Reporter: Syah Ma'mur
1 Hari lalu, Dibaca : 126 kali
Tulisan ini saya buat dari nara sumber/narsum insan Industri film Indonesia yakni pekerja seni di Industri Film Indonesia yang pernah bekerja dan berteman dengan Almarhum Torro Margens dan juga sumber-sumber informasi akurat yang tidak pernah di publish.Di tengah masa sulit perfilman Indonesia pada awal 1990-an, ketika banyak sutradara mulai beralih ke produksi sinetron karena produksi film layar lebar menurun drastis, ada satu sosok yang justru tetap bertahan. Sosok itu adalah Almarhum Torro Margens.
Nama asli beliau
adalah Sutoro Margono, seorang aktor sekaligus sutradara yang mulai aktif di
industri film sejak era 1970-an dan dikenal luas lewat berbagai peran antagonis
yang kuat dan berkarakter. Namun tidak banyak orang tahu bahwa Almarhum Torro
Margens juga merupakan seorang sutradara produktif yang pernah menggarap
sejumlah film pada era 1980-an hingga 1990-an.
(Info langsung
Medikom dapatkan dari Salah satu senior Asisten Sutradara Film Indonesia+senior
Production Design art film Indonesia) Saya pernah mengobrol dan mendengar
langsung dari beliau yakni Almarhum Torro Margens memandang kondisi film
nasional pada masa itu. Ketika banyak insan film mulai meninggalkan layar lebar
dan beralih ke sinetron, beliau justru memilih tetap menyutradarai film.
Menurut
beliau(Almarhum Torro Margens) , keadaan film Indonesia saat itu memang sedang
tidak sehat. Banyak orang menyebutnya sebagai masa “kelumpuhan” film nasional.
Namun bagi Almarhum Torro Margens, justru pada saat seperti itulah para pekerja
film tidak boleh menyerah.
Beliau pernah
mengatakan dengan nada setengah bercanda, bahwa meskipun dirinya bukan dokter,
setidaknya ia ingin ikut berusaha “menyembuhkan” kelumpuhan film Indonesia
melalui karya-karya yang ia buat.
Salah satu film
yang ia garap pada masa itu adalah Sorgaku Nerakaku (1994). Menariknya, film
tersebut justru cukup berhasil menarik penonton di bioskop kelas B di wilayah
Jabotabek. Padahal pada periode yang sama banyak film Indonesia dengan genre
serupa justru gagal di pasaran. Keberhasilan ini membuat beberapa produser
kembali memberi kepercayaan kepada Almarhum Torro Margens untuk menyutradarai
film berikutnya, salah satunya Kabut Asmara.
Hal yang selalu
dipegang oleh Almarhum Torro Margens dalam membuat film adalah prinsip
sederhana:
film harus tetap
menjadi tontonan sekaligus tuntunan.
Beliau memahami
bahwa film pada akhirnya adalah hiburan. Namun menurutnya, hiburan tidak
berarti harus kehilangan nilai. Ia pernah mengatakan bahwa dalam sebuah film,
hiburan boleh mendominasi, tetapi tetap harus ada pesan yang bisa diambil oleh
penonton.
Karena itu,
meskipun beberapa film yang ia sutradarai memiliki unsur sensualitas yang cukup
kuat—sebuah tren yang cukup populer di perfilman Indonesia saat itu—Almarhum
Torro Margens selalu berusaha menggarapnya secara lebih artistik dan tidak
berlebihan.
Beliau juga cukup
kritis terhadap strategi promosi film, khususnya dalam penggunaan poster.
Menurut Almarhum Torro Margens, banyak produser yang justru memilih poster yang
terlalu mengeksploitasi unsur sensual, padahal sebenarnya masih banyak gambar
yang lebih artistik dan elegan untuk digunakan sebagai materi promosi.
Di luar layar,
gaya kepemimpinan Almarhum Torro Margens di lokasi syuting juga cukup unik. Ia
dikenal disiplin soal waktu. Beliau tidak suka membuat kru bekerja sampai larut
malam. Biasanya ia menerapkan jam kerja sekitar delapan hingga sepuluh jam saja
dalam sehari agar semua orang tetap bisa bekerja dengan kondisi fisik yang
baik.
Namun di balik
disiplin tersebut, suasana syuting di bawah arahan Almarhum Torro Margens
justru terkenal santai. Beliau sering bercanda dengan para kru dan pemain agar
suasana kerja tetap nyaman.
Ada satu kebiasaan
kecil yang cukup menarik dari beliau. Setiap kali sebuah adegan selesai dengan
baik, Almarhum Torro Margens sering meminta semua orang yang hadir di lokasi
syuting untuk memberikan tepuk tangan kepada para pemain.
Bagi beliau, tepuk
tangan itu adalah bentuk penghargaan sederhana bagi para aktor dan kru yang
telah bekerja keras. Menurutnya, penghargaan kecil seperti itu bisa membuat
para pemain semakin bersemangat untuk memberikan penampilan terbaik mereka di
adegan berikutnya.Sosok Almarhum Torro Margens memang telah tiada. Beliau wafat
pada 4 Januari 2019 di usia 68 tahun. Namun jejak karya dan semangatnya dalam
dunia film Indonesia tetap menjadi bagian dari sejarah perfilman nasional.
Bagi banyak orang
yang pernah bekerja dengannya, Almarhum Torro Margens bukan hanya seorang aktor
atau sutradara. Ia adalah pekerja film sejati yang tetap setia pada dunia film,
bahkan ketika banyak orang mulai meninggalkannya.
Dan mungkin di
situlah letak warisan terbesar beliau: sebuah keyakinan bahwa film Indonesia
akan selalu menemukan jalannya untuk bangkit kembali.
Tag : No Tag
Berita Terkait
Rehat
Tajuk
Memahami Pemikiran Jenderal Dudung Abdurachman
PERLUNYA MENGUBAH CARA PANDANG PEDAGANG DI LOKASI WISAT...
Berita Populer
Arief Putra Musisi Anyar Indonesia
Ketua Umum GRIB H Hercules Rozario Marshal, Saya Bagian Dari Masyarakat Indramayu
Project Fly High Terinspirasi dari Pengalaman Hidup Dr Joe dan Tamak
Dari Kegiatan Aksi Sosial, Hercules Kukuhkan Ketua DPC GRIB JAYA Se-Jawa Barat
Chief Mate Syaiful Rohmaan
SAU7ANA
GMBI Kawal Kasus Dugaan Penipuan PT. Rifan Financindo Berjangka di PN Bandung
Indramayu Diguncang Gempa Magnitudo 4.4, Kedalaman 280 Kilometer
Ivan Lahardika Arranger dan Komposer Indonesia
SAU7ANA Come Back