ekspresi baru,” ujar Guswar dalam sesi tersebut.
Setelah penampilan Ebiet, SNADA kembali tampil
membawakan “Neo Shalawat”. Karya tersebut merepresentasikan karakter penting
dalam perkembangan nasyid Snada, khususnya eksplorasi format acappella dengan
menghadirkan shalawat dalam berbagai bahasa.
Eksplorasi tersebut menjadi salah satu karakter yang
membawa Snada semakin dikenal di tingkat nasional dan mengantarkannya meraih
Platinum Award. Penampilan Neo Shalawat sekaligus memperlihatkan bagaimana
nasyid dapat melakukan inovasi musikal tanpa kehilangan pesan dan identitas
dakwahnya.
Sesi berikutnya menghadirkan Opick, salah satu figur
yang kemudian menjadi ikon musik religi Indonesia. Dalam dialog bersama Guswar,
Opick yang hari ini tampil berbeda, dengan busana kaos lengan panjang, celana
jin dan kopiah merah, mengisahkan kembali perjalanan awalnya dari dunia musik
rock hingga dikenal luas sebagai penyanyi religi.
Pertemuan Opick dengan Guswar pada sekitar 2002
menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan tersebut. Pada saat itu,
Opick masih berada dalam lingkungan musik rock dan sempat menolak ketika
ditawari untuk membawakan lagu bernuansa nasyid. Namun, Guswar kemudian
memilihkan lagu “Tombo Ati” untuk dibawakan Opick.
“’Iman’ musik rock saya kurang. Dengan nasyid dan
membawakan lagu religi justru saya lebih diterima masyarakat. Ini semua berkat
doa ibu saya dan dukungan Agus Idwar (Guswar),” kata peraih penghargaan Indomusik Awards 2026 untuk lagu
“Ramadhan Tiba”.
Lagu Tombo Ati menjadi salah satu tonggak penting yang
mengantarkan Opick dikenal luas di industri musik religi Indonesia. Hingga
kini, karya-karyanya tetap menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat dan
perjalanan musik religi Indonesia.
Dalam Performance Lecture Nasyidmorfosis ini, Opick
membawakan “Tombo Ati”, lagu yang menjadi bagian penting dari awal perjalanan
tersebut. Penampilan kemudian dilanjutkan dengan lagu “Khusnul Khotimah”, yang
menciptakan suasana semakin syahdu dan emosional di tengah penonton.
Selain menghadirkan pelaku nasyid Indonesia, Madani
Fest 2026 juga memberikan ruang bagi perspektif regional melalui Rosdi Zahari
dari The Zikir, Malaysia. Ia berbagi mengenai perkembangan nasyid di Malaysia,
termasuk dinamika, tantangan, dan kondisi perkembangan nasyid di negeri jiran
tersebut.
Acara ini dihadiri oleh berbagai komunitas dan
pemerhati nasyid, di antaranya Nasyid Nusantara dan Lesensi, serta mahasiswa
dan akademisi. Salah satu rombongan yang hadir adalah mahasiswa Komunikasi dan
Penyiaran Islam Universitas Islam As-Syafi’iyah.
Kehadiran berbagai generasi dan komunitas tersebut
memperlihatkan bahwa nasyid tidak hanya memiliki sejarah, tetapi juga memiliki
ekosistem yang terus berkembang. Pertemuan antara pelaku lama, generasi baru,
komunitas, akademisi, dan penonton menjadi bagian penting dalam menjaga
kesinambungan perjalanan nasyid di Indonesia.
Performance Lecture “Nasyidmorfosis” dalam rangkaian
acara Madani Fest ini terselenggara atas dukungan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta,
juga Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan Dompet Dhuafa.
Bagi Guswar, Nasyidmorfosis bukan sekadar upaya
mengenang masa lalu. Lebih jauh, Nasyidmorfosis merupakan cara untuk memahami
bahwa nasyid selalu mengalami perubahan seiring perubahan zaman.
“Nasyid tidak mati. Nasyid hanya berganti wajah,
medium, dan generasi.”
Melalui Performance Lecture ini, Madani Fest 2026
berharap pembicaraan mengenai nasyid dapat terus dikembangkan, bukan hanya
sebagai nostalgia, tetapi sebagai kajian, ekspresi seni, media dakwah,
sekaligus bagian dari perjalanan budaya populer Indonesia.
Ke depan, penyelenggara berharap kegiatan serupa dapat
kembali digelar dengan cakupan yang lebih besar. Bahkan, tidak menutup
kemungkinan Nasyidmorfosis dikembangkan menjadi konser nasyid berskala lebih
besar yang mempertemukan para legenda, pelaku lintas generasi, dan talenta baru
nasyid Indonesia.
Nasyidmorfosis pada akhirnya bukan hanya sebuah
pertunjukan. Ia adalah sebuah perjalanan untuk membaca kembali sejarah,
menyaksikan transformasi, dan membayangkan masa depan nasyid Indonesia.
Sebagai penutup, Guswar membawakan lagu Itu Dunia,
yang dilanjutkan dengan Teman Sejati yang berkolaborasi dengan Snada.
Tag : No Tag
Berita Terkait
Rehat
Tajuk
Memahami Pemikiran Jenderal Dudung Abdurachman
PERLUNYA MENGUBAH CARA PANDANG PEDAGANG DI LOKASI WISAT...
Berita Populer
Arief Putra Musisi Anyar Indonesia
Ketua Umum GRIB H Hercules Rozario Marshal, Saya Bagian Dari Masyarakat Indramayu
Project Fly High Terinspirasi dari Pengalaman Hidup Dr Joe dan Tamak
Dari Kegiatan Aksi Sosial, Hercules Kukuhkan Ketua DPC GRIB JAYA Se-Jawa Barat
Chief Mate Syaiful Rohmaan
SAU7ANA
GMBI Kawal Kasus Dugaan Penipuan PT. Rifan Financindo Berjangka di PN Bandung
Indramayu Diguncang Gempa Magnitudo 4.4, Kedalaman 280 Kilometer
Ivan Lahardika Arranger dan Komposer Indonesia
SAU7ANA Come Back